Sejarah: Key Concepts Vocabulary
Pengertian Sejarah
Sejarah berasal dari bahasa Arab tarikh yang berarti ‘pohon’ atau silsilah, terutama silsilah raja/dinasti; dalam bahasa Arab sejarah dikenal dengan tarikh. Secara umum, sejarah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia pada masa lalu.
Herodotus (Bapak Sejarah Dunia): julukan The Father of History; karya utama berjudul Historia; topik utama berupa sejarah Perang Yunani-Persia.
IBNU KHALDUN: Sejarah adalah catatan tentang manusia dan peradabannya dengan seluruh proses perubahan secara nyata beserta sebab akibatnya. Sumber: wikimedia.org
SARTONO KARTODIRJO: Sejarah dibatasi oleh dua hal, yaitu objektif (peristiwa/kejadian itu sendiri) dan subjektif (sejarah yang telah ditulis sejarawan). Contoh pemikiran Bapak Sejarawan Indonesia.
MOH. YAMIN: Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan dari berbagai peristiwa yang dapat dibuktikan kebenarannya. Sumber: dokumen penerbit
3 Unsur Utama Sejarah
Manusia, Ruang, Waktu (sumber: wikimedia.org)
Contoh khusus dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI:
MANUSIA: Sukarno & Hatta;
RUANG: Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta;
WAKTU: 17 Agustus 1945;
RUANG dan WAKTU berperan dalam konteks sejarah nasional.
Periodisasi Sejarah Indonesia
Periodisasi/Pembabakan Sejarah adalah pengklasifikasian peristiwa-peristiwa sejarah dalam tahap-tahap pembabakan waktu; membantu memahami dinamika perubahan berkelanjutan.
Cara Berpikir Kronologis dalam Mempelajari Sejarah
Kronologi (dari Yunani chronoss ‘waktu’ dan logos ‘uraian/ilmu’): ilmu tentang waktu yang membantu menyusun peristiwa sejarah sesuai urutannya. Tujuan utama untuk menghindari anakronisme (kerancuan waktu antara peristiwa satu dengan yang lain).
Contoh Kronologi
Hiroshima dibom atom oleh Sekutu: ; lalu lanjut: ; Nagasaki dibom atom: ; Jepang menyerah kepada Sekutu: ; Peristiwa Rengasdengklok: 17 Agustus 1945; Proklamasi Kemerdekaan RI (dalam konteks kronologi nasional).
Cara Berpikir Sejarah: Diakronik vs Sinkronik
DIAKRONIK
Berasal dari dia ‘melintas’ dan chronoss ‘waktu’; memanjang dalam waktu, menyempit dalam ruang; memiliki hubungan kausalitas; bersifat dinamis.
Contoh-contoh:
Perkembangan Sarekat Islam di Solo, 1911-1920;
Terjadinya Perang Diponegoro, 1825-1830;
Revolusi Fisik di Indonesia, 1945-1949;
Gerakan Zionisme, 1897-1948;
Tanam Paksa, 1830-1835.
SINKRONIK
Berasal dari syn ‘dengan’ dan chronoss ‘waktu’; segala sesuatu yang bersangkutan dengan peristiwa pada suatu masa; menyempit dalam ruang, melebar dalam waktu; dipakai dalam ilmu sosial: ekonomi, politik, sosiologi; mempelajari peristiwa sejarah dengan segala aspeknya pada masa tertentu secara mendalam.
Contoh: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, politik, hubungan internasional; keadaan masyarakat tahun 1998 dari tinjauan Sosial-Ekonomi.
Perbedaan antara Sinkronik dan Diakronik
Sinkronik: penulisan melebar dalam ruang;
Diakronik: penulisan memanjang dalam waktu.
Keterkaitan Sejarah Manusia dengan Masa Kini
Masa kini merupakan produk dari perkembangan masa lalu (sejarah).
Kutipan Cicero: “Historia magistra vitae est” (Sejarah adalah guru kehidupan). Sumber: wikimedia.org
Sejarah berperan penting membentuk identitas dan kepribadian bangsa.
Winston Churchill: “Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya.” Sumber: wikimedia.org
Kerangka Historografi dan Perkembangan Waktu
v Cellarius membagi sejarah Barat menjadi 3 periode: zaman kuno, zaman pengetahuan/pertengahan, zaman modern.
Historiografi Indonesia berdasarkan spasial/konsep ruang menjadi sejarah lokal, nasional, dan dunia.
Sejarah sebagai ilmu memiliki teori dan metodologi; penulisan sejarah tidak sekadar menceritakan kejadian; empiris, objek, metode, dan teori menjadi ciri.
Belajar Sejarah & Metodologinya
Empat langkah metodologi penelitian sejarah:
Mencari/mengumpulkan sumber (heuristik),
Memilah sumber (verifikasi/kritik sumber),
Menganalisis/menafsirkan sumber sejarah (interpretasi),
Menulis hasil penelitian sejarah (historiografi).
Sejarah membantu memahami bagaimana manusia dan tindakan mereka dipengaruhi oleh situasi politik, masalah ekonomi, atau kondisi geografi.
Melalui sejarah, kita memahami identitas pribadi dan identitas kolektif sebagai bagian dari bangsa; identitas memperkuat ikatan sosial.
Contoh pengembangan identitas melalui sejarah keluarga dan tradisi.
Mengapa Perlu Mempelajari Ilmu Sejarah?
Nugroho Notosusanto (4 fungsi):
Fungsi edukatif: sejarah mengajarkan kebijaksanaan/kearifan,
Fungsi inspiratif: sejarah memberi inspirasi/ilham,
Fungsi instruktif: mengajarkan kejuruan/keterampilan tertentu (mis. jurnalistik, senjata, militer, dll),
Fungsi rekreasi: belajar Sejarah memberikan kesenangan/keindahan.
Sartono Kartodirdjo: metodologi penelitian sejarah bisa multidimensional—memadukan konsep-teori dari berbagai cabang ilmu sosial (budaya, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dll.) untuk menganalisis peristiwa masa lampau.
Contoh penerapan: mengungkap peralihan kekuasaan pada zaman Orde Lama dengan pendekatan Ilmu Politik.
Istilah Penting dalam Sejarah
Einmaligh: Peristiwa sejarah itu unik; setiap peristiwa berbeda dengan peristiwa sebelumnya, meskipun jenis peristiwa bisa sama; pelaku, waktu, dan tempat berbeda.
Kronik: Catatan-catatan singkat tentang waktu dan kejadian penting suatu peristiwa berdasarkan urutan kejadian.
Empiris: Sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia yang direkam dalam dokumen/ peninggalan.
Revolusi: Perubahan yang terjadi secara cepat dan mendasar.
Zeitgeist: semangat zaman yang berbeda-beda dan terus berubah.
Panta Rei: tidak ada yang tetap, semuanya mengalir; masyarakat selalu bergerak dan berubah (mengacu Heraklit).
Kedudukan Manusia dalam Sejarah
Manusia sebagai Objek Sejarah:
Sejarah hanya bercerita tentang manusia dalam ruang dan waktu tertentu; objek adalah bentuk perubahan/aktivitas manusia dalam dimensi waktu (masa lampau).
Manusia sebagai Subjek Sejarah:
Manusia berperan sebagai pelaku sejarah; pelaku sejarah adalah orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa sejarah.
Konsep Waktu dalam Sejarah (Kuntowijoyo)
Konsep waktu dibagi menjadi empat unsur:
1) Perkembangan; 2) Kesinambungan; 3) Pengulangan; 4) Kesinambungan/Pengulangan? (dalam materi ini disebut sebagai Keempat konsep waktu). Konsep waktu adalah kunci memahami dinamika kehidupan manusia.Contoh masing-masing konsep:
Perkembangan: contoh kemajuan berturut-turut, misalnya perkembangan Jakarta; kota-kota kecil di England.
Kesinambungan: lembaga/kebiasaan lama tetap diadopsi, misalnya KUHP masih digunakan; budaya Sekaten.
Pengulangan: peristiwa masa lalu terasa terulang kembali, contoh Krisis ekonomi 1930, 1945, 1966, 1997.
Perubahan: adanya pergeseran/perubahan (revolusi cepat, evolusi lambat; progresif/maju; regresif/menurun). Contoh: dampak peristiwa 30 September/PKI; perubahan alat pertanian dari tradisional ke mesin مثل traktur; turunnya Soeharto dari kursi kekuasaan.
Konsep Ruang dan Waktu dalam Kehidupan Manusia
KESINAMBUNGAN: praktik sosial tertentu menunjukkan kesinambungan (kontinuitas).
PENGULANGAN: fenomena yang pernah terjadi sebelumnya terulang kembali pada masa sesudahnya atau masa kini (contoh peralihan rezim dari Demokrasi Terpimpin ke Orde Baru, dan Orde Baru ke Reformasi).
PERUBAHAN: perubahan dapat terjadi cepat maupun lambat; contoh: perang dunia sebagai faktor perubahan; transisi hidup manusia dari nomaden ke menetap secara semi-sedentary hingga sedentary; penggunaan alat modern menggantikan alat tradisional.
Peristiwa Masa Lalu sebagai Ramalan Sejarah
Peristiwa sejarah mengandung pelajaran berharga; peristiwa sejarah dapat dijadikan pijakan untuk menjalani kehidupan sekarang dan memprediksi masa depan. Mengapa peristiwa sejarah dapat menjadi ramalan sejarah? Karena pola-pola perubahan manusia dan peradaban dapat dikenali dan dijadikan panduan.
Perbedaan Ilmu Sejarah dengan Ilmu Sosial
Ilmu Sejarah:
Ciri: mengkaji kehidupan manusia di masa lalu;
Peristiwa cenderung terjadi sekali;
Perspektif diakronis (berkaitan waktu).
Ilmu Sosial:
Ciri umum: bersifat generalistik;
Tidak terikat waktu dan tempat;
Hipotesis dapat dieksperimenkan.
Arti Penting Sejarah bagi Masa Kini
Memberikan identitas nasional dan kepribadian bangsa;
Memberikan pelajaran dan teladan yang baik;
Memperkokoh rasa kebangsaan.
4 Macam Historiografi
Historiografi Tradisional:
Tulisan sejarah dari masa kerajaan Hindu-Buddha, masuknya Islam, dan kerajaan-kerajaan Islam;
Ciri: istana-sentris (berpusat pada raja/bangsawan); unsur magic/sihir; subjektivitas tinggi; bersifat genealogis; fokus pada daerah tertentu; contoh: Babad Tanah Jawa, Serat Centini, Kitab Sutasoma; historiografi terkait agama/kepercayaan.
Historiografi Kolonial:
Tulisan sejarah masa kolonial/imperialis di Indonesia; Eropa-sentris atau Belanda-sentris; pandangan berangkat dari kacamata bangsa Eropa; sumber arsip Hindia Belanda; contoh: The History of Java (Raffles, 1817); De Atjeher (Snouck Hurgronje, 1893).
Historiografi Nasional:
Penulisan sejarah Indonesia pasca-proklamasi untuk membangun karakter identitas kebangsaan; fokus pada Indonesia-sentris; tokoh-tokoh besar nusantara seperti Gadjah Mada; contoh-contoh karya Mohammad Yamin.
Historiografi Modern:
Penulisan sejarah dengan menempatkan rakyat sebagai pelaku sejarah, menggunakan studi kritis; Indonesia-sentris; tujuan membangun nasionalisme/identitas bangsa; tidak hanya tokoh besar tetapi peran rakyat; menerapkan metode penelitian ilmiah.
Sumber: GrafinDo, Buperna, Tirto.ID, Historia.ID, dll.
Sumber Referensi
Sumber: Grafindo, Bupena, Tirto.id, Historia.id, dll