Integritas
Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan salah satu peristiwa bersejarah penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang menawarkan sejumlah pelajaran berharga. Sikap tak gentar saat masa itu menunjukan kuatnya semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah meskipun dengan senjata seadanya. Dimana sikap ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam berintegritas.
Salah satu sikap dalam meneladani nilai integritas yaitu tidak pernah mengambil keuntungan dari jabatan dan kedudukan. Maka untuk meneladani nilai integritas, kita harus mampu memisahkan kepentingan bersama dan kepentingan pribadi.
Pertempuran besar antara arek-arek Surabaya melawan pasukan sekutu terjadi pada 10 November 1945. Kala itu, Inggris telah memberi ultimatum agar pihak Indonesia berhenti melawan. Namun ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh para pejuang. Mereka tetap melawan demi mempertahankan kemerdekaan. Semangat perjuangan tersebut membara karena orasi dari Bung Tomo “merdeka atau mati!”. Para pejuang Indonesia memilih untuk melawan meskipun tahu resikonya. Berdasarkan kisah tersebut terdapat salah satu nilai integritas, yaitu berani. Namun integritas bukan berarti tidak memiliki rasa takut, tetapi berani bertindak berdasarkan nilai-nilai yang diyakini meskipun resikonya tinggi. Seperti dalam kisah tersebut, dimana para pejuang memilih untuk mengambil resiko karena mereka yakin bahwa kemerdekaan adalah nilai yang lebih penting daripada keselamatannya sendiri.
Dikutip dalam autobiografi Hasjim, Pasang Surut Pengusaha Pejuang. Pada tahun 1950, ibunda Hatta (Mak Tuo) ingin bertemu anaknya. Lalu, Hasjim Ning (kemenakan tiri Hatta) diminta untuk menjemput ibunda, ke Sumedang, Jawa Barat. Saat itu Hasjim Ning mengusulkan untuk memakai mobil dan supir Hatta saja. Karena pasti ibunya bangga dijemput dengan mobil Perdana Menteri. Tetapi Hatta berkata, “Tidak bisa. Pakai saja mobil Hasjim. Mobil itu bukan kepunyaanku, kepunyaan negara.” Dalam kisah tersebut menjukkan bahwa Bung Hatta memiliki sikap integritas karena dirinya sadar bahwa mobil dinas bukan untuk kepentingan pribadi.
Artidjo Alkostar, seorang hakim agung yang mampu “melawan arus. Disaat kendaraan dan barang mewah seakan menjadi ukuran prestise tidaknya seseorang, beliau biasa naik bajaj atau taksi ke kantornya. Selain itu beliau juga mengontrak di perkampungan belakang bengkel las. Berdasarkan kisah tersebut maka Artidjo menunjukkan bahwa beliau adalah sosok hakim agung yang memiliki integritas dan gaya hidup sederhana (tidak terpengaruh oleh materialisme) yang patut diteladani.
Seorang atlet profesional yang berintegritas berpeluang besar untuk bisa memenangkan banyak pertandingan. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah konsisten menjaga kebugaran fisik dengan latihan secara teratur. Konsisten sendiri merupakan salah satu perilaku berintegritas dimana seseorang tetap pada pendiriannya dan tidak berubah-ubah sesuai dengan apa yang telah direncanakannya.