Rangkuman Fisioterapi di ICU
Fisioterapi di ICU
Definisi ICU
ICU (Intensive Care Unit) adalah bagian dari rumah sakit untuk pelayanan kritis, termasuk instalasi bedah dan instalasi gawat darurat (Depkes RI 2012).
ICU digunakan untuk observasi, perawatan, dan terapi pasien dengan penyakit, cedera, atau penyulit yang mengancam nyawa atau berpotensi mengancam nyawa dengan prognosis dubia yang masih reversible (1778/MENKES/SK/XII/2010).
Klasifikasi ICU (Nelly BR Barus 2014)
Sekunder:
Mampu melakukan resusitasi jantung paru.
Memberikan ventilasi bantu 24-48 jam.
Primer:
Mampu memberikan ventilasi bantu lebih lama.
Mampu melakukan bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks.
Tersier:
Mampu memberikan bantuan hidup multi sistem yang kompleks dalam jangka waktu yang tidak terbatas.
Bantuan renal ekstrakorporal.
Pemantauan kardiovaskuler invasif dalam jangka waktu terbatas.
Jenis-Jenis ICU
Neonatal Intensive Care Unit (NICU):
Khusus untuk bayi baru lahir dengan kondisi kritis atau gangguan kesehatan berat.
Pediatric Intensive Care Unit (PICU):
Dikhususkan untuk anak-anak dengan rentang usia 1 bulan hingga 18 tahun.
Intensive Coronary Care Unit (ICCU):
Khusus untuk gangguan jantung: jantung koroner, serangan jantung, gangguan irama jantung yang berat, dan gagal jantung.
Staf ICU
Dokter ICU.
Perawat ICU.
Fisioterapi ICU.
Ahli Gizi.
Dokter Ahli Microbiologi
Penanggung jawab pasien ICU dan tindakan medik serta konsuler.
Petugas pendukung.
Tugas Fisioterapi
Melakukan proses fisioterapi.
Mencegah timbulnya gangguan gerak dan fungsi tubuh.
Memelihara, meningkatkan, dan mengembalikan gangguan gerak dan fungsi tubuh.
Komunikasi dengan tim dalam teamwork, kesepakatan informasi.
Diskusi dengan tim untuk pemecahan masalah.
Dasar Hukum Pelayanan ICU
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063).
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5607).
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 977).
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 80 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Fisioterapis (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1536).
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan Fisioterapi
Dampak Perawatan di ICU
Metabolisme:
Gangguan nafsu makan dan peristaltik.
Penurunan BMR (Basal Metabolic Rate).
Pernafasan:
Atelektasis.
Pneumonia.
Retensi sputum.
Gangguan ekspansi paru.
Kardiovaskuler:
Hipotensi Ortostatis.
Meningkatkan daya kerja jantung.
Pembentukan trombus.
Muskuloskeletal:
Massa otot, kekuatan otot.
Kepadatan mineral tulang.
Stabilitas:
Keseimbangan.
Urine:
Statis urine.
Infeksi saluran kemih dan batu ginjal.
Integumen:
Dekubitus.
Peralatan ICU
Ventilator
Ventilator transport
EKG lead
Bedside Monitor
Infus pump dan syringe pump
Kebutuhan Fisioterapi pada Pasien Sakit Kritis
Fisioterapi adalah intervensi penting yang mencegah dan mengurangi efek buruk dari tirah baring yang terlalu lama dan ventilasi mekanik pada pasien sakit kritis.
Rehabilitasi disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan tergantung pada status kesadaran, status psikologis, dan kekuatan fisik (menggabungkan terapi aktif dan pasif).
Fisioterapi dini meminimalkan penurunan fungsional tubuh.
Rehabilitasi awal pasien dengan ventilasi mekanik meningkatkan fungsi pernapasan dan kekuatan otot ekstremitas dan kemandirian fungsional yang lebih baik pada saat keluar dari rumah sakit.
Fisioterapi pada Sistem Kardio Respirasi
Teknik yang digunakan:
Positioning
Mobilisasi
Hiperinflasi manual
Perkusi
Getar
Suction
Batuk
Variasi latihan pernafasan
1. Positioning
Memposisikan tubuh pasien pada perawatan intensif digunakan dengan tujuan mengoptimalkan transportasi oksigen secara fisiologis dengan meningkatkan efek ventilasi/perfusi, meningkatkan volume paru, mengurangi kerja pernafasan, meminimalkan kerja jantung dan meningkatkan pembersihan mukosiliar.
Contoh: memposisikan pasien pada posisi tegak dapat meningkatkan volume paru dan mengurangi kerja pernafasan, meningkatkan ventilasi/perfusi, redistribusi edema dan meningkatkan kapasitas residu fungsional pada pasien ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome).
Fisioterapi dengan tindakan posisi tegak lebih dari secara teratur dapat menurunkan insiden terjadinya Ventilator-Associated Pneumonia (VAP).
2. Mobilisasi
Mobilisasi akan mengoptimalkan transport oksigen, sehingga meningkatkan ventilasi alveolar dan penyesuaian ventilasi/perfusi.
Secara jangka panjang, mobilisasi bertujuan untuk mengoptimalkan kapasitas kerja dan kemandirian fungsional dan untuk meningkatkan fungsi jantung-paru.
3. Hiperinflasi Manual
Teknik pernapasan ini bertujuan untuk mencegah kolapsnya paru (atau mengembangkan kembali alveoli yang kolaps), meningkatkan oksigenasi dan kompliansi paru, dan memfasilitasi pergerakan sekresi menuju saluran napas pusat.
Hiperinflasi manual tidak memiliki praktik standar; kemungkinan efek samping fisiologis dari volume udara yang dikirim, laju aliran, dan tekanan jalan nafas harus dipertimbangkan dengan hati-hati, terutama pada pasien dengan ventilasi mekanik
Peningkatan volume udara dengan teknik ini dapat diperoleh baik secara manual atau dengan ventilasi mekanis, masing-masing menghasilkan manfaat serupa dalam membersihkan lendir yang berlebih.
4. Perkusi dan Getar (Vibration)
Perkusi dan getaran manual (tepukan pada area yang dipilih dan kemudian mengompresi dada selama fase ekspirasi) biasanya digunakan untuk meningkatkan pembersihan jalan napas dan sering dikaitkan dengan drainase postural.
Pada pasien kritis berventilasi dengan kompetensi batuk normal, peningkatan pembersihan lendir dicapai tanpa perubahan gas darah dan kompliansi paru yang signifikan.
5. Latihan Anggota Gerak
Latihan anggota gerak dapat dilakukan pada pasien perawatan intensif dengan tujuan mempertahankan atau meningkatkan ROM, fungsi dan kekuatan otot, dan penurunan risiko tromboemboli.
Laboratorium pada Kardiovaskular Safety Exercise
Obyektif: VITAL
HR (\leq 50 > 130/min)
RR (\leq 8 > 40/min)
SBP (<90 > 180 \text{ mm Hg})
DBP (> 120 \text{ mm Hg})
Suhu (> 38 ^\circ C)
Ph (< 7,35 > 7,45)
(<35 > 45 \text{ mEg/l})
(< 80 \text{ mmHg})
ICP (> 20 \text{ Cm } H_2O)
(> 0,6 \text{ Kpa})
PEEP (> 10 \text{ Cm } H_2O)
GCS (< 8)
RASS
Hb (< 8 \text{ g/dl})
Pletelet (< 20-50 000/mm)
Akut / ICU
Beri bantuan tidak memberikan penambahan kost energi.( anatomi/fisiologi)
Sub akut/ RAWAT UMUM
Problem gerak mobilisasi dasar
Recovery/BEROBAT JALAN/POLIKLINIK
Gerak fungsional
Maintenance
Pemeliharaan gerak fungsional