week 3 - psychological testing
Definition of a Test
J.M. Cattell (1890): istilah “mental test.”
Tes = metode memperoleh sample perilaku dalam situasi standar.
Tes adalah prosedur standar untuk sampling perilaku dan mendeskripsikannya dengan kategori / skor, biasanya dengan norma untuk memprediksi perilaku lain.
Ciri utama tes:
Standardized procedure (prosedur seragam)
Behavior sample (contoh perilaku)
Scores atau categories (hasil terukur)
Norms atau standards (pembanding)
Prediction of non-test behavior (prediksi perilaku lain)
Standardized Procedure
Tes = standardized kalau prosedur administrasinya sama di semua tempat & examiner.
Bergantung pada kompetensi examiner → harus ikuti instruksi manual dengan ketat.
Instruksi = bagian penting dari standardisasi.
Behavior Sample
Tes = sampel terbatas perilaku → bukan keseluruhan.
Sampel ini dipakai untuk inferensi ke perilaku lebih luas.
Item tes tidak harus mirip dengan perilaku yang diprediksi.
Scores or Categories
Semua tes memberi skor atau menunjukkan seseorang masuk kategori tertentu.
Peringatan:
Setiap skor mengandung measurement error.
Jangan menganggap skor = sifat nyata seutuhnya (reifikasi).
Norms or Standards
Norms: ringkasan hasil tes dari norm group (standardization sample).
Digunakan untuk bandingkan skor individu.
Pengecualian: criterion-referenced test → membandingkan dengan tujuan spesifik, bukan norm group.
Prediction of Non-Test Behavior
Tujuan tes = prediksi perilaku lain, bukan sekadar perilaku di tes.
Contoh: pasien menggambarkan inkblot sebagai “mata menatap” → berdasarkan norma, diprediksi suspicious, kurang cocok untuk terapi individual.
Kemampuan prediksi ini → diuji lewat validasi penelitian.
Distinction in Testing
Norm-referenced test: interpretasi hasil dibandingkan dengan standardization sample.
Criterion-referenced test: interpretasi hasil dibandingkan tujuan edukasional yang spesifik.
Objective Measurement
Administrasi, scoring, interpretasi = objektif kalau bebas dari subjektivitas examiner.
Kesulitan item atau tes = ditentukan dengan prosedur empiris, bukan opini.
Differences of Tests (Cohen & Swedlik, 2005)
Content: topik yang diukur.
Format:
Selected-response: T/F, multiple-choice, rating scale.
Constructed-response: essay, fill-in-the-blank, gambar, performa.
Administration: group vs individual, manual vs komputer.
Scoring & Interpretation: manual, komputer, publisher, atau self-scored.
Cost: pertimbangan biaya.
Types of Tests (by administration)
Group test: untuk banyak orang sekaligus (pencil-paper).
Individual test: one-on-one, bisa amati motivasi.
Tambahan: self-administered, computer-based, video/audio, nonverbal.
Categories of Tests (8)
Intelligence tests: kemampuan global (verbal, reasoning, perceptual).
Aptitude tests: kemampuan spesifik → bentuk sempit dari ability testing.
Achievement tests: sejauh mana seseorang belajar / mencapai sesuatu.
Creativity tests: orisinalitas, solusi unik.
Personality tests: traits & qualities → checklist, inventories, projective.
Interest inventories: preferensi aktivitas/topik → membantu career choice.
Behavioral procedures: deskripsi objektif & frekuensi perilaku (antecedents & consequences).
Neuropsychological tests: fungsi kognitif, motorik, efek kerusakan otak.
Uses of Testing (5 fungsi)
Classification → placement, screening, certification, selection.
Diagnosis & Treatment Planning → tentukan sumber abnormalitas, pilih treatment.
Self-knowledge → kenali diri (kelemahan & kekuatan).
Program evaluation → evaluasi efektivitas program.
Research → data untuk studi ilmiah.
Factors Influencing Testing
Administrasi tes, karakter tester, konteks tes, motivasi & pengalaman peserta, cara scoring.
Semua faktor ini bisa ubah hasil tes.
Test Administration
Individual test: examiner harus familiar, perhatikan disabilitas (penglihatan, pendengaran, motorik).
Group test: error besar = timing salah, instruksi tidak jelas, noise, gagal jelaskan aturan guessing.
Influence of Examiner
Rapport penting: hubungan baik → motivasi lebih tinggi, hasil valid.
Jika gagal, peserta bisa cemas / hostile → hasil tes bias.
Sex, pengalaman, ras → hasil penelitian kontradiktif, tapi tetap bisa berpengaruh.
Examinee Background
Bisa memengaruhi hasil: anxiety, malingering (pura-pura), coaching, cultural background.
Test Anxiety
Reaksi psikologis & perilaku terkait takut gagal tes.
Ethics in Testing
Publisher responsibilities:
Jangan rilis tes terlalu cepat.
Manual harus lengkap (reliability, validity, normative sample).
Marketing → akurat & tidak menyesatkan.
Purchaser competencies:
Level A: tes sederhana (achievement, vocational). Bisa dipakai non-psychologist dengan manual.
Level B: butuh pengetahuan test construction & statistik (aptitude, personality inventories).
Level C: butuh pengalaman supervised + gelar master (projective, neuropsychological).
User responsibilities:
Best interest of client, confidentiality, expertise, informed consent.
Jangan pakai tes usang, tulis laporan bertanggung jawab, komunikasikan hasil dengan jelas.
Pertimbangkan individual differences.
Test Bias & Culture
Bias: error sistematis pada kelompok tertentu.
Kritik: tes bias ke nilai European American middle class.
Cultural background: memengaruhi asesmen, hati-hati stereotyping.
Stereotype threat: ketakutan mengonfirmasi stereotipe negatif → performa menurun.
Selecting Psychological Test
Faktor utama = apakah tes menjawab referral question.
Dipengaruhi training, pengalaman, preferensi, literatur relevan.