PAI: Toleransi dan Bukti Beriman
1. AYAT AL QUR’AN TENTANG TOLERANSI:
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi artinya sifat toleran; batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.
Sedangkan dalam Bahasa Inggris disebut dengan kata tolerance yang berarti toleransi, kesabaran, dan kelapangan dada.
Sedangkan toleransi dalam bahasa Arab sebagaimana dalam Mu‘jam Maqayis al-Lughah disebut dengan istilah tasamuh. Kata tasamuh adalah bentukan dari kata samaha, yang secara bahasa berarti lembut dan mudah.
Selain tasamuh, toleransi dalam Bahasa arab disebut dengan kata alsamhah. Menurut Ibnu Manzhur dalam Lisan al-‘Arab, samhah berarti tidak menyusahkan dan tidak memberatkan. Dari pengertian tersebut kata kunci dari toleransi adalah menghargai orang lain yang berbeda baik pendapat, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya dengan pendirian sendiri.
Orang yang toleran adalah orang yang memiliki kesabaran, kelapangan dada, dan daya tahan.
Q,S Yunus ayat 40 :
“Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (al-Qur’an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Isi kandungan
penduduk Makkah pada masa Nabi Muhammad Saw. terbagi menjadi dua kelompok, yaitu: Pertama, orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an; Kedua, orang-orang yang tidak beriman selamanya. Kemudian maksud kata wa minhum) dan diantara mereka), di antara kaum musyrikin, ada orang yang percaya kepadanya, tetapi menolak kebenaran al-Qur’an karena keras kepala dan demi mempertahankan kedudukan sosial mereka. Selain itu diantara mereka ada juga memang benar-benar lahir dan batin tidak percaya kepadanya serta enggan memerhatikannya karena hati mereka telah terkunci.
Sedangkan maksud dari wa rabbuka a’lamu bilmufsidin (sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan), kalimat ini merupakan peringatan sekaligus ancaman bagi kelompok yang tidak beriman. Allah Swt. paling mengetahui kerusakan yang mereka perbuat dengan perbuatan syirik, dzalim dan melampaui batas. Allah Swt. akan memberikan balasan kepada mereka di dunia dan akhirat, serta menolong Nabi dan umatnya yang beriman.
Allah Swt. memerintahkan Nabi menyampaikan kepada mereka bahwa Nabi telah menyampaikan ajaran-Nya melalui kabar gembira dan peringatan Nabi tidak dapat memaksa mereka untuk beriman, dan apapun balasan dari perbuatan mereka akan ditanggung oleh mereka sendiri.
Menurut al-Sya’rawi ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya keimanan adalah perbuatan hati, bukan perbuatan yang dzahir, maka kita tidak bisa mengetahui apa yang ada di hati seseorang. Oleh karena itu di akhir ayat 40, Allah Swt. menegaskan Dialah yang lebih mengetahui perbuatan orang-orang yang berbuat kerusakan dengan tidak beriman dan mendustakan ajaran Nabi Muhammad Saw.
Q.S Yunus ayat 41 :
“Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Potongan arti
wa in: dan jika
kaddzabuuka: mereka (tetap) mendustakan engkau
faqul: maka katakanlah (Muhammad)
lii: bagiku
‘amalii: amal/perbuatanku
walakum: walakum
‘amalakum: amal/perbuatan kalian
antum: kalian
bariii uuna: orang-orang yang berlepas diri
mimmaaa: dari apa yang
‘amalu: aku kerjakan
ana: aku
bariiiun: orang yang berlepas diri
ta’maluun: kalian kerjakan
Isi kandungan
Pada ayat 41 Allah Swt. menegaskan bahwa Nabi dan umat yang beriman tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kedurhakaan umat yang tidak mau beriman. Kelak di akhirat Allah Swt. akan memberikan balasan kepada orang yang tidak beriman, karena setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Q.S Al Maidah ayat 32:
Potongan arti
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya para rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”
Isi kandungan
Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, misalnya dengan memaafkan pembunuh keluarganya atau menyelamatkan nyawa seseorang dari bencana, atau membela seseorang yang dapat terbunuh secara aniaya, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka para rasul dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, yang membuktikan kebenaran para rasul dan kebenaran petunjuk-petunjuk. Tetapi, kemudian sesungguhnya banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh telah membudaya pada dirinya sikap dan perilaku melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
Secara singkat larangan tersebut adalah membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan agama dan membuat kerusakan di bumi.
Orang yang menjadi sebab hidupnya satu nyawa dengan menyelamatkan dari kematian, maka ia adalah orang yang terhormat, karena orang tersebut mampu menyelamatkan seluruh manusia dengan sifat-sifat yang mulia, yakni kasih sayang, cinta, memuliakan hak hidup manusia dan melaksanakan perintah syari’at.
Merusak kehormatan individu sama dengan merusak kehormatan seluruh individu/masyarakat. sebaliknya, menjaga hak individu berarti sama dengan menjaga hak seluruh seluruh individu/masyarakat. Bahkan dalam al-Qur’an banyak dijumpai petunjuk yang mengajak kepada persatuan umat dan saling menjaga.
Aplikasi
Hikmah
Tajwid
Idgham Bigunnah: lebur; nun sukun/tanwin bertemu ya, wawu, mim, nun
Idgham Bilagunnah: lebur; nun sukun/tanwin bertemu lam, ra
Iqlab: nun sukun/tanwin bertemu ba
Idzhar: dibaca jelas; hamzah, ha, kho, ‘ain, ghain, ha
Ikhfa: dengung
Idgham mimi
Ikhfa syafawi: dengung; mim bertemu ba
Idzhar syafawi: dibaca jelas;
Tafkhim (didahului fathah/dhummah) dan Tarqiq (didahului kasrah)
Mad Aridh Lissukun (Mad Thabi’i bertemu huruf hidup dibaca waqaf) dan Mad ‘iwadh (fathah tanwin dibaca waqaf: ‘aliiman > ‘aliimaa)
Mad Shilah Q (hu, hi) dan T (hii in, huu a)
Mad Badal (aa, ii, uu)
Mad Tamkin (miyyiii, nabiiyyiina)
Mad Lin (khawf, ilayhi)
2. CABANG IMAN.
Ruang lingkup iman
Dinul Islam secara garis besar terdiri dari 3 pokok (rukun) ajaran, yaitu:
Akidah, yaitu pokok-pokok ajaran tentang keimanan yang dikenal dengan sebutan 6 Rukun Iman.
Syariah, yakni pokok-pokok ajaran tentang hukum Islam yang dikenal dengan istilah 5 Rukun Islam.
Akhlak, yaitu etika atau moralitas hidup manusia yang bersumber dari wahyu Allah Swt.
Akidah (Iman) menghasilkan Syariah (Islam), dan Syariah tidak melupakan Akhlak (Ihsan).
Dalam surat Al-A’raf/7:96, surat Ibrahim/14:23, Yunus/10:9, Al-Quran menggariskan bahwa orang beriman yang dibarengi dengan amal shaleh (sebagai realisasi Syariah dan Akhlak) dijanjikan kehidupan dunianya penuh dengan kebahagiaan, keberkahan, kemuliaan, dan di akhirat nanti dimasukkan ke dalam surga.
Iman memiliki 63 cabang (bagian), 4 diantaranya adalah berikut:

Memenuhi Janji
Pengertian:
Janji dalam bahasa Arab adalah ‘aqad’ (عقد), kemudian muncul kata akad, akidah, atau akad nikah.
Menurut bahasa, akad berarti perjanjian atau ikatan yang kuat.
Janji menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat.
Memenuhi janji merupakan kewajiban dan menjadi tanda orang itu beriman atau tidak. Jika dikaitkan dengan makna bahasa, maka janji itu harus ditepati dan dipenuhi, dan karena setiap janji akan diminta pertanggung jawaban.
Jenis dan Aplikasi
Janji kepada Allah SWT: semua manusia tak terkecuali pernah melakukan penjanjian kepada Allah Swt. (di alam ruh/rahim) dan bentuk janjinya adalah nanti jika sudah di dunia akan mengimani Allah sebagai Rabb-Nya dan berjanji menjadi hamba-Nya yang taat. Setiap manusia saat berada di alam ruh/rahim sudah menyampaikan janji setia untuk bertauhid dan menjalani hidup di dunia yang didasari fitrah, karena fitrah itu sebenarnya jati diri manusia (isi kandungan Q.S. al-A’rāf/7: 172).
Hanya beribadah dan meminta pertolongan kepada Allah, seperti yang diucapkan dalam salat
Melaksanakan perbuatan yang mencerminkan keimanan kepada Allah, seperti mengucapkan dua kalimah syahadat
Janji kepada sesama manusia
Melunasi utang sesuai janji, bahkan sebelum jatuh tempo
Memenuhi undangan atau janji untuk bertemu dengan seseorang
Janji kepada diri sendiri
Menepati nadzar yang telah dijanjikan (nadzar yang tidak ditepati dibayar dengan kafarat.
Janji kepada diri sendiri untuk menjadi orang yang lebih bersyukur atas apa yang telah diberikan
Hikmah
Manfaat memenuhi janji, antara lain:
Mendapatkan predikat sebagai muttaqin dan menjadi sebab tergapainya sifat muttaqin (Q.S. Ali Imrān/3: 76).
Menjadi sebab datangnya keberhasilan, keamanan dan ketenteraman, serta jauh adanya konflik dan perselisihan.
Menghindari pertumpahan darah, dan terjaga dari mengambil hak orang lain, baik dari pihak muslim atau non muslim (Q.S. al-Anfāl/8: 72).
Dapat menghapus kesalahan, dan menjadi sebab dimasukkan ke dalam surga (Q.S. al-Baqarah/2: 40, dan Q.S al-Māidah/5: 12)
Balasan Menepati Janji
Memenuhi janji termasuk sifat orang-orang bertakwa dan merupakan sebab utama menggapai ketakwaan.
Mendatangkan keamanan di dunia, menghindari pertumpahan darah, serta melindungi hak hamba baik muslim maupun kafir.
Menghapus kesalahan dan memasukkan ke surga
Bahaya Mengingkari Janji
Mendapatkan laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia.
Tidak diterimanya tobat dan tebusan.
Menjadi semakin dekat dengan kemunafikan
Mensyukuri Nikmat
Pengertian
Ada 2 kata dasar yang digunakan, Syukur dan Nikmat:
Syukur, menurut bahasa berarti membuka atau menampakkan. Lawan dari syukur adalah kufur yang berarti menutup dan menyembunyikan. Syukur merupakan bentuk keridhaan atau pengakuan terhadap rahmat Allah Swt. dengan setulus hati. Makna lainnya adalah pujian atau pengakuan terhadap segala nikmat Allah Swt. yang dibuktikan dengan kerendahan hati dan ketulusan menerimanya yang diwujudkan melalui ucapan, sikap, dan perilaku.
Nikmat, menurut bahasa adalah pemberian, anugerah, kebaikan, dan kesenangan yang diberikan manusia, baik berupa rezeki, harta, keluarga, maupun segala kesenangan yang lain. Seringkali kita diingatkan oleh khatib atau dai, bahwa nikmat terbesar itu adalah Iman dan Islam, termasuk juga nikmat sehat wal ‘afiat. Berdasarkan penjelasan tersebut, mensyukuri nikmat adalah berterima kasih kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Caranya adalah menggunakan segala nikmat tersebut, sesuai dengan tujuan nikmat itu diberikan. Misalnya nikmat tangan, mata, dan kaki, semuanya digunakan untuk hal-hal yang benar menurut Allah Swt, bukan keinginan nafsu, syahwat, apalagi perbuatan maksiat.
Jenis dan Aplikasi
Isi kandungan Q.S. Ibrahīm/14: 34: syukur harus dilakukan dengan 3 hal, yakni: melalui lisan, hati, dan anggota badan.
Pribadi yang bersyukur kepada Allah Swt., ditandai dengan pengakuan, kerelaan, dan kepuasan hati atas segala nikmat yang diterima, dilanjutan dengan lisan yang selalu mengucapkan syukur, misalnya banyak-banyak mengucapkan hamdalah dan kalimat-kalimat pujian yang disampaikan (Q.S. ad-Dhuhā/93: 11). Setelah itu, semua nikmat tersebut diwujudkan dan difungsikan oleh anggota tubuhnya dalam ketaatan hanya kepada Allah Swt.
Imam al-Ghazali membagi syukur itu, menjadi 3 bagian, yaitu: ilmu, hal (keadaan), dan amal (perbuatan).
Melalui ilmunya, seseorang menyadari bahwa segala nikmat yang diterima itu semata-mata berasal dari Allah Swt. Keadaannya menyatakan kegembiraan.
Selanjutnya, amal perbuatannya sesuai dan sejalan dengan fungsi nikmat tersebut diberikan.
Hikmah
Jauh Lebih Produktif
Lebih Bahagia dan Optimis
Manfaatnya Kembali ke Diri Sendiri
Memelihara Lisan
Pengertian
Secara Bahasa:
Menjaga: Artinya memelihara, melindungi, dan mencegah dari kerusakan.
Lisan: Merujuk pada lidah atau alat untuk berbicara.
Secara Istilah:
Menjaga Lisan: Dalam Islam, ini adalah upaya sadar untuk mengendalikan ucapan agar tidak keluar kata-kata yang sia-sia, bohong, menyakiti, atau mencela. Ini mencakup semua bentuk komunikasi, baik lisan maupun tulisan.
Jenis dan Aplikasi
Fitnah: Menceritakan aib/keburukan orang lain namun aib yang dibicarakan tidak benar.
Ghibah: Menceritakan keburukan atau aib orang lain dimana aib itu benar terjadi, namun orang yang dibicarakan tidak ada dalam perkumpulan atau perbincangan tersebut.
Buhtan: Menceritakan keburukan atau aib orang lain dimana aib itu benar terjadi, namun orang yang dibicarakan ada dalam perkumpulan atau perbincangan tersebut.
Cara Menjaga Lisan
Berbicara dengan Baik atau Diam
Menghindari Ghibah (Menggunjing)
Menghindari Dusta
Membiasakan Diri dengan Dzikir dan Doa
Mengontrol Emosi saat Berbicara
Berbicara dengan Niat yang Ikhlas
Belajar dan mengajarkan Ilmu yang Bermanfaat
Hikmah
Kalau lisan kita selalu dijaga maka image (jati diri/pandang orang terhadap kita) tentang diri kita juga akan terjaga.
Tidak ada ketakutan dari orang lain terhadap kita.
Orang lain akan mempercayai kita ketika akan berbicara atau bermusyawarah.
Dimana pun kita berada orang lain akan merasa aman dan nyaman.
Terhindar dari dosa yang terjadi karena fitnah, ghibah, dan buhtan
Menjaga lisan memiliki banyak hikmah penting dalam kehidupan.
Pertama, lisan yang dijaga dapat mencegah munculnya konflik dan perpecahan akibat perkataan yang menyakitkan.
Kedua, menjaga lisan membantu kita membangun hubungan yang baik dengan orang lain melalui komunikasi yang positif dan menghargai perasaan orang lain.
Ketiga, berbicara dengan baik dan bijak mencerminkan akhlak yang mulia serta menunjukkan penghargaan terhadap nilai-nilai kesopanan dan kebaikan.
Kita juga terhindar dari dosa dan penyesalan akibat ucapan yang tidak perlu.
Menutupi Aib Orang Lain
Pengertian
Aib adalah cela, cacat, nista, noda, perilaku hina, atau ada juga bermakna kiasan, yaitu: arang di muka.
Secara istilah, aib merupakan sesuatu yang ada pada diri seseorang yang sifatnya buruk atau tidak menyenangkan.
Dalam pandangan Islam, aib adalah bagian dari masa lalu setiap orang yang tidak boleh disebarkan, apalagi dengan maksud menjelekkan.
Aib adalah suatu cela atau kondisi seseorang yang dilihat dari sisi keburukan atau hal yang tidak baik tentang seseorang.
Jenis dan Aplikasi
Aib yang dzahir, adalah aib yang bisa diketahui ketika objek diperhatikan. Misalnya, cacat pada kondisi fisik barang dagangan, dan seterusnya.
Aib tersembunyi, merupakan kebalikan dari aib dzahir. Aib ini tidak kelihatan ketika objek diperhatikan. Seperti aib yang tersimpan di dalam objek dan benda tertentu
Hikmah
Membuka aib orang lain, sama saja dengan membuka aib diri sendiri. Selain itu, aib bukan saja membawa madharat (bahaya) kepada yang bersangkutan, tetapi juga pihak lain, termasuk masyarakat luas.