Rangkuman Materi Bahasa Indonesia
Teks Deskripsi
Teks yang menggambarkan suatu objek, suasana, atau tempat sehingga pembaca merasakan, melihat, mendengar, atau mencium apa yang dideskripsikan.
Ciri-ciri:
Memuat banyak kata sifat
Menggunakan kalimat yang menggambarkan pancaindra
Bersifat detail dan konkret
Biasanya menggunakan majas perbandingan, personifikasi, atau metafora
Struktur:
Identifikasi Objek (pengantar tentang objek yang dideskripsikan)
Deskripsi Bagian (penjabaran detail objek)
Simpulan/Kesan Penulis (opsional)
Kaidah Kebahasaan:
Kata sifat (indah, besar, harum, kasar)
Kata keterangan (di sebelah kanan, sangat tinggi, begitu harum)
Metafora, personifikasi, hiperbola (untuk memperkuat kesan)
Kalimat perincian (menjelaskan bagian-bagian tertentu secara bertahap)
Kalimat yang melibatkan pancaindra
Cerita Fantasi
Cerita fiksi yang mengandung unsur imajinasi atau khayalan yang bersifat tidak nyata, tidak terjadi di dunia nyata, atau melampaui batas logika dan realita.
Ciri-Ciri:
Menggunakan imajinasi yang liar dan bebas
Mengandung unsur yang tidak nyata, seperti sihir, kekuatan magis, makhluk aneh, atau dunia lain
Waktu dan tempat bisa melampaui batas logika (misalnya di masa depan, dunia paralel, masa lampau yang penuh sihir)
Konflik antara unsur nyata dan imajinasi sering terjadi
Tokoh bisa memiliki kekuatan ajaib atau mengalami hal-hal di luar nalar
Bahasa yang digunakan bersifat deskriptif dan imajinatif
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kata kerja aksi (misalnya: melompat, terbang, bertarung)
Menggunakan kata sifat untuk menggambarkan suasana, tokoh, atau tempat
Menggunakan dialog untuk menghidupkan suasana
Menggunakan kalimat deskriptif yang menggambarkan hal-hal ajaib, makhluk fantasi, dan tempat yang tidak nyata
Menggunakan majas seperti hiperbola, metafora, personifikasi
Struktur:
Orientasi (Pengenalan): Memperkenalkan tokoh, latar, dan konflik awal. Menyiapkan suasana yang menegangkan atau penuh keajaiban.
Komplikasi (Permasalahan): Tokoh mengalami konflik atau peristiwa yang membuat cerita menjadi seru. Biasanya melibatkan tantangan, pertarungan, atau petualangan.
Resolusi (Penyelesaian): Penyelesaian masalah yang dihadapi tokoh. Bisa berakhir bahagia, sedih, atau menggantung.
Koda (opsional): Berisi pesan moral atau kesan dari cerita
Teks Prosedur
Teks yang berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus dilakukan secara urut dan sistematis untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk membuat sesuatu.
Fungsi:
Memberikan informasi tentang cara melakukan sesuatu
Membantu pembaca melakukan kegiatan secara urut dan benar
Mempermudah pembaca mencapai tujuan tertentu
Menghindari kesalahan dalam pelaksanaan suatu proses
Jenis-Jenis:
Teks Prosedur Sederhana: Hanya memuat sedikit langkah dan mudah dilakukan
Teks Prosedur Kompleks: Memiliki banyak langkah yang rumit dan bertingkat
Teks Prosedur Protokol: Langkah-langkahnya fleksibel dan bisa dilakukan tidak selalu urut
Ciri-Ciri:
Berisi langkah-langkah yang teratur dan logis
Menggunakan bahasa yang jelas, singkat, dan mudah dipahami
Menggunakan kata perintah (imperatif)
Biasanya menggunakan kata penghubung yang menyatakan urutan (pertama, kedua, lalu, selanjutnya)
Bisa menggunakan gambar atau diagram untuk memperjelas
Fokus pada pembaca agar bisa mengikuti prosedur dengan benar
Struktur:
Judul/Tujuan: Berisi tentang apa yang akan dilakukan atau dibuat
Alat dan Bahan: Menyebutkan alat atau bahan yang diperlukan (opsional jika diperlukan)
Langkah-Langkah: Berisi urutan tindakan atau tahapan yang harus dilakukan. Harus sistematis, jelas, dan berurutan
Penegasan Ulang/Penutup (Opsional): Bisa berisi saran, peringatan, atau tips tambahan
Kaidah Kebahasaan:
Kalimat imperatif (perintah): masukkan, goreng, aduk
Kata penghubung urutan: pertama, kedua, setelah itu, akhirnya
Kata keterangan cara, waktu, tempat: dengan perlahan, selama 5 menit, di atas wajan
Kata kerja aktif: iris, campur, tuang, nyalakan
Menggunakan istilah teknis sesuai topik: dalam teks prosedur memasak akan muncul istilah memasak, menggoreng, merebus
Laporan Hasil Observasi
Teks yang berisi penyampaian informasi berdasarkan pengamatan langsung terhadap suatu objek, peristiwa, atau fenomena yang diamati. Bertujuan untuk memberikan informasi faktual, objektif, dan sistematis berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan.
Karakteristik:
Objektif: Berdasarkan fakta, bukan pendapat atau opini pribadi
Faktual: Memuat informasi yang benar-benar ada di lapangan
Sistematis: Ditulis dengan urutan yang logis dan terstruktur
Lengkap: Memuat bagian-bagian yang lengkap mulai dari identitas objek sampai kesimpulan
Struktur:
Judul: Mencerminkan topik atau objek yang diamati
Identitas Pengamat: Nama, kelas, tanggal, lokasi observasi (opsional)
Pendahuluan: Latar belakang dan tujuan observasi
Deskripsi Umum Objek: Penjelasan umum tentang objek yang diamati
Deskripsi Bagian: Penjelasan rinci dari bagian-bagian atau aspek objek
Kesimpulan: Ringkasan hasil pengamatan dan simpulan penting yang diperoleh
Saran (Opsional): Berisi masukan atau rekomendasi
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kata benda umum atau istilah ilmiah
Menggunakan kalimat deklaratif (berita)
Menggunakan kata kerja material (menggambarkan tindakan)
Menggunakan kata kerja relasional (menunjukkan ciri, kondisi)
Menggunakan kata hubung kronologis dan logis (seperti: kemudian, selain itu, selanjutnya)
Menghindari kata yang bersifat emotif atau opini pribadi
Puisi Rakyat
Salah satu jenis karya sastra lama yang berkembang di masyarakat secara lisan dan diwariskan secara turun-temurun.
Ciri-Ciri:
Disampaikan secara lisan
Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Memiliki irama, rima, dan iringan musik sederhana
Mengandung pesan moral, nasihat, atau ajaran
Bersifat anonim (pengarangnya tidak diketahui)
Mengandung nilai-nilai budaya dan adat setempat
Bersifat kolektif (dimiliki bersama oleh masyarakat)
Fungsi:
Sarana pendidikan dan pembelajaran nilai-nilai kehidupan
Sebagai hiburan atau pengisi waktu luang
Media untuk menyampaikan nasihat, sindiran, dan kritik secara halus
Mempererat hubungan sosial dalam masyarakat
Melestarikan budaya, tradisi, dan bahasa daerah
Jenis-jenis:
Pantun: Terdiri dari 4 baris, rima a-b-a-b, baris 1-2 sampiran, baris 3-4 isi. Biasanya menyampaikan nasihat, jenaka, cinta, agama, dll.
Contoh: Berlayar jauh ke Pulau Sumba, Membawa oleh-oleh kain batik. Janganlah engkau suka sombong, Kelak hatimu jadi sempit.
Gurindam: Terdiri dari dua baris dalam satu bait, hubungan sebab-akibat, bersajak a-a. Baris pertama sebab, baris kedua akibat.
Contoh: Jika ingin hidup selamat, Patuhilah ajaran yang tepat.
Syair: Terdiri dari 4 baris dalam setiap bait, semua baris berisi isi (tidak ada sampiran), bersajak a-a-a-a. Menceritakan kisah, ajaran, atau nasihat.
Contoh: Wahai anak dengarlah pesan, Hormati guru janganlah lawan, Jangan sombong merasa paham, Belajar sungguh raih kemenangan.
Struktur:
Judul (tidak selalu ada, karena tradisi lisan)
Bait (pantun, syair, gurindam punya aturan bait)
Baris atau larik
Rima atau sajak
Isi dan pesan
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan bahasa kiasan (majas)
Menggunakan rima dan irama
Menggunakan kata-kata sederhana
Menggunakan pengulangan kata (repetisi)
Menggunakan kalimat perintah, larangan, ajakan
Mengandung nilai-nilai moral, budaya, dan adat
Fabel
Cerita yang tokoh-tokohnya adalah binatang yang berperilaku seperti manusia. Misalnya bisa berbicara, berpikir, merasakan, dan bertingkah laku seperti manusia.
Ciri-Ciri:
Tokohnya adalah binatang yang bertingkah seperti manusia
Menggunakan latar alam seperti hutan, sungai, padang rumput
Bersifat imajinatif (khayalan)
Mengandung amanat atau pesan moral
Binatang memiliki karakter seperti manusia (baik, jahat, licik, bijak)
Bertujuan mendidik dan menghibur
Fungsi dan Tujuan:
Mendidik dan memberikan pelajaran moral kepada pembaca
Menyampaikan kritik sosial secara halus melalui tokoh binatang
Menghibur pembaca, terutama anak-anak
Melatih imajinasi dan kreativitas pembaca
Membangun kesadaran tentang nilai-nilai kemanusiaan
Struktur:
Orientasi (Pengenalan tokoh dan latar): Memperkenalkan siapa tokohnya, di mana, dan kapan peristiwa terjadi
Komplikasi (Munculnya masalah): Konflik atau permasalahan yang dihadapi tokoh
Resolusi (Penyelesaian masalah): Tokoh mencari cara mengatasi masalah
Koda (Amanat/penutup): Biasanya diakhiri dengan pesan moral atau pelajaran yang bisa diambil
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kata kerja tindakan: memakan, melompat, menipu
Menggunakan kata kerja yang menyatakan percakapan: berkata, bertanya, menjawab
Menggunakan kalimat langsung (dialog)
Menggunakan kata keterangan tempat dan waktu: di hutan, di siang hari
Menggunakan majas personifikasi (binatang berperilaku manusia)
Jenis-Jenis:
Fabel Klasik: Cerita turun-temurun dari nenek moyang. Biasanya pendek, sederhana, dan penuh pesan moral
Fabel Modern: Cerita baru yang diciptakan sesuai zaman sekarang. Bisa lebih kompleks dan kreatif
Fabel Lokal (Daerah): Fabel yang berasal dari daerah tertentu di Indonesia. Biasanya sarat dengan adat dan budaya setempat
Fabel Dunia: Fabel yang berasal dari luar negeri, seperti Fabel Aesop dari Yunani
Surat Pribadi
Surat yang ditulis oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan pribadi. Isinya biasanya berkaitan dengan keperluan pribadi, seperti menanyakan kabar, mengundang, mengucapkan selamat, atau membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi.
Tujuan:
Untuk menyampaikan perasaan atau pikiran secara personal
Menjalin komunikasi dan menjaga hubungan dengan orang lain
Memberikan informasi atau kabar pribadi
Menyampaikan undangan, ucapan selamat, atau permintaan maaf
Ciri-Ciri:
Bahasa santai, akrab, dan komunikatif
Tidak terikat aturan resmi yang kaku
Menggunakan kata sapaan yang bersifat pribadi (sahabatku, kakakku, teman tersayang)
Isi surat bebas, sesuai keperluan penulis
Biasanya ditulis dengan gaya bahasa sehari-hari
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kata ganti orang pertama (aku, saya) dan kedua (kamu, kau)
Menggunakan bahasa sehari-hari atau santai
Menggunakan kata sapaan akrab
Kalimat langsung dan ekspresif
Bisa menggunakan emotif (mengungkapkan perasaan)
Struktur:
Tempat dan Tanggal Penulisan Surat: Diletakkan di kanan atas. Contoh: Jakarta, 12 Mei 2025
Salam Pembuka: Contoh: Assalamu'alaikum, Halo sahabatku, Hai teman
Paragraf Pembuka: Biasanya menanyakan kabar atau menyampaikan rasa rindu
Isi Surat: Berisi keperluan atau pokok pembicaraan
Paragraf Penutup: Biasanya berisi harapan, doa, atau permintaan maaf
Salam Penutup: Contoh: Wassalamu'alaikum, Sampai jumpa, Salam sayang
Nama Pengirim: Ditulis di bagian bawah
Drama
Karya sastra yang berbentuk dialog atau percakapan yang dipentaskan atau diperagakan di atas panggung. Menggambarkan kehidupan manusia melalui gerak, kata, dan laku.
Ciri-Ciri:
Berbentuk dialog antar tokoh, tidak berbentuk narasi seperti cerpen atau novel
Ditulis untuk dipentaskan atau dimainkan
Mengandung konflik atau pertentangan antar tokoh
Menggambarkan peristiwa kehidupan manusia
Menggunakan latar tempat dan waktu yang jelas dan nyata
Ada naskah drama, tokoh, dialog, dan arahan pentas (petunjuk teknis)
Struktur:
Prolog: Kata pembuka atau pengantar yang menjelaskan latar belakang cerita
Dialog: Percakapan antar tokoh yang menjadi inti cerita
Aksi/Pentas: Peristiwa atau kejadian yang terjadi di atas panggung, sesuai naskah
Epilog: Kata penutup yang biasanya berisi kesimpulan, pesan moral, atau refleksi
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kalimat langsung dalam dialog
Menggunakan kata sapaan sesuai situasi (formal atau santai)
Menggunakan kalimat perintah, pertanyaan, dan pernyataan
Menggunakan bahasa ekspresif dan dramatis
Menggunakan petunjuk teknis (dalam tanda kurung) untuk gerakan atau ekspresi
Unsur-Unsur:
Tema: Ide pokok atau gagasan utama dalam drama
Tokoh dan Penokohan: Pelaku dalam drama (bisa protagonis, antagonis, tritagonis) dan sifatnya
Alur: Rangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita drama
Latar: Tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa
Dialog: Percakapan antar tokoh yang menggerakkan cerita
Konflik: Masalah yang menjadi inti cerita
Pesan atau Amanat: Nilai atau ajaran yang ingin disampaikan melalui drama
Fungsi:
Sebagai sarana hiburan
Sebagai media pendidikan
Sebagai cermin kehidupan masyarakat
Menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan pengertian antar manusia
Melatih keterampilan berbicara dan ekspresi diri
Buku Fiksi dan Non-fiksi
Buku Fiksi: Buku yang isinya bersifat khayalan atau imajinasi penulis, tidak berdasarkan kejadian nyata. Bertujuan untuk menghibur, menyampaikan pesan moral, atau menggugah emosi pembaca.
Ciri-Ciri: Cerita bersifat imajinatif atau khayalan, menggunakan gaya bahasa yang estetis atau menarik, tokoh, tempat, dan peristiwa bisa diciptakan oleh penulis, mengandung unsur intrinsik (tema, tokoh, alur, latar, amanat, sudut pandang, gaya bahasa), bertujuan menghibur atau memberikan pesan moral. Contoh: cerpen, novel, drama, puisi, fabel, legenda.
Struktur: Judul, Pengantar atau Kata Pengantar (bisa ada atau tidak), Isi cerita (Awal (orientasi), Tengah (konflik), Akhir (penyelesaian)), Penutup (bisa berupa epilog atau koda)
Kaidah Kebahasaan: Menggunakan banyak majas atau gaya bahasa kiasan, menggunakan kata-kata yang ekspresif dan imajinatif, menggunakan kata kerja tindakan, menggunakan kalimat langsung dalam dialog.
Buku Nonfiksi: Buku yang isinya berdasarkan fakta, data, atau kejadian nyata, bertujuan untuk memberikan informasi, pengetahuan, atau wawasan kepada pembaca.
Ciri-Ciri: Berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi, informasi yang disampaikan akurat, logis, dan objektif, menggunakan bahasa formal, baku, dan lugas, mengandung unsur data, analisis, argumentasi, bertujuan memberi informasi atau pengetahuan. Contoh: buku pelajaran, biografi, ensiklopedia, laporan, artikel ilmiah.
Struktur: Judul, Daftar Isi, Kata Pengantar, Pendahuluan, Isi (bab-bab yang memuat pembahasan pokok), Kesimpulan atau penutup, Daftar pustaka, Lampiran (jika ada)
Kaidah Kebahasaan: Menggunakan bahasa formal dan baku, menggunakan kalimat efektif dan logis, menggunakan istilah ilmiah, menggunakan data, fakta, dan angka.
Perbedaan Utama:
Fiksi berdasarkan imajinasi, nonfiksi berdasarkan fakta.
Fiksi bertujuan menghibur, nonfiksi memberikan informasi.
Gaya bahasa fiksi kreatif, gaya bahasa nonfiksi formal.
Contoh Buku: Laskar Pelangi, Harry Potter (fiksi), Biografi B.J. Habibie, Buku Pelajaran (nonfiksi)
Cerpen
Cerita pendek adalah karya sastra berbentuk prosa naratif yang berisi cerita fiksi dan berfokus pada satu peristiwa utama dengan jumlah kata yang relatif pendek (biasanya di bawah 10.000 kata).
Ciri-Ciri:
Cerita singkat dan pendek, biasanya selesai dibaca dalam sekali duduk
Berisi satu peristiwa pokok yang mempengaruhi kehidupan tokoh
Tokohnya terbatas, tidak sebanyak dalam novel
Alur cerita sederhana, langsung menuju konflik atau klimaks
Berkesan, mengandung pesan moral atau amanat
Menggambarkan kehidupan sehari-hari
Menampilkan permasalahan yang dekat dengan kehidupan pembaca
Struktur:
Abstrak (opsional): Ringkasan cerita, biasanya dalam satu atau dua kalimat pembuka
Orientasi: Pengenalan tokoh, latar, dan suasana
Komplikasi: Munculnya masalah atau konflik yang dihadapi tokoh
Klimaks: Puncak ketegangan atau puncak konflik
Resolusi: Penyelesaian masalah atau konflik
Koda (opsional): Penutup yang berisi pesan moral atau amanat
Fungsi:
Memberikan hiburan
Menyampaikan pesan moral atau nilai kehidupan
Menggambarkan realitas kehidupan manusia
Melatih kemampuan berpikir kritis dan empati pembaca
Unsur-Unsur Intrinsik:
Tema: Gagasan utama yang menjadi dasar cerita
Tokoh dan Penokohan: Pelaku cerita dan penggambaran watak tokoh
Alur (Plot): Rangkaian peristiwa yang membentuk jalan cerita (alur maju, mundur, campuran)
Latar: Tempat, waktu, dan suasana
Sudut Pandang: Cara penulis menceritakan cerita (orang pertama, orang ketiga)
Amanat: Pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca
Unsur-Unsur Ekstrinsik:
Latar belakang pengarang
Nilai sosial, budaya, agama, politik
Situasi masyarakat saat cerpen ditulis
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kalimat naratif dan deskriptif
Menggunakan kata kerja tindakan dan mental
Menggunakan kata sifat yang menggambarkan karakter tokoh atau suasana
Menggunakan dialog antar tokoh
Menggunakan kalimat langsung dan tidak langsung
Menggunakan kata keterangan tempat, waktu, suasana
Jenis Alur:
Alur Maju (progresif): peristiwa bergerak maju sesuai urutan waktu
Alur Mundur (flashback): cerita dimulai dari masa kini lalu menceritakan masa lalu
Alur Campuran: gabungan alur maju dan mundur
Teks Diskusi
Teks yang menyajikan dua sudut pandang berbeda terhadap suatu isu atau permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat.
Fungsi:
Memberikan informasi tentang sebuah isu dari berbagai sudut pandang
Mendorong pembaca berpikir kritis dan objektif
Menumbuhkan budaya dialog dan penghargaan terhadap pendapat orang lain
Membantu pembaca memahami kompleksitas sebuah masalah
Ciri-Ciri:
Mengandung isu yang sedang aktual atau menjadi perdebatan
Menyajikan dua sisi argumen (pro dan kontra)
Disusun secara logis dan sistematis
Menggunakan bahasa yang objektif, formal, dan argumentatif
Menggunakan data, fakta, atau pendapat ahli untuk memperkuat argumen
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kata-kata argumentatif (misalnya: menurut, berdasarkan, terbukti, jika, sebaiknya)
Menggunakan kata hubung argumentasi (misalnya: di sisi lain, namun, tetapi, sebaliknya, walaupun)
Menggunakan kalimat kompleks (misalnya: Kalaupun…, walaupun…, meskipun…)
Menggunakan istilah-istilah ilmiah atau formal
Menggunakan kata evaluatif (misalnya: lebih baik, paling efektif, lebih bijak)
Menggunakan modalitas atau kata kerja modal (misalnya: dapat, seharusnya, perlu, mungkin)
Teks Laporan Percobaan
Teks yang berisi laporan hasil kegiatan percobaan yang dilakukan oleh penulis.
Fungsi:
Menyampaikan hasil pengamatan atau percobaan
Memberikan informasi faktual tentang sebuah percobaan
Menjelaskan prosedur percobaan kepada pembaca
Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan ilmiah
Menjadi referensi untuk penelitian atau percobaan selanjutnya
Ciri-Ciri:
Menjelaskan fakta hasil percobaan, bukan opini pribadi
Disusun secara sistematis, logis, dan objektif
Menggunakan bahasa ilmiah dan formal
Mengandung data, angka, dan hasil pengamatan yang akurat
Ada bagian tujuan, alat dan bahan, langkah kerja, hasil, dan kesimpulan
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan bahasa ilmiah, formal, dan baku
Menggunakan kalimat pasif (misalnya: air dipanaskan…)
Menggunakan istilah teknis atau ilmiah
Menggunakan kata kerja imperatif (misalnya: masukkan, ukur, campurkan)
Menggunakan data numerik, grafik, tabel (jika diperlukan)
Menggunakan kata penghubung kronologis (pertama, kemudian, setelah itu, akhirnya)
Teks Inspiratif
Teks yang isinya memberikan inspirasi, motivasi, semangat, dan dorongan positif kepada pembacanya.
Fungsi:
Memberikan inspirasi dan motivasi
Mengajarkan nilai-nilai kehidupan, seperti kejujuran, kerja keras, keberanian, kesabaran
Menghibur sekaligus memberi pelajaran moral
Menumbuhkan semangat menghadapi kesulitan dan tantangan hidup
Ciri-Ciri:
Mengandung cerita atau kisah yang menyentuh dan memotivasi
Memiliki tokoh yang menghadapi masalah atau tantangan hidup
Mengandung pesan atau nilai moral yang kuat
Menggunakan bahasa yang menyentuh emosi pembaca
Bisa berupa kisah nyata atau cerita fiksi
Mengajak pembaca untuk berpikir positif dan bangkit dari kegagalan
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kata-kata yang membangkitkan semangat dan emosi positif
Menggunakan kata kerja mental (misalnya: berharap, percaya, merasa, menyadari)
Menggunakan kalimat naratif (menceritakan)
Menggunakan dialog atau percakapan tokoh
Menggunakan kalimat langsung dan tidak langsung
Menggunakan kata sifat untuk menggambarkan perasaan tokoh (misalnya: sedih, bahagia, takut, percaya diri)
Jenis-Jenis:
Cerita Motivasi: Kisah yang membangkitkan semangat dan motivasi
Kisah Keteladanan: Kisah orang-orang hebat yang patut dijadikan teladan
Kisah Inspirasi Pribadi: Cerita tentang pengalaman pribadi yang menginspirasi
Kisah Fiksi Inspiratif: Cerita fiksi yang mengandung pesan moral dan menginspirasi
Teks Tanggapan
Teks yang berisi tanggapan, penilaian, atau respon seseorang terhadap suatu hal, seperti karya seni, fenomena, atau peristiwa. Penulis mengemukakan pendapat pribadi yang didukung oleh alasan logis, data, atau fakta.
Fungsi:
Memberikan penilaian atau evaluasi terhadap karya, peristiwa, atau fenomena
Menyampaikan kritik dan saran secara logis dan sopan
Melatih kemampuan berpikir kritis dan argumentatif
Mengajak pembaca melihat sesuatu dari sudut pandang lain
Ciri-Ciri:
Menyampaikan tanggapan atau penilaian
Memiliki alasan atau data pendukung yang logis
Bersifat subjektif (berdasarkan pandangan penulis), namun tetap berdasarkan fakta atau logika
Menggunakan bahasa yang sopan, santun, dan argumentatif
Menggunakan kata-kata evaluatif (bagus, baik, kurang tepat, menarik, membosankan, dsb.)
Kaidah Kebahasaan:
Menggunakan kata kerja mental (menurut saya, saya rasa, saya pikir)
Menggunakan kata evaluatif (bagus, menarik, membosankan, luar biasa, lemah)
Menggunakan kata hubung argumentatif (karena, sebab, oleh karena itu, namun, akan tetapi)
Menggunakan kata rujukan (ini, itu, tersebut)
Menggunakan kalimat kompleks (mengandung lebih dari satu klausa)
Menggunakan bahasa yang sopan dan santun
Jenis:
Tanggapan positif (pujian): Menyoroti kelebihan atau hal baik dari sesuatu
Tanggapan negatif (kritik): Menyoroti kekurangan atau kelemahan
Tanggapan campuran: Mengemukakan kelebihan dan kekurangan sekaligus