Pewarisan_sifat

BAB POLA PEWARISAN SIFAT PADA HUKUM MENDEL

Hukum Mendel

Hukum Mendel adalah dasar-dasar ilmiah bagi pewarisan sifat yang ditemukan oleh ilmuwan Gregor Mendel melalui penelitiannya pada tanaman kacang ercis. Mendel menjelaskan bagaimana sifat-sifat tertentu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penyimpangan Semu terhadap Hukum Mendel

Tidak semua hasil persilangan mengikuti hukum Mendel secara ketat; ini dikenal sebagai penyimpangan semu. Ada lima tipe utama penyimpangan: epistasis dan hipostasis, kriptomeri, polimeri, gen-gen komplementer, dan atavisme.

Daftar Istilah

  • Gen: substansi hereditas yang menentukan sifat suatu individu, terdiri dari sekuens DNA.

  • Alel: anggota pasangan gen yang mengatur sifat yang sama; terletak pada lokus bersesuaian dari kromosom homolog. Contoh: M = gen warna merah, m = gen warna putih, H = gen kulit halus.

  • Parental (P): generasi induk atau tetua yang melakukan persilangan.

  • Filial (F): keturunan dari perkawinan induk; sering dibedakan dengan F1, F2, dst.

  • Genotipe: susunan gen yang tidak tampak dari luar (contoh: MM, Mm).

  • Fenotipe: sifat yang dapat dilihat dengan pancaindra, seperti warna bunga, bentuk buah, dan sifat lainnya.

  • Homozigot: individu dengan genotipe pasangan gen yang sama (contoh: MM atau bb).

  • Heterozigot: individu dengan pasangan gen tidak sama (contoh: Mm atau Bb).

  • Dominan: sifat yang tampak dalam keturunan, ditandai dengan huruf kapital.

  • Resesif: sifat yang tertutupi, ditandai dengan huruf kecil.

  • Intermediet: sifat di mana kedua alel berkontribusi secara sama sehingga menghasilkan fenotipe baru.

Pembastaran (persilangan)

  • Hibrida: keturunan hasil persilangan antara individu dengan sifat berbeda.

  • Monohibrid: hibrida yang melibatkan satu sifat beda.

  • Dihibrid: hibrida yang melibatkan dua sifat beda.

  • Trihibrid: hibrida yang melibatkan tiga sifat beda.

  • Polihibrid: hibrida yang melibatkan lebih dari tiga sifat beda.

Hukum I Mendel

Mendel melakukan persilangan monohibrid dan menemukan bahwa ketika tanaman dengan sifat berbeda disilangkan, sifat dominan akan muncul di generasi berikutnya.

Hukum II Mendel

Mendel juga melakukan persilangan dihibrid dengan dua sifat berbeda yang menghasilkan rasio fenotipe tertentu dalam keturunan.

Persilangan Kacang Ercis

Contoh spesifik dari hukum Mendel adalah persilangan antara kacang ercis biji bulat (genotipe homozigot dominan BB) dan biji keriput (genotipe homozigot resesif bb). Hasil dari persilangan ini menunjukkan diagram persilangan yang jelas.

  • Hasil Genotipe: 25% homozigot dominan (BB), 50% heterozigot (Bb), dan 25% homozigot resesif (bb).

  • Hasil Fenotipe: 75% biji bulat dan 25% biji keriput.

Warna Mirabilis Jalapa

Persilangan antara tanaman berwarna merah (MM) dan putih (mm) menghasilkan warna intermediat (Mm), memperlihatkan rasio genotipe 1:2:1 dan fenotipe 1:2:1 dalam generasi berikutnya.

Hukum II Mendel - Contoh Praktis

Sebagai contoh, persilangan hibrid antara MBKK (bulat-kuning) dan obbkk (keriput-hijau) menghasilkan perbandingan fenotipe 9:3:3:1.

  • Rasio Fenotipe: 9 Bulat-Kuning : 3 Bulat-Hijau : 3 Keriput-Kuning : 1 Keriput-Hijau.

Perkawinan Resiprok

Perkawinan resiprok menunjukkan bahwa jika dilakukan dua persilangan dengan cara yang berbeda, hasil antara keduanya akan sama, membuktikan prinsip pewarisan sifat yang adil.

Perkawinan Balik dan Uji Silang

  • Perkawinan Balik: dilakukan antara individu generasi F1 dengan salah satu induknya untuk mengetahui genotipe lebih lanjut.

  • Uji Silang (Test Cross): adalah metode untuk mengetahui genotipe individu dengan melakukan perkawinan individu F1 dengan individu homozigot resesif.

Penyimpangan Semu terhadap Hukum Mendel - Rincian

1. Epistasis dan Hipostasis: gen yang berfungsi menutupi ekspresi gen lain adalah gen epistatik sementara gen yang tertutupi dikenal sebagai hipostatik. Epistasis dapat bersifat dominan atau resesif.2. Polimeri: gen yang berinteraksi untuk menghasilkan efek kumulatif merujuk pada interaksi polimeri, contohnya di gandum yang berbiji warna berbeda menghasilkan rasio 15:1 dalam keturunan. 3. Gen-gen Komplementer: ini melibatkan interaksi antara beberapa gen di mana kehadiran satu gen diperlukan agar gen lain dapat menentukan fenotipe. Ketidakhadiran salah satu gen menghalangi munculnya karakter tersebut. 4. Atavisme: ini menunjukkan kelangsungan gen dari generasi yang lalu, di mana sifat-sifat lama bisa muncul kembali dalam keturunan yang tampaknya normal.

Pembahasan ini merupakan penjelasan yang mendalam mengenai pola pewarisan sifat menurut hukum Mendel serta penyimpangan semu yang terjadi dalam proses pewarisan genetik.