1/532
Name | Mastery | Learn | Test | Matching | Spaced | Call with Kai | Chat |
|---|
No analytics yet
Send a link to your students to track their progress
DD Lesi di Rongga Mulut dan Tx Nya
Jawaban :
Glositis atrofi : ec. Candida/GBHS/Anemia → lidah tampak licin, eritema (+) → TX : etiologi + oral hyegine + chlorhexidine 0,2%
Median rhomboid glositis : ec. Imunosupresan (HIV, merokok)/candida → tengah lidah berbentuk layang-layang, eritema (+) → TX : Observasi, antifungal
Benign migratory glositis : ec. autoimun/atopi → terdapat peninggian di lidah berbentuk seperti pulau-pulau, berpindah-pindah → TX : oral hyegine
Oral candidiasis : plak putih kekuningan berdasar eritem, bisa dikerok → TX : Nistatin drop 4×1 ml 100.000 U
Leukoplakia : lesi prekanker, fakris merokok alkohol, plak putih mudah berdarah jika dikerok → TX : Kemoterapi
Eritroplakia : lesi prekanker, fakris merokok alkohol, plak eritematosa → TX : Bedah eksisi
Karies gigi : kavitasi/root caries
Gingivitis : Inflamasi gusi → eritem, edema, berdarah saat gosok gigi → TX : Oral hyegine, scaling
Sariawan/Ulkus :
Stomatitis aftosa rekuren : ulkus soliter-multipel yang bisa sembuh sendiri 1-2 mgg, lesi keabuan dengan halo eritem, nyeri (+) → TX : Oral hyegine, obat kumur chlorhexidine 0,2%
Herpangina : ec. Infeksi virus coxaxcie, ulkus di palatum molle-uvula
Herpes labialis : ec. HSV-1 atau 2, lesi herpetiformis di sekitar bibir
HFMD : ec. coxacievirus A16 dan Enterovirus 71, lesi di mulut, tangan dan kaki
Cicatrical pemphygoid : ec. autoimun, lesi berbentuk vesikel-bula yang mudah pecah
Drug induced mucocutaneus syndrome : reaksi HS Tipe 4 ec. alergi obat, lesi di mulut dan mukosa lain + kulit
Klinis khas spermatokel
Jawaban :
Klinis khas : Benjolan di buah zakar → Teraba massa kistik/benjolan di epididimis, batas tegas, NT (-), transiluminasi test (+)
Kecurigaan Papiledema ec. Massa Otak
Jawaban :
Kata kunci : adanya gejala peningkatan TIK (sakit kepala, mual, muntah), transient visus change (membaik sendiri), ditemukan adanya massa dari px penunjang, tanda local neurologis (+), dari oftalmoskop→ diameter diskus optikus lebih besar, macular star, bendungan vena, elevasi papil > 2 D
DD Perdarahan Saluran Cerna Atas
Jawaban :
Esofagus-Duodenum
Klinis khas : hematemesis (darah segar merah atau gelap/ground coffee emesis pada darah yang sudah bercampur asam lambung), melena (red currant jelly stool), aspirasi NGT darah (+), BU meningkat
a. Ruptur esofagus : ec. peningkatan tekanan intraesofageal → mual muntah hebat, trauma, benda asing, iatrogenik, GERD, methylene blue test (+) pada chest tube
Mallory-weiss tear (robek hingga lapisan mukosa-submukosa) : hematemesis, nyeri ulu hati → TX : observasi
Sindrom boerhaave (robek hingga transmural/komplit jebol) : udara di esofagus bocor ke jaringan → emfisema subkutis, odinofagia, sesak, syok, hamman’s crunch → TX : bedah
b. Varises esofagus : ec. hipertensi portal → dilatasi vena esofageal→ mudah ruptur, tanda luar caput medusa (+) → TX : Stabilisasi ABC, pasang NGT untuk dekompresi dan persiapan endoskopi + beri obat vasoaktif (somatostatin 250 mcg bolus IV) + RUJUK u/endoskopi dan/atau operasi
c. Barret esofagus : kondisi premaligna, perubahan mukosa esofagus ec. metaplasia (dari epitel squamous berlapis → kolumner selapis), gejala sama dengan GERD
d. Gastritis erosiva-Ulkus peptikum
e. Ca Gaster
e. Ulkus duodenum
DD Perdarahan Saluran Cerna Bawah
Jawaban :
Klinis khas : Haematoschezia (darah merah segar menetes saat BAB)/tissue toilet bleeding, aspirasi NGT jernih
a. Celiac disease
b. Diverticulosis
c. IBD
d. Polip kolon
e. Ca Colorectal
f. Hemoroid
g. Fissura ani
Kriteria dan TX GERD-DISPEPSIA
Jawaban :
a. GERD : ada reflux/aliran balik asam lambung ke esofagus-orofaring-saluran nafas, gx tipikal (esofageal) → rasa terbakar did ada-regurgitasi (pahit di lidah)-odinofagia-disfagia-sendawa, gx ekstraesofageal → batuk-suara serak-erosi gigi, PPI Test 2 minggu dosis ganda (+)
b. Dispepsia : sesuai kriteria ROME IV >= 1 gejala → nyeri epigastrium, rasa terbakar di epigastrium, rasa penuh dan tidak nyaman setelah makan, cepat kenyang yang mengganggu, muncul selama 3 bulan terakhir (6 bln sblm diagnosis)
Jenis :
Fungsional : tanpa lesi di organ (bukti endoskopi)
Ulcer-like type : dominan nyeri epigastrium
Dismotility like type : dominan mual-muntah, begah
Organik : lesi (+)
Ulkus peptikum (kedalaman > 0,5 cm, hingga tunika mukosa-muskularis) : pain-food-pain-relief (setelah 2 jam), nyeri bisa sampai menjalar ke punggung
Gastritis erosiva (kedalaman < 0,5 cm)
TX :
PPI : PELOR 1-2X selama 8 mgg
Pantoprazole 40 mg
Esomeprazole 40 mg
Lansoprazole 30 mg
Omeprazole 20 mg
Rebeprazole 20 mg
Farmakologi tambahan : prokinetik, antiemetik
Eradikasi H. Pylori pada Urea breath test (+) :
Tripe theraphy (2xOCA): PPI + Klaritromisin 2×500 mg + Amoxicilin 2×1000 mg
Quadraple theraphy (BOMaT): Bismuth 120-300 mg + PPI 2×1 + Metronidazole 3×500 mg + Tetrasiklin 4×250 mg
Modifikasi gaya hidup : Penurunan BB, makan maksimal 3 jam sebelum tidur, tinggikan bantal dan posisi miring kiri saat tidur, hindari makan yang memicu refluks
Apa saja Alarm Sign untuk Keluhan GIT (Terutama Dispepsia dan GERD)? Kapan harus Endoskopi?
Jawaban : ALARM
A : Age > 50 th
L : Loss of weight
A : Anemia
R : Restriction (Disfagia, Odinofagia)
M : Melena/Hematemesis (GI Bleeding)
Cara membedakan Etiologi Ikterik dari Klinis khas dan Hasil Lab?
Jawaban :
a. Pre-Hepatik : ec. Hemolisis → Bilirubin indirek »,
b. Intra-Hepatik : ec. Infeksi (hepatitis)-autoimun-genetik → Bilirubin direk dan indirek », OT PT », Lab khas infeksi (+)
c. Post-Hepatik : ec. obstruksi (batu empedu, keganasan)-infeksi (kolangitis) → Bilirubin direk », ALP GGT », BAK gelap, BAB dempul, Steatorrhea
Jenis-jenis Fatty Liver
Jawaban :
Pada pasien dengan sindroma metabolik : LP >= 90 cm L/80 cm W, TD >= 130/85, TG plasma > 150 mg, HDL-Kolesterol < 40 W/ < 50 L, Prediabetes, Homeostasis model assesment-insulin resistance score >= 2.5, CRP plasma > 2 mg/L
a. Non-alcoholic fatty liver Disease : USG Bright liver/hiperekoik, biopsi >5% hepatosis steatotik
NAFL (Non alcoholic fatty liver) : steatosis/perlemakan (+), peradangan (-)
NASH (Non alcoholic Steatohepatitis) : steatosis (+), peradangan (+) → SGOT-SGPT cenderung meningkat 2-5x normal-ALP meningkat 2-3x normal
TX : obat antihiperlipidemia (Gemfibrozil, atorvastatin), UDCA, anti-hiperglikemi oral, antioksidan
b. Alcoholic fatty liver disease : pada orang yang konsumsi alkohol 4-5x/hari
Etiologi Infeksi Hepatitis sesuai Jenisnya
Jawaban :
Patah Hati Firasat Rasa Cinta
Hepatitis A : Picornaviridae
Hepatitis B : Hepadnaviridae
Hepatitis C : Flavivirus
Hepatitis D : RNA incomplete virus
Hepatitis E : Calcivirus
Macam Jenis Lab Hepatitis B dan Interpretasinya
Jawaban :
Sesuai masa infeksinya.
Akut (aktif replikasi) : HbsAg (+), HbeAg (+), Anti-Hbc IgM (+)
Kronik (tertidur) : HbsAg (-), HbeAg (-), Anti-Hbc IgG (+)
Sembuh dari akut : HbsAg (-), Anti-HbS (+), HbeAg (-), Anti-Hbc IgG (+)
Window : HbsAg (-), HbeAg (-), Anti-Hbc IgM (+)
Imunisasi : HbsAg (-), HbeAg (-), Anti-Hbs (+), Anti-Hbc (-)
Catatan :
HbeAg → tanda virus aktif replikasi
HbsAg → tanda keberadaan virus
Anti-Hbs → tanda kesembuhan
Anti-Hbc → menunjukkan antibodi yang terbentuk akut atau kronik
Klinis Khas Sirosis Hepar
Jawaban : SEKASIH
Spider Nevi
Eritema palmaris
Kaput medusa/Kolateral Vein
Ascites
Splenomegali
Inversi albumin <= globulin (albumin turun, globulin naik)
Hematemesis-melena
Tambahan : keadaan hiperestrogen → ginekomastia, atrofi testis ; koagulopati → gg perdarahan, ensefalopati hepatikum
Pembeda Khas Massa Hepar ec. Keganasan dan Abses
Jawaban :
a. HCC (Hepatocelullar carcinoma) : tumor marker AFP dan PIVKA-II meningkat, palpasi hepar berdungkul-dungkul dan keras, CT Scan kontras (+) gambaran massa hipodens batas tegas di hepar, gejala keganasan (+)
b. Abses hepar : tampak gambaran massa kistik (hipodens dalam CT scan)/hipoekoik batas tegas mutiple (pada abses piogenik)/soliter (pada amoeba) di salah satu lobus hepar, ikterik (+), ludwig sign (+) NT ICS V/VI
TX :
Piogenik : aspirasi + AB IV Ampisilin 4×2 g + Gentamisin 1×5 mg/kgBB + Metronidazole 3×500 mg IV/PO
Amoeba : Metronidazole 3×750 mg IV 7-10 hari → Paramomisin 25-35 mg/kg/hari 7 hari (u/ bunuh kista di usus) pada amebiasis paru (menyebar ke paru)
Non farmakologi : insisi drainase dengan USG (< 5 cm : needle aspiration ; >= 5 cm aspirasi perkutan)
Temuan Klinis khas Pankreatitis akut dan Ca Pankreas
Jawaban :
Pankreatitis akut : autodigest ec. pelepasan enzim proteolitik pankreas, nyeri epigastrium tembus ke punggung yang membaik saat bungkuk-memberat saat berbaring, Amilase/lipase meningkat >= 3x batas atas, USG tampak batas pankreas mengabur (edema), gray turner sign di pinggang (+)/cullen sign di umbilikus (+)/fox’s sign di paha (+)
Ca Pankreas : keganasan di sel duktal pankreas, nyeri epigastrik (+) ke punggung memberat dengan berbaring, tanda infeksi/akut (-) → demam (-), courvoisier’s sign (+)/kandung empedu teraba disertai painless jaundice → curiga tumor di caput, steatorrhea, gejala kaganasan, tumor marker (+) CA 19-9 dan CEA
Klinis khas dari Irritable Bowel syndrome?
Jawaban :
Klinis khas : kronis-berulang, nyeri-tak nyaman di abdomen-perubahan kebiasaan BAB minimal 3 bulan ec stress psikologis (mau ujian, dll.), membaik dengan defekasi (+), konstipasi/diare-kembung-anoreksia
TX : Antispasmodik
Jenis dan Klinis Khas dari Inflammatory Bowel Disease?
Jawaban :
Keduanya ec. Autoimun, px utama dengan endoskopi.
Kolitis ulseratif : ascending dari rectum-colon proximal, klinis ULCERS → Ulcer, Lead pipe sign, Continous lesion (difus-simetris), Extend proximally, Red diarrhea, Submucosa/mucosa inflammation
Crohn disease : seluruh saluran cerna (mulut-anus), klinis CHRISTMAS → Cobble stone, High temperature (demam), Reduced lumen, Intestinal fistulae, Skip lesion, Transmural inflammation, Malabsorption, Abdominal pain, String sign

Perbedaan Diverticulum Meckel dan Divertikulosis?
Jawaban :
Divertikulum meckel : outpouches dinding usus ec. obliterasi inkomplit duktus omfalomesenterika minggu ke-7 kehamilan → perdarahan rektum tanpa nyeri, black currant jelly stool, inkontinensia alvi, pruritus ani
Diverticulosis : divertikulum > 1 paling sering di kolon, asimptomatik, barium enema tampak multiple outpouching
Divertikulitis : peradangan divertikulum
Klinis khas dari Ca Colorectal?
Jawaban :
Khas : usia tua, tumor marker meningkat (+) CEA, jika lesi di caecum-colon kanan (perdarahan bercampur feses → gejala anemia, mudah lelah, kelemahan), jika lesi di kolon kiri (perubahan BAB jadi diare/konstipasi dan feses kecil-kecil seperti kotoran kambing → darah bercampur feses, Nyeri kuadran kiri bawah, RT teraba massa), barium enema apple core (+)
Tahapan diagnosis Pre-DM dan DM
Jawaban :
Dengan bagan.
Kesimpulan :
Ada gejala : Abnormal → langsung DM, meragukan → ulang 1x lagi → abnormal → DM, Normal → ulang 1x lagi → normal → TTGO → Normal → Normal
Ga ada gejala : Normal → Normal, Abnormal → Cek ulang → abnormal → DM, Pre-DM → TTGO → Abnormal → DM

Jenis DM tipe hybrid, cara membedakannya dengan DM lain
Jawaban :
Maturity-onset diabetes of youth (MODY) : resistensi insulin pada anak-remaja (> 15 thn), autosomal dominan/RPK (+), autoantibodi (-), C peptide normal, klinis mirip DM tipe 2
Latent autoimmune diabetes of adults (LADA) : pada orang dewasa, klinis DMT1, autoantibodi (+)
DMT2 : Kadar C-peptide Normal-Tinggi (karena insulin yang dihasilkan banyak)
DMT1 : Kadar C-peptide rendah, autoantibodi (±)
Alur terapi intensifikasi Insulin untuk DM
Jawaban :
Mulai terapi insulin pada : HbA1C >= 9% atau gagal OAD dosis optimal (Target < 7%), pada HbA1C >= 7,5% OAD masih 2-3
Insulin basal ± OAD
Intensifikasi 1 : Insulin basal + insulin bolus 1x pada porsi makan terbesar (Pandrial) atau Insulin premixed 2x
Ket :
Dosis insulin inisiasi (awal) → 0,1-0,2 U/kg/hari di malam hari 1x
Dosis optimalisasi (total) → 0,3-0,5 U/kg/hari → dibagi jadi basal dan pandrial
Contoh : BB 50 kg → Optimalisasi : 25 U → Basal 1x10 U + Pandrial (3 makan besar ×5 U = 15 U)
Tatalaksana Hipoglikemia Dewasa
Jawaban :
Ringan : PO 15-20 gr (2-3 sdm) gula dilarutkan di 20 ml → evaluasi 15 menit lagi → jika menetap 3x ganti ke tx sedang-berat
Berat : IV Dextrose evaluasi per 15 menit dapat diulang jika belum tercapai, mulai dari terkecil
D10% 150-200 ml dalam 15 menit
D20% 75-100 ml dalam 15 menit
D40% 25-50 ml dalam 15 menit
Maintenance : Inf D10% 100 ml/jam hingga mampu makan
Akses sulit : IM Glukagon 1 mg
Tatalaksana Krisis Hiperglikemia
Jawaban :
Pada KAD maupun HHS
Rehidrasi : Nacl 0,9% 1L/jam → lanjut 250-500 ml/jam hingga status hidrasi adekuat
Jika Na >= 140 → ganti dengan Nacl 0,45% 250-500 ml/jam
Kalium → CEK dan KOREKSI bila rendah/terlalu tinggi sebelum INSULIN
TIDAK PERLU koreksi bila >= 4,5 mEq/L
KOREKSI dan TUNDA INSULIN :
< 3 mEq/L : beri KCL 20-30 mEq/jam sampai > 3,5 (masuk insulin kalau >= 3)
3-4,5 mEq/L : beri 20-30 mEq KCL tiap L cairan IV
Insulin Bolus IV 0,05-0,1 U/kgBB → Drip 0,1 U/kg/jam
Bikarbonat pada KAD HANYA JIKA pH < 6,9 : 50-100 mEq selama 2 jam ulangi tiap 2 jam hingga pH >= 7,0
Perbedaan Jenis Klinis Diabetes Insipidus
Jawaban :
Klinis umum : Kekurangan ADH → air keluar terus lewat pipis → gx : polidipsi, poliuri, dehidrasi ec. Volume urin > 3L/hari
Central : ec. gg sekresi central ADH di hipofisis posterior → ADH kurang, water deprivation test (+) osmolaritas urin meningkat post vasopressin
Nefrogenik : ADH normal, namun reseptor ginjal bermasalah (lithium, familial), water deprivation test (-) osmolaritas urin tidak meningkat post vasopressin maupun saat dehidrasi
Psikogenik : normal namun karena perilaku minum berlebih jadi poliuri, water deprivation test (+) osmolaritas urin meningkat setelah dehidrasi
TX : Desmopressin (sentral), Tiazid (Nefrogenik)
Kategori risiko Dislipidemia dan Terapi Pilihannya
Jawaban :
Definisi : kelainan metabolisme lipid peningkatan kolestrol total (>200)/LDL (>130)/HDL (<40)/TG >150
Faktor risiko utama (MeHiKoH 45 55) : RPK kardiovaskular prematur (L < 55 th, P < 65), Merokok, HDL rendah, Usia tua (L > 45, P > 55), hipertensi
Stratifikasi risiko :
Rendah : 0 FR
Sedang : <= 2 FR
Tinggi : >= 2 FR + Risiko PJK < 10-20% (10 thn terakhir) + DM dan CKD tanpa FR
Sangat tinggi : Ada penyakit kardiovaskular (PJK, PAD), DM + >=1 FR, CKD stage 3-4 + >=1 FR, Hiperkolesterolemia familial
Ekstrem : PJK progresif (UAP), PJK + DM, PJK + CKD St 3-4, PJK + HF, Riw. PJK prematur
TX :
TLC : Modifikasi gaya hidup + Aktivitas fisik
Farmakologi :
(+) Statin : pada dominan peningkatan Kolestrol total dan LDL
Statin intensitas sedang : pada risiko rendah namun LDL>130 atau risiko sedang-tinggi namun LDL < 100 (Atorvastatin 10 mg atau Rosuvastatin 5 mg atau Simvastatin 20-40 mg)
Statin intensitas tinggi : risiko sedang-tinggi LDL >100, risiko sangat tinggi-ekstrem (Atorvastatin 40-80 mg atau Rosuvastatin 20-40 mg)
(+) Fenofibrat atau As. Nikotinik : pada dominan peningkatan TG
Gemfibrozil 2×600 mg atau 1×900 mg
Fenofibrat 1×200 mg → Jika sudah ada statin, tambahannya lebih prefer ini
Sindroma metabolik
Jawaban :
Obes sentral : LP >= 90 cm L/80 cm W,
Pre hipertensi : TD >= 130/85,
Dislipid : TG plasma > 150 mg, HDL-Kolesterol < 40 W/ < 50 L,
Prediabetes-DM : GDP >= 100 mg/dl dan/atau DM
Homeostasis model assesment-insulin resistance score >= 2.5
CRP plasma > 2 mg/L
GG. Tiroid Primer/Sekunder/Subklinis?
Jawaban :
Hipertiroid/Hipotiroid
Primer : gg. di kelenjar tiroid (ec. autoimun, dll.) → TSH turun, FT4-FT3 »/«
Sekunder : gg. di pusat/central/pituitari (ec. tumor, dll) → TSH naik (hiper)/turun (hipo), FT4-FT3 »/«
Subklinis : TSH naik/turun, FT3-FT4 N
DD Pasien dengan Gejala Tirotoksikosis, Kapan bisa didiagnosis Hipertiroid?
Jawaban :
Gejala Tirotoksikosis (+) : semua sistem Heboh ec. peningkatan metabolisme/BMR → katabolsime meningkat (glukoneogenesis », lipolisis », proteolisis ») → penurunan BB, rambut tipis + peningkatan suhu tubuh → banyak berkeringat + kuku tumbuh cepat + neuromuskular hiperaktif → cemas, gelisah, insomnia, tremor + GIT hiperaktif → diare
Diagnosis Hipertiroid : ketika sudah dilakukan tes Lab kadar tiroid → hasil sesuai jenis
Tipe spesifik :
Grave’s disease (termasuk Primer) : exoftalmos, TSH menurun + T3T4 », massa difuse nyeri (-), antibodi tiroid (+) → TSI/TBII, anti-TPO, anti-thyroglobulin, indeks wayne (+) > 19
Khas lain :
Rosenbach’s sign : tremor palpebra superior saat menutup mata
Stellwag’s sign : sensasi bola mata menonjol
Lid lag/Von graefe’s sign : kelopak mata atas bergerak lebih lambat dibanding bola mata → kelopak mata atas berada di atas iris saat mata gerak ke atas/bawah → limbus ga ketutup margo palpebra
Jofroy sign : kerut kening hilang
Mobious : mata gabisa konvergen → juling
Tiroid storm : demam, penkes, kolaps kardiovaskular (AF, CHF), takikardia, ikterus, diare, burch-watofsky score > 45
Urutan Px : TSH (awal) → T4/FT4 dan T3/FT3 (tepat) → Radiologi (USG tiroid) → Skintigrafi (susp Ca)
TX :
General : 1st Metimazole 20-40 mg/hari ATAU 2nd PTU : 3×100-300 mg-600 mg/hari
Bumil : 1st trimester PTU, 2nd-3rd boleh Metimazole
Tiroid storm/krisis tiroid : Stabilisasi hemodinamik + PTU dosis tinggi 600-1000 mg via NGT → 6×200 mg/hari + Antipiretik + Propanolol 30-60 mg (3×20 mg) + larutan lugol
DD Pasien dengan Hipotiroid
Jawaban :
Gejala Hipotiroid (+) : semua sistem mager ec. penurunan metabolisme/BMR → anabolisme meningkat (glukoneogenesis «, lipolisis «, proteolisis «) → peningkatan BB, nafsu makan menurun, mudah kedinginan, kulit kering, edema, rambut rontok, wajah bengkak, penurunan aktivitas jantung (HR menurun, dispneu), neuromuskular menurun (depresi, reflek fisiologis menurun, berfikir lambat, cepat lelah, mudah mengantuk), konstipasi, oligomenorea, infertil, skor billewics >= 25
Tipe spesifik :
Goiter endemik : ec. defisiensi yodium di satu wilayah (biasanya pegunungan) → banyak di wilayah itu kasusnya, struma difusa non-toksik (gejala -) → TX : Yodium - Operatif (jika ada tanda obstruksi)
Tiroiditis hasimoto
Koma miksedema (dekompensata berat) : dipicu infeksi/sepsis/trauma, penkes-hipotermia-gg. hemodinamik (hipotensi-bradikardia-hipoglikemi), gejala hipotiroid
TX :
General : Levotiroksin pagi 1 jam sblm makan 112 mcg/hari atau 1,6 mcg/hari atau 50-100 mcg
Koma miksedema : stabilisasi hemodinamik + atasi hipotermia + Levotiroksin IV 500 ug Loading dose → 100 ug/hari + IV Hidrokortison 3×100 mg
DD untuk Tiroiditis
Jawaban :
Klinis : struma (+), ada gejala gangguan hormon tiroid (sementara) + gejala lokal/sistemik dari peradangan/infeksi
a. Akut (Beberapa hari) : Supuratif → demam tinggi, nyeri hebat, pus (+), leukositosis, hormon N → TX : NSAID, insisi drainase pus, AB, Betablocker
b. Subakut (1-2 bulan)
Postpartum : 1 tahun post-melahirkan/post abortus, mekanisme autoimun → anti-TPO (+)/Anti-tiroglobulin (+)/TRAb (-), NT (-), tirotoksikosis dengan/atau tanpa hipotiroid → TX : sesuai fase, saat Tirotoksikosis Propanolol 3x10-20 mg, saat Hipotiroid Levotiroksin tapper off 12 bulan postpartum
De Quervain : inflamasi folikel ec. viral (ISPA), tanda peradangan (+) → nyeri leher anterior uni/bilateral menjalar ke rahang-telinga, demam, pembesaran kelenjar difus (disfagia) + NT (+), pola trifasik (tirotoksikosis-hipo-eutiroid), marker inflamasi », FT4/FT3 bisa berubah sesuai pola trifasik, FNAB multinucleated giant cell → TX : NSAID, betablocker (fase hiper), levotiroksin (fase hipo)
c. Kronis
Hashimoto : antibodi ec. trigger lingkungan (e.g : stress, infeksi, intake yodium), ada penyakit autoimun lain, difus-teraba keras-iregular-tidak nyeri, gejala hipotiroid, FNAB Hurthle cell, TSH naik dan T4-T3 N/turun, anti-tpo (+) → TX : Levotiroksin
Riedel : goiter keras, nyeri (-), FNAB jaringan fibrotik, Anti-TPO (+)
DD Tumor/Benjolan di Leher lainnya (Non-Abses leher)
Jawaban :
Kista tiroglosus : lokasi di Midline-Dekat os hyoid, naik ketika menelan dan saat lidah dijulurkan, jika infeksi -> (+) tanda peradangan, mekanisme : Embriologi gagal obliterasi → kista di jalur turun tiroid.
Kista dermoid : midline/submental, konsistensi kenyal, Tidak bergerak saat menjulurkan lidah, Pertumbuhan lambat, Mekanisme: inklusi epitel/komponen kulit di bawah permukaan saat perkembangan embrio.
Branchial cyst : lateral-di anterior m. sternocleidomastoideus, Kistik-mobile, bisa muncul/membesar setelah infeksi saluran napas atas, Mekanisme: sisa aparatus branchial yang gagal mengalami obliterasi.
Limfadenopati : bisa ec. infeksi-keganasan (metastasis-limfoma)
Keganasan pada Tiroid
Jawaban :
Klinis lokasi di tiroid : Benjolan leher anterior + ikut bergerak saat menelan
Papillary adenocarcinoma of thyroid / papillary thyroid carcinoma (PTC) : tumbuh lambat, Nodul tiroid + KGB servikal (metastasis limfatik), PA Orphan Annie eye nuclei/nuclear groove/psammoma bodies (Lapisan bawang).
Follicular adenocarcinoma of thyroid / follicular thyroid carcinoma (FTC) : Metastasis hematogen, metastasis tulang → nyeri tulang/fraktur patologi, PA capsular invasion + vascular invasion
Medullary thyroid carcinoma (MTC) : Berasal dari sel C/Parafolikular -> Nodul + ↑ kalsitonin, diare/flushing, familial → MEN 2A/2B, mutasi RET
Undifferentiated thyroid carcinoma (Anaplastik) : diferensiasi Sel folikular, lansia, progresif cepat, keras, invasif (agresif) -> disfagia, sesak, suara serak

Hiperparatiroid vs Hipoparatiroid → Kata kunci dan Klasifikasinya
Jawaban :
Klasifikasi sesuai lokasi gangguan :
Primer : di kelenjar paratiroid (e.g : tumor/adenoma)
Sekunder : di luar kelenjar tiroid (e.g : pada gg. organ → gagal ginjal)
Klinis khas :
A. Hiperparatiroid : Hiperkalsemia (dan gejalanya : keram, kaku, kejang, takikardia, QT interval memendek, Tall-T), PTH tinggi
Primer (etiologi : adenoma paratiroid) : Ca », fosfat «, PTH dan Vit. D tinggi → TX : paratiroidektomi, bedah adenoma
Sekunder (etiologi : Defisiensi Vit. D dan Ca pada CKD → kompensasi PTH ») : Ca N/«, fosfat N/» (CKD) atau « (etiologi lain), Vit. D rendah, PTH tinggi → TX : Reduksi fosfat + Calcitrol 0,25-2 mcg/hari + Ca Carbonat
Tersier (etiologi : sekunder yang ireversibel) : Ca », fosfat » → TX : paratiroidektomi
B. Hipoparatiroid : Hipokalsemia (gejala : keram, kaku, lemah otot, cvostek sign +, trosseau sign +, carpopedal +), sering pada pasien post.op tiroidektomi (paratiroid ikut terambil), PTH rendah, Mg «, Hiperfosfatemia, EKG QT interval memanjang
TX : Atasi etiologi + Ca Glukonas 1-2 gr + Pro vitamin D 40.000-120.000 U/hari (seumur hidup)
Klinis gangguan Hormon Kortisol
Jawaban :
A. Hiperkortisol : kortisol berlebih → katabolisme meningkat → Hiperlipidemia, TD Meningkat, Tubuh bengkak (BB meningkat, Buffalo hump (+), obesitas sentral, striae, moon face), osteopenia-fraktur, hisrutisme, gg. hormonal → amenorhea, delayed puberty, ginekomastia
Sesuai sumber kortisol tambahan :
Eksogen : dari luar → Kortikosteroid jangka panjang (fakris : menderita sakit kronis/autoimun, minum jamu), Dexametason supression test (+) low dose → DX : Pseudocushing disease/CUSHING SYNDROME EXOGEN → TX : Tapper off dosis steroid
Primer (dari kelenjar adrenal sekresi banyak sendiri tanpa ACTH/ACTH independent) : ec. Tumor (e.g ca adrenal, hiperplasia, adenoma), Dexametason supression test (+) low dose → DX : Pseudocushing disease/CUSHING SYNDROME ADRENAL/INDEPENDEN → TX : Etiologi + Obat hambat sintesis kortisol (metyrapone, mitotane, ketoconazole, analog somatostatin)
Sekunder (dari hipofisis atau Sumber ektopik yang hipersekresi ACTH/ACTH dependent) : ec. Adenoma hipofisis/SCC, Dexametason supression test (-) low dose dan (+) high dose → DX : CUSHING DISEASE (ec. SCC → ECTOPIC CUSHING DISEASE) → TX : Etiologi + Obat hambat sintesis kortisol (metyrapone, mitotane, ketoconazole, analog somatostatin)
Ket : Dexametason supression test (GS) low dose 0,5 mg/6 jam atau 1 mg/12 jam atau < 2 mg/hari ; High dose 8 mg/hari
B. Hiporkortisol/Insufisiensi Adrenal : insufisiensi produksi kortisol → kortisol sedikit → Anorexia, mudah lelah, BB turun, hiperpigmentasi kulit, hipotensi, dehidrasi, amenorhea, diare-konstipasi, mual muntah
Sesuai sumber kortisol yang kurang:
Primer : dari kelenjar adrenal (e.g : Addison’s disease) → kortisol «, feedback → ACTH » CRH », cosyntropin/ACTH stimulation test (-) tidak ada peningkatan cortisol
Sekunder : dari hipofisis → CRH » (feedback), ACTH RENDAH → Kortisol «
Tersier : dari hipotalamus → CRH RENDAH, ACTH « → Kortisol «
Dekompensata → Krisis Hipoadrenal : keadaan akut akibat kekurangan cortisol ± aldosteron ec. addison disease (kerusakan kelenjar adrenal)/ penghentian steroid mendadak/ sepsis/ trauma/ congenital adrenal hyperplasia (defisiensi 21-Hidroksilase) → kortisol menurun hingga undetectable, penurunan kesadaran, dehidrasi, hipotensi, syok, mual-muntah, riw. BB turun dan anorexia, hipoglikemia, hiponatremia
TX :
Umum :
Pengganti glukokortikoid : Hidrokortison 15-20 mg saat bangun tidur dan 5-10 mg sore hari
Pengganti mineralokortikoid : fludrokortison 0,05-0,2 mg/hari
Pengganti androgen : DHEA 25-50 mg/hari
Krisis hipoadrenal : Infus Nacl 0,9% 1L dalam 1 jam + IV Hidrokortison 100 mg lanjut 100 mg/6 jam u/24 jam pertama + IV bolus dextrose 20% 75-100 cc
Bagaimana mekanisme Krisis adrenal pada Congenital adrenal hyperplasia?
Jawaban :
Terjadi defisiensi enzim 21-hidroksilase (21-OH) → Hambat sekresi cortisol dan aldosteron, namun tidak dengan androgen → Kadar cortisol dan aldosteron «, androgen N → feedback negative → ACTH meningkat → cortisol dan aldosteron tetap «, androgen »» → gejala krisis adrenal + hiperandrogen
Tipe :
Salt wasting : cortisol dan aldosteron «, androgen »
Non-salt wasting : cortisol dan aldosteron N/sedikit «, androgen »
Kelenjar Adrenal dan Hormon yang Disekresinya
Jawaban :
Lapisan : Kapsul → Korteks (G-F-R) → Medulla (Sel chromaffin)
Kapsul
Korteks
Zona Glomerulosa : Hormon Aldosteron (mineralcorticoid) → Klinis : Anti-diuretik
Zona Fasiculata : Hormon Cortisol → Klinis : Cushing/addison
Zona Reticularis : Hormon Androgen/DHEA → Klinis : Ambiguous genitalia, hisrutisme, suara dalam
Medulla : hormon katekolamin (Epinefrin/Norepinefrin) → klinis : pheochromocytoma
Prolaktinoma dan Klinis khasnya
Jawaban :
Ada HIPERPROLAKTINEMIA non puerperal (non-hamil) dari hipofisis anterior ec. adenoma pituitary (paling sering) atau lainnya seperti obat-obatan (e.g : metildopa, fenotiazin, risperidon), gg. ginjal, sirosis, hipotiroidisme, dll.
Klinis : Efek prolaktin → Galaktorrhea, gg. siklus menstruasi (efek menekan GnRH), penurunan libido, infertile, hipoestrogenisme (dispareunia, osteopenia), testis kecil, efek massa otak (nyeri kepala, gg. lapang pandang, neuropati kranialis, kejang), ginekomastia
TX : Hentikan etiologi + Bromokriptin mesilat (simptomatik)
Porfiria, gangguan pada apa dan klinisnya?
Jawaban :
Penyakit herediter ec. Gangguan jalur sintesis Heme → Deposisi porfirin di berbagai organ tubuh. Sering dipicu paparan obat (CYP450 induced)
Klinis : abdominal pain (tanpa nyeri tekan), polyneuropathy, gejala neurologis (kejang, paralisis), psikiatrik symptomps (kecemasan, insomnia), port-wine colored urine (keunguan), takikardia, hipertensi, UL Porfobilinogen meningkat, Uroporpfirin III (+)
Jenis PJK dan Tatalaksana Definitif nya
Jawaban :
Nyeri dada PJK : terasa berat/tertekan menembus punggung, menjalar ke lengan kiri-leher-rahang-ulu hati
(+) Gejala otonom : diaforesis, mual-muntah, sinkop
a. Angina Pektoris Stabil/CCS (Chronic coronary syndrome) : nyeri dada durasi < 20 menit, membaik dengan istirahat, enzim jantung N, EKG N, Exercise stress test (+) ST Depresi/T inversi
TX : Nitrat SL 5 mg (KI : Hipotensi, post sildenafil), B-Blocker, Statin High Intensity
b. Acute Coronary Syndrome : Nyeri dada durasi >= 20 menit, tidak membaik dengan istirahat
Unstable angina pektoris (UAP) : Enzim jantung N, EKG N/T inversi/ST depresi
NSTEMI (Non-ST Elevasi Myocardial Infarct) : Enzim jantung meningkat, EKG T inversi/ST depresi → Tx : Antiplatelet, Reperfusi segera (bila risiko sangat tinggi : hemodinamik tidak stabil, syok kardiogenik, nyeri dada terjadi berulang, aritmia maligna, arrest, gagal jantung akut)
STEMI (ST Elevasi Myocardial Infarct) : Enzim jantung meningkat, EKG ST Elevasi di minimal 2 sadapan bersebelahan → TX Definitif : Reperfusi
DD : Angina prinzmetal → vasospasme arteri coroner akut saat tidur/istirahat, usia muda, saat serangan mirip ACS EKG nya → TX : nitrat
TX :
Tx awal : O A Ni Mo
Oksigenasi jika SpO2 < 90%
Anti-platelet : Aspirin 2-4 tab 80 mg (160-320 mg) kunyah + Clopidogrel 4 tab 75 mg (300 mg) (Alt : Ticagrelor 2 tab 90 mg (180 mg))
Nitrat : ISDN SL 5 mg atau Nitrogliserin 0,4-0,5 mg (maksimal diulang 3x per 5 menit) → KI : Hipotensi, post sildenafil, bradikari-takikardi parah, infark inferior, infark ventrikel kanan
Morfin IV : 5-10 mg bisa diulang 10-30 menit
Tx definitif : Reperfusi
Primary PCI : onset <= 12 jam, mampu door to baloon < 120 menit (pada faskes tanpa PCI) atau < 90 menit (pada faskes dengan PCI)
Fibrinolisis : onset <= 12 jam (paling efektif < 3 jam), alternatif PCI, door to needle < 30 menit
KI absolut : perdarahan intrakranial (kapanpun), SNH > 3 jam/< 3 bulan, neoplasma intrakranial, active internal bleeding, koagulopati, trauma kraniofasial signifikan dalam 3 bulan, susp. diseksi aorta
Obat-obatan :
Streptokinase : 1,5 Jt U dalam 100 ml D5% atau NaCl 0,9% selama 30-60 menit
Alteplase : Bolus 15 mg IV → 0,75 mg/kg selama 30 menit → 0,5 mg/kg selama 60 menit (maks dose 100 mg)
Evaluasi :
Berhasil → angografi koroner
Nyeri dada berkurang
Resolusi Segmen ST > 50%
Adanya aritmia reperfusi (AIVR)
Tidak berhasil → Rescue PCI
Arteri Koroner Utama dan ST Elevasi pada EKG
Jawaban :
a. Arteri Koroner Kiri (A. Coronaria Sinistra/LCA) : Bagian anterior, lateral kiri, dan Septal jantung (Anterior-Kiri) → I, aVL, V1-V6
A. Circumflex sinistra : Lateral kiri → I, aVL, V5-V6
A. Anterior Descendens Sinistra/Intraventricular : Septal dan anterior → V1-V2 (Septal), V3-V4 (Anterior), Anterior-Septal (V1-V4)
b. Arteri Koroner Kanan (A. Coronaria Dextra) : Bagian lateral kanan-Inferior-Posterior jantung → II, III, aVF (Inferior) - V7, V8, V9 (Posterior) - V3R, V4R, V5R (Lateral kanan)
A. Marginalis Dextra
A. Descendens Posterior
Kriteria Kilip
Jawaban :
I : Tanpa gejala gagal jantung
II : Gagal jantung akut → Ronki basah basal, S3 (+)
II : Edema pulmonum (gagal jantung akut severe)
IV : Syok kardiogenik
Cardiac Marker untuk Deteksi Infark Miokard
Jawaban :
Myoglobin (tidak spesifik, cepat) : 30 menit
CK-MB (tidak spesifik, kerusakan otot skelet) : 4-6 jam, puncak 24 jam
Troponin I dan T : 3-12 jam, puncak 24 jam
Gangguan Katup Jantung
Jawaban :
Stenosis : ketidakmampuan katup membuka sempurna
Regurgitasi/insufisiensi : ketidakmampuan katup menutup sempurna
Menentukan dari suara murmur : Bunyi murmur + Lokasi katup
MISAS : Mitral (trikuspid) Insufisiensi Stenosis Aorta (Pulmonal) Sistolik
MSAID : Mitral Stenosis Aorta Insufisiensi Distolik
Lokasi katup : ANAK-PAPA-TIDAK-MAIN
Aorta : SIC II LPSD
Pulmonal : SIC II LPSS
Trikuspid : SIC IV LPSS
Mitral : SIC V LMCS
Contoh : murmur holosistolik di SIC II LPSS → Stenosis Pulmonal
Klasifikasi Gagal Jantung dan Tx nya
Jawaban :
Klinis :
Gagal jantung kanan : ventrikel kanan gagal memompa → kongesti jaringan perifer : edema seluruh tubuh, ascites, peningkatan JVP, hepatojugular reflex +
Gagal jantung kiri : ventrikel kiri gagal memompa → CO menurun + kongesti paru → edema paru (dahak pink berbusa, ortopneu, PND, ronki basah basal +), sianosis, hipoksia
Klasifikasi :
a. Gagal jantung akut : gejala < 2 mgg, BNP/Pro BNP (+) meningkat
De Novo : pertama kali, tiba-tiba, riw. HF (-), kardiomegali (-), biasa karena Infark miokard luas
ADHF (Acute decompensated heart failure) : perburukan gagal jantung sebelumnya, kardiomegali, fakris metabolik (+)
TX : PODMoN
Posisi semi fowler 30 derajat
O2 NC 2-4 Lpm target SpO2 > 95%
Diuretic/furosemide IV 20-40 mg
Morfin IV 2-4 mg bila masih takipneu
NTG Drip 5-200 mcg/mnt jika TDS > 110 mmHg
b. Gagal jantung kronis : > 3 bulan
Sistolik (EF berkurang)
HFrEF : <= 40% → kalo membaik jadi HFimpEF
HFmrEF : 41-49%
Diastolik (EF normal)/HFpEF : >=50%
TX :
Sesak : Furosemide
Tidak sesak : 4 pilar (ABMS)
ARNI/ACE-I/ARB
Beta blocker
MRA : Spironolakton
SGLT2 Inhibitor → Dengan DM
c. Congestive heart failure : gagal jantung kanan + kiri
d. Cor-pulmonale : Gx Gagal jantung kanan (hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan sekunder ec. Hipertensi pulmonal karena penyakit paru) + Gx Peny. Paru, etiologi (akut : emboli paru, dvt ; kronis : PPOK, tb, dll.), EKG RAD-Hipertrofi ventrikel kanan-P pulmonal
TX : Etiologi, Oksigenasi, Diuretik, Vasodilator (CCB)
Kriteria NYHA untuk Derajat Keparahan Gagal Jantung
Jawaban :
Kelas 1 : tidak ada gangguan sehari-hari
Kelas 2 : sedikit keterbatasan, gejala muncul saat aktivitas berat (contoh : naik tangga), membaik dengan istirahat
Kelas 3 : keterbatasan signifikan, gejala muncul saat aktivitas harian ringan (contoh : jalan), membaik dengan istirahat
Kelas 4 : gejala muncul bahkan saat istirahat

Jenis Umum dan Khusus dari Kardiomiopati
Jawaban :
Kardiomiopati = kelainan/gangguan miokardium
Jenis umum :
Kardiomiopati hipertrofi : miokard menebal
Concentric : menebal ke dalam → ruangan sempit → gangguan pengisian ventrikel (volume diastolik) dan penurunan compliance
Excentric : menebal ke luar → volume ventrikel bertambah → kontraksi makin tidak efektif → gg. sistolik
Kardiomiopati dilatasi : miokard menipis → ventrikel dilatasi dan gangguan kontraktilitas dan ejeksi darah → gg. sistolik
Kardiomiopati restriktif : fibrosis jaringan ikat endomiokardium → miokard kaku → gg. pengisian ventrikel → gg. diastolik
Jenis khusus :
Kardiomiopati takutsubo (broken heart syndrome) : Gejala angina cardiac (ACS), RPD PJK (-), EKG ST elevasi/T inversi, Mekanisme : Pemicu stress emosional/psikis -> aktivasi simpatis berlebihan katekolamin (epinefrin & norepinefrin) >> -> disfungsi sistolik ventrikel kiri (gg. kontraktilitas) -> apical balooning
TX suportif : ACEi/ARB (antiremodelling), BB (menurunkan simpatis), Aspirin, Anti-dislipidemia
Kardiomiopati peripartum : gejala gagal jantung terjadi pada akhir kehamilan (TM3) - 5 bulan Postpartum, RPD jantung (-), Echo LVEF < 45%, BNP meningkat, ro thorax cardiomegali dengan edema pulmo
TX gagal jantung : BB, diuretik loop, hidralazin/nitrat, digoxin, pembatasan Natrium

Dx dan Tx Hipertensi Pulmonal
Jawaban :
Klinis : sesak saat aktivitas dan muda lelah kronis, tekanan arteri pulmonalis tinggi (> 20 mmHg), gejala gagal jantung kanan, batuk, hemoptisis, Thorax tampak pelebaran A. Pulmonalis dan Ground glass app., EKG P Pulmonal
TX : monoterapi awal
PDE-5 inhibitor/Phosphodiesterase inhibitor (vasodilatasi a. Pulmonal) : Sildenafil
ERA (Endotelin receptor antagonis) : Ambisentan
CCB : amlodipin, nifedipin, diltiazem
Tatalaksana awal syok hipovolemik dan gg. pompa (syok kardiogenik)
Jawaban :
Tatalaksana masalah irama → tx aritmia (taki-bradiaritmia), setelah stabil baru lanjut
Fluid challenge 2-4 ml/kgBB dalam 10 menit
TD Naik, HR turun : responsif
Inkonlusif, TD tetap, HR tetap : ulangi fluid challenge 1x lagi
Jika iresponsif fluid challenge atau HR meningkat dan TD turun/tetap → Bukan masalah volume → Masalah pompa (Syok Kardiogenik)
Hipotensi TDS < 90 mmHg, tanda syok (-) : Dobutamin 2 mcg/kg/menit IV drip
Hipotensi TDS < 90 mmHg, tanda syok (+) :
Nadi < 50x/mnt : Dopamin 5-20 mcg/kg/menit IV drip
Nadi > 50x/mnt : Norepinefrin 0,1-0,5 mcg/kg/mnt IV drip
Tatalaksana Takiaritmia
Jawaban :
Takiaritmia : HR > 100x/mnt atau >150x/mnt, palpitasi-mudah lelah-presinkop/sinkop-lemah
Mekanisme :
Gangguan pembentukan impuls
Peningkatan depolarisasi automatisasi (simpatis) di SA node
Durasi potensial aksi memanjang → depolarisasi abnormal
Gangguan konduksi impuls (re-entry) : impuls terus menerus re-entry → depolarisasi berulang
Jenis : (gambar)
QRS Sempit (< 3 kk) :
Ireguler :
P tidak terlihat : AF
P >= 3 karakteristik berbeda : Takikardia atrium multifokal
Reguler :
R-R 1 gel → SVT
R-R 2 gel → STC
R-R > 2 gel → Atrial flutter
QRS lebar (>= 3kk) :
Ireguler : VF
Reguler : VT
TX :
Instable : NIH PAS (Nyeri dada-Iskemik-Hipotensi-Penkes-Akut gagal jantung-Syok) → Kardioversi tersinkronisasi
Reguler sempit : 50-100 J
Regular lebar : 100 J
Irregular sempit : Bifasik 120-200 J
Irregular lebar : Defibrilasi 360 J
Stable : tanda instable (-)
QRS lebar : Adenosin 6 mg → 12 mg pada irama reguler + monomorfik
QRS sempit :
Reguler : Vagal manuver → Adenosin
BB atau CCB
Obat antiaritmia lain :
VT : Amiodarone IV 150 mg
AF + HF akut : Digoxin
Atrial flutter/AF : BB, CCB, Digitalis

Jenis-Jenis VES/PVC
Jawaban :
Mekanisme : depolarisasi miokardium awal (premature) akibat fokus ektopik di ventrikel di bawah Nodus AV
EKG : kompleks QRS > 3 kk, tidak diawali gelombang P
Jenis : (gambar)
TX :
Asimptomatik : tidak perlu terapi, reassurance
Simptomatik : koreksi etiologi, farmakologi (CCB non-DHP, amiodarone)
Definitif : ablasi radio frekuensi

Tatalaksana Bradiaritmia
Jawaban :
Bradiaritmia : HR < 60x/mnt atau < 50x/mnt, lemas, presinkop-sinkop
Mekanisme :
Gangguan pembentukan impuls → penurunan depolarisasi automatisasi (parasimpatis) di SA node
Gangguan konduksi impuls (re-entry) → konduksi impuls terhambat
Jenis :
Sinus Bradikardia : yang abnormal hanya HR
AV Block derajat 1 : PR interval memanjang konstan
AV Block derajat 2 :
Mobitz 1 : PR interval memanjang progresif (semakin memanjang) → drop beat (P tidak diikuti QRS)
Mobitz 2 : PR Interval memanjang konstan → drop beat (P tidak diikuti QRS)
AV Block derajat 3 : P dan QRS berjalan sendiri-sendiri, jarak P-P dan R-R reguler
TX :
Tanda instable (+) : IV Atropin dosis pertama 1 mg, ulangi tiap 3-5 menit (maks 3x, dosis max 3 mg) → Irespon → Transcutaneus Pacemaker ATAU Dopamin 5-20 mcg/kgbb/mnt titrasi IV drip ATAU Epinefrin IV drip 2-10 mcg/mnt titrasi
Cat : Pada AV Block derajat II mobitz 2 dan III langsung dilakukan pacemaker tanpa SA
Tanda instable (-) : Monitor dan observasi
Tatalaksana dan Alur Cardiac Arrest
Jawaban :
Start CPR (30 : 2, 2 menit = 5 siklus) dan Analisis Irama
Shockable : pVT atau VF
Shock (Defibrilasi : Bifasik 120-200 J atau Monofasik 360 J) → Lanjut CPR 2 menit (5 siklus) lalu evaluasi
Farmakologi :
Epinefrin 1 mg tiap 3-5 menit
Amiodarone 300 mg (dosis 1) dengan/atau tanpa dosis kedua 150 mg setelah epinefrin (bergantian, maks pemberian 2x) → antiaritmia gol. 3 (gol 1 : lidocaine)
Non-farmakologi lain : advanced airway → jika sudah terpasang CPR dan kompresi jalan sendiri (CPR : 100-120x/mnt dan VTP tiap 6-8 detik)
Non-shockable : Asistol/PEA → Epinefrin 1 mg tiap 3-5 menit + lanjut CPR 2 menit (5 siklus) lalu evaluasi (denyut, usaha nafas, irama)
Post ROSC → Recovery position, pertahankan airway, SpO2 dipertahankan > 94%, TDS dipertahankan > 90 mmHg, Lakukan EKG 12 lead, STEMI → PCI

Jenis Kelainan anatomi jantung yang dapat dilihat di EKG
Jawaban :
Hipertrofi atrium :
RAH : P Pulmonal (P tinggi > 3 kk)
LAH : P Mitral (P lebar > 3 kk, M shaped)
Hipertrofi ventrikel :
RVH : Gel R/S di V1 > 1
LVH :
Sokolow-lion : Gel S di V1 + Gel R di V5/V6 > 35
Cornell : R di V5 atau V6 > 27 mm
Bundle branch block :
RBBB (depolarisasi ventrikel kanan terhambat) : MoRRoW → gelombang rSR (huruf M) di V1-V3, inversi gel. T di V1-V3, gel S lebar di I, aVL, V5-V6
LBBB (depolarisasi ventrikel kiri terhambat) : WiLLiaM → S wave dalam di V1-V3, Notched R wave (huruf M) di I, aVL, V5-V6

Kriteria Mayor dan Minor Demam Rematik
JONES x PEACE
- Joint involvement (px)
- myOcarditis
- Nodul subkutan
- Eritema marginatum
- Sydenham chorea
- Previous demam rematik
- Ekg interval pr memanjang
- Arthralgia (subjektif)
- Crp atau led meningkat
- Elevated temperature
Klinis pasien Infective Endocarditis?
Jawaban :
Mekanisme : Infeksi pada endokard dan katup jantung ec. Adhesi bakteri pada trombus fibrin-trombosit yang terbentuk pada endotel katup yang mengalami kerusakan
Etiologi : TAS MeGan Vox (Tricuspid S. Aureus Suntikan - Mitral Gigi S. Viridans/Bovis)
Klinis : FROM JANE
- Fever
- Roth spot
- Osler nodes
- Murmur
- Janeway lesion
- Anemia
- Nailbed hemorrhage
- Emboli
Tx : AB monoterapi 4 mgg (NVE) atau 6 mgg (PVE)
Penisilin G 12-18 jt U/hari : 4-6 dosis/kontinyu (Anak : 200.000 U/kgbb/hari)
Amoxicilin 12 g/hari : 4-6 dosis (Anak : 200-300 mg/kgbb/hari)
Ceftriaxon 2 g/hari 1x (Anak : 100 mg/kgbb/hari)
Alergi penicilin : vancomycin
Terapi perikarditis?
Kombinasi anti-inflamasi:
NSAID (Aspirin 3×750 mg-1000 mg atau Ibuprofen 3x600-800 mg)
Kolkisin 2x0.5-0.6 mg
Diagnosis?
- Nyeri dada tiba-tiba seperti dirobek dan menembus ke
punggung
- Syok/hipotensi
- Tekanan darah sistolik berbeda pada tiap ekstremitas
- Defisit neurologis fokal
- Insufisiensi aorta
Diseksksi aorta
(Robekan lapisan tunika intima aorta → pemisahan dinding aorta membentuk false lumen)
Pada palpasi abdomen teraba massa pulsatif.
Diagnosis dan pemeriksaan gold-standard nya?
Dx : Aneurisma Aorta Abdominalis
Gold-standard : CT angiografi → pelebaran aorta abdominalis > 3 cm (D)
Bila ruptur : nyeri hebat mid-abdomen menjalar ke punggung, teraba massa pulsatif intraabdomen, hipotensi
Gejala dan patofisiologi dari Subclavian Steal Syndrome?
Patofisiologi : Aliran darah retrograde pada cabang arteri subclavia (arteri vertebral/arteri internal mammary) akibat stenosis atau oklusi arteri subklavia
Manifestasi klinis :
- Klaudikasio lengan → terutama saat mengangkat
tangan atau melakukan aktivitas berat karena gangguan perfusi
- Perbedaan tekanan darah pada lengan kanan dan kiri
(
6P dalam Acute Limb Ischemia?
- Pain (menetap, tidak membaik dengan istirahat, progresif)
- Pallor
- Paresthesia
- Pulseless
- Paralisis
- Poikilothermia
Perbedaan onset Acute Limb Ischemi dengan Chronic Limb Ischemi?
< 2 mgg : ALI (ec emboli) → gejala 6P (+), TX : Revaskularisasi dalam 6 jam (embolektomi, trombolisis, heparin bolus 100 U/kg lanjut 150 U/kg/jam)
> 2 mgg : CLI (ec atherosclerosis) → manifestasi ulkus (+), nyeri saat istirahat, hilang tumbul → TX : rawat luka dan AB, revaskularisasi
Penyakit Vaskular di Arteri dan Vena di Ekstremitas
Jawaban :
A. Arteri : pulsasi arteri (-)
a) Peripheral artery disease (PAD): penyumbatan arteri perifer ec. aterosklerosis/ inflamasi/ trombus → ABI < 0,9, Klaudikasio intermitten (nyeri, sensasi lelah, kram/nyeri saat aktivitas hilang dengan istirahat), gg. sirkulasi (kaki dingin, pulsasi abnormal, CRT melambat)
Klasifikasi fontaine : 1) asimptomatik; 2a) klaudikasio ringan (jalan > 200 m); 2b) klaudikasio berat (jalan < 200 m); 3) rest pain; 4) ulkus-gangren
KET : ABI = TDS ankle/TDS brakial tertinggi
TX : Aktivitas fisik, antiplatelet (aspirin-clopidogrel), arteriodilator (cilostazol), tx fakris metabolik, hindari merokok
b) Buerger disease/Tromboangitis obliterans : vasculitis arteri/vena, fakris PEROKOK, klaudikasio intermitten, nyeri di ujung kaki saat istirahat, gangren/ulkus pada ujung jari, GS Arteriography → (+) corkscrew app./gambaran kolateral berkelok-kelok
TX : Inhibitor fosfodiesterase-3 (Cilostazol 2x100 mg, Pada HF : 2x50 mg), STOP MEROKOK
c) Raynaud disease (primer) : vasospasme pembuluh arteri ekstremitas (terutama jari tangan-kaki) ec. paparan suhu dingin dan stress, penyakit penyerta (-), kulit berubah pucat-biru (spasme dan hipoksia) lalu merah disertai baal, ANA test (-), doppler (px awal), GS Arteriografi
d) Raynaud phenomenon (sekunder) : RPD (+ : SLE, RA, Sjorgen, scleroderma), nyeri hebat saat serangan, pembengkakan-ulkus-gangren, ANA test (+)
e) Emboli arteri : gejala ALI pada ekstremitas (6P+), fakris riw. atrial fibrilasi tidak rutin konsumsi antikoagulan/tirah baring lama, GS Angiografi
TX : embolektomi
B. Vena : pulsasi arteri (+)
a) Vena varikosa : tampak dinding vena tebal-berkelok (Asal dari vena superficial), trendelenberg test (+)
Jenis : primer (dari vena superficial biasa), sekunder (dari insufisiensi vena dan DVT)
TX : Hindari berdiri terlalu lama, compression stocking, elevasi tungkai
b) DVT : kaki bengkak-tanda inflamasi-UNILATERAL, nyeri saat berjalan-berdiri-istirahat, homan sign (+), riwayat imobilisasi (post operasi besar, cedera di ekstremitas, ranap, kanker), diagnostik dengan USG Vena, dapat diikuti emboli paru, skor wells > 2 poin
TX : Antikoagulan (Heparin warfarin 80 U/kg IV bolus → infus kontinyu 18 U/kg/jam, Dalteparin, enoxaparin, rivoraxaban, dabig
c) Trombofeblitis : peradangan permukaan vena disertai pembekuan darah, fakris → infus, varises, obes, hamil, malignansi, homan sign (-), px tanda peradangan lokal (+) KDRT
TX : analgetik (NSAID) + kompres hangat, AB (bila infeksi)
d) Insufisiensi vena kronik : gg. aliran balik darah dari tungkai ke jantung menahun, fakris berdiri dan duduk terlalu lama-kehamilan, tungkai nyeri-panas-berat, tampak pelebaran vena permukaan, kulit berubah warna jadi kuning-kecoklatan → dermatitis statis-edema-ulcer
Tx : elevasi tungkai periodik, hindari berdiri/duduk terlalu lama, compression stocking
Kelainan pada Tetralogy of Fallot?
VORS
- Vsd
- Overiding aorta
- Rvh
- Stenosis pulmonal
(+) Pentalogy : ASD
Penyempitan aorta seringkali pada area distal percabangan a. Subclavia terjadi pada apa dan khas nya?
Jawaban : Koarktasio aorta
Khas : Perbedaan TD ekstremitas atas dan bawah, Figure of 3
TX : PGE1 (E.g : alpostadil), inotropik, diuretik, ACE-i
Gambaran ST Elevasi difus (di semua lead) dan adanya water bottle appereance?
Pericarditis
Gambaran thorax egg on string ada pada?
TGA (transposition of great arteries)

Pasien susp. DF OF H2, pemeriksaan yang tepat?
NS1 dan RT-PCR
Apa gejala khas Dengue Fever?
Demam (mendadak tinggi) + KLMNOP
- Kepala nyeri
- Lemas
- Mual muntah
- Nyeri
- Otot dan orbita
- Perdarahan spontan
Pasien dengan serologi dengue (+), dengan keluhan tiba-tiba mimisan dan gusi berdarah. Klasifikasi WHO nya?
DBD derajat 2 : ada bukti kebocoran plasma + perdarahan spontan
Kriteria lain :
DB : gejala khas + tanpa bukti plasma leakage
DBD 1 : plasma leakage + manifestasi perdarahan spontan (-)
DBD 3 : ada kegagalan sirkulasi, TD masih bisa terukur
DBD 4 : TD dan Nadi tak terukur
Cat : 3 dan 4 itu DSS
Warning Sign dari Dengue Fever
Jawaban :
Dengan cerita : Ada pasien yang MUNTAH terus (persisten) → PERUT nya jadi NYERI dan seperti terisi CAIRAN (akumulasi cairan) → dia sampai LETARGI dan LEMAS → Saat diperiksa ada PEMBESARAN HEPAR > 2 cm → Dicek Lab HT nya meningkat namun AT nya menurun cepat → akhirnya ada PERDARAHAN MUKOSA
List :
Muntah persisten
Nyeri perut
Tanda akumulasi cairan
Pembesaran hepar > 2 cm
Letargi dan lemas
HT meningkat, AT menurun cepat
Perdarahan mukosa
Klasifikasi :
Tanpa Warning sign : Dengue fever
Dengan warning signs : DHF 1-2
Kebocoran plasma berat + perdarahan berat + kerusakan organ berat : Severe dengue
Hitung kebutuhan cairan dengan Holliday Segar jika BB 50 kg!
Jawaban :
Per hari :
- 10 kg pertama : 10 x 100 = 1000
- 10 kg kedua : 10 x 50 = 500
- Setiap 1 kg setelahnya : 30 x 20 = 600
Total = 2100 ml/hari
Per jam :
- 10 kg pertama = 10 x 4 = 40
- 10 kg kedua = 10 x 2 = 20
- 1 kg setelahnya = 30 x 1 = 30
Total = 90 ml/jam
Rumus :
Per Hari (100-50-20)
10 kg pertama → 100 mL/kg/hari
10 kg berikutnya (11-20 kg) → 50 mL/kg/hari
BB >20 kg → 20 mL/kg/hari untuk setiap kg di atas 20 kg
Per Jam (4-2-1)
10 kg pertama → 4 mL/kg/jam
10 kg berikutnya → 2 mL/kg/jam
Di atas 20 kg → 1 mL/kg/jam
Terapi Dengue Fever, DHF, dan DSS
Jawaban :
a. DF : Rawat jalan + Manajemen cairan (holliday segar) + perhatikan warning sign + Cek DL setiap hari → ke RS jika ada peningkatan HT dan/atau penurunan AT
b. DHF/Tanpa syok (1-2) : Rawat inap + resusitasi cairan
Start : 7 ml/kgBB dalam 1 jam → Evaluasi TTV dan HT
Membaik terus (TTV normal, HT turun) : turunkan per jam 2 ml/kgbb (Jam-2 : 5 ml/kgBB/jam → Jam 3 : 3 ml/kgBB/jam → Jam 4 : 1,5 ml/kgBB/jam dilanjutkan selama 24 jam)
Tidak ada perbaikan : naikkan 5 ml/kgBB/jam hingga jam ke-3 (Jam 2 : 10 ml/kgBB/jam → Jam 3 : 15 ml/kgBB/jam) → Tidak naik Jam 4 : Koloid 10 ml/kgBB/jam → Tidak naik Jam 5 : tx penyebab lain (anemia, asidosis, disfungsi miokard, dll.)
Kesimpulan : Jika membaik → diturunkan, Jika memburuk → dinaikkan
c. DSS (3-4) :
DSS (3) : Start 10-20 ml/kgBB dalam 1 jam → Evaluasi TTV dan HT
DSS (4) : Start 10-20 ml/kgBB dalam 10-20 menit → Evaluasi TTV dan HT
Membaik terus (TTV normal, HT turun) : Jam ke 2 jadi 10 ml/kgBB → Jam ke 3 diturunkan ke seperti terapi DHF 1-2 yaitu 7 ml/kgBB/jam → Jam ke 4 jadi 5 ml/kgBB/jam → Jam ke 3 jadi 3 ml/kgBB/jam → Jam ke 4 jadi 1,5 ml/kgbb/jam lalu dipertahankan 24 jam
Tidak membaik/Memburuk : TTV memburuk disertai →
HT menurun (susp terjadi perdarahan) : transfusi darah
HT meningkat (susp plasma leakage masih terjadi) : masuk cairan bolus kedua kristaloid/koloid 10-20 ml/kgBB dalam 1 jam → menetap → transfusi
Gambaran Apusan Darah Tepi Tipis dari Malaria?
M. Falciparum (FM): Maurer dot (khas), trofozoit (accole ring, cincin/ringform, double dot), gametosit (bulan sabit/pisang/sosis)
M. Vivax (ViS) : Schuffer dot (Khas), trofozoit (ameboid, double ring) gametosit (sferis besar)
M. Ovale (OJek) : James dot (khas), trofozoit (fimbriated/berekor/mirip roket), gametosit (sferis lebih kecil)
M. Malariae (MaZ) : Ziemann's dot (khas), trofozoit (band/rectangular), skizon (rosette/daisy 8 merozoit), gametosit (basket)
Pola demam jenis malaria?
M. Falciparum : tropikana/intermitten (1 hari bebas demam)
M. Vivax dan Ovale : tertiana (2 hari bebas demam)
M. Malariae : quartana (3 hari bebas demam)
Terapi malaria dewasa first line?
Durasi :
M. Falciparum : 3DHP 1P
M. Vivax dan Ovale : 3DHP 14P
M. Malariae : 3DHP
Jumlah tablet harian/BB : DHP
- 40-60 kg : 3 tab
- 60-80 kg : 4 tab
- > 80 kg : 5 tab
Jumlah tablet harian/BB : Primakuin
> 40 kg : 1 tab
Cat :
- Dosis normal Primakuin : 0.25/kgBB/hari -> Jika kasus relaps : 0.5/kgBB/hari
- Kalau infeksi campuran : 3DHP 14P
Terapi malaria dewasa second line?
Falciparum : 7Kina 1P 7Ab (Doxicyclin/Tetracyclin)
Vivax/ovale : 7Kina 14P
Malariae : 7 Kina + 7Ab
Bumil : 7 Kina + 7Ab (khusus : klindamisin)
Cat :
Sediaan Kina : Tablet (Tanpa komplikasi) atau Injeksi (Berat)
Dosis terapi malaria berat?
Artesunat (sediaan vial 60 mg/ml)
- H1 : 2,4 mg/kgBB di jam 0-12-24
- H-selanjutnya : 1x2,4 mg/kgBB/jam
Artemeter (sediaan ampul 80 mg/ml)
- H1 : 1x3,2 mg/kgBB
- H-selanjutnya : 1x1,6 mg/kgBB
Profilaksis malaria?
- Klorokuin tab 300 mg/minggu : 1 mgg sblm - selama - 4 mgg sesudah
- Doxisiklin tab 100 mg/ hari : 1-2 hari sblm - selama - 4 mgg sesudah
- Mefloquin tab 250 mg/minggu : 2 mgg sblm - selama - 4 mgg sesudah
- Atovaquon 250 mg + Proguanil 100 mg per Hari : 1-2 hafi sblm - selama - 1 mgg sesudah
Terapi antibiotik untuk leptospirosis?
berDoA pakai PeCi Dulu selama 7 hari
Ringan : DoA (PO)
- Doksisiklin 2x100 mg 7 hari (KI : anak, bumil)
- Amoxicilin 3x500 mg 7 hari
- Ampicilin 4x500-750 mg 7 hari (DOC bumil dan anak)
- Azitromisin 1x500 mg 3 hari
Berat : PeCi Dulu (Parenteral)
- Penicilin G 4x1,5 jt U 7 hari
- Ceftriaxon 1x1 gr 7 hari
- Cefotaxime 4x1 gr 7 hari
- Doxisiklin 2x100 mg 7 hari
Durasi : Ami Pesan Celana 4, sedangkan Azi dan Cefo 1. Sisa 7.
Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis leptospirosis?
1) Fase Leptospiremia (
Px penunjang Gold standard untuk tifoid sesuai waktunya?
D-F-U
Minggu 1 : Kultur darah
Minggu 2 : Kultur feses
Minggu 3 : Kultur urin
Px penunjang lain dari tifoid?
Lab rutin : leukopenia, trombositopeni, limfositosis relatif
Demam H4-5 : Tes Tubex dan Typhidot
Demam H7-dst : Widal
Widal positif pada hasil?
- Titer O >= 1/320
- Titer H >= 1/640
- Kenaikan titer 4x
Tubex positif jika warna/indikator?
(+) 4 : merah bata soft
(+) kuat 6 : ungu
Terapi antibiotik untuk demam tifoid?
DeCi Anak haRAM
Dewasa :
1st line : Ciprofloxacin 2x500 mg 7 hari
Lainnya : Ofloxacin 2x400 mg 7 hari, Levofloxacin 1x500 mg 5 hari
Udah jarang : Kloramfenikol 4x500 mg 10-14 hari PO/IV sampai 7 hari bebas demam
Anak :
1st line : Kloramfenikol 4x50-100 mg/kgBB sampai 7 hari bebas demam (KI : AL < 2000)
Alt : Tiamfenikol 4x500 mg
2nd line :
Ampicilin 100 mg/kgBB/hari
Ceftriaxon : 1x3-4 gr/hari dalam Infus Dextrose 100 cc selama 30 menit durasi 3-5 hari
Cefixime : 2x20 mg/kgBB selama 10 hari
Cortimoxazole : 6 mg/kgBB/hari
Cat : Bumil dikasi amox/ampi/ceftri/cefixime
Pemeriksaan HIV pada bayi baru lahir?
Usia < 18 bulan : Virologi (replikasi virus) -> PCR
Usia > 18 bulan : Serologi (lihat Antibodi) -> Rapid Test, ELISA, western blot
Gold standard : PCT, western blot
Skrining : Rapid Test
Pemeriksaan penunjang untuk monitoring terapi HIV?
Jumlah CD4+ dan Viral load
Regimen ARV HIV dewasa?
1st line : TeLE (Tenofovir, Lamivudine, Efaviren) -> TDF + 3TC + EFV
2nd line : ZaLEF (Zidovudin, Lamivudin, Efaviren) -> AZT + 3TC + EFV
3rd line : TeLAN (Tenofovir + Lamivudin + Nevirapin) -> TDF + 3TC + NVP
Catatan : Kontraindikasi
- TDF : Pasien renal clearance kurang (CKD, DM, HT)
- AZT : Hb < 10
Stadium HIV pada Pasien dengan diare kronis tanpa penyebab yg jelas dan demam berulang?
Jawaban : St. 3
Derajat HIV :
St.1 : KGB generalisata, NT (-)
St.2 : Penurunan BB < 10%, Infeksi mukokutan (Ulkus mulut berulang, Herpes Zooster, Dermatitis seboroik, ISPA berulang)
St.3 : Penurunan BB > 10%, Demam Intermitten/> 1 bulan, Diare kronis tanpa penyebab yg jelas, Infeksi Per Organ (TB paru, Candidiasis oral, oral hairy leukoplakia, meningitis, empyema, bakteremia), Anemia (< 8), neutropenia (<500), dan trombositopenia (<50.000)
St.4 : Wasting, Pneumonia Pneumocystis Jiroveci, Infeksi menyebar (Kandidiasis esofageal-trakea-paru, TB ekstraparu, Toxoplasmosis, Kriptokoksis, Limfoma Serebral/non-hodgkin), Diare/demam kronik
Klasifikasi Ablett pada Tetanus derajat 2 adalah?
Derajat 1 : Trismus ringan, rigiditas (-) TTV stabil
Derajat 2 : Trismus sedang, disfagia ringan, rigiditas (+), spasme singkat, TTV abnormal (RR > 30)
Derajat 3 : Trismus berat, disfagia berat, rigiditas generalisata, spasme lama, TTV abnormal (RR > 40, apneu spell, Nadi > 120x)
Derajat 4 : derajat 3 + gangguan otonom
Pada pasien tetanus dengan luka kotor dan riwayat baru 1 dosis vaksin diberikan?
Jawaban : Td (vaksin) + Imunoglobulin/ATS
Pasien luka bersih :
- Dosis < 3 : Beri Td
- Dosis >= 3 :
—> Riw. Vaksin >= 10 thn (+) : Beri td
—> Riw. Vaksin < 10 th (+) : Tidak beri
Pasien luka kotor :
- Dosis < 3 : Beri Td + Imunoglobulin
- Dosis >= 3 :
—> Riw. Vaksin < 5 th : Tidak diberi
—> Riw. Vaksin >= 5 th : Beri Td
Bagaimana jenis luka yang termasuk risiko tetanus?
Luka KLL, luka bakar, luka tertusuk paku berkarat, luka terkontaminasi feses dan saliva
Berapa dosis ATS dan TIG?
Jawaban :
ATS (skin test dulu) :
Dewasa : IM 50.000 U -> Infus lambat 50.000 U
Anak : 5.000-10.000 U ( ½ dosis IM, ½ dosis IV)
HTIG :
Dewasa : IM SD 3000-6000 U (1A = 250 U)
Anak : IM 300-600 U
Terapi kuratif untuk tetanus?
Antibiotik :
Dewasa :
IV Metronidazole 3-4 x 500 mg 7-10 hari
IV Penicilin G 2-4 Juta U 4-6 dd 7-10 hari
Anak :
Metronidazole Loading dose 15 mg/kgbb → 2-3x7,5 mg/kgbb
IM Penisilin prokain 2x50.000 U/kgbb
Ampisilin 2-3x50 mg/kgbb
Eritromisin 3x15-25 mg/kgbb
Pasien BAB berdarah, apa saja kemungkinan diagnosis bandingnya? Untuk pemeriksaan awal/skrining apakah yang pemeriksaan yang digunakan dan apa hasilnya?
Px penunjang awal : Feses lengkap -> Gold standard : Kultur feses
DD :
1) Shigellosis (Disentri basiler)
Klinis : Gejala infeksi sistemik (Demam, lemas), infeksi lokal (nyeri perut, kram perut), BAB > 10x namun sedikit-sedikit
Hasil feses : Merah terang, pH basa, tidak berbau, Bakteri gram (-), ghost cell (+)
2) E. Histolytica (Disentri amoeba) : Gejala ringan (walking diarrhea), BAB > 10x namun banyak, berbau busuk
Hasil feses : Merah gelap, bau busuk, pH asam, Kista berinti 4, kristal charcot leyden, eusinofilia
3) Balantidiasis :
Hasil mikroskopis : parasit dengan silia, berbentuk lonjong, mikro dan makro nuklear

Terapi antibiotik untuk diare diberikan pada kausa apa? DOC nya?
Jawaban : bakterial dan parasit
Bakterial
1) Shigellosis
- Adult : Ciprofloxacin 2x500 mg 3 hari ATAU Koltrimoxazole 1x960 mg 3 hari
- Child : Klotrimoxazole 1x15 mg/kgBB/hari 3 hari
2) E. Histolytica
- Adult : Metronidazole 3x500 mg 5-10 hari
- Child : Metronidazole 35-50 mg/kgBB 5-10 hari
3) Giardiasis
- Adult : Metronidazole 3x250 mg 5 hari
- Child : Metronidazole 3x15mg/KgBB 5 hari
4) Balantidiasis
- Adult : Metronidazole 3x500 mg 5 hari
- Child : Metronidazole 4x250 mg 5 hari
5) Cholera
- Adult : Doxisiklin 300 mg SD atau Azitromisin 1 gr SD, Eritromisin 4x500 mg 3 hari
- Anak : Azitromisin 20 mg/kgBB SD atau Eritromisin 4x12.5 mg/kgBB 3 hari
6) C. Defficile : Metronidazole 3x500 mg 7-10 hari
Bagaimana gambaran mikroskopis giardiasis?
Gambaran Kista, trofozoit Berbentuk Pir, Berinti (mirip wajah), berflagel simetris lateral

Bakteri gram negatif berbentuk koma dengan monotrichoua flagel yang menyebabkan diare? Pemeriksaan khusus yang bisa melihatnya?
Vibrio cholera, pemeriksaan mikroskopis lapang gelap.
Klinis : diare seperti cucian beras (odorless, colorless) tanpa kram perut, muntah tanpa mual, dehidrasi berat
Gambaran kolonoskopi pada pasien Infeksi C. Defficile adalah?
Colitis pseudomembran
Stadium infektif dan diagnostik dari filariasis?
Infektif (dari nyamuk) : Larva L3
Diagnostik (dari darah/limfatik) : mikrofilaria
Diperiksa dengan Apusan Darah Tebal/Tipis dengan Pewarnaan Giemsa /wright