Kisi-Kisi Komprehensif Ujian ASAS Diniyyah Kelas 7 V2
KISI-KISI KOMPREHENSIF UJIAN ASAS DINIYYAH
KELAS 7 (G7) – TAHUN AJARAN 2026
Petunjuk Umum untuk Santri: Kisi-kisi ini disusun secara mendalam sebagai panduan utama dalam mempersiapkan Ujian Akhir Semester (ASAS) Diniyyah. Santri diwajibkan memahami konsep dasar, menghafal dalil-dalil kunci, memahami tata cara ibadah sesuai sunnah, serta menghafalkan lafal dzikir beserta kesinambungan kalimatnya. Pelajari setiap poin di bawah ini dengan saksama.
I. MATERI AQIDAH ISLAMIYYAH (مَادَّةُ العَقِيْدَةِ)
Materi Aqidah berfokus pada penanaman tauhid yang murni, pengenalan tujuan hidup, serta pembersihan diri dari segala bentuk kesyirikan.
1. Tujuan Penciptaan Makhluk dan Makna Ibadah
Tujuan Utama Penciptaan: Santri harus memahami secara mendalam bahwa Allah ﷻ tidak menciptakan jin dan manusia dengan sia-sia, melainkan murni untuk beribadah dan tunduk hanya kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.
Landasan Dalil: Wajib menghafal teks dan memahami kandungan QS. Adz-Dzariyat ayat 56 (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ). Ayat ini merupakan dalil mutlak ketauhidan.
Definisi Ibadah (Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah): Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah ﷻ, baik berupa perkataan (lisan) maupun perbuatan (anggota badan), yang tampak (dzahir) maupun yang tersembunyi (batin).
Cara Beribadah yang benar: Mengikuti Allah dan Rasulnya dan tidak boleh membuat cara baru, Dalilnya QS. Muhammad ayat 33 (۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓا۟ أَعْمَٰلَكُمْ). Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan janganlah kamu merusak amal-amalmu.
Hak Allah atas Hamba: Berdasarkan hadits Mu'adz bin Jabal, hak Allah yang wajib dipenuhi hamba adalah disembah secara murni, dan Allah berjanji tidak akan mengadzab hamba yang tidak berbuat syirik.
2. Konsep Khouf, Raja', dan Keberadaan Allah
Sifat Khouf (Takut): Rasa takut kepada adzab Allah yang mendorong seorang mukmin untuk menjauhi kemaksiatan.
Sifat Raja' (Harap): Sifat senantiasa mengharapkan pahala, ampunan, dan surga Allah dengan diiringi amalan shalih, bukan sekadar angan-angan kosong.
Keseimbangan (Tawazun): Ulama mengibaratkan Khouf dan Raja' seperti dua sayap burung. Jika salah satunya hilang, burung tidak bisa terbang. Begitu pula mukmin; terlalu takut membuat putus asa, terlalu berharap membuat meremehkan dosa.
Keberadaan Allah ('Uluw): Santri wajib meyakini berdasarkan dalil Al-Qur'an (seperti QS. Thaha: 5) اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى. “Artinya: Ar-Rahman” berada di atas Arsy bahwa Allah berada di atas langit, bersemayam di atas 'Arsy-Nya dengan keagungan yang tidak menyerupai makhluk.
3. Syirik dan Bahayanya
Syirik Akbar (Besar): Memalingkan satu bentuk ibadah kepada selain Allah. Hukumannya mengeluarkan seseorang dari Islam dan menghapus seluruh amal (contoh: berdoa ke kuburan keramat, menyembelih untuk jin kepala kerbau).
Syirik Ashghar (Kecil): Perbuatan yang dinyatakan syirik oleh dalil namun tidak mengeluarkan dari Islam, melainkan mengurangi kesempurnaan tauhid (contoh: Riya' atau ingin dipuji orang saat sholat, dan bersumpah dengan nama selain Allah).
II. MATERI FIKIH IBADAH (مَادَّةُ الفِقْهِ)
Materi Fikih menekankan pada validitas keabsahan thaharah (bersuci) dan sholat berdasarkan petunjuk sifat wudhu dan sholat Nabi ﷺ.
1. Thaharah: Wudhu dan Mandi Janub
Tata Cara Wudhu’:
1. Niat dan Membaca Basmalah
Niat: Memasang niat di dalam hati untuk menghilangkan hadats kecil demi melaksanakan sholat karena Allah ﷻ. Niat tidak perlu dilafalkan.
Membaca Basmalah: Mengucapkan "Bismillah" sebelum menyentuh air atau memulai wudhu, karena hal ini disyariatkan dan dihukumkan wajib oleh sebagian ulama.
2. Membasuh Kedua Telapak Tangan
Mencuci kedua telapak tangan sebanyak 3 kali.
Pastikan air menyela-nyela di antara jari-jemari tangan agar bersih secara merata.
3. Berkumur-kumur dan Istinsyaq (Memasukkan Air ke Hidung)
Mengambil air dengan telapak tangan kanan, kemudian memasukkan sebagian air ke dalam mulut untuk berkumur-kumur (madmadah), dan sebagian lagi dihirup ke dalam hidung (istinsyaq) secara bersamaan.
Keluarkan air dari dalam hidung dengan tangan kiri (istintsar). Lakukan proses ini sebanyak 3 kali.
4. Membasuh Seluruh Wajah
Membasuh wajah sebanyak 3 kali secara merata.
Batas wajah: Secara vertikal mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala bagian atas hingga dagu bagian bawah, dan secara horizontal dari daun telinga kanan hingga daun telinga kiri.
Bagi yang memiliki jenggot lebat, disunnahkan untuk menyela-nyela jenggot dengan jari-jari tangan yang basah.
5. Membasuh Kedua Tangan hingga Siku
Membasuh tangan kanan terlebih dahulu dari ujung jari hingga melewati siku sebanyak 3 kali, kemudian dilanjutkan dengan tangan kiri dengan cara yang sama sebanyak 3 kali.
Catatan Penting: Dahulukan anggota tubuh bagian kanan (tayamun) karena ini merupakan sunnah muakkadah yang dicintai Rasulullah ﷺ.
6. Mengusap Kepala dan Telinga
Cara Mengusap Kepala: Membasahi kedua telapak tangan dengan air baru (bukan sisa membasuh tangan), lalu menjalankannya dari bagian depan kepala (tempat tumbuhnya rambut) hingga ke tengkuk (belakang), lalu dibalikkan/dikembalikan lagi ke depan dalam satu gerakan utuh. Hal ini dilakukan sebanyak 1 kali.
Mengusap Telinga: Tanpa mengambil air baru, langsung masukkan jari telunjuk ke dalam lekukan daun telinga dan ibu jari mengusap bagian luar daun telinga.
7. Membasuh Kedua Kaki hingga Mata Kaki
Membasuh kaki kanan terlebih dahulu hingga melewati kedua mata kaki sebanyak 3 kali, lalu dilanjutkan dengan kaki kiri sebanyak 3 kali.
Disunnahkan untuk menyela-nyela jari-jari kaki menggunakan jari kelingking tangan kiri agar air merata ke bagian kulit yang tersembunyi.
8. Tertib, Tumaninah, dan Berurutan
Wudhu wajib dilakukan secara tertib (berurutan dari nomor 1 sampai 7) serta muwalah (bersambung tanpa ada jeda waktu lama yang membuat anggota wudhu sebelumnya mengering).
Doa Setelah Selesai Wudhu
Setelah selesai membasuh kaki, menghadaplah ke arah kiblat dan bacalah doa berikut:
{أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ}
"Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuuluh."
Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Membaca Bismillah: Hukum membaca "Bismillah" di awal wudhu adalah disyariatkan/wajib menurut sebagian ulama berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah atasnya."
Mendahulukan yang Kanan (Tayamun): Memulai membasuh tangan dan kaki dari bagian kanan merupakan sunnah muakkadah yang dicintai Rasulullah ﷺ.
Tata Cara Mengusap Kepala: Sesuai sunnah, kedua telapak tangan yang basah dijalankan dari bagian depan kepala (tempat tumbuhnya rambut) hingga ke tengkuk (belakang), lalu dibalikkan/dikembalikan lagi ke depan dalam satu gerakan utuh.
Niat Mandi Junub: Niat bertempat di dalam hati dan menjadi syarat mutlak. Jika seseorang mandi biasa tanpa berniat menghilangkan hadats besar, maka mandinya tidak sah untuk mengangkat junub dan ia wajib mengulangnya dengan niat.
Syarat Sempurna Mandi: Mengalirkan dan meratakan air ke seluruh pori-pori kulit dan rambut, termasuk menyela-nyela rambut kepala dan jenggot yang lebat.
2. Sholat: Syarat, Rukun, dan Sifat Sholat Nabi
Syarat Sah vs Syarat Wajib: Syarat wajib sholat adalah Islam, baligh, dan berakal. Sedangkan syarat sah sholat (perkara yang harus dipenuhi sebelum sholat dimulai) meliputi masuk waktu sholat, suci dari hadats besar/kecil, suci badan/pakaian/tempat dari najis, menutup aurat, dan menghadap kiblat.
Takbiratul Ihram: Merupakan rukun sholat. Posisi telapak tangan diangkat sejajar bahu atau sejajar daun telinga dengan jari-jari direnggangkan sedikit dan dihadapkan lurus ke arah kiblat.
Rukun Al-Fatihah: Membaca surat Al-Fatihah secara tartil pada setiap rakaat sholat, baik sholat wajib maupun sunnah, baik bertindak sebagai imam, makmum (sholat sirriyyah), maupun sholat sendirian.
Ruku’ : Saat ruku', disunnahkan membaca salah satu dari doa berikut (dibaca 3 kali): {سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ} "Subhaana rabbiyal 'adziim." Artinya: "Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung." Atau bisa juga membaca: {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي} "Subhaanaka allahumma rabbanaa wa bihamdika allahummaghfir lii."Artinya: "Maha Suci Engkau, ya Allah Rabb kami, dan dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku."
I’tidal : Saat bangkit berdiri (Imam atau sholat sendiri), membaca kalimat tasmi': {سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ} "Sami'allahu liman hamidah." Artinya: "Allah mendengar orang yang memuji-Nya." Setelah berdiri tegak dalam posisi i'tidal (Imam, makmum, maupun sholat sendiri), membaca: {رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ} "Rabbanaa wa lakal hamdu." Artinya: "Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji.”
Sujud : Saat sujud dengan menempelkan 7 anggota badan (termasuk dahi dan hidung), disunnahkan membaca doa berikut (dibaca 3 kali): {سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى} "Subhaana rabbiyal 'a'laa.” Artinya: "Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi." Atau bisa juga membaca doa yang sama seperti saat ruku': {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي}
Duduk diantara 2 Sujud : Saat duduk tenang (tumaninah) di antara dua sujud, bacalah doa berikut: {رَبِّ اغْفِرْ لِي ، رَبِّ اغْفِرْ لِي} "Rabbighfir lii, Rabbighfir lii.” Artinya: "Wahai Rabbku ampunilah aku, wahai Rabbku ampunilah aku." Atau bisa membaca versi yang lebih panjang: {اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي} "Allahummaghfir lii, warhamnii, wajburnii, wahdinii, warzuqnii." Artinya: "Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah kekurangan/tutuplah aibku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki."
Bacaan Tashahhud (Tahiyyat) Awal & Akhir
Bacaan tasyahud antara tahiyyat awal dan tahiyyat akhir adalah sama (berdasarkan hadits riwayat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu). Namun, pada tahiyyat akhir disunnahkan untuk menambah doa perlindungan dari 4 perkara setelah membaca sholawat.
A. Teks Tashahhud (Tahiyyat):
{التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ،
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
"At-tahiyyaatu lillaah, wash-shalawaatu wath-thayyibaat. As-salaamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. As-salaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish-shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuuluh."
B. Membaca Sholawat Nabi (Wajib pada Tahiyyat Akhir, Sunnah/Utama pada Tahiyyat Awal):
{اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،}
{اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ}
"Allahumma shalli 'alaa muhammadin wa 'alaa aali muhammad, kamaa shallaita 'alaa ibraahiima wa 'alaa aali ibraahiim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik 'alaa muhammadin wa 'alaa aali muhammad, kamaa baarakta 'alaa ibraahiima wa 'alaa aali ibraahiim, innaka hamiidum majiid."
C. Doa Tambahan Sebelum Salam (Sangat Dianjurkan pada Tahiyyat Akhir):
Sebelum melakukan salam pada tahiyyat akhir, disunnahkan berlindung dari 4 perkara fitnah:
{اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
"Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabi jahannam, wa min 'adzabil qabr, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fitnatil masiihid-dajjaal."
Tumaninah: Ketenangan posisi tubuh di mana seluruh tulang kembali ke persendiannya sebelum berpindah ke gerakan berikutnya. Tumaninah wajib ada saat ruku', i'tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Meninggalkan tumaninah membatalkan sholat.
Sifat Sujud yang Sah: Wajib sujud di atas 7 anggota badan: dahi (termasuk hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari-jari kedua kaki yang dihadapkan ke kiblat.
III. MATERI DZIKIR (أَذْكَارُ)
Dzikir Pagi Petang
Dzikir Ba’da Sholat
"Semoga Allah ﷻ memberikan taufik, kemudahan, dan kelancaran kepada para santri dalam memahami ilmu syar'i serta mengamalkannya."