Catatan Sejarah Muhammad bin Abd. Wahab
Sejarah Muhammad bin Abd. Wahab
Muhammad bin Abd. Wahab (1703-1791) adalah tokoh penting dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai pendiri ajaran Wahabi. Ajaran ini berfokus pada purifikasi akidah Islam, terutama dalam hal tauhid, yang dianggap sebagai inti dari ajaran Islam. Nama Wahabi diambil dari nama pengaruhnya, dan doktrin utamanya adalah tauhid yang diajarkan dalam tiga bentuk:
Tauhid al-Rububiyah: Menegaskan keesaan Allah dalam penciptaan dan pengelolaan alam semesta. Tuhan adalah pencipta, pemelihara, dan penentu segala hal di alam semesta.
Tauhid al-Asma' wa al-Sifat: Menekankan keesaan nama dan sifat Allah. Semua sifat dan atribut suci hanyalah milik Allah, dan tidak ada yang dapat disandingkan dengan-Nya.
Tauhid al-Ilahiyyah: Menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Ibadah hanya diperuntukkan bagi-Nya, dan tidak ada entitas lain yang boleh disembah.
Latar Belakang Sejarah
Kondisi umat Islam di abad pertengahan ditandai dengan kemerosotan setelah periode keemasan yang berlangsung hingga abad ke-11. Kekacauan ini dipicu oleh campur tangan ajaran baru dan budaya asing yang bertentangan dengan ajaran asli Islam. Muhammad bin Abd. Wahab lahir di Al-Uyainah, Najd, dalam keluarga faqih yang terhormat. Meski berasal dari keluarga yang memiliki posisi tinggi, beliau menentang praktik syirik dan kelalaian masyarakat terhadap syariat Islam yang hakiki, berfokus pada Al-Qur'an dan Hadist.
Biografi dan Perjuangan
Di usia dua puluhan, Muhammad mulai melawan praktik-praktik syirik yang marak terjadi. Sikapnya membuat banyak ulama menjauhinya, dan ia harus pindah dari Al-Uyainah ke Huraimilah dan akhirnya ke Hijaz, di mana ia menuntut ilmu lebih dalam dengan belajar dari para cendekiawan terkemuka.
Karya utamanya, Al-Tauhid, diterbitkan pada tahun 1740, berisi kritik tajam terhadap berbagai praktik yang dianggap bid'ah dan syirik. Dengan dukungan penguasa Al-Uyainah, Muhammad menghapuskan ritual yang dianggap menyimpang, termasuk menghancurkan monumen dan kuburan yang disembah. Namun, pergerakannya memicu perlawanan dari otoritas setempat, yang berpuncak pada pengusirannya dari Al-Uyainah.
Kemudian, ia berpindah ke Al-Dir'iya atas undangan Muhammad Ibnu Saud. Di sini, ajaran Wahabi mulai mengakar dan menyebar luas. Pada tahun 1746, Muhammad bin Abd. Wahab dan Ibnu Saud menyatakan jihad terhadap seluruh yang menentang ajaran Wahabi.
Penyebaran Ajaran Wahabi
Secara cepat, ajaran Wahabi mengambil alih banyak daerah, termasuk Riyadh pada tahun 1773. Dalam perjuangannya, wahabi berhasil menegakkan prinsip-prinsip syariat dalam pengelolaan masyarakat, menerapkan hukum-hukum Islam secara ketat. Setelah wafatnya Muhammad bin Abd. Wahab pada tahun 1791, pengikutnya melanjutkan misi ini, meraih kendali terhadap Mekah dan Madinah pada tahun 1805-1806.
Pengaruh dan Legasi
Ajaran Wahabi berakar kuat di Jazirah Arab, dan menjadi bagian integral dalam identitas Arab Saudi modern. Ide-ide wahabi tidak hanya mengubah praktik keagamaan di wilayah tersebut, tetapi juga terintegrasi menjadi ideologi politik, di mana penguasa Al-Saud menggunakan ajaran ini untuk memperkuat legitimasi kekuasaan mereka.
Penutup
Muhammad bin Abd. Wahab dikenal sebagai pembaru Islam yang tekun dalam misi purifikasi akidah terhadap adanya praktik syirik dan bid'ah. Ajaran dan perjuangannya, meskipun kontroversial, tetap berpengaruh signifikan dalam kehidupan masyarakat Muslim, terutama di Arab Saudi. Pilar utama ajarannya, yaitu tauhid, terus dijadikan dasar bagi banyak pembaruan keagamaan di dunia Islam hingga saat ini. Perjuangan beliau menegakkan kembali akidah Islam yang murni dan memberantas praktik-praktik yang dianggap menyimpang, serta berusaha untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan beliau sebagai tokoh sentral dalam sejarah pemikiran Islam modern.