Bentuk Hubungan Paragraf

Introduction

Paragraf dapat dikembangkan dengan menggunakan beberapa bentuk hubungan paragraf.

Jenis-Jenis Hubungan Paragraf

Contoh

Paragraf dapat dikembangkan dengan memberikan contoh-contoh yang memadai terhadap apa yang telah disebutkan dalam kalimat topik. Contoh dapat diberikan, baik sebelum maupun sesudah kalimat topik bergantung pada cara berpikir deduktif atau induktif. Pengembangan dengan contoh ini mengandung kalimat topik berupa pernyataan umum yang akan dijelaskan dengan contoh-contoh yang mendukung pernyataan umum.

Kontras

Pengembangan paragraf dengan mengontraskan atau mengemukakan perbedaan sering dilakukan. Jika ingin mengontraskan dua hal, penulis akan menggunakan ciri perbedaan kedua hal tersebut. Untuk mengungkapkan perbedaan sering digunakan ungkapan:

  • the comparative form of the adjective or adverb (e.i. Aeroplanes can fly faster than helicopters).

  • the connecting words, but, whereas, in contrast (e.i. An aeroplane has wings whereas a helicopter does not).

  • unlike, different from (e.i. The helicopter is different from the aeroplane in that the propeller is above the body).

Perbandingan

Pengembangan paragraf dengan membandingkan atau mengemukakan persamaan juga sering dilakukan. Jika ingin membandingkan duah hal, penulis akan menggunakan ciri persamaan kedua hal tersebut. Untuk menggambarkan perbandingan antara dua hal tersebut digunakan ungkapan:

  • as...as (e.i. Helicopters are as expensive as aeroplanes);

  • both...and (e.i. Both Helicopters and aeroplanes are used for air transport); dan

  • neither...nor (e.i. Neither the helicopters nor the aeroplanes requires any kind of track).

Enumerasi

Pengembangan paragraf dengan enumerasi atau pencacahan satu per satu, yaitu dengan mencari kelompok besar yang mencakupi objek yang dibicarakan (klasifikasi)

Kronologi Proses

Pengembangan dengan kronologi proses pada umumnya dipakai dalam paragraf kisahan dengan mengembangkan setiap bagian dalam proses. Pengembangan itu dilakukan dengan memerikan suatu peristiwa, membuat atau melakukan sesuatu secara berurutan, selangkah demi selangkah secara kronologis. Pengembangan cara ini sangat membantu pembaca untuk memahami jalinan cerita yang dipaparkan penulis. Ada beberapa seperangkat kata dapat digunakan sebagai penanda urutan waktu seperti:

  • first,

  • to begin with,

  • then,

  • next,

  • afterwards,

  • later,

  • finally.

Kausalitas

Dalam pengembangan ini hubungan kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf berbentuk sebab-akibat. Suatu paragraf mungkin berisi satu sebab dengan banyak akibat atau sebaliknya berisi satu akibat dengan banyak sebab. Dengan kata lain, sebab dapat berposisi sebagai gagasan utama dan akibat sebagai gagasan penjelas atau dapat juga sebaliknya.

Menyatakan Hubungan Kausalitas

Hubungan sebab-akibat dapat dinyatakan dengan cara

  1. Menyebutkan sebab terlebih dahulu: Jika sebab dahulu maka bisa digunakan ungkapan berikut, “causes”, “leads to”, “gives rise to”, “results in”, “brings about”

  2. Menyebutkan akibat terlebih dahulu: Jika akibat dahulu maka bisa digunakan ungkapan berikut, “is due to”, “is caused by”, “results from”, “is the result of”, “is the effect of”

Pola Pengembangan Kausalitas Dalam Tulisan Ilmiah

Model pengembangan ini dipakai dalam tulisan ilmiah untuk berbagai keperluan, antara lain untuk

  1. mengemukakan alasan yang masuk akal,

  2. memerikan suatu proses,

  3. menerangkan mengapa sesuatu terjadi demikian, dan

  4. memprediksi runtutan peristiwa yang akan terjadi.

Spasial

Pengembangan paragraf dengan menggunakan gambaran ruang atau ilustrasi digunakan dalam paragraf paparan (ekspositoris) untuk menyajikan suatu gambaran umum atau khusus tentang suatu prinsip atau konsep yang dianggap belum dipahami oleh pembaca.

Biasanya digunakan oleh penulis yang ingin memaparkan sesuatu yang dilihatnya. Pemaparan disajikan mengikuti kesan demi kesan yang ditangkap oleh indera penglihatannya. Pemaparan dimulai secara beruntun dari benda yang terdekat ke benda yang lebih jauh/dalam letaknya, dari satu ruang ke ruang lainnya. Kesinambungan antarbagian yang dipaparkan harus terjaga agar isi paragraf dapat dipahami dan diikuti oleh pembaca.

Pengertian Teks

MK Halliday dan Ruqayah Hassan (1976:1) menyatakan bahwa:

A text is a unit of language in use. It is not a grammatical unit, like a clause or sentence; and it is not defined by its size. A text is sometimes envisaged to be some kind of super-sentence, a grammatical unit that is larger than a sentence but it is related to a sentence in the same way that a sentence is related to a clause, a clause to a group and so on.

Sebuah teks adalah terdiri dari unit-unit bahasa dalam penggunaannya. Unit-unit bahasa tersebut adalah merupakan unit gramatikal seperti klausa atau kalimat namun tidak pula didefinisikan berdasarkan ukuran panjang kalimatnya. Teks terkadang pula digambarkan sebagai sejenis kalimat yang super yaitu sebuah unit gramatikal yang lebih panjang daripada sebuah kalimat yang saling berhubungan satu sama lain.

Jadi sebuah teks terdiri dari beberapa kalimat sehingga hal itulah yang membedakannya dengan pengertian kalimat tunggal. Selain itu sebuah teks dianggap sebagai unit semantik yaitu unit bahasa yang berhubungan dengan bentuk maknanya. Dengan demikian teks itu dalam realisasinya berhubungan dengan klausa yaitu satuan bahasa yang terdiri atas subyek dan predikat dan apabila diberi intonasi final akan menjadi sebuah kalimat.

Key Information

  • A text is a unit of language in use

  • Not a grammatical unit like a clause or sentence

  • Not defined by its size

  • Sometimes seen as a super-sentence

  • Comprised of multiple sentences

  • Considered a semantic unit

  • Related to clauses in terms of meaning

  • Realization involves clauses with subject and predicate

Pengertian Wacana

Definisi Wacana Menurut Para Ahli

KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, wacana didefinisikan sebagai: (1) ucapan, perkataan, tutur; (2) keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; (3) satuan bahasa terlengkap,

JS Badudu

(dalam kolom Harian Kompas) menyatakan bahwa kata wacana merupakan kata serapan yang digunakan sebagai pemadan kata dari bahasa Inggris discourse.

Harimurti

"Wacana atau dalam Bahasa Inggrisnya ialah 'Discourse'. Wacana merupakan satuan bahasa yang lengkap, yaitu dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi ataupun terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh seperti novel, buku seri ensiklopedia dan sebagainya, paragraf, kalimat atau kalimat yang membawa amanat yang lengkap."

Anton M. Moeliono

“Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan schingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat itu."

Pengertian Wacana

Dasar sebuah wacana ialah klausa atau kalimat yang menyatakan keutuhan pikiran. Wacana adalah unsur gramatikal tertinggi yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh dan dengan amanat yang lengkap dengan koherensi dan kohesi yang tinggi.

Wacana utuh harus dipertimbangkan dari segi isi (informasi) yang koheren sedangkan sifat kohesifnya dipertimbangkan dari keruntutan unsur pendukungnya yaitu bentuk.

Unsur-Unsur Penting Wacana

Unsur-unsur penting dalam wacana adalah seperti, satuan bahasa, terlengkap, mengatasi kalimat atau klausa, teratur atau tersusun rapi, berkesinambungan, kohesi, lisan atau tulisan, awal dan juga akhir yang nyata.

Ciri-Ciri Wacana

Di samping itu juga, wacana letaknya lebih tinggi daripada kalimat pada skala tata tingkat tatabahasa dan mempunyai keteraturan fikiran logik (koherensi) dan juga tautan (kohesi) dalam strukturnya. Wacana dicirikan oleh kesinambungan informasi. Makna kesinambungan di sini diartikan sebagai kesatuan makna.

Kesimpulan

Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.

Kalimat Sistem dan Kalimat Wacana Menurut Asmah

Asmah (1982:3) menjelaskan bahwa wacana tidak mempunyai jenis kalimat tertentu yang berdiri sendiri tanpa dipengaruhi oleh proses pembentukan kalimat. Artinya kalimat selalu ditemukan dalam sistem yang terstruktur dan teratur. Asmah membedakan kalimat sistem dengan kalimat wacana. Kalimat sistem adalah kalimat atau ujaran yang dikeluarkan dan dipisahkan dari konteks wacana, sedangkan kalimat wacana disebut juga kalimat teks adalah kalimat yang benar-benar hadir dalam wacana tulis dan lisan.

  • Kalimat sistem: Kalimat atau ujaran yang dikeluarkan dan dipisahkan dari konteks wacana.

  • Kalimat wacana: Kalimat yang benar-benar hadir dalam wacana tulis dan lisan.

Hubungan Berkesinambungan Wacana Menurut Fokker

Menurut Fokker (1951:4), keterhubungan/kesinambungan dalam sebuah cerita dapat menunjukkan referensi, kata penghubung, dan penghilangan. Koherensi makna dalam wacana sebagaimana telah dijelaskan di atas dilihat dari makna logis dan makna keterkaitan. Makna penghubung ini merupakan suatu konsep semantik yang mengacu pada hubungan kebahasaan yang terdapat dalam suatu tuturan yang membentuk suatu wacana.

Baiklah, jadi bayangkan Anda sedang bercerita. Ketika cerita masuk akal dan semua bagian terhubung dengan baik, itulah yang disebut koherensi. Ini seperti menyatukan potongan-potongan puzzle agar pas. Kata-kata yang membantu menghubungkan cerita dan membuatnya mengalir lancar bagaikan lem yang menyatukan potongan puzzle pada tempatnya. Perekat ini disebut koherensi semantik, artinya kata-kata membantu menunjukkan bagaimana segala sesuatu dalam cerita saling terkait dan masuk akal. Jadi, ketika Anda bercerita, penting untuk menggunakan kata-kata yang tepat agar semuanya tetap terhubung dan dapat dimengerti oleh pendengar.

Kohesi (Cohession)

Pengertian Kohesi

Kohesi Sebagai Aspek Formal Bahasa

Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan itu kohesi adalah 'organisasi sintaktik'. Ini bermaksud bahwa kohesi adalah hubungan di antara ayat di dalam sebuah wacana, baik dari segi tingkat gramatikal maupun dari segi tingkat leksikal tertentu. Dengan penguasaan dan juga pengetahuan kohesi yang baik, seorang penulis akan dapat menghasilkan wacana yang baik.

Key Information

  • Kohesi: Aspek formal bahasa dalam wacana

  • Kohesi adalah 'organisasi sintaktik'

  • Hubungan di antara ayat dalam wacana

  • Tingkat gramatikal dan leksikal

  • Penguasaan kohesi penting bagi penulisan wacana

Kohesi Sebagai Konsep Semantik

Kohesi adalah konsep penting dalam linguistik yang merujuk pada hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana. Hubungan ini terjalin melalui berbagai mekanisme linguistik, baik semantik maupun gramatikal, dan bertujuan untuk menciptakan kesatuan makna dan koherensi dalam teks.

Kohesi Menurut Halliday dan Hasan

Menurut Halliday dan Hasan (1976), kohesi merupakan seperangkat kemungkinan yang terdapat dalam bahasa untuk menjadikan suatu teks memiliki kesatuan. Hal ini berarti bahwa hubungan makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal, perlu diwujudkan secara terpadu dalam teks.

Menurut Halliday dan Hasan:

"Cohesion is expressed through the stratal organization of language. Language can be explained as a multiple coding system comprising three levels of coding or 'strata'. The semantic (meaning), the lexicogrammatical (forms) and the phonological and orthographic (expression). Meanings are realized (coded) as forms, and the forms are realized in turn (recoded) as expressions. To put this in everyday terminology, meaning is put into wording and wording into sound or writing."

Key Information

  • Kohesi adalah konsep penting dalam linguistik

  • Kohesi merujuk pada hubungan antar kalimat dalam wacana

  • Hubungan kohesi melalui mekanisme linguistik semantik dan gramatikal

  • Kohesi bertujuan menciptakan kesatuan makna dan koherensi dalam teks

  • Kohesi merupakan seperangkat kemungkinan dalam bahasa untuk kesatuan teks

  • Kohesi diekspresikan melalui organisasi stratal bahasa

Dua Sisi Kohesi: Gramatikal dan Leksikal

Halliday dan Hasan (1976) membagi kohesi menjadi dua jenis, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal, yang bekerja sama untuk menciptakan kesatuan makna dalam sebuah teks.

1. Kohesi Gramatikal:

Kohesi gramatikal terfokus pada hubungan antar kalimat yang tercipta melalui struktur tata bahasa. Mekanisme kohesi gramatikal meliputi:

  • Pengacuan

  • Elipsis

  • Penyulihan

2. Kohesi Leksikal:

Kohesi leksikal berfokus pada hubungan antar kalimat yang tercipta melalui pilihan kata dan kosakata. Mekanisme kohesi leksikal meliputi:

  • Pengulangan (Repetisi)

  • Sinonim

  • Kolokasi

Kerja Sama Kohesi:

Kohesi gramatikal dan kohesi leksikal bekerja sama untuk membangun teks yang koheren dan mudah dipahami. Kohesi gramatikal memastikan struktur kalimat yang terhubung dengan baik, sedangkan kohesi leksikal memperkaya makna dan menghubungkan ide-ide dengan cara yang alami.

Dengan menguasai kohesi gramatikal dan kohesi leksikal, penulis dan pembicara dapat menghasilkan teks yang lebih efektif dan menarik bagi pembaca atau pendengar.

Kaidah-Kaidah Kohesi

Introduction

Dalam kohesi, kaidah- kaidah yang digunakan adalah berdasarkan penyampaian informasi lama dan informasi baru. Kaidah-kaidah itu adalah seperti:

  • kaidah perujukan,

  • kaidah penggantian,

  • kaidah pengguguran,

  • kaidah konjungsi

  • dan kohesi leksikal.

Referensi (Pengacuan/Perujukan)

Pengertian

Referensi dalam ilmu bahasa bermakna hubungan antara referen yang ada di dunia luar bahasa dengan lambangnya di dalam dunia bahasa. Hubungan ini menyebabkan tercipatanya makna. Terdapat 2 macam pengacuan yaitu pengacuan eksoforis dan pengacuan endoforis.

Pengacuan Eksoforis

Pengacuan Eksoforis adalah “ekso” yaitu keluar yang berarti pengacuan terhadpa sesuatu di luar bahasa, apabila kita tidak menemukan rujukan dalam teks maka kita akan keluar dari teks agar dapat memahami teks tersebut.

Perujukan eksoforik digunakan untuk merujuk pada hal-hal yang mempunyai kaitan dengan situasi yang berkembang di depan penutur ataupun pendengar yang menerima informasi yang telah disampaikan kepadanya.

Example:

  • "Dia membeli buku yang direkomendasikan oleh teman sekolahnya."

  • "Teman sekolahnya" merupakan contoh pengacuan eksoforis yang merujuk pada orang di luar kalimat tersebut.

Pengacuan Endoforis

Pengacuan endoforis adalah pengacuan terhadap sesuatu di dalam bahasa itu sendiri biasanya diwujudkan oleh pronomina. Selain pronomina demonstrativa (it, this, that, those) pengacuan endoforis juga menggunakan pronomina persona (she, he, him, her) serta kata-kata seperti begini, begitu, tersebut dan lain-lain.

  • Pengacuan Endoforis Berdasarkan Arah Pengacuan

    Jika ditinjau dari arah pengacuannya, pengacuan endoforis terbagi atas dua yaitu:

    • Pengacuan Endoforis Anaforis

      Anafora terjadi ketika sebuah kata atau frasa (sebagai pronomina, kata penunjuk, atau frasa nomina) merujuk pada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam teks. Dengan kata lain, anafora "menoleh ke belakang" untuk menghubungkan dengan informasi yang sudah ada.

      • Contoh: "Dia sangat pintar. Anak itu selalu mendapat nilai tertinggi di kelasnya."

    • Pengacuan Endoforis Kataforis

      Katafora kebalikan dari anafora. Katafora terjadi ketika sebuah kata atau frasa (biasanya berupa pronomina atau kata penunjuk) digunakan untuk merujuk pada sesuatu yang akan disebutkan nanti dalam teks. Dengan kata lain, katafora "menunjuk ke depan" untuk memberikan gambaran awal tentang informasi yang akan menyusul.

    • Contoh:

      "Meskipun mereka terlambat, anak-anak tetap bersemangat untuk mengikuti acara tersebut."

Penggantian (Substitusi)

Dalam sebuah wacana suatu unsur wacana bisa diganti (disulih) dengan unsur wacana yang lain asalkan acuannya tetap sama.

Pengguguran (Elipsis)

Pengguguran (Elipsis) merupakan pelepasan unsur bahasa yang maknanya telah diketahui sebelumnya berdasarkan konteksnya.

Konjungsi

Konjungsi ini juga dikenali sebagai “conjunction”. Konjungsi dalam wacana berguna untuk menghubungkan satu bagian wacana dengan bagian lain baik berupa klausa, kalimat, maupun paragraf.

Kohesi Leksikal

Kohesi leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi.

  • Dua Cara Mencapai Aspek Leksikal Kohesi

    • Reiterasi (Pengulangan)

    • Kolokasi: Kolokasi merupakan asosiasi tetap suatu kata dengan kata-kata di lingkungan yang sama contohnya merah selalu diasosiasikan dengan darah.

Koherensi

Pengertian

Koherensi adalah hubungan antar proposisi pada tataran semantis (makna) dengan kata lain kepaduan makna antara satu proposisi dengan proposisi dalam wacana.