Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Indonesia

Kerajaan Kutai

  • Sumber Sejarah Utama:

    • Prasasti Yupa: Berisi tulisan dalam aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.
    • Yupa: Tugu batu yang didirikan oleh Brahmana untuk memperingati upacara persembahan Raja Mulawarman.
    • Prasasti Yupa menyebutkan sedekah emas dalam jumlah besar oleh Raja Mulawarman kepada Brahmana, menunjukkan keagungan dan pengaruh Hindu.
  • Raja-raja yang Memerintah:

    • Kudungga: Pendiri Kerajaan Kutai (berdasarkan prasasti Yupa).
    • Aswawarman: Anak dari Kudungga.
    • Mulawarman: Anak Aswawarman yang paling termasyhur.
  • Keagungan Sang Mulawarman:

    • Dikenal sebagai penguasa dermawan dan bijaksana.
    • Memberikan sedekah emas, minyak, dan 20.000 ekor sapi.
    • Mulawarman dan keluarga dianggap sebagai pelindung agama Hindu.
  • Kemunduran Kerajaan Kutai:

    • Melemahnya pengaruh Hindu di Kalimantan.
    • Dihancurkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara pada abad ke-13.
    • Kutai Kartanegara mengadopsi nama Kutai dan mendirikan dinasti baru.

Kerajaan Tarumanegara

  • Prasasti-Prasasti Penting:

    • Prasasti Tugu: Pembangunan sungai Gomati dan Chandrabaga untuk irigasi dan pengendalian banjir.
    • Prasasti Kebon Kopi: Jejak telapak kaki gajah, dipercaya sebagai gajah milik Purnawarman (Airavata, kendaraan Dewa Wisnu).
    • Prasasti Ciaruteun: Jejak telapak kaki Raja Purnawarman disamakan dengan jejak telapak kaki Dewa Wisnu, simbol Purnawarman sebagai perwujudan Wisnu.
    • Prasasti Koleangkak: Pujian kepada Raja Purnawarman sebagai raja yang kuat, adil, dan penakluk musuh.
  • Awal Mula Berdiri:

    • Belum dapat dipastikan, merujuk Naskah Wangsakerta pendirinya adalah Sri Jayasingawarman (orang India yang mengungsi ke Citarum, Jawa Barat).
  • Letak Geografis dan Nama:

    • Nama Tarumanegara berasal dari kata "Tarum" (Sungai Citarum).
    • Sungai Citarum sebagai sumber daya alam penting untuk pertanian, perdagangan, dan pengelolaan air.
    • Lokasi strategis di sekitar Jakarta, Bogor, dan Banten, dekat pesisir barat Jawa (mempermudah interaksi dan perdagangan).
  • Raja Purnawarman:

    • Puncak kejayaan Tarumanegara pada masa pemerintahan Raja Purnawarman (395 M - 434 M).
    • Cucu Jayasingawarman.
    • Ekspansi wilayah signifikan.
    • Pengelolaan irigasi yang baik.
    • Pembangunan saluran air Candrabaga dan Gomati (Prasasti Tugu).

Kerajaan Sriwijaya

  • Sumber Sejarah Utama:

    • Prasasti Kedukan Bukit (683 M).
    • Prasasti Talang Tuo (684 M).
    • Prasasti Kota Kapur (686 M).
    • Prasasti Karang Berahi (686 M).
    • Prasasti Palas Pasemah (684 M).
    • Prasasti Ligor (775 M).
    • Prasasti Nalanda (860 M).
    • Catatan I-Tsing (671 M).
    • Prasasti Leiden (1006 M).
  • Awal Mula Berdiri:

    • Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai pendiri.
    • Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit (683 M) di Palembang.
    • Mencatat perjalanan suci (siddhayatra) Dapunta Hyang dari Minanga (pendirian awal Sriwijaya).
  • Selat Malaka:

    • Berkembang menjadi kekuatan maritim besar.
    • Mengendalikan perdagangan di Selat Malaka dan Asia Tenggara.
  • Ekspansi Wilayah dan Pengaruh:

    • Prasasti Ligor (Thailand Selatan): Pengaruh Sriwijaya mencapai Semenanjung Malaya dan Thailand.
    • Prasasti Nalanda (India): Balaputradewa (raja Sriwijaya) mendirikan wihara untuk pelajar Sriwijaya di Nalanda.
    • Prasasti Kota Kapur (Pulau Bangka): Usaha Sriwijaya memperluas wilayah ke Jawa.
    • Prasasti Karang Berahi (Jambi): Kekuasaan Sriwijaya di Sumatra.
    • Prasasti Leiden (Belanda): Hubungan Sriwijaya dengan India dan Asia Tenggara, kekuatan perdagangan berpengaruh di jalur laut internasional.
    • Prasasti Palas Pasemah (Lampung): Pengaruh Sriwijaya di selatan Sumatra.
  • Sriwijaya sebagai Pusat Pembelajaran Agama Buddha:

    • Catatan I-Tsing: Pusat studi Buddha bagi pelajar sebelum ke India.
    • Tempat penting bagi biksu untuk belajar dan menerjemahkan teks Buddha.
    • Menganut agama Buddha Mahayana.
  • Kemunduran Sriwijaya:

    • Akhir abad ke-11: Serangan Kerajaan Chola dari India Selatan.
    • Raja Rajendra Chola I (1025 M): Menghancurkan pusat perdagangan Sriwijaya (Semenanjung Malaya dan Sumatra).
    • Kekuatan Sriwijaya menurun setelah serangan Chola, sisa kekuasaan kecil bertahan di Sumatra dan sekitarnya.
  • Kontroversi mengenai Pusat Kerajaan Sriwijaya:

    • Pertanyaan mengenai lokasi sebenarnya dari pusat Kerajaan Sriwijaya.