1/24
Kumpulan kartu perbendaharaan kata (vocabulary flashcards) mengenai Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan Indonesia, mencakup potensi kelautan, bioteknologi, WPP-RI, statistik ekonomi, dan parameter habitat ikan.
Ekonomi Kelautan (Marine Economy)
Kegiatan ekonomi yang berlangsung di wilayah pesisir dan lautan, serta kegiatan ekonomi di darat (lahan atas) yang memanfaatkan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan kelautan untuk menghasilkan barang dan jasa (goods and services) yang dibutuhkan manusia (Dahuri, 2003; Kildow, 2005).

Five Comparative Advantages of Marine and Fisheries Development
Lima keunggulan komparatif pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia menurut Indroyono Soesilo (2003), mencakup: Marine Mega Biodiversity, Dynamic Oceanography and Climate Variability, Archipelagic Nation Concept Based On UNCLOS-1982, Geotectonic Position, dan International Sea Lanes.

Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-RI)
Wilayah pembagian administratif pengelolaan sumber daya perikanan penangkapan di laut Indonesia yang terbagi menjadi 11 zona bernomor kode serta wilayah laut lepas (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik).
WPP-RI 718
Wilayah Pengelolaan Perikanan yang meliputi kawasan perairan Teluk Aru, Teluk Arafuru, dan Laut Timor Bagian Timur, yang tercatat menampung izin kapal pusat beroperasi terbanyak pada tahun 2019 (1.488 kapal).
WPP-RI 571
Wilayah Pengelolaan Perikanan yang mencakup kawasan perairan Selat Malaka dan Laut Andaman.
WPP-RI 711
Wilayah Pengelolaan Perikanan yang mencakup kawasan perairan Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan.
WPP-RI 712
Wilayah Pengelolaan Perikanan yang mencakup seluruh perairan Laut Jawa.
Domain Industri Bioteknologi Kelautan
Tiga pilar industri bioteknologi perairan: (1) ekstraksi senyawa bioaktif untuk nutraseutikal, farmasi, dan kosmetik; (2) rekayasa genetik (genetic engineering) untuk induk dan benih unggul; dan (3) rekayasa genetik mikroorganisme untuk bioremediasi lingkungan tercemar.
Bioremediasi Kelautan
Pemanfaatan alga, moluska, dan organisme renik seperti mikroba/bakteri untuk menyerap atau membersihkan logam berat dan polutan di perairan laut.
Senyawa Bioaktif Spons dan Karang Lunak (Soft Corals)
Kandungan alami dari biota spons dan karang lunak yang dimanfaatkan sebagai bahan baku obat antikanker, antibakteri, antiasma, dan bahan antifouling.
Senyawa Bioaktif Tunicate (Invertebrata Laut)
Ekstrak dari kelompok avertebrata laut tunicate yang dimanfaatkan dalam industri medis untuk penyembuhan leukemia, melanoma B-16, dan sarkoma M5076.
Senyawa Bioaktif Empedu Ikan Buntal
Ekstrak organ perairan yang berfungsi sebagai obat pemulihan kerusakan saraf otak serta zat anestesi bagi tindakan operasi bedah.
Khitin dan Khitosan
Produk bernilai tambah tinggi hasil ekstraksi limbah cangkang krustasea (udang, kepiting, rajungan, dan lobster) untuk keperluan industri pangan, farmasi, dan bioteknologi.
Spirulina
Mikroalga yang mengandung phycocyanin, kaya vitamin dan mineral, memiliki kadar kalsium lebih tinggi dibandingkan susu hewani, zat besi 3 kali lebih besar dibanding bayam, serta berfungsi untuk kesehatan hati, ginjal, mata (zeasantin), antikanker, dan antiracun.
Teripang (Gamat)
Biota laut avertebrata yang dimanfaatkan dalam bidang farmakologi alami untuk membantu mengatasi sirosis, stroke, asma, diabetes melitus, dan jantung koroner.
Rantai Nilai Tambah Eucheuma cottonii
Tahapan kenaikan nilai ekonomi rumput laut: Raw Material (Rp 4.500/kg), Chip (Rp 29.000/kg), Semi Refined Carrageenan (Rp 51.000/kg), Refined Carrageenan (Rp 180.000−200.000/kg), hingga produk jadi/End Product (mencapai ±500 produk turunan).

Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI / PELIKAN)
Peta tematik prediksi sebaran spasial lokasi potensi penangkapan ikan komersial (seperti lemuru atau tuna mata besar) yang dibuat berbasis pendekatan statistik data satelit dan permodelan numerik oseanografi oleh Balai Riset dan Observasi Laut (BROL).
Maximum Sustainable Yield (MSY) Ikan Indonesia 2017
Angka potensi lestari sumber daya ikan nasional yang tercatat mencapai 12,54 juta ton/tahun pada tahun 2017, meningkat signifikan dari 6,19 juta ton/tahun pada tahun 1997.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) SDA Perikanan 2017
Realisasi penerimaan negara dari sumber daya perikanan yang mencapai nilai tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun (2007–2017), yaitu sebesar Rp 491,08 milyar.
Estimasi Potensi Nilai Ekonomi Kelautan Indonesia
Total nilai ekonomi kelautan dari 11 sektor yang diperkirakan oleh Dahuri (2018) mencapai 1.338 milyar dolar AS/tahun, dengan kontributor terbesar dari perikanan budidaya (210 milyar), ESDM (210 milyar), dan industri/jasa maritim (200 milyar).
Preferensi Habitat Yellowfin Tuna (Thunnus albacares)
Spesies tuna pelagis yang menyukai temperatur perairan antara 16,5−28,9∘C (rata-rata 26,7∘C) dengan sebaran kedalaman hidup berkisar 1−100 m (maksimal 250 m).
Preferensi Habitat Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis)
Spesies ikan cakalang yang hidup pada perairan dengan rentang suhu 13,3−29∘C (rata-rata 26,2∘C) dan kedalaman antara 0−260 m.
Preferensi Habitat Lemuru Bali (Sardinella lemuru)
Spesies ikan pelagis kecil bernilai ekonomis yang berada pada perairan bersuhu 22,8−28,6∘C (rata-rata 27,8∘C) dan kedalaman 15−100 m.
Kerugian Illegal Fishing Indonesia
Kerugian negara akibat kegiatan penangkapan ikan secara ilegal di wilayah laut Indonesia yang diestimasi mencapai US$2 milyar per tahun (Indroyono Soesilo, 2003).

Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta
Pelabuhan pendaratan perikanan samudera kelas utama yang berlokasi di Muara Baru, Jakarta, yang berfungsi sebagai simpul rantai pasok industri perikanan tangkap, pengolahan, dan ekspor nasional.