Sejarah Perkembangan Museum di Indonesia
Sejarah Perkembangan Museum di Indonesia
Pengantar
- Manusia memiliki kegemaran mengumpulkan benda menarik/unik sejak lama, terbukti dari temuan di makam prasejarah.
- Museum berasal dari kata Yunani mouseion, yaitu kuil untuk memuja dewi inspirasi, pembelajaran, seni.
- Museum primitif ada di Mesopotamia awal milenium ke-2 SM.
- Raja Sumeria mengoleksi benda antik abad ke-6 SM, disimpan dekat kuil.
- Di Eropa (Yunani, Romawi), museum lahir dari pampasan perang.
- Renaisans abad ke-15 mendorong ilmu pengetahuan sehingga museum lahir dari hobi bangsawan Eropa mengumpulkan benda kuno.
- Benda kuno yang menarik, indah, aneh, langka sangat diminati.
- Kalangan ini disebut antiquarian.
- Orang Eropa punya sifat kritis sehingga ilmu berkembang pesat.
- Pedagang barang antik membawa kisah dan benda dari negara non-Eropa, meningkatkan kesadaran akan budaya lain.
- Minat pada sejarah Eropa berkembang luas hingga abad ke-17.
- Kegiatan orang berada dan terpelajar menghasilkan koleksi benda kuno dalam jumlah besar, disimpan di suatu tempat.
- Mereka mempertontonkan koleksi dan berdiskusi, tetapi 'museum' belum terbuka untuk umum.
Tujuan Bangsa Eropa ke Nusantara
- Tujuan utama adalah mencari rempah-rempah.
- Mereka tertarik dengan flora, fauna, dan budaya Nusantara yang eksotik.
- Mereka melakukan ekspedisi dan penelitian ilmiah ke pedalaman.
- Georg Eberhard Rumpf (Rumphius) adalah naturalis yang bekerja untuk VOC, mengumpulkan spesies tumbuhan dan kerang di Ambon sejak 1662.
Cikal Bakal Museum Nasional
- Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen didirikan di Batavia pada 24 April 1778.
- Benda arkeologi dan etnografi milik kolektor dan cendekiawan dikumpulkan di sini, antara lain milik J.C.M. Radermacher (numismatik) dan Egbert Willem van Orsoy de Flines (keramik).
- Raden Saleh Sjarif Bustaman (pelukis, bangsawan, ilmuwan) mencari benda arkeologi dan manuskrip di Jawa, bahkan melakukan ekskavasi fosil. Sumbangannya sangat besar terhadap Bataviaasch Genootschap.
- F.W. Junghuhn menyumbangkan temuan fosil mamalia.
- Bupati Galuh, Kinsbergen, dan Canter Visscher juga menyumbang.
- Di Jawa, bangsawan juga memperhatikan kebudayaan.
- K.R.A Sosrodiningrat IV mendirikan Museum Radya Pustaka (1890) di Surakarta, didukung keraton seperti R.T.H. Joyodiningrat II dan G.P.H. Hadiwijaya.
- Museum Sonobudoyo di Yogyakarta berawal dari Java Instituut (1919) di Surakarta yang bergerak dalam kebudayaan Jawa, Madura, Bali, Lombok.
- Museum Sonobudojo diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada 6 November 1935.
- R.A.A. Kromodjojo Adinegoro mengumpulkan koleksi di Trowulan, Jawa Timur, mendirikan Museum Mojokerto (1912), namun sisa-sisanya sulit dilacak.
- Ir. Henry Maclaine Pont mendirikan Oudheidkundige Vereniging Majapahit (OVM) pada 1924.
- Museum Mpu Tantular (Jawa Timur) kelanjutan dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya, didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber (1933), diresmikan 25 Juni 1937.
- Museum sejarah dan kebudayaan didirikan di Bali, diprakarsai Dr. W.F.J. Kroon didukung raja dan bangsawan Bali, dibuka 1932.
- Museum Rumah Adat Baanjuang diresmikan di Bukittinggi pada 1935, didirikan oleh Mondelar (Belanda).
- Museum ilmu pengetahuan sains didirikan di Bogor, yaitu Museum Zoologi (1894) oleh Dr. J.C. Koningsberger.
- Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Museum Geologi (1929) di Bandung.
- Semua langkah awal pembangunan museum di Indonesia harus didokumentasikan dengan baik.
Museum-museum Masa Prakemerdekaan
Kedatangan Bangsa Barat dan Jepang
- Nusantara menjadi titik temu hubungan antarbangsa karena posisinya di persilangan.
- Diawali dengan bangsa Asia (India, Thailand, Arab, Persi, Cina), disusul bangsa Barat (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Prancis).
- Jepang datang 1942 menggantikan Belanda.
- Pertemuan antarbangsa meninggalkan jejak dalam berbagai aspek kehidupan.
- Bangsa Barat awalnya berdagang, lalu menjajah. Mata dagang terkenal adalah rempah-rempah (cengkeh, pala) disebut