Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Kolonialisme dan Imperialisme Eropa

a. Kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia

1) Bangsa Portugis

Orang Portugis pertama yang mencoba mencari jalan baru menuju negara penghasil rempah-rempah adalah Bartolomeus Diaz. la meninggalkan Portugal pada tahun 1487. la menyusuri pantai barat Afrika hingga tiba di Tanjung Harapan Baik (Cape of Good Hope) di Afrika Selatan, tetapi ia gagal mencapai India. Setelah Bartolomeus Diaz menemukan jalan ke timur di Tanjung Harapan Baik, upaya mencari jalan ke daerah penghasil rempah-rempah diteruskan oleh armada-armada Portugal berikutnya.

Vasco da Gama berangkat pada tahun 1497 dan berhasil melewati Tanjung Harapan Baik. Sewaktu tiba di Pelabuhan Malinda (Afrika Timur), mereka bertemu dengan para pedagang Arab dan India. Namun, jalan ke Asia Tenggara tetap dirahasiakan oleh para pedagang tersebut. Pada tahun 1498, Vasco da Gama tiba di Kalikut (India). Sejak saat itu, perdagangan antara orang Eropa dan India tidak lagi melalui jalur Laut Tengah, tetapi melalui pantai timur Afrika.

Pada tahun 1511, ekspedisi Portugal di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque berhasil menaklukkan Malaka. Keberhasilan menaklukkan Malaka membuat Portugal mengendalikan jalur perdagangan rempah-rempah. Tahun 1522, de Albuquerque menuju Maluku dan diterima dengan baik oleh Raja Ternate. Mereka diperkenankan berdagang dan membangun benteng di Ternate yang kemudian diberi nama Sao Pulo.

2) Bangsa Spanyol

Pelopor bangsa Spanyol untuk mencari jalan ke daerah penghasil rempah-rempah adalah Christopher Columbus (orang Italia yang berlayar atas nama Kerajaan Spanyol). la berlayar dari Spanyol ke arah barat pada tahun 1492. Setelah dua bulan, ia sampai di sebuah pulau yang kemudian dinamakan San Salvador. Pulau ini terletak di wilayah Kepulauan Bahama. Columbus, awalnya, ingin mencapai India, tetapi gagal.

Pelaut lain, Ferdinand Magellan, dipilih Raja Charles I dari Spanyol untuk mencari jalur menuju Kepulauan Maluku yang dikenal juga dengan nama Kepulauan Rempah-Rempah (The Spice Islands). Pada tahun 1519, Magellan berangkat melalui Samudra Atlantik. Setelah melewati ujung Amerika Selatan, ia masuk ke Samudra Pasifik. Magellan dan para awak kapal tiba di Filipina pada bulan Februari 1521. Ketika mencoba mengatasi perang antarsuku di Cebu, Magellan terbunuh. la kemudian digantikan oleh Juan Sebastian Elcano.

Ekspedisi yang dimulai Magellan akhirnya tiba di Kepulauan Maluku pada bulan November 1521. Mereka singgah di Tidore dan bertemu dengan Sultan Tidore. Sejak saat itu, terjalin kerja sama antara Spanyol dan Tidore. Kondisi tersebut menyebabkan pertentangan antara Portugal dan Spanyol karena kedua negara mengklaim Kepulauan Maluku sebagai milik mereka. Selanjutnya, perselisihan kedua negara diselesaikan dengan Perjanjian Saragosa (1529). Berdasarkan perjanjian tersebut, Kepulauan Maluku dikuasai Portugal, sedangkan Filipina dikuasai Spanyol.

3) Bangsa Inggris

Kedatangan bangsa Inggris ke Indonesia dirintis oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish. Dengan mengikuti jalur yang dilalui Magellan, pada tahun 1577 Francis Drake berlayar ke Indonesia. la singgah di Maluku, Sulawesi, dan Jawa. Armadanya berhasil membawa rempah-rempah dari Ternate dan kembali ke Inggris lewat Samudra Hindia. Perjalanan berikutnya dilakukan pada tahun 1586 oleh Thomas Cavendish melewati jalur yang sama.

Pada awal abad ke-17, Inggris telah memiliki koloni di India dan terus berusaha mengembangkan pengaruhnya di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Kolonialisme Inggris di Indonesia dimulai tahun 1601 dengan ekspedisi yang berhasil kembali ke Inggris membawa lada. Menurut catatan sejarah, Kongsi Dagang Inggris atau East India Company (EIC), sejak awal abad ke-17 telah mendirikan kantor-kantor dagangnya, misalnya, di Banten, Aceh, Makassar, dan Maluku. Namun pada tahun 1682, Belanda berhasil mengusir Inggris dari Banten dan merebut perdagangan lada. Pada akhir abad ke-17, Inggris telah terusir dari berbagai wilayah di Indonesia. Inggris akhirnya memusatkan aktivitas perdagangannya di India.

4) Bangsa Belanda

Ekspedisi Belanda yang pertama berusaha mencapai Indonesia berlangsung pada tahun 1595 dipimpin Cornelis de Houtman. Mereka menyusuri pantai barat Afrika, lalu sampai ke Tanjung Harapan Baik. Selanjutnya, mereka mengarungi Samudra Hindia dan masuk ke Indonesia melalui Selat Sunda, hingga tiba di Banten pada tahun 1596. Armada ini tidak diterima oleh rakyat Banten karena mereka bersikap kasar. Setelah itu, Cornelis de Houtman bertolak ke negerinya dan tiba di sana pada tahun 1597 dengan membawa lada. la disambut sebagai penemu jalan ke Indonesia.

Ekspedisi berikutnya dipimpin oleh Jacob Corneliszoon van Neck pada tahun 1598 dan mencapai Kepulauan Maluku. Ekspedisi ini berhasil membawa rempah-rempah dan memberikan keuntungan besar. Berbagai armada Belanda kemudian datang ke Indonesia secara bergantian. Pada tahun 1602, dibentuk VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) atau Perserikatan Dagang Hindia Timur. VOC dipimpin oleh Heeren XVII (Dewan Tujuh Belas). Untuk memperkuat kedudukan VOC di Indonesia, pemerintah Belanda memberikan hak-hak istimewa atau hak oktroi. Hak-hak istimewa VOC tersebut antara lain sebagai berikut.

a) Hak monopoli dagang.

b) Hak membuat dan mencetak uang.

c) Hak membentuk tentara.

d) Hak menyatakan perang ataupun membuat perjanjian.

e) Hak mendirikan benteng pertahanan.

Berdasarkan hak-hak tersebut, VOC memiliki kekuasaan seperti suatu negara. Mereka dapat bertindak bebas tanpa harus konsultasi lebih dahulu dengan pemerintah Belanda sebagai negeri induk. Pada tahun 1605, VOC berhasil merebut Ambon dan Tidore dari Portugal. VOC berhasil menguasai Banda pada tahun 1609.

Pada tahun 1610, VOC membentuk jabatan gubernur jenderal untuk mengatur urusan VOC di Indonesia. Gubernur jenderal tetap bertanggung jawab kepada Heeren XVII. Gubernur jenderal pertama adalah Pieter Both (1610-1614). Selanjutnya, di bawah Jan Pieterszoon Coen sebagai gubernur jenderal (1619-1623), VOC menetapkan Jayakarta (Batavia) sebagai markas besar dan pusat perniagaan VOC. Belanda telah menguasai Jayakarta (Batavia) pada tahun 1619.

VOC menguasai Makassar pada tahun 1667 dan Banten pada tahun 1682. Berbagai wilayah di Jawa berhasil direbut dari Kerajaan Mataram pada awal abad ke-18. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, VOC, secara efektif, telah menancapkan pengaruhnya di Kesultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta.

Kekuasaan VOC di Indonesia bertahan kurang lebih satu abad. VOC mulai mengalami masa kemunduran akibat faktor-faktor berikut.

a) Korupsi dan pencurian yang dilakukan pegawai VOC.

b) Maraknya perdagangan gelap di jalur monopoli VOC.

c) Besarnya anggaran belanja VOC yang tidak sebanding dengan pemasukannya.

d) Gencarnya persaingan dengan Negara Prancis dan Inggris

VOC dibubarkan pada 31 Desember 1799. Pemerintahan kolonial di Hindia Belanda atau Indonesia kemudian dikendalikan langsung oleh pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda mengirimkan Herman Willem Daendels sebagai gubernur jenderal di Hindia Belanda.