week 3 - psychological testing

Definition of a Test
  • J.M. Cattell (1890): istilah “mental test.”

  • Tes = metode memperoleh sample perilaku dalam situasi standar.

  • Tes adalah prosedur standar untuk sampling perilaku dan mendeskripsikannya dengan kategori / skor, biasanya dengan norma untuk memprediksi perilaku lain.

  • Ciri utama tes:

    1. Standardized procedure (prosedur seragam)

    2. Behavior sample (contoh perilaku)

    3. Scores atau categories (hasil terukur)

    4. Norms atau standards (pembanding)

    5. Prediction of non-test behavior (prediksi perilaku lain)

Standardized Procedure
  • Tes = standardized kalau prosedur administrasinya sama di semua tempat & examiner.

  • Bergantung pada kompetensi examiner → harus ikuti instruksi manual dengan ketat.

  • Instruksi = bagian penting dari standardisasi.

Behavior Sample
  • Tes = sampel terbatas perilaku → bukan keseluruhan.

  • Sampel ini dipakai untuk inferensi ke perilaku lebih luas.

  • Item tes tidak harus mirip dengan perilaku yang diprediksi.

Scores or Categories
  • Semua tes memberi skor atau menunjukkan seseorang masuk kategori tertentu.

  • Peringatan:

    • Setiap skor mengandung measurement error.

    • Jangan menganggap skor = sifat nyata seutuhnya (reifikasi).

Norms or Standards
  • Norms: ringkasan hasil tes dari norm group (standardization sample).

  • Digunakan untuk bandingkan skor individu.

  • Pengecualian: criterion-referenced test → membandingkan dengan tujuan spesifik, bukan norm group.

Prediction of Non-Test Behavior
  • Tujuan tes = prediksi perilaku lain, bukan sekadar perilaku di tes.

  • Contoh: pasien menggambarkan inkblot sebagai “mata menatap” → berdasarkan norma, diprediksi suspicious, kurang cocok untuk terapi individual.

  • Kemampuan prediksi ini → diuji lewat validasi penelitian.

Distinction in Testing
  • Norm-referenced test: interpretasi hasil dibandingkan dengan standardization sample.

  • Criterion-referenced test: interpretasi hasil dibandingkan tujuan edukasional yang spesifik.

Objective Measurement
  • Administrasi, scoring, interpretasi = objektif kalau bebas dari subjektivitas examiner.

  • Kesulitan item atau tes = ditentukan dengan prosedur empiris, bukan opini.

Differences of Tests (Cohen & Swedlik, 2005)
  • Content: topik yang diukur.

  • Format:

    • Selected-response: T/F, multiple-choice, rating scale.

    • Constructed-response: essay, fill-in-the-blank, gambar, performa.

  • Administration: group vs individual, manual vs komputer.

  • Scoring & Interpretation: manual, komputer, publisher, atau self-scored.

  • Cost: pertimbangan biaya.

Types of Tests (by administration)
  • Group test: untuk banyak orang sekaligus (pencil-paper).

  • Individual test: one-on-one, bisa amati motivasi.

  • Tambahan: self-administered, computer-based, video/audio, nonverbal.

Categories of Tests (8)
  1. Intelligence tests: kemampuan global (verbal, reasoning, perceptual).

  2. Aptitude tests: kemampuan spesifik → bentuk sempit dari ability testing.

  3. Achievement tests: sejauh mana seseorang belajar / mencapai sesuatu.

  4. Creativity tests: orisinalitas, solusi unik.

  5. Personality tests: traits & qualities → checklist, inventories, projective.

  6. Interest inventories: preferensi aktivitas/topik → membantu career choice.

  7. Behavioral procedures: deskripsi objektif & frekuensi perilaku (antecedents & consequences).

  8. Neuropsychological tests: fungsi kognitif, motorik, efek kerusakan otak.

Uses of Testing (5 fungsi)
  1. Classification → placement, screening, certification, selection.

  2. Diagnosis & Treatment Planning → tentukan sumber abnormalitas, pilih treatment.

  3. Self-knowledge → kenali diri (kelemahan & kekuatan).

  4. Program evaluation → evaluasi efektivitas program.

  5. Research → data untuk studi ilmiah.

Factors Influencing Testing
  • Administrasi tes, karakter tester, konteks tes, motivasi & pengalaman peserta, cara scoring.

  • Semua faktor ini bisa ubah hasil tes.

Test Administration
  • Individual test: examiner harus familiar, perhatikan disabilitas (penglihatan, pendengaran, motorik).

  • Group test: error besar = timing salah, instruksi tidak jelas, noise, gagal jelaskan aturan guessing.

Influence of Examiner
  • Rapport penting: hubungan baik → motivasi lebih tinggi, hasil valid.

  • Jika gagal, peserta bisa cemas / hostile → hasil tes bias.

  • Sex, pengalaman, ras → hasil penelitian kontradiktif, tapi tetap bisa berpengaruh.

Examinee Background
  • Bisa memengaruhi hasil: anxiety, malingering (pura-pura), coaching, cultural background.

Test Anxiety
  • Reaksi psikologis & perilaku terkait takut gagal tes.

Ethics in Testing

Publisher responsibilities:

  • Jangan rilis tes terlalu cepat.

  • Manual harus lengkap (reliability, validity, normative sample).

  • Marketing → akurat & tidak menyesatkan.

Purchaser competencies:

  • Level A: tes sederhana (achievement, vocational). Bisa dipakai non-psychologist dengan manual.

  • Level B: butuh pengetahuan test construction & statistik (aptitude, personality inventories).

  • Level C: butuh pengalaman supervised + gelar master (projective, neuropsychological).

User responsibilities:

  • Best interest of client, confidentiality, expertise, informed consent.

  • Jangan pakai tes usang, tulis laporan bertanggung jawab, komunikasikan hasil dengan jelas.

  • Pertimbangkan individual differences.

Test Bias & Culture
  • Bias: error sistematis pada kelompok tertentu.

  • Kritik: tes bias ke nilai European American middle class.

  • Cultural background: memengaruhi asesmen, hati-hati stereotyping.

  • Stereotype threat: ketakutan mengonfirmasi stereotipe negatif → performa menurun.

Selecting Psychological Test
  • Faktor utama = apakah tes menjawab referral question.

  • Dipengaruhi training, pengalaman, preferensi, literatur relevan.