Catatan Komprehensif Meneladani Peran Ulama dalam Perkembangan Islam Abad Modern
Latar Belakang dan Munculnya Pembaharuan Islam Abad Modern
Pergerakan para pembaharu muslim lahir dari kesadaran mendalam mengenai kondisi umat Islam di seluruh dunia yang mengalami kemunduran signifikan di berbagai bidang kehidupan. Selama berabad-abad, negara-negara Muslim berada di bawah kuasa penjajah dari bangsa-bangsa Eropa. Dalam menghadapi situasi ini, para pembaharu menyerukan jihad dalam bentuk membuka pikiran, mengejar ketertinggalan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, serta memperkuat kembali aqidah Islam dengan kembali kepada sumber aslinya, yakni Al-Qur'an dan Sunnah. Sejarah perkembangan Islam pada era modern ini secara resmi dimulai pada abad ke-, tepatnya dari tahun M hingga saat ini. Pada kurun waktu tersebut, Eropa mencapai puncak kejayaannya dan mendominasi dunia, sementara dunia Islam justru mengalami keterpurukan dalam aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan.
Eropa melakukan ekspansi besar-besaran ke wilayah negara-negara Muslim dengan dua tujuan utama: menambah kekuasaan politik dan menghimpun bahan baku industri yang melimpah di tanah Muslim. Contoh konkret dari ekspansi ini adalah penjajahan Belanda atas Indonesia, pendudukan Inggris di India dan Afrika, serta penguasaan Inggris atas sebagian wilayah Timur Tengah, Afrika Timur, Nigeria, dan sebagian Eropa Barat. Pada abad ke-, kesenjangan kemajuan antara Eropa dan dunia Islam semakin melebar. Menanggapi kondisi kelemahan ini, muncul tokoh-tokoh pembaharu yang membawa ide-ide segar untuk menyongsong kebangkitan dunia Muslim melalui kemajuan ilmu agama, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Profil Tokoh Pembaharu: Syah Waliyullah dan Jamaludin al-Afgani
Syah Waliyullah memiliki nama asli Qutbuddin Ahmad bin Abdurrahim. Beliau lahir pada tanggal Syawwal Hijriah atau bertepatan dengan tahun Masehi di sebuah kota kecil dekat Delhi dan wafat pada tahun Masehi. Gelar "Waliyullah" diberikan kepadanya karena beliau dianggap memiliki sifat-sifat luhur layaknya seorang Wali. Karya monumental beliau adalah Kitab Hujjatullah al-Balighah, yang membahas secara mendalam tentang metodologi pemahaman hadits. Menurut Syah Waliyullah, penyebab kemunduran umat Islam meliputi empat faktor utama: perubahan sistem pemerintahan dari kekhalifahan menjadi kerajaan, penggantian sistem demokrasi menjadi monarki, perpecahan umat akibat munculnya berbagai aliran, dan masuknya adat istiadat non-Islam ke dalam keyakinan umat. Sebagai solusi, beliau menyerukan pentingnya menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa lokal agar mudah dipahami sebagai pedoman hidup.
Jamaludin al-Afgani, yang hidup antara tahun (Iran) hingga (Turki), sangat menekankan persatuan umat Islam dalam menghadapi dunia Barat. Beliau berpendapat bahwa kemunduran umat bukan disebabkan oleh ajaran Islam itu sendiri, melainkan oleh sikap umat yang tidak mau berupaya mengubah nasib mereka. Al-Afgani mengajak umat untuk meninggalkan paham fatalisme atau Jabariyah dan merebut kembali kemajuan peradaban, kebudayaan, serta ilmu pengetahuan Barat yang bersifat positif dan sesuai dengan koridor Islam. Beliau menegaskan bahwa pintu ijtihad tidak pernah tertutup dan umat harus bersikap dinamis, tidak hanya menerima fatwa ulama secara pasif. Untuk mewujudkan solidaritas global, beliau mencetuskan ide Pan-Islamisme melalui wadah Al-jami'iyyah Al-Islamiyyah.
Pemikiran Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Rida, dan Sayid Ahmad Khan
Muhammad Abduh (- M) adalah seorang pembaharu asal Mesir dan murid dari Jamaluddin al-Afgani. Fokus utama pemikirannya mencakup penggunaan ijtihad sebagai dasar untuk menafsirkan kembali Al-Qur'an, pembatasan kekuasaan negara melalui konstitusi, dan penegasan bahwa Islam adalah ajaran rasional yang sejalan dengan akal. Beliau menyebarkan gagasannya melalui karya tulis terkenal, Tafsir al-Manar. Murid beliau, Muhammad Rasyid Rida (- M), lahir di al-Qalamun dan memiliki latar belakang pendidikan yang luas, mencakup nahwu, saraf, matematika, geografi, akidah, ibadah, bahasa Arab, serta bahasa asing seperti Perancis dan Turki. Bersama Muhammad Abduh, Rasyid Rida menerbitkan majalah Al-Manar untuk memberantas bid'ah, khurafat, dan fatalisme. Ide pembaharuan beliau menekankan penguasaan sains dan teknologi sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat yang telah ditetapkan melalui Sunnatullah.
Sayid Ahmad Khan (- M) dari India memandang teknologi dan ilmu pengetahuan modern sebagai kekuatan yang membebaskan. Beliau menyerukan saintifikasi masyarakat Muslim karena menganggap kemunduran umat diakibatkan oleh ketidaktahuan akan sains dan teknologi. Baginya, Al-Qur'an dan Hadis adalah sumber hukum utama yang harus dipahami lewat ijtihad dengan meninggalkan taklid. Beliau menaruh kedudukan yang sangat tinggi bagi akal dalam menemukan ilmu pengetahuan dan menyatakan bahwa tidak ada pertentangan antara hukum alam (hukum tuhan di alam) dan Al-Qur'an. Pendidikan dipandangnya sebagai cara paling efektif untuk mengubah mentalitas umat yang terbelakang.
Kontribusi Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Pasha
Muhammad Iqbal (- M) asal Punjab merupakan tokoh unik yang mendalami pemikiran Barat modern namun tetap berakar kuat pada tradisi Islam. Karyanya yang terbit pada tahun , The Reconstruction of Religious Thought In Islam, merangkum ide-ide utamanya: ijtihad sangat penting bagi pembaharuan, umat harus bersikap dinamis, dan hukum Islam harus bersifat dinamis. Beliau mengkritik sikap zuhud yang berlebihan karena membuat umat mengabaikan urusan dunia, serta menekankan bahwa penguasaan sains dan teknologi Barat adalah sebuah keharusan bagi umat Islam.
Muhammad Ali Pasha (- M) adalah pemimpin keturunan Turki yang berkuasa di Mesir. Beliau memprioritaskan kekuatan militer sebagai pilar pertahanan kekuasaan, yang didukung oleh kekuatan ekonomi. Untuk mencapai keduanya, beliau menyadari perlunya ilmu-ilmu modern. Ali Pasha melakukan langkah inovatif dengan mendirikan sekolah-sekolah modern yang memasukkan sains ke dalam kurikulum, berbeda dengan lembaga tradisional seperti kuttab, masjid, madrasah, dan Universitas Al-Azhar yang saat itu hanya terpaku pada ilmu keagamaan murni seperti tafsir, hadis, fiqh, dan tauhid. Karena lembaga tradisional sulit menerima kurikulum modern, Ali Pasha memilih jalan alternatif dengan membangun sistem pendidikan modern miliknya sendiri.
Kemajuan di Bidang Akidah, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan
Dalam bidang Akidah, tokoh utama yang menonjol adalah Muhammad ibn Abdul Wahab. Beliau menekankan bahwa hanya Al-Qur'an dan Hadis yang menjadi sumber asli ajaran Islam, sementara pendapat ulama bukanlah sumber hukum utama. Beliau menolak praktik taklid dan menegaskan bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka. Dalam bidang Ilmu Pengetahuan, kemajuan terlihat dari modernisasi sistem pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, terbitnya majalah Al-Urwatul Wusqa di Paris yang menyebarkan ide pembaharuan, serta munculnya gagasan pemerintahan demokratis dan konstitusional.
Dalam bidang Kebudayaan, sejarah mencatat kemajuan bangsa Turki Usmani yang merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Bangsa Turki dikenal sangat terbuka dan mudah berasimilasi dengan budaya luar, terutama dalam hal etika, tata krama kerajaan, dan organisasi pemerintahan. Kebudayaan Islam modern bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan penting yang memperkokoh pelaksanaan ajaran, memperkaya khasanah budaya, dan memperkuat persatuan umat Islam sebagai faktor pendorong pembentukan peradaban manusia di muka bumi.
Pengaruh Gerakan Pembaruan terhadap Perkembangan Islam di Indonesia
Gerakan pembaruan di Timur Tengah dan India memberikan pengaruh besar terhadap Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Menurut H.A. Mukti Ali, terdapat lima faktor pendorong pembaruan di Indonesia: percampuran ajaran Islam dengan kebiasaan non-Islam, ketidakefisienan lembaga pendidikan Islam, adanya misi dari luar Islam, ejekan dari golongan intelegensia tertentu terhadap Islam, dan kondisi buruk akibat penjajahan. Sebagai respon, para pembaru di Indonesia melakukan gerakan pembersihan Islam dari TBC (tahayul, bid'ah, churafat), reformulasi doktrin dengan logika modern, reformasi pendidikan, serta perjuangan melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
Proses ini diperantarai oleh kaum muda Indonesia yang belajar ke Mekkah dan Mesir pada akhir abad ke-. Mereka terinspirasi oleh majalah Al-Urwatul Wusqa dan Al-Manar, yang kemudian memicu lahirnya majalah serupa di Asia Tenggara: Al-Imam di Singapura (), Al-Munir di Minangkabau (), dan Suara Muhammadiyah di Yogyakarta. Tokoh-tokoh penting di Indonesia antara lain Syeikh Muhammad Tahir Jalaluddin, Haji Abdullah Ahmad, dan HAMKA. Selain itu, berdirilah organisasi besar seperti Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal November di Yogyakarta, dan Nahdlatul Ulama (NU) oleh K.H. Hasyim Asy'ari pada tanggal Januari di Jombang. Menariknya, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari adalah teman seperguruan yang belajar di Mekkah di bawah bimbingan guru yang sama, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syeikh Nawawi Al-Bantani.
Manfaat dan Refleksi Penghayatan Sejarah Modern
Mempelajari sejarah perkembangan Islam masa modern memberikan manfaat strategis berupa pengambilan pelajaran dari kegagalan masa lalu untuk pijakan masa kini, serta memberikan inspirasi untuk melakukan perubahan yang efektif dan efisien. Pengetahuan tentang sebab kemajuan dan kemunduran bangsa memberdayakan umat untuk menjaga persatuan antarumat beragama dan menjauhi perpecahan. Perilaku yang mencerminkan penghayatan sejarah ini meliputi sikap kritis dan selektif terhadap masa lalu, langkah inovatif untuk kesejahteraan dunia-akhirat, motivasi mengejar kemajuan, dan pembangunan masa depan berdasarkan pijakan masa lalu guna mewujudkan Baldatun tayyibatun wa rabbun gafur (negara yang baik yang berada dalam ampunan Allah SWT).