1/26
Kumpulan kartu kilas kosakata medis mengenai definisi, histopatologi, spektrum klinis, kriteria diagnosis, dan tatalaksana dermatitis/eksem berdasarkan kuliah Dr. dr. Suci Prawitasari, Sp.D.V.E, Subsp.D.A.I.
Name | Mastery | Learn | Test | Matching | Spaced | Call with Kai | Chat |
|---|
No analytics yet
Send a link to your students to track their progress

Spongiosis
Edema interselular pada lapisan epidermis yang membentuk celah atau vesikel mikroskopis; merupakan tanda histopatologis karakteristik dari dermatitis fase akut.
Akantosis (Acanthosis)
Penebalan pada lapisan epidermis kulit yang lebih menonjol ditemukan pada dermatitis stadium kronis.
Transepidermal Water Loss (TEWL)
Kehilangan air dari dalam kulit menuju lingkungan luar yang meningkat secara signifikan akibat rusaknya integritas sawar epidermis (epidermal skin barrier).
Dermatitis Akut
Stadium dermatitis yang ditandai oleh lesi eritema, edema, papul, vesikel, bula, serta pembentukan cairan eksudat/basah (oozing) dengan gambaran spongiosis meningkat.
Dermatitis Subakut
Stadium peralihan dermatitis yang ditandai dengan penurunan intensitas eritema, berkurangnya vesikulasi, munculnya skuama (scaling), krusta (crusting), serta erosi atau ekskoriasi.
Dermatitis Kronis
Stadium klinis dermatitis jangka panjang yang ditandai dengan xerosis (kulit sangat kering), skuama tebal, likenifikasi (penebalan kulit dengan relief garis kulit yang jelas), dan fisura (retakan kulit).
Prinsip Pemilihan Vehikulum Topikal
Panduan pemilihan bentuk sediaan berdasarkan stadium klinis lesi: kompres basah terbuka (open wet dressing) untuk lesi akut/basah (oozing), losion atau krim untuk lesi subakut, dan salep (ointment) untuk lesi kronis/likenifikasi.
Dermatitis Kontak Iritan (DKI)
Reaksi inflamasi kulit non-imunologis akibat kerusakan sawar epidermis langsung oleh pajanan zat iritan kimiawi atau fisik tanpa memerlukan proses sensitisasi sebelumnya.
Pekerjaan Basah (Wet Work)
Kondisi okupasional pemicu utama DKI kumulatif dengan kriteria: tangan terpajan cairan >2 jam per hari, penggunaan sarung tangan oklusif >2 jam per hari, atau mencuci tangan/menggunakan hand sanitizer >20 kali per hari.
Dermatitis Kontak Alergik (DKA)
Reaksi inflamasi kulit yang diperantarai oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat (tipe IV) yang diinduksi oleh alergen kontak spesifik pada individu yang sebelumnya telah tersensitisasi.
Fase Sensitisasi (Fase Aferen DKA)
Fase awal DKA saat hapten menembus kulit, berikatan dengan protein epidermis, dipresentasikan oleh sel dendritik/Langerhans ke kelenjar getah bening untuk mengaktifkan sel T naif menjadi sel T memori spesifik.
Fase Elisitasi (Fase Eferen DKA)
Fase respon imun saat pajanan ulang terhadap alergen yang sama mengaktifkan sel T efektor (CD8+) dan sel T regulator (CD4+) di kulit untuk melepaskan sitokin, merekrut leukosit, dan menimbulkan lesi eksem.
Pola Reaksi Crescendo
Pola reaksi pada uji tempel (patch test) di mana intensitas inflamasi meningkat seiring berjalannya waktu dan mencapai puncaknya pada jam ke-72 hingga ke-96, yang mengindikasikan reaksi kontak alergi (DKA).
Pola Reaksi Decrescendo
Pola reaksi pada uji tempel (patch test) di mana intensitas reaksi paling kuat pada pembacaan awal (48 jam) lalu menurun seiring waktu, yang menunjukkan reaksi iritasi (DKI).
Dermatitis Venenata
Dermatitis kontak iritan toksik akut yang disebabkan oleh kontak dengan toksin pederin dari serangga kumbang Paederus (tomcat), ditandai dengan lesi linier eritematosa disertai vesikel atau bula dan rasa panas terbakar.
Dermatitis Atopik (DA)
Penyakit kulit inflamasi kronis dan residif dengan gejala utama gatal intens, yang timbul akibat interaksi kerentanan genetik, disfungsi sawar kulit (misalnya defek gen FLG), disregulasi imun Th2/Th22, dan faktor lingkungan.

Dermatitis Atopik Fase Infantil
Bentuk klinis dermatitis atopik yang bermula pada awal masa bayi, ditandai lesi eksem akut yang lebih eksudatif dengan predileksi pada pipi/wajah, kulit kepala, dan area ekstensor ekstremitas.

Dermatitis Atopik Fase Anak (Childhood Phase)
Bentuk klinis dermatitis atopik pada anak yang ditandai lesi lebih kering dan mulai mengalami likenifikasi, dengan predileksi dominan pada area fleksural (fosa antekubiti, fosa poplitea, leher, dan pergelangan tangan/kaki).
Lipatan Dennie-Morgan (Dennie-Morgan Folds)
Garis atau lipatan ganda yang terlihat jelas di bawah margin kelopak mata bagian bawah; merupakan salah satu kriteria minor Hanifin-Rajka untuk diagnosis dermatitis atopik.
Skor SCORAD
Sistem penilaian terstandarisasi (SCORing Atopic Dermatitis) untuk mengukur keparahan dermatitis atopik; dikelompokkan menjadi derajat ringan (<25), sedang (25−50), dan berat (>50).
Pitiriasis Alba
Kelainan kulit eksematosa jinak dan sembuh sendiri (self-limited), ditandai dengan makula hipopigmentasi berbatas tidak tegas dengan skuama halus di atasnya, paling sering muncul pada wajah anak dan remaja.

Dermatitis Numularis
Kelainan eksematosa yang sangat gatal ditandai dengan plak eritematosa berbatas tegas berbentuk bulat menyerupai uang koin (coin-shaped) yang tersusun dari gabungan papul dan papulovesikel.

Liken Simpleks Kronik (Neurodermatitis)
Penyakit inflamasi kulit kronis akibat garukan atau gosokan berulang karena siklus gatal-garuk (itch-scratch cycle), ditandai dengan plak likenifikasi tebal, kering, berskuama, dengan pruritus paroksismal yang intens.
Dermatitis Stasis
Dermatitis eksematosa pada tungkai bawah dan pergelangan kaki (terutama supramaleolar medial) yang timbul akibat hipertensi vena sekunder dari insufisiensi vena kronis (chronic venous insufficiency / CVI).
Terapi Kompresi (Compression Therapy)
Pilar utama tatalaksana mekanis pada dermatitis stasis yang berfungsi mengatasi hipertensi vena dan mengurangi edema pada tungkai bawah.
Dermatitis Seboroik
Kelainan inflamasi papuloskuamosa kronis dengan distribusi usia bimodal (infantil dan dewasa) yang mengenai area tubuh kaya kelenjar sebasea dan dipicu oleh proliferasi ragi Malassezia spp. serta sekresi sebum.
Cradle Cap
Bentuk klinis dermatitis seboroik pada bayi yang muncul pada minggu-minggu pertama kehidupan di kulit kepala, ditandai dengan skuama berminyak kekuningan/putih yang umumnya tidak terasa gatal dan bersifat sembuh sendiri.