3. Lahirnya Psikologi Eksperimental, Awal Psikologi Modern

  • Latar belakang umum: integrasi fisiologi, empiri, dan filsafat dalam upaya memahami kesadaran dan proses mental melalui pendekatan eksperimen.
  • Dzulkan sejarah perspektif teoretis psikologi: dari pemikiran Yunani (Aristoteles) hingga pemisahan mind (pikiran) dan body (tubuh) pada abad ke-17, memunculkan psikologi modern berbasis empiris.
  • Peran universitas di Jerman dan laboratorium abad ke-19: studi tentang mind mengadopsi tradisi empiris sebagai bidang ilmu yang ilmiah.

3.1. WILHELM MAXIMILIAN WUNDT: PIONIR DALAM PSIKOLOGI EKSPERIMENTAL

  • Latar belakang keluarga ilmuwan; masa muda pemalu tetapi memiliki tekad kuat untuk pendidikan. Will (will) adalah bidang studinya.
  • Pendidikan dan karier:
    • Masuk Fakultas Kedokteran di Tübingen, lalu Heidelberg; lulus 1855 pada usia 23 tahun dengan predikat summa cum laude.
    • Pindah ke Berlin, belajar dengan Johannes Peter Müller, lalu beralih ke fisiologi eksperimental.
    • Menulis >500 makalah ilmiah; total halaman sekitar 53,73553{,}735; karier 64 tahun (sejak 1855).
    • Laboratorium psikologi eksperimental di Leipzig: didirikan 1875 sebagai Institute for Experimental Psychology; berkembang menjadi laboratorium riset yang inovatif.
    • 1882: ruang riset lebih besar dengan 11 kamar; 1897 pindah ke gedung sendiri.
  • Kontribusi utama:
    • Tujuan ilmu psikologi: memahami kesadaran, baik yang sederhana maupun kompleks; eksperimen terutama untuk elemen-elemen dasar pikiran, bukan untuk peristiwa mental tingkat tinggi.
    • Objek studi: kesadaran manusia sebagaimana ia terjadi (immediate experience), bukan hanya fenomena yang dapat diamati secara luar.
    • Dua tujuan besar eksperimentasi: menemukan elemen pikiran dan hukum umum yang mengatur kombinasi elemen menjadi pengalaman mental yang lebih kompleks.
  • Metode introspeksi (eksperimental):
    • Kondisi dikenalkan secara terkendali; subjek diminta menyatakan YA/TIDAK terhadap rangsangan tanpa deskripsi pengalaman internal secara rinci.
    • Peran instrumen lebih rendah dibanding fisika; fokus pada elemen dasar persepsi, sensasi, dan perasaan.
  • Elemen-elemen pikiran menurut Wundt:
    • Sensasi: terjadi saat organ pancaindra menerima rangsangan; dijelaskan berdasarkan modalitas (penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, pengecapan) dan intensitas.
    • Perasaan: mengikuti sensasi; teori perasaan tiga-dimensi (three-dimensional theory of feeling): extPleasantness<br/>ightarrowextUnpleasantness, extExcitement<br/>ightarrowextCalm, extStrain<br/>ightarrowextRelaxationext{Pleasantness} <br /> ightarrow ext{Unpleasantness},\, \ ext{Excitement} <br /> ightarrow ext{Calm},\ ext{Strain} <br /> ightarrow ext{Relaxation}
  • Persepsi dan apersepsi:
    • Persepsi sebagai proses pasif yang dipengaruhi oleh rangsangan, kondisi anatomi individu, dan pengalaman masa lalu.
    • Apersepsi sebagai medan persepsi yang aktif dan dipengaruhi oleh perhatian.
    • Perhatian dan apersepsi bersifat dinamis; kreatifitas muncul melalui proses creative synthesis (gabungan sensasi melalui manipulasi pengalaman).
  • Mind sebagai proses dinamis:
    • Proses mental tidak statis; berkembang melalui struktur yang kompleks dan kreatif.
    • Implikasi terhadap pandangan terhadap gangguan jiwa (contoh: Kraepelin melihat gangguan pada pusat pengendalian proses mental).
  • Kaitan dengan penelitian waktu reaksi dan Donders:
    • Donders mengembangkan pengukuran waktu reaksi dengan tahapan perceptual dan motorik; Wundt mengkritik variasi waktu reaksi yang luas tetapi pengamatan Donders relevan untuk kognisi.
  • Kausalitas: fisik vs psikologis:
    • Wundt menolak reduksi sempit; bahasa sebagai contoh: bahasa dipelajari melalui maksud kehendak manusia, bukan sekadar mekanisme produksi suara.
    • Watson kemudian merumuskan prinsip heterogoni ends (heterogony of ends): aktivitas diarahkan tujuan dan dapat menghasilkan unsur-unsur baru dalam motivasi.
  • Völkerpsychologie (psikologi budaya):
    • Wundt menulis sekitar 10 volume mengenai budaya, bahasa, seni, moral, dan agama; kajian introspektif kolektif mengenai produk manusia yang tidak bisa diperoleh lewat eksperimen semata.
    • Tahap komunikasi verbal dalam tiga langkah: apersepsi, pemilihan kata/kalimat, dan makna/pemahaman penerima.
  • Voluntarisme dan kebebasan (freewill):
    • Psikologi voluntarisme; kehendak bebas ada, tetapi tidak sepenuhnya bebas karena dibatasi hukum alam.
    • Contoh kehendak bebas: memilih cokelat vs vanila meski preferensi pribadi mungkin berbeda; refleksi diri (reflective self-consciousness) dapat mengarah pada kebebasan sejati.
  • Signifikansi historis:
    • Wundt dianggap Bapak Psikologi Modern; peran penting dalam membangun psikologi sebagai disiplin ilmiah.

3.2 EDWARD BRADFORD TITCHENER DAN STRUKTURALISME

  • Penerjemah prinsip Wundt ke bahasa Inggris: membentuk aliran strukturalisme di Amerika.
  • Fokus utama Titchener: memahami pengalaman sadar melalui elemen-elemen dasar; introspeksi yang lebih terperinci dibanding Wundt.
  • Introspeksi strukturalistik:
    • Subjek diminta fokus pada elemen-elemen paling elementer dari pengalaman, menghindari atribusi makna, kecuali jika diminta secara eksplisit.
    • Contoh: ketika melihat apel, jawaban yang benar adalah deskripsi sensasi: warna, permukaan, bentuk; bukan identifikasi sebagai "apel" (yang disebut sebagai kesalahan stimulus).
  • Tiga elemen pengalaman sadar (menurut Titchener):
    • Sensasi (sensations): indra dan kualitasnya (kualitas, intensitas, durasi, kejernihan, ekstensitas).
    • Citra (images): ide-ide atau gambaran yang muncul setelah sensasi.
    • Afeksi (affection/affect): emosi; atributnya mencakup kualitas, intensitas, dan durasi; tidak memiliki atribut kejernihan dan dimensi perasaan seperti pada Wundt.
  • Keterhubungan elemen-elemen:
    • Makna pengalaman sangat kontekstual, tergantung pada pengalaman induk-indrawi yang menyertai sensasi.
    • Konteks representan: arti juga dibentuk oleh pengalaman kumulatif mengenai objek atau peristiwa.
  • Introspeksi neurologis:
    • Unsur neurologis dianggap memberi substratum fisik bagi proses mental; menghubungkan fenomena mental dengan dasar neurologis tanpa menempatkan neurologi sebagai pemicu utama.
  • Penurunan pamor strukturalisme:
    • Kritik utama: introspeksi tidak konsisten dan bermasalah, berujung pada retrospeksi; materi studi terlalu terbatas pada subjek dewasa sehat; keterbatasan praktis untuk generalisasi.
  • Ringkasan: strukturalisme berfokus pada identifikasi elemen dasar pengalaman sadar melalui introspeksi terkontrol dan analisis hubungan elemen, tetapi kehilangan relevansi karena kritik metodologis.

3.3 Lahirnya Fungsionalisme di Amerika Serikat – Psikologi sebagai Ilmu Terapan

  • Darwinsisme memengaruhi ilmuwan AS sehingga psikologi berorientasi pada fungsi dan adaptasi daripada hanya struktur.
  • Tokoh utama: John Dewey, William James, James Rowland Angell, Harvey A. Carr, dan Cattell.
  • William James (1842–1910): Bapak Psikologi AS; menentang strukturalisme; memandang pikiran sebagai aliran kesadaran (stream of consciousness) yang utuh dan dinamis; kesadaran bersifat personal; pragmatisme; The Principles of Psychology (1920) mempromosikan psikologi sebagai ilmu terapan; metodologi mencakup introspeksi, eksperimen, dan komparasi.
    • Self: dibagi menjadi I (penyampai/yang berbicara) dan Me (kebanyakan identitas objektif: diri materi, diri sosial, diri spiritual).
    • Kebiasaan: fungsi mental yang stabil karena repetisi; proses pembentukan jalur saraf melalui repetisi sehingga operasional tubuh menjadi autopilot.
    • Insting: manusia memiliki insting, tetapi tidak deterministik; insting dapat dimodifikasi oleh kebiasaan.
    • Emosi: paradigma stimulus-reaksi direposisi; menurut James, hubungan antara stimulus, emosi, dan respons bersifat dinamika.
    • Fokus pada motivasi dan tujuan; peran pragmatisme menilai ide dari kegunaan praktisnya.
  • James Rowland Angell (1869–1949): memajukan fungsionalisme di Chicago; mengkritik strukturalisme; psikologi didefinisikan sebagai sains atas kesadaran; eksplorasi dunia psikobiologi terkait sensasi, persepsi, perasaan, emosi, dan kehendak.
  • Dewey (1859–1952): Bapak Reformasi Psikologi Edukasi; learning by doing; menyerang reduksionisme; menekankan kombinasi teori dan praktik dalam pendidikan.
  • Carr (1873–1954): kepala departemen fungsionalis di Chicago; menggabungkan elemen behavioristik; fokus pada akuisisi ide, fiksasi, retensi, organisasi, dan evaluasi pengalaman; aksi adaptif melibatkan stimulus, keadaan lingkungan, dan respons terhadap stimulus.
  • Cattell (1860–1944): mempopulerkan penggunaan tes dan kuantifikasi; mengembangkan tes-tes sensori-motor; mempromosikan kuantifikasi data.
  • Ciri khas fungsionalisme (ringkas):
    • Fokus pada fungsi pikiran dan tujuan mental, bukan sekadar unsur struktur.
    • Psikologi sebagai ilmu terapan; memperluas studi ke hewan, anak-anak, dan abnormalitas.
    • Metodologi yang eklektik dan terbuka terhadap beragam pendekatan.
    • Menekankan fungsi adaptif dan variasi individu.
  • Pengaruh terhadap bidang lain:
    • Mendorong perkembangan behaviorisme dan psikologi terapan; memengaruhi psikologi belajar dan pendidikan modern.

3.4. POSISI MAZHAB BEHAVIORISME: MENGGAPAI PENGAKUAN ILMIAH

  • Latar belakang: reaksi terhadap klaim mengenai proses mental internal; fokus pada perilaku yang dapat diamati secara objektif.
  • Definisi umum: mind dianggap tidak dapat diakses secara langsung; fokus utama pada hubungan stimulus-respons (S-R) yang dapat diamati.
  • Dua fase posisi awal: radikal vs metodologis (Lundin, 1996).
    • Radikal: menolak eksistensi pikiran/jiwa sebagai konstruksi ilmiah.
    • Metodologis: masih menerima konsep dualisme namun fokus pada perilaku yang dapat diamati.
  • Dua sumber utama kritik terhadap behaviorisme awal: subjektivitas introspeksi dan kecenderungan reduksionis.
  • Struktur umum basis behaviorisme awal:
    • Prasangka Rusia (psikologi objektif Rusia): Sechenov, Pavlov, Bekhterev.
    • Behaviorisme Amerika: Watson.
    • Pendukung tradisi: Weiss, Thorndike, McDougall, Lashley, Holt.
  • 3.4.1.1 Psikologi Objektif Rusia (fondasi awal): Sechenov, Pavlov, Bekhterev.
    • Sechenov (1829–1905): menolak gagasan bahwa perilaku hanya berasal dari pikiran; semua aktivitas sadar tak sadar adalah refleks; menganggap aktivasi refleks bisa dihambat melalui inhibition; fisisiologi dan psikologi saling melengkapi; unit refleks sebagai hitungan untuk aktivitas manusia.
    • Pavlov (1849–1936): mengajukan bahwa perilaku dipelajari melalui proses fisiologis; classical conditioning; anjing mengasosiasikan bel dengan makanan; eksperimen menunjukkan reflex saliva yang dipicu oleh stimulus non-makanan setelah asosiasi.
    • Bekhterev (1857–1927): fokus pada perilaku konkret; menarik diri dari refleks internal seperti Pavlov; menguatkan konsep refleks asosiatif (mirror dari klasikal conditioning) dan tes laboratorium yang terkontrol.
  • 3.4.1.2 Behaviorisme di Amerika Serikat (Watson):
    • Watson menekankan objektivitas sains; perilaku yang dapat diamati adalah subjek utama; menolak mentalisme.
    • Metode: eksperimen fisiologis dan observasi perilaku; introspeksi dianggap tidak valid untuk ilmu ilmiah.
    • Dua fase pandangan tentang insting: 1919 mendefinisikan insting sebagai sekumpulan refleks; 1925 menolak konsep insting sebagai sesuatu yang terpaksa; perilaku adalah hasil dari respon-refleks terkoordinasi.
    • Memori: tiga fase pembentukan memori menurut Watson (belum disebut secara detil seperti sekarang).
    • Tabula rasa: manusia lahir sebagai kertas putih; eksperimen Albert kecil (kucing warna) untuk menunjukkan tabula rasa; disertai kritik etis.
    • Kontribusi utama Watson: mengangkat objekivisme, memperkenalkan psikologi S-R, serta menulis literatur edukasi orang tua seperti The Psychological Care of the Infant and Child (1928).
  • 3.4.1.3 Pendukung Tradisi Behaviorisme
    • Albert Paul Weiss: behavioris radikal; menekankan bahwa fungsi organisme adalah hasil interaksi fisik dan sosial; perilaku dipandang sebagai respons biologis dan sosial.
    • Thorndike (1874–1949): perlakuan terhadap hewan di lab Columbia; “Law of Effects” (law of effects) – tindakan yang diikuti oleh konsekuensi menyenangkan cenderung diulang; tindakan tanpa efek mungkin berhenti; progres belajar melalui trial and error; mengembangkan konsep keterkaitan stimulus-respons.
    • McDougall (1871–1938): behaviorisme yang lebih metodologis namun tetap mempertahankan peran mental; perilaku purposif; teori motivasi & tujuan; mengakui motif instinktif.
    • Lashley (1890–1958): tokoh penting dalam behaviorisme di ranah fisiologi; menentang ketergantungan Watson pada conditioning Pavlov; eksperimen otak menyatakan bahwa pembelajaran bersifat terorganisasi; equipotentiality: semua bagian otak relatif penting; hilangnya bagian otak menentukan kemampuan menggantikan fungsi bagian lain.
    • Holt (1873–1946): perilaku dianggap molar (menyatu); perilaku tidak bisa dipotong jadi elemen; memandang perilaku sebagai kesatuan; menggabungkan pandangan molar, purposif, dan kognitif.
  • 3.4.1.2–3.4.1.3 Ringkas peran awal behaviorisme:
    • Behaviorisme awal menekankan objektivitas dan emansipasi psikologi dari spekulasi mental.
    • Watson memotong fokus dari mentalisme ke S-R; banyak kontribusi praktis untuk pendidikan dan terapi perilaku.
    • Teori-teori Thorndike, Hull, Guthrie, dan Skinner kemudian menguji dan mengembangkan konsep learning berbasiskan stimulus–respons serta reinforcement.
  • 3.4.2 Kontribusi Behaviorisme Awal
    • Konstruksi ilmu psikologi sebagai sains empiris melalui laboratorium terkontrol; kemampuan untuk direplikasi; banyak eksperimen dengan hewan sebagai paralel dalam memahami perilaku manusia.
    • Penekanan pada prediksi dan kontrol perilaku sebagai tujuan utama psikologi.
    • Mendorong integrasi perilaku hewan sebagai landasan bagi studi perilaku manusia.

3.5. NEOBEHAVIORISME: SEMANGAT BARU DALAM MAZHAB BEHAVIORISME

  • Latar belakang: pergeseran menuju positivisme logis; kritik terhadap keterbatasan behaviorisme klasik yang terlalu fokus pada apa yang dapat diamati secara langsung.
  • Esensi: pengalaman ilmiah dapat digeneralisasikan melalui hipotesis yang diuji secara berkelanjutan; meskipun proses mental tidak langsung diamati, tetap diperlukan untuk membangun teori perilaku yang lebih utuh (logikal positivisme).
  • Tokoh-tokoh & gagasan utama:
    • Guthrie: Law of Contiguity; satu pengalaman cukup untuk belajar; one-trial learning; membedakan antara gerakan (movements) dan aksi (actions); aksi adalah serangkaian gerakan yang membawa hasil; latihan meningkatkan kapasitas asosiasi S-R secara bertahap melalui repetisi.
    • Hull: Drive Reduction Theory; motivasi berasal dari kebutuhan biologis; homeostasis; membangun matematika teoretis untuk perilaku dengan formula matematika deduktif: sErimessHrimesDimesKimesJsIrsOrsLrsEr imes sHr imes D imes K imes J - sIr - sOr - sLr
    • sEr: potensi eksitatori untuk mengeluarkan respons terhadap stimulus
    • sHr: kekuatan kebiasaan (habit strength)
    • D: intensitas dorongan (drive strength)
    • K: motivasi insentif (incentive value)
    • J: jarak waktu sebelum mencari reinforcement
    • sIr: inhibisi reaktif
    • sOr: inhibisi kondisional (random error)
    • sLr: threshold reaksi
    • Skinner: operant conditioning; kotak Skinner sebagai perangkat eksperimental; reinforcement membentuk perilaku; jadwal reinforcement (5 tipe):
      1) Continuous Reinforcement
      2) Fixed Ratio
      3) Fixed Interval
      4) Variable Ratio
      5) Variable Interval
    • Hukuman: Negative Punishment dan Positive Punishment; eliminasi perilaku melalui penghapusan atau pengucilan stimulus.
    • Kontribusi Skinner: pengembangan terapi perilaku berbasis operant conditioning; shaping; reinforcement primer (primary) dan sekunder (secondary).
    • Kritik terhadap Skinner: overgeneralization; kurang memperhitungkan faktor kontekstual dan variabilitas individu; validitas eksternal terhadap perilaku manusia.
  • Transformasi ke arah neobehaviorisme menghasilkan penggabungan antara respons perilaku dan konstruk kognitif melalui model-model yang menyatukan observasi eksternal dengan faktor-faktor internal yang dapat diukur melalui prosedur eksperimental.

3.6. BEHAVIORISME KOGNITIF: KETIKA HARUS MENJELASKAN PERILAKU SOSIAL

  • Tolman (1899–1959) memperkenalkan behaviorisme kognitif sebagai respon terhadap keterbatasan S-R murni.
    • Tolman menolak pandangan manusia sebagai agen belajar pasif; manusia menggunakan informasi dan kapasitas kognitif untuk memproses lingkungan.
    • Pengenalan peta kognitif (cognitive map) dan konsep representasi internal lingkungan untuk navigasi tujuan.
    • Eksperimen tikus pada labirin menunjukkan latent learning: belajar tanpa reinforcement eksplisit, baru terlihat saat motivasi muncul.
    • Enam tipe proses belajar Tolman:
      1) Learning by cathexes
      2) Equivalence beliefs
      3) Field expectancies
      4) Field cognition modes
      5) Drive discrimination
      6) Motor patterns
    • Tolman menolak Law of Effect Thorndike; tiga hukum yang berbeda:
    • Law of Motivation: belajar didorong oleh sukses atau hindari kegagalan.
    • Law of Emphasis: pembentukan pola dan Gestalt; pemilihan respons yang mengarah pada sukses.
    • Law of Disruption: stimulus aversif menghambat proses belajar.
    • Variabel intervensi: dependent, independen, dan intervening variables (variabel hipotetis internal).
  • Bandura (1925–): Social Learning Theory (bahasa populernya: Social Cognitive Theory): triadic reciprocal causation.
    • Empiris: eksperimen Bobo Doll (Bandura, 1961) menunjukkan bahwa anak-anak meniru perilaku agresif setelah menonton model agresif.
    • Inti gagasan: proses belajar melalui observasi (modeling) dan reinforcement tidak harus langsung untuk mempelajari perilaku; reinforcement bisa bersifat vicarious (tidak langsung).
    • Proses modeling (empat tahap): Atensi, Retensi, Reproduksi, Motivasi.
    • Peran kognisi: kemampuan memproses informasi, membuat representasi mental, memprediksi konsekuensi, dan proyeksi terhadap model.
    • Triadic reciprocal causation lebih luas: lingkungan, perilaku, dan faktor personal (faktor kognitif).
    • Self-efficacy: keyakinan terhadap kemampuan untuk melakukan tindakan yang memengaruhi hidupnya; dipengaruhi oleh sumber-sumber: mastery experiences, social modeling, social persuasion, dan keadaan fisik/emosional.
  • Rating praktis: Bandura menonjolkan pentingnya lingkungan sosial dan proses kognitif dalam pembelajaran; pendekatan ini sangat berpengaruh pada bidang pendidikan dan psikologi belajar modern.

3.7. BEHAVIORISME KONTRIBUSI, KRITIK, DAN PERSPEKTIF

  • Ringkasan kontribusi besar behaviorisme:
    • Menetapkan psikologi sebagai ilmu sains berbasis observasi eksternal dan eksperimen yang direplikasi.
    • Menghasilkan pendekatan yang praktis untuk pendidikan, terapi perilaku, dan penelitian ilmiah.
    • Menekankan pentingnya kontrol eksperimental dan metodologi laboratorium.
  • Kritik utama terhadap behaviorisme:
    • Premis equipotentiality: premis bahwa semua respons bersifat universal untuk spesies; studi Lorenz menunjukkan insting dan budaya memitigasi prediksi S-R secara universal.
    • Kritik terhadap reduksionisme: perilaku manusia melibatkan motif, tujuan, budaya, dan konteks; beberapa peristiwa mental tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi respons terhadap stimulus saja.
    • Fokus berlebihan pada eksperimen laboratorium: situasi buatan mungkin tidak merefleksikan perilaku dalam kehidupan nyata.
    • Tolman dan Bandura memperingatkan bahwa teori S-R Watson hingga Skinner terlalu mekanistik; perlunya memperluas cakupan dengan motif, tujuan, dan determinasi.
  • perkembangan menuju pendekatan yang lebih holistik:behaviorisme kognitif (Tolman) dan social learning theory (Bandura) menyorot peran kognisi dalam pembelajaran.

3.8. CATATAN KONSEPTUAL DAN KRITIK LINGKUP

  • Ringkas: perjalanan sejarah psikologi dari struktur ke fungsi, dari introspeksi ke eksperimen, hingga integrasi kognisi dan pembelajaran sosial.
  • Konsep kunci:
    • Introspeksi eksperimental (Wundt) vs introspeksi kompleks (Titchener).
    • Strukturalisme vs fungsionalisme vs behaviorisme.
    • Peran eksperimen dengan hewan sebagai model perilaku manusia.
    • Pembelajaran terinduksi melalui conditioning (classical, operant) dan aliran kritisnya (Tolman, Bandura).
    • Evolusi pemikiran dari fokus pada elemen kesadaran ke fungsi adaptif dan pembelajaran kontekstual.
  • Implikasi praktis:
    • Pendidikan: fungsionalisme mendorong pendekatan belajar yang terapan dan kontekstual; Bandura menekankan pembelajaran sosial dan self-efficacy.
    • Terapi perilaku: operant conditioning Skinner menjadi landasan terapi perilaku, kemudian berkembang menuju terapi berbasis kognisi (kognitif-behavioral therapy).
  • Ringkasan numerik penting dalam teks:
    • Wundt: lebih dari 500 makalah; 53{,}735 halaman; 64 tahun berkarir; 250+ lulusan dari labnya dalam satu dekade; 11 kamar (1882); 1897 pindah ke gedung sendiri.
    • Wundt memperoleh jabatan guru besar filsafat ilmiah pada 1874; laboratorium riset psikologi eksperimental resmi berdiri 1879.
    • Pavlov: eksperimen klasik dengan anjing; pembelajaran asosiasi (stimulus-netral dengan UCS: makanan) menghasilkan CR melalui CS (bunyi bel).
    • Watson: eksperimen Albert kecil (tabula rasa); Peter & rabbit; pembelajaran melalui modeling dan counter-conditioning; buku The Psychological Care of the Infant and Child (1928).
    • Tolman: tikus di labirin; latent learning; enam tipe proses belajar.
    • Bandura: eksperimen Bobo Doll; triadic reciprocal causation; self-efficacy dan empat sumbernya.
    • Hull: formula matematika perilaku; Drive Reduction Theory; distorsi konseptual akibat solusi matematika terlalu reduktif.
  • Daftar tokoh penting dan kontribusinya (singkat):
    • Wundt: pendiri psikologi eksperimen; strukturalisme; pengembangan völkerpsychologie.
    • Titchener: strukturalisme Amerika; introspeksi elementer.
    • James, Dewey, Angell, Carr, Cattell: fungsionalisme dan aplikasinya.
    • Sechenov, Pavlov, Bekhterev: fondasi Rusia untuk objektivisme perilaku.
    • Watson: pengembangan behaviorisme AS; fokus pada perilaku yang dapat diamati; penolakan terhadap mentalisme.
    • Thorndike, McDougall, Lashley, Holt: dasar-dasar behaviorisme awal, belajar melalui trial-and-error, motif, dan otak.
    • Skinner: operant conditioning; kotak Skinner; jadwal reinforcement; terapi perilaku.
    • Guthrie: one-trial learning; Law of Contiguity; perbedaan antara gerakan dan aksi; kritik terhadap reinforcement.
    • Tolman: behaviorisme kognitif; peta kognitif; latent learning; eksplorasi non-reduksi.
    • Bandura: Social Learning; triadic reciprocal causation; self-efficacy; modeling dan pembelajaran observasional.

Daftar Pustaka (rujukan utama dalam bacaan)

  • Feist, G., & Feist, J. (2009). Theories of Personality. 7th Edition. New York: McGraw-Hill.
  • Greenwood, J. D. (2003). Wundt, Volkerpsychologie and Experimental Social Psychology. Diunduh dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12701575
  • Guthrie, E. R. (1952). Conditioning: A Theory of Learning in Terms of Stimulus, Response, and Association. Chicago: University of Chicago Press.
  • Guthrie, E. R., & Horton, G. P. (1946). Cats in A Puzzle Box. New York: Rinehart
  • Hergenhahn, B. R., & Henley, T. B. (2014). Introduction to The History of Psychology. 7th Edition. Belmont: Wadsworth, Cengage Learning.
  • Lainnya terkait karya para tokoh seperti Watson, Tolman, Skinner, Bandura, dan lain-lain dalam rujukan yang tertera di teks asli.