Review PAI BAB 8, 9, dan 10: Akhlak dan Sejarah Islam
MENGHINDARI SU'UDZAN (BURUK SANGKA)
Pengertian Su'udzan
- Buruk sangka () didefinisikan sebagai penyakit hati yang berbahaya, sering kali berakar dari penyakit iri hati, dan merupakan hal yang wajib dihindari oleh setiap Muslim.
- Dalam Islam, tidak terbatas pada ucapan lisan, tetapi mencakup keyakinan dan kemantapan di dalam hati, meskipun hal tersebut belum terbukti benar.
- Perspektif Imam Al-Ghazali: Dalam Kitab (juz , halaman ), beliau menjelaskan bahwa haramnya buruk sangka sejajar dengan haramnya perkataan buruk (). Larangan ini berlaku pada keyakinan dan kemantapan hati atas keburukan seorang Muslim, bukan sekadar syak atau keraguan yang melintas.
- Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat Ayat ): Memerintahkan orang beriman menjauhi banyak prasangka () karena sebagiannya adalah dosa. Melarang mencari kesalahan orang lain () dan menggunjing.
- Dalil Hadis: Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah pembicaraan yang paling dusta." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dampak Perilaku Su'udzan
- Dampak Spiritual:
- Digolongkan sebagai perbuatan dosa berdasarkan QS. Al-Hujurat Ayat .
- Merusak hati dan merupakan bentuk ketaatan pada bisikan setan.
- Menghilangkan (berbaik sangka) kepada Allah SWT dan sesama manusia, menghalangi ketenangan batin.
- Menyebabkan hilangnya rasa percaya pada niat baik orang lain, memicu rasa curiga dan isolasi sosial.
- Dampak Sosial:
- Menjadi pintu masuk bagi (menggunjing) atau fitnah yang merusak (persaudaraan).
- Mendorong tindakan (mencari-cari kesalahan).
- Merupakan bentuk kezaliman terhadap kehormatan orang lain.
- Melumpuhkan perintah (verifikasi berita) yang mengancam stabilitas sosial.
- Hadis Rasulullah SAW menyandikan keharaman setara dengan haramnya menumpahkan darah dan mengambil harta.
- Dampak Spiritual:
Cara Menghindari Su'udzan
- Mencari minimal satu alasan positif () atas tindakan orang lain yang ambigu.
- Menghentikan keinginan untuk menyelidiki atau mencari bukti kesalahan orang lain ().
- Menghindari pengambilan kesimpulan di dalam hati dan melakukan (konfirmasi langsung) kepada pihak terkait.
- Menghindari lingkungan atau majelis yang sering melakukan .
- Menanamkan kesadaran bahwa niat hati seseorang hanya diketahui oleh Allah SWT.
MENGHINDARI GHADAB (SIFAT TEMPERAMENTAL)
Pengertian Ghadab
- Secara bahasa, berasal dari kata - - . Secara istilah, berarti sifat mudah marah karena ketidaksenangan terhadap perlakuan orang lain.
- Sayyid Muhammad Nuh: Perubahan emosional yang memicu penyerangan atau penyiksaan untuk melampiaskan isi hati.
- Imam An-Nawawi (Perspektif Tasawuf): Tekanan nafsu dari hati yang mengalirkan darah ke wajah dan menimbulkan kebencian, dianalogikan seperti nyala api yang terpendam.
- Lawan kata dari adalah (menerima dengan senang hati) dan (murah hati/tidak cepat marah).
- Dalil Al-Qur'an (QS. Al-A'raf Ayat ): Perintah berlindung kepada Allah dari godaan setan yang memicu amarah.
- Dalil Hadis: "Jangan marah," diulang berulang kali oleh Rasulullah SAW (HR. Bukhari). Serta hadis, "Orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah" (HR. Bukhari dan Muslim).
Tingkatan Sifat Marah
- Ifrath (Marah Berlebih): Kehilangan kendali akal sehat, sering berujung pada amukan atau pertumpahan darah.
- Tafrith (Tidak Memiliki Sifat Marah): Sifat acuh bahkan ketika agama diinjak-injak; dikategorikan sebagai sifat tercela.
- I'tidal (Adil dan Proporsional): Golongan moderat yang marah hanya pada saat yang tepat, seperti saat membela agama dan perintah Allah SWT.
Penyebab Ghadab
- Faktor Fisik (Jasmani): Kelelahan yang berlebihan, kekurangan zat tertentu (seperti oksigen/zat asam yang memicu otot tegang), dan reaksi hormon (misal masa haid pada wanita).
- Faktor Psikika (Rohani): Karakter (bangga diri), perdebatan sengit, senda gurau berlebihan, ucapan tidak sopan, dan dendam.
Dampak Perilaku Ghadab
- Akal sehat hilang, memicu tindakan irasional dan impulsif.
- Pemicu utama kekerasan, penyiksaan, dan kerusakan fisik.
- Menciptakan konflik sosial dan merusak hubungan persaudaraan ().
- Merupakan bentuk kezaliman dan dosa karena mengabaikan kesabaran.
Cara Menghindari Ghadab
- Membaca segera saat amarah muncul.
- Mengubah posisi fisik: dari berdiri menjadi duduk, atau dari duduk menjadi berbaring.
- Berusaha untuk diam dan menahan lisan.
- Melakukan wudhu dan mengerjakan salat sunnah untuk menenangkan hati.
- Mengingat wasiat Rasulullah SAW: "Janganlah engkau marah."
MENGHINDARI KHIANAT
Pengertian Khianat
- Berasal dari kata , berarti perbedaan dari yang diharapkan, tidak setia, tidak jujur, menipu, atau menyembunyikan kebenaran.
- Merupakan antonim dari sifat (dapat dipercaya).
- Dalam hadis (HR. Bukhari), khianat adalah salah satu dari tanda orang munafik: berdusta saat bicara, ingkar saat janji, dan khianat saat dipercaya.
- Objek Khianat: Terhadap Allah SWT (melanggar aturan), terhadap Rasulullah SAW (menyalahi sunnah), dan terhadap sesama manusia.
Unsur-Unsur Khianat
- Ingkar Janji: Digolongkan sebagai (kemunafikan perbuatan).
- Menyia-nyiakan Amanah: Gagal menjaga hak Allah, hak sesama, atau bersikap berlebihan.
- Menyembunyikan Kebenaran: Menutupi ilmu atau petunjuk agama, dikategorikan sebagai kebohongan () dan diancam laknat Allah.
Faktor Pendorong Khianat
- Internal: (iri hati/dengki) dan (egois/sombong).
- Eksternal: Ambisi berlebihan terhadap jabatan dan cinta kemewahan dunia ().
Dampak Perilaku Khianat
- Hilangnya kepercayaan antar individu.
- Menimbulkan perpecahan dalam hubungan persaudaraan.
- Menurunkan solidaritas sosial dalam komunitas.
- Mendapat sanksi di dunia (hukum negara seperti kasus korupsi/ dan suap/) serta kegelisahan batin.
- Pertanggungjawaban berat di akhirat.
Cara Menghindari Khianat
- Mengokohkan keimanan dan menjauhi dosa besar.
- Rutin melakukan introspeksi diri () dan membiasakan kejujuran.
- Mengendalikan sifat dan .
- Disiplin menepati janji dan menjaga amanah dalam segala situasi.
MENGHINDARI ZALIM
Pengertian Zalim
- Secara etimologis ( - - ): Berarti gelap atau menempatkan sesuatu pada posisi yang salah.
- Mencakup pemahaman: ketidakadilan, penindasan, dan mempercepat sesuatu belum waktunya.
- Tabataba'i: Permusuhan dalam hal yang seharusnya diselesaikan dengan kasih sayang.
- KBBI: Bengis, kejam, dan tidak adil.
- Dalil Al-Qur'an (QS. An-Nisa Ayat ): Penegasan bahwa Allah tidak mengampuni pelaku kezaliman kecuali jalan menuju neraka.
- Dalil Hadis: "Jauhilah kezaliman, karena kezaliman itu kegelapan pada hari kiamat." (HR. Muslim).
Kategori Perilaku Zalim
- Zalim kepada Allah: Bentuk terberat, yaitu menempatkan Allah di posisi rendah (kekafiran, syirik, memperolok ayat Allah).
- Zalim kepada Diri Sendiri: Melanggar syariat atau kufur nikmat yang sebenarnya mencelakai diri sendiri di akhirat (contoh: kisah kaum Nabi Musa atau penyembahan anak sapi).
- Zalim kepada Sesama Makhluk: Penindasan, perampokan, kecurangan dalam timbangan, perusakan bumi, atau pelanggaran batas syariat dalam hubungan (seperti thalak yang semena-mena).
Dampak dan Cara Menghindari Zalim
- Dampak: Tidak mendapat ampunan/petunjuk Allah, mengundang azab dahsyat di dunia (seperti kaum Nabi Syu'aib), dan penyesalan yang tidak berguna di akhirat.
- Cara Menghindari: Menanamkan Tauhid murni, menerapkan prinsip keadilan () dalam interaksi, rutin , mengendalikan amarah () dan , serta mengingat ancaman hukuman neraka.
AL-KULLIYATU AL-KHAMSAH (LIMA PRINSIP DASAR DASAR HUKUM ISLAM)
Pengertian dan Istilah
- (prinsip dasar) + (). Disebut juga atau .
- Tujuannya adalah mewujudkan kemaslahatan () dan mencegah kerusakan ().
- Sumbernya adalah Al-Qur'an dan Hadis. Dari ayat Al-Qur'an, hanya sekitar ayat yang terkait langsung dengan aspek hukum, sisanya dikembangkan melalui ijtihad.
Urutan Prinsip Berdasarkan Ijtihad Ulama
- Urutan mayoritas (Imam Al-Ghazali dan Jumhur):
- Menjaga Agama ().
- Menjaga Jiwa ().
- Menjaga Akal ().
- Menjaga Keturunan ().
- Menjaga Harta ().
- Urutan mayoritas (Imam Al-Ghazali dan Jumhur):
Rincian Lima Prinsip Dasar
- Menjaga Agama (): Dasar penciptaan manusia (QS. Az-Zariyat: ). Dilakukan melalui rukun Islam dan dakwah. Memberi jaminan hak bagi kelompok (non-Islam yang dilindungi).
- Menjaga Jiwa (): Menjaga hak hidup manusia (QS. Al-Maidah: ). Syariat hukum bertujuan melindungi nyawa. Mencakup pemenuhan kebutuhan dasar (zakat/sedekah) dan perawatan kesehatan.
- Menjaga Akal (): Melarang khamr, syirik, dan gaya hidup yang merusak nalar. Memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat (contoh: interaksi Abu Bakar, Umar, dan Ali dengan rakyatnya).
- Menjaga Keturunan (): Syariat pernikahan dan larangan perzinaan/genosida. Melindungi nasab agar manusia saling mengenal (QS. Al-Hujurat: ).
- Menjaga Harta (): Perintah mencari rezeki halal () dalam QS. Al-Jumu'ah: . Melarang riba, pencurian, penipuan, dan monopoli (). Kewajiban mencatat transaksi utang piutang (QS. Al-Baqarah: ).
Metode Menjaga Prinsip Dasar
- Min nahiyati al-wujud: Menjaga sesuatu agar tetap ada (misal: salat untuk agama, makan untuk jiwa, nikah untuk keturunan).
- Min nahiyati al-'adam: Mencegah sesuatu yang menyebabkan ketiadaan (misal: hukuman murtad untuk agama, untuk jiwa, hukuman zina untuk keturunan).
SEJARAH DAKWAH ISLAM PERIODE PRA-WALI SONGO
- Migrasi dan Kedatangan Awal
- Menurut P. Wheatley, Islam masuk pada pertengahan abad ke- lewat pedagang Arab di masa Ratu Simha (Kerajaan Kalingga).
- Teori S.Q. Fatimi (Abad ke-10 M): Terjadi migrasi besar dari Persia:
- Keluarga Lor: Dari Raja Nashirudin (Persia, tahun ), mendirikan desa Loran/Leran di Jawa.
- Keluarga Jawani: Masa Jawani al-Kurdi (tahun ), menetap di Pasai, menyusun khat Jawi.
- Keluarga Syiah: Masa Ruknuddaulah (), mendirikan pemukiman Siak di Sumatera.
- Keluarga Rumai: Menetap di utara Sumatera (Lamuri).
- Bukti Arkeologis: Makam Fatimah binti Maimun bin Hibatallah di Leran, Gresik (). Ini merupakan bukti tertua kehadiran komunitas Muslim di Nusantara.
SEJARAH DAN METODE DAKWAH WALI SONGO
Definisi Wali Songo
- Menunjuk pada sembilan () kekasih Allah (). Prof. K.H. R Moh. Adnan mengasumsikan kata (mulia), sehingga berarti Wali-Wali Terpuji.
- Berperan ganda: sebagai pemimpin spiritual () dan pemimpin masyarakat/hukum (). Gelar berasal dari (yang dijunjung tinggi).
Metode Dakwah Wali Songo
- Ceramah: Syiar kepada jamaah luas.
- Tanya Jawab - Diskusi: Musyawarah untuk toleransi.
- Keteladanan: Figur panutan masyarakat.
- Pendidikan: Melalui sistem pesantren.
- Bi'tsah dan Ekspansi: Pengiriman utusan (khususnya Sunan Giri ke Maluku/NTT).
- Kesenian: Akulturasi wayang, gamelan, dan gending (misal: gubah cerita Mahabharata menjadi bernuansa Tauhid).
- Silaturahim: Kunjungan rumah ke rumah dengan adab kelembutan.
Profil dan Strategi Kesembilan Wali
- Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim): Datang tahun . Berdakwah di kalangan kasta Sudra dengan keramahan. Menggunakan metode perdagangan dan mendirikan pesantren di Leran.
- Sunan Ampel (Raden Rahmat): Lahir tahun . Terkenal dengan ajaran (Moh Main, Ngombe, Maling, Madat, Madon) untuk memperbaiki moral akhir kerajaan Majapahit.
- Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim): Dakwah menggunakan alat musik . Menciptakan Suluk () yang mengajarkan kecintaan mendalam pada Allah SWT.
- Sunan Drajat (Raden Qosim): Terkenal dengan (memberi tongkat pada yang buta, makan pada yang lapar, pakaian pada yang telanjang, payung pada yang kehujanan).
- Sunan Kudus (Ja'far Shadiq): Toleransi tinggi terhadap umat Hindu (melarang sembelih sapi pada Idul Adha) dan Budha (membangun pancuran wudhu sesuai simbol ).
- Sunan Giri (Raden Paku): Membangun pemerintahan . Ahli politik ketatanegaraan dan mendirikan dewan di Kerajaan Demak.
- Sunan Kalijaga (Raden Said): Menggunakan wayang kulit dan tradisi Sekaten (). Pola dakwah sangat moderat dan adaptif terhadap budaya lokal.
- Sunan Muria (Raden Umar Said): Fokus dakwah di daerah terpencil (gunung/pantai) bagi nelayan dan rakyat jelata. Menggunakan tembang Sinom dan Kinanti.
- Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah): Penguasa Kesultanan Cirebon. Mengembangkan sistem pajak yang ringan dan membangun Masjid Agung Sang Ciptarasa.
Klasifikasi Golongan Pendakwah
- Golongan Abangan: Fokus ke rakyat jelata, moderat, menggunakan seni (Kalijaga, Muria, Kudus, Gunung Jati).
- Golongan Putihan (Aliran Santri): Fokus ke kaum ningrat, pendekatan langsung Al-Qur'an dan Sunnah (Giri, Ampel, Drajat).