Pergerakan Nasional
Budi Utomo (1908):
Didirikan oleh para terpelajar Jawa di STOVIA.
Fokus pada peningkatan pendidikan dan kemajuan ekonomi rakyat Jawa.
Strategi perjuangan:
1. Pendidikan: Mendirikan sekolah-sekolah rakyat.
2. Koperasi: Membantu rakyat dalam bidang ekonomi.
3. Penerbitan: Surat Kabar Boedi Utomo, Darmo Kondo, Goeroe Desa, Adilparametra.
Sasaran: Kalangan terpelajar dan elit masyarakat Jawa.
Sarekat Islam (1911):
Didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo
Berbasis massa rakyat jelata, khususnya pedagang dan buruh.
Fokus pada perlawanan terhadap penindasan kolonialisme dan meningkatkan kesejahteraan rayat.
Strategi perjuangan:
1. Perlawanan ekonomi: Boikot produk-produk Belanda.
2. Pendidikan: Mendirikan sekolah-sekolah rakyat.
3. Penerbitan: Majalah “Sarekat Islam” dan surat kabar “Oetoesan Hindia”
Sasaran: Rakyat jelata, khususnya pedagang dan buruh.
Kongres Pemuda I (1926)
Kongres Pemuda I diadakan pada tahun 1926 di Jakarta (Batavia). Kongres Pemuda I mengalami beberapa kendala yang menyebabkannya tidak mencapai hasil yang maksimal, yaitu:
Perbedaan pendapat antara Ketua Kongres, Muhammad Tabrani, dan Mohammad Yamin terkait penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Muhammad Yamin yakin bahwa bahasa Melayu akan lebih berkembang sebagai bahasa persatuan, sedangkan Muhammad Tabrani berpendapat bahwa bahasa Indonesia yang harus digunakan.
Masih adanya keraguan antara organisasi daerah satu sama lain, sehingga persatuan terhambat.
Meski demikian, Kongres Pemuda I tetap menghasilkan beberapa hal, di antaranya:
Cita-cita Indonesia merdeka menjadi cita-cita seluruh pemuda Indonesia.
Seluruh perkumpulan pemuda berupaya untuk menggalang persatuan organisasi pemuda dalam satu wadah.
Mengakui dan menerima cita-cita persatuan Indonesia.
Kongres Pemuda II (1928)
Pada rapat pertama Kongres Pemuda II tahun 1928, Moh. Yamin mempresentasikan lima poin penting yang memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Berbeda dengan Kongres Pemuda I yang masih bersifat kedaerahan, pada Kongres Pemuda II masing-masing pribadi sudah memiliki kesadaran bahwa mereka itu berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu. Maka pada 28 Oktober atau rapat ketiga terbentuklah hasil Kongres yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda yang menguraikan tentang hubungan persatuan dengan pemuda. Berdasarkan informasi tersebut, maka gagasan persatuan Indonesia bisa berkembang hingga dideklarasikan dalam bentuk sumpah pemuda sebab adanya perkembangan gagasan persatuan Indonesia secara bertahap yang didorong oleh rasa senasib sepenanggungan rakyat Indonesia di bawah penjajahan Belanda melalui pergerakan nasional. Contohnya:
Budi Utomo (1908): Mencetuskan persatuan bangsa melalui pendidikan.
Sarekat Islam (1911): Mempersatukan umat islam melawan penjajah.
Indische Partij (1912): Menuntut kemerdekaan dan persatuan Hindia Belanda.
Kongres Pemuda I (1926): Membahas beberapa hal, mulai dari susunan badan pusat, gagasan persatuan, peran perempuan, peran agama, hngga peran bahasa dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.