Perkembangan Peradaban dan Ilmu Pengetahuan pada Masa Daulah Abbasiyah

Baghdad sebagai Pusat Kekuasaan

Setelah wafatnya Khalifah pertama Abul Abbas As-Saffah, Abu Ja'far Al-Mansur menggantikannya. Pada masa pemerintahannya, muncul golongan penentang, Rowandiyah, sebagai respons atas kematian Abu Muslim Al-Khurasani.

Pemberontakan Rowandiyah menyebabkan Khalifah Al-Mansur memindahkan pusat pemerintahan dari Kota Anbar (Hasyimiyah) ke Kota Baghdad karena:

a. Pemberontakan Rowandiyah terhadap Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur.
b. Luas dan suburnya wilayah Baghdad.
c. Letak strategis Baghdad yang mudah dijangkau.

Sebelum menjadi pusat pemerintahan, Baghdad adalah desa kecil kuno di tepi sungai Eufrat dan Tigris, dihuni orang Persia, dan menjadi jalur perdagangan penting. Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur memerintahkan Hajjaj bin Arthah dan Amran bin Wahdhah untuk membangun Baghdad menjadi ibu kota Daulah Abbasiyah.

Pembangunan berlangsung selama empat tahun (145-149 H/762-766 M). Kota ini dikelilingi dinding benteng berlapis dengan pintu gerbang kokoh dan menara pengawas. Di tengah kota, dibangun istana dan masjid agung. Di timur kota didirikan perkampungan militer.

Baghdad berkembang pesat karena:

a. Pusat pemerintahan.
b. Pertambahan jumlah penduduk (pendatang untuk berdagang dan mencari ilmu).
c. Letak strategis di jalur perdagangan Sungai Tigris.
d. Persediaan air melimpah.

Kota Baghdad dibagi menjadi tiga distrik: Madinat Al-Mansur (Kota Bundar), Al-Sharqiyya (Karkh), dan Askar Al-Mahdi (kota sebelah barat).

Baghdad dikenal sebagai kota peradaban termegah pada masanya, bahkan menjadi kota impian dalam kisah Seribu Satu Malam.

Samarra

Nama Samarra berasal dari bahasa Arab yang berarti "siapa yang melihat pasti senang". Kota ini terletak di timur sungai Dajlah, sekitar seratus kilometer dari Baghdad.

Ilmu Hadis

Perkembangan ilmu hadis pada masa Daulah Abbasiyah meliputi:

a. Menghafal hadis.
b. Memperbaiki susunan kitab hadis.
c. Mengumpulkan hadis yang berserakan ke dalam bagian yang sistematis.
d. Membuat kitab syarah (penjelasan) terhadap kitab hadis terdahulu.

Jenis-jenis kitab hadis karya ulama muta'akhirin:

a. Kitab Mustakhrij: Mengambil hadis dari seorang ulama hadis dan meriwayatkannya dengan sanad sendiri yang berbeda.
b. Kitab Atraf: Menyebut sebagian teks atau matan hadis, kemudian menjelaskan seluruh sanad.
c. Kitab Mustadrak: Menghimpun hadis-hadis yang memenuhi syarat kesahihan dari Al-Bukhari dan Muslim.
d. Kitab Jami': Menghimpun hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab sebelumnya.

Tokoh-tokoh ulama dalam bidang ilmu hadis antara lain:

a. Imam Bukhari (Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mugirah bin Bardizbah Bukhari): Lahir di Bukhara tahun 810 M, meninggal di Khartanah tahun 870 M. Sejak kecil sudah terlihat kepandaiannya dalam ilmu hadis. Pada usia 16 tahun, beliau telah menghafal hadis-hadis yang terdapat dalam kitab karangan Ibnu Mubarak dan Wakil Al-Jarrah. Berguru kepada lebih dari 1.000 orang. Kitab Sahih Bukhari disusun dengan menemui lebih dari 1.080 orang guru di bidang ilmu hadis.

Ilmu Tafsir

Dalam penafsiran ayat, sangat memperhatikan dasar-dasar ilmu bayan dan menjauhi berita-berita israilliyat.

Ilmu Fikih

Perkembangan ilmu fikih semakin maju dengan ditemukannya metode pendekatan dalil naqli (hadis) dan pendekatan akal (ra'yi). Terdapat empat mazhab yaitu:

a. Imam Abu Hanifah (Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit): Lahir di Kufah tahun 699 M, meninggal di Baghdad tahun 767 M. Dasar penetapan hukum: Al-Qur'an, fatwa sahabat, kias, istihsan, ijma', dan 'urf. Karya-karyanya antara lain: Al-Faraid, Asyurut, Al-Fikih Al-Akbar.
b. Imam Malik (Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Amir bin Abi Amr): Lahir di Madinah tahun 711 M, meninggal tahun 795 M. Dasar penetapan hukum: Al-Qur'an, sunah nabi, fatwa sahabat, praktik kehidupan masyarakat Madinah, kias, istihsan, dan maslahah al-mursalah.
c. Imam Asy-Syafi'i: Lahir di Gaza, Palestina tahun 767 M, meninggal di Mesir tahun 820 M. Dasar penetapan hukum: Al-Qur'an, sunah, ijmak, kias, dan istidhlal (penalaran). Karya-karyanya antara lain: Ar-Risalah, Al-Umm, Al-Musnad, Ikhtilaf Al-Hadis.
d. Imam Ahmad bin Hanbal (Ahmad bin Muhammad bin Hanbal): Lahir di Baghdad tahun 780 M, meninggal tahun 855 M. Dasar penetapan hukum: Al-Qur'an, hadis sahih, fatwa sahabat, hadis mursal (bersambung), dan kias (dalam keadaan terpaksa). Karya-karyanya antara lain: Musnad Ibnu Hanbal, Tafsir Al-Qur'an, An-Nasih wal Mansukh, Al-Muqaddam Wal-Muahad, Al-llah, Al-Wara', Taat Ar-Rasul, Al-Mansih Al-Kabir.

Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf berkembang dengan peralihan dari tasawuf ke zuhud, memunculkan dua aliran: tasawuf akhlak (berdasarkan Al-Qur'an dan sunah Nabi) dan tasawuf filsafat (tercampur metafisika). Berikut tokoh-tokoh ulama sufi:

a. Tokoh Sufi Aliran Sunni
1) Kharis bin Asad Al-Muhasibi (Bashrah, 165 H-243 H) dengan karyanya:
* Ar-Ri'ayat li Huquqillah
* Kitab Al-Wasaya
* Kitab At-Tawahum
* Falas Fil Mahabbah
2) Abu Nashr As-Sarraj At-Tusi (w. 378 H), karya terbesarnya Kitab Al-Luma'.
3) Abu Thalib Al-Maki (w. 386 H) karyanya Qud Al-Qulub.

Bidang Sosial Budaya

Terjadi akulturasi dan asimilasi masyarakat, terlihat dari seni arsitektur, sastra, bahasa, dan seni musik. Contoh: Istana Al-Qasrul Zahabi (istana emas) dan Qasrul Khuldi. Sastrawan dan budayawan pada masa Daulah Abbasiyah antara lain:

a. Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami (Abu Nawas): Penyair sastra Arab klasik.
b. Abu Athahiyah
c. Al-Mutanabbi
d. Ibnu Muqaffa: Karyanya Kalilah wa Dimmah.
e. Az-Zamakhsyari: Pakar ilmu bahasa dan kesusastraan Arab.

Tokoh terkenal dalam bidang musik antara lain:

a. Yunus bin Sulaiman
b. Khalil bin Ahmad
c. Abu Nasir Muhammad bin Al-Farakh bin Uzlagh Al-Farabi: Pencipta teori musik Islam.
d. Ishak bin Ibrahim Al-Mausully: Tokoh yang berhasil memperbaiki musik Arab Jahiliah dengan sistem yang baru.

Bidang Politik dan Militer

Pemerintah Daulah Abbasiyah membentuk Diwanul Jundi (departemen pertahanan dan keamanan). Prinsip politik dan militer Daulah Abbasiyah adalah negara kuat karena militernya kuat dan rakyat terlindungi oleh sistem militer yang kuat.

Pengaruh Peradaban Islam terhadap Dunia Barat

Ilmu pengetahuan dan peradaban Islam masuk dan berkembang di daratan Eropa (Toledo, Cordoba, dan Sevilla) melalui kaum terpelajar. Tokoh-tokoh terpelajar dari Barat yang belajar pendidikan dan peradaban Islam:

  1. Abolard Bath: belajar di Toledo, ahli matematika dan filsuf Inggris.

  2. Mazarabes (Petrus Alphonsi): Muslim yang bekerja sebagai dokter di Istana Raja Inggris Henry I, membuka perguruan tinggi dan mengajarkan pengetahuan Islam.

  3. Archedeacon Dominico Gundissavi: Mendirikan "House of Wisdom" (Baitul Hikmah) di Toledo.

  4. Gerard Cremona: Menerjemahkan buku-buku ilmu filsafat, matematika, dan kedokteran dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin.

Pengakuan para ahli mengenai pengaruh Islam terhadap kemajuan peradaban dunia, khususnya di Eropa:

  1. Prof. Dr. Charles Singer: "Dalam sejarah Barat, ilmu Tasrih (Anatomi) dan ilmu Kedokteran sebenarnya tidak ada".

  2. Orientalis Spanyol: "Buku-buku karangan ilmu Filsafat adalah buah pikiran ahli filsafat Islam, yaitu Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali".

  3. Ibnu Tumlus: "Orang-orang Islam telah jauh melampaui kepandaian orang-orang Barat".

  4. Dr. Peter Du Berg: Mengatakan bahwa pendeta Peter the Venerable terkejut melihat ilmuwan Islam dan Yahudi menulis di atas kertas di Toledo, lalu membawa kepandaian membuat kertas itu ke Paris.

  5. Prof. H.A.R. Gibb: "Sastra Barat itu berasal dari sastra muslim".

  6. Prof. Leo Weiner: "Kontak pengaruh sastra Islam dengan sastra Eropa dimulai pada abad ke-7 M".

  7. Prof. Kodrad: "Eropa mendapat sastra dan nyala api peradaban modern dari Islam".

Time Line

  • 132 H/750 M: Berdirinya Daulah Abbasiyah.

  • 149 H/768 M: Perpindahan ibu kota ke kota Baghdad.

  • 170-218 H/786-833 M: Masa pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid sampai Al-Makmun.

  • Abad ke-9 M: Dimulainya perkembangan ilmu-ilmu agama Islam, terutama di bidang ilmu hadis.

Ilmu Astronomi

Ilmuwan Islam menekuni bidang astronomi karena banyak disinggung dalam Al-Qur'an dan berkaitan dengan penentuan arah kiblat dan waktu salat. Nama-nama ilmuwan astronomi:

a. Muhammad Al-Fazari: Menciptakan astrolobe dan menerjemahkan ilmu astronomi India ke dalam bahasa Arab (Zij Al-Sindid).
b. Al-Thusi (w. 1274 H): Ahli astrologi dan astronomi. Mendirikan observatorium dan lembaga sains di Maraghah, Persia.
c. Abu Mansur Al-Falaki
d. Jabir Batani
e. Abu Hasan
f. Abu Raihan Biruni: Mempelajari rotasi bumi, bulan, dan matahari.