BMPTL UAS NEW

Sistem Bisnis Tani Berkelanjutan di Lahan Kering

Revolusi Hijau (1960-an)

  • Modernisasi pertanian untuk memaksimalkan produksi.
  • Penerapan teknologi baru:
    • Mekanisasi
    • Peningkatan dosis pupuk dan pestisida
    • Praktik pertanian spesifik
    • Peningkatan teknik sumber daya air dan irigasi

Permasalahan Akibat Revolusi Hijau

  • Peningkatan produksi pangan tidak merata secara global.
  • Pertanian modern berbasis riset memerlukan berbagai aspek produksi; banyak kendala timbul ketika diterapkan pada petani.
    • Contoh: penggunaan bibit unggul.
  • Dampak merugikan terhadap lingkungan dan sosial masyarakat.
    • Terjadi di negara maju dan berkembang.

Efek Samping Pertanian Modern (Input Tinggi)

  • Pemakaian SDA berlebih:
    • Luas hutan berkurang
    • Resapan air berkurang → banjir, kekeringan
  • Kontaminasi atmosfer:
    • Amonia, nitrous oxide, metana, produk pembakaran
    • → Pengurangan lapisan ozon, pemanasan global, polusi udara
  • Kontaminasi makanan dan pakan ternak:
    • Residu pestisida, nitrat, antibiotik
  • Kontaminasi air oleh pestisida, nitrat
  • Meningkatkan ketahanan hama dan penyakit terhadap pestisida
  • Kerusakan lahan dan sumber daya alam oleh pestisida
  • Penurunan keragaman genetik
  • Bahaya kesehatan baru:
    • Pekerja di agrokimia
    • Industri pengolahan makanan

Visi dan Pendekatan Baru

  • Pengelolaan lingkungan secara holistik.
    • Gabungan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
    • Ketahanan pangan → Sustainable agriculture.
  • Banyak definisi dari pakar tentang Sustainable Agriculture
    • Low-input methods and skilled management

Elemen Pertanian Berkelanjutan

  • Produktif dan menguntungkan
  • Melestarikan SDA dan melindungi lingkungan
  • Meningkatkan kesehatan dan keamanan
  • Input rendah dan pengelolaan terampil
    • Reduced use of synthetic chemical inputs
    • Biological pest control
    • Soil and water conservation practices
    • Use of animal and green manures
    • Biotechnology
    • Crop rotations
    • Use of Organic wastes
    • Crop- livestock diversification
    • Mechanical cultivation
    • Naturally occurring processes

Elemen Sustainabilitas

  1. Soil conservation:
    • Pencegahan kehilangan tanah oleh erosi
  2. Crop diversity:
    • Berbagai tanaman untuk mencegah berbagai risiko
  3. Nutrient management:
    • Penggunaan pupuk organik insitu
  4. Integrated pest management (IPM):
    • Kombinasi secara biologi yang aman, murah, dan sehat
  5. Penanaman cover crop
  6. Rotational grazing
  7. Water quality & water conservation
  8. Agroforestry
  9. Marketing:
    • Untuk meningkatkan keuntungan

Cropping System

  • Sistem tanam yang mengacu pada prinsip-prinsip dan praktik tanam
  • Interaksinya dengan:
    • Sumber daya pertanian
    • Teknologi
    • Lingkungan tanah dan udara
  • Untuk menyesuaikan dengan:
    • Kebutuhan dan strategi produksi secara nasional, regional, atau global
  • Komponen penting dari sistem pertanian

Cropping Pattern (Pola Tanam)

  • Penanaman beberapa jenis tanaman dan bera dalam sekuen waktu dalam setahun.
  • Akibat:
    • Kondisi tanah dan iklim
    • Efisiensi
    • Kemampuan
    • Kultur sosial ekonomi masyarakat
    • Teknologi
    • Ketersediaan infrastruktur yang berbeda
  • Contoh:
    • Jagung - kacang - bera - padi
    • Padi - palawija - bera - palawija

Multiple Cropping

  • Intensifikasi dalam penanaman terkait waktu dan ruang.
    • Sequential cropping
    • Inter-cropping
    • Mixed cropping
Sequential Cropping
  • Penanaman dua atau lebih jenis tanaman pada lahan yang sama selama setahun.
    • Disesuaikan dengan kebutuhan air tanaman.
  • Tanaman kedua ditanam setelah tanaman pertama dipanen.
  • Intensifikasi tanaman hanya dalam dimensi waktu.
    • Tidak ada kompetisi intercrop.
  • Petani hanya mengelola satu jenis tanaman di lapang pada waktu yang sama.
Intercropping
  • Penanaman dua atau lebih tanaman pada lahan yang sama.
    • Tanaman utama pada baris berbeda dan tanaman tambahan disesuaikan
  • Intensifikasi tanaman dalam ruang dan waktu.
    • Meningkatkan produktivitas per satuan luas.
  • Ada 4 macam intercropping:
Mixed Inter-cropping
  • Menanam dua atau lebih tanaman secara bersamaan dengan pengaturan baris yang berbeda.
  • Umum digunakan dalam situasi padat karya subsisten pertanian.
Row Inter-cropping
  • Menanam dua atau lebih tanaman secara simultan dalam baris berbeda.
    • Untuk mekanisasi pertanian.
Strip Inter-cropping
  • Menanam dua atau lebih tanaman dalam strip yang berbeda
    • Cukup lebar untuk memudahkan penanaman
    • Cukup sempit untuk interaksi secara agronomis

Mixed Cropping

  • Penanaman dua atau lebih tanaman unggulan secara bersamaan pada lahan yang sama.
  • Menanam pada barisan berbeda dengan berbagai ratio jarak tanam.
  • Relay inter-cropping:
    • Menanam tanaman secara tumpangsari bergilir sehingga siklus pertumbuhan tumpang tindih.
    • Penanaman tanaman kedua dilakukan sebelum tanaman pertama panen.

Monoculture

  • Penanaman tanaman dari jenis yang sama secara berulang di suatu lahan.
  • Karena keterbatasan faktor iklim atau ketrampilan petani.

Staggered Planting

  • Menanam tanaman pangan dengan cara disebar di permukaan lahan pada periode yang optimum.
  • Untuk:
    • Meminimumkan risiko
    • Efisiensi tenaga kerja atau mesin
    • Meminimumkan kompetisi dalam intercropping
    • Memperpanjang waktu suplai ke pasar atau pabrik

Ratoon Cropping

  • Penamanan tanaman dengan cara menumbuhkan kembali akar atau batang dari tanaman yang telah dipanen sebelumnya.
  • Contoh: tebu, pisang.

Mixed Farming

  • Sistem pertanian di usahatani tanpa (memperhatikan ukuran), yang terdiri dari produksi tanaman pangan, unggas, ternak, ikan, dan/atau tanaman pohon untuk pemenuhan kebutuhan petani.
  • Bertujuan subsisten “memberi mengambil”.
  • Peternakan yang di lepas dan makan di kebun akan mengembalikan pukan/kotoran ke tanah/tanaman.

Sericulture

  • Sericulture adalah agro-industry, dengan produk akhir adalah sutera.
  • Melibatkan tiga aktivitas:
    • Budidaya Mulberry
    • Beternak ulat sutera
    • Memintal benang dari cocon.
      • Aktivitas pertama berbasis pertanian, sedang yang kedua dan ketiga berbasis industri, dengan perbedaan investasi finansial

Agroforestry

  • Sistem penggunaan lahan yang menjaga atau meningkatkan produksi tanaman melalui kombinasi tanaman pangan (annuals) dengan tanaman tahunan (perennials)→ sustainable.
  • Salah satu sistem pengelolaan lahan yang dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih-guna lahan dan juga untuk mengatasi masalah pangan.

Ciri Agroforestri (Lundgren & Raintree, 1982)

  • Tersusun dari dua jenis tanaman atau lebih (tanaman dan atau hewan). Minimal satu diantaranya berkayu
  • Siklus sistem agroforestrI selalu lebih dari satu tahun
  • Ada interaksi ekonomi dan ekologi antara tanaman berkayu dan tidak berkayu
  • Selalu memiliki dua macam produk atau lebih (multi product), misal: pakan ternak, kayu bakar, buah- buahan, obat-obatan
  • Minimal mempunyai satu fungsi pelayanan jasa, misal: pelindung angin (windbreak), penaung, penyubur tanah, peneduh shg bisa dijadikan pusat berkumpulnya keluarga/masyarakat
  • Untuk sistem masukan rendah di daerah tropis, agroforestri tergantung pd penggunaan dan manipulasi biomassa tanaman terutama dg mengoptimalkan penggunaan sisa panen
  • Sistem agroforestri yg paling sederhana pun secara biologis (struktur dan fungsi) maupun ekonomis jauh lebih kompleks daripada sistem budidaya monokultur

Ruang Lingkup Agroforestri

F = Kehutanan
A = Pertanian
P = Peternakan
A+F = Agrisilvikultur
A+P = Agropastura
F+P = Silvopastura
A+F+P = Agrosilvopastura

  • Silvofishery = Kombinasi antara komponen kehutanan dengan perikanan
  • Apiculture = budidaya lebah atau serangga yg dilakukan dalam kegiatan kehutanan

Klasifikasi Agroforestri

  1. Berdasarkan komponen penyusunnya

    • Agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems)
      • kombinasi komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants, berdaur panjang) dengan komponen pertanian dari jenis tanaman semusim
    • Silvopastura (Silvopastural systems)
      • meliputi komponen kehutanan (atau tanaman berkayu) dengan komponen peternakan (atau binatang ternak/pasture)
      • Pohon atau perdu pada padang penggembalaan (Trees and shrubs on pastures), atau produksi terpadu antara ternak dan produk kayu
    • Agrosilvopastura (Agrosilvopastural systems)
      • kombinasian komponen berkayu (kehutanan) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan/binatang pada unit manajemen lahan yang sama.
  2. Berdasarkan zona agroekologi

    • Agroforestri yang berada di wilayah tropis lembab dataran rendah (lowland tropical humid tropic);
    • Agroforestri pada wilayah tropis lembab dataran tinggi (high-land tropical humid tropic);
    • Agroforestri pada wilayah sub-tropis lembab dataran rendah (lowland humid sub-tropic); dan
    • Agroforestri pada wilayah sub-tropis dataran tinggi (highland humid sub-tropic).
      • Klasisikasi zona agroekologi di Indonesia
        • Didasarkan pada zona klimatis utama, terdapat 4 wilayah:
          • Zona Monsoon (khususnya di Jawa dan Bali),
          • Zona Tropis Lembab (di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi), serta
          • Zona Kering atau Semi Arid (Nusa Tenggara)
  3. Klasifikasi berdasarkan orientasi ekonomi

    • Agroforestri skala subsisten: ‘asal-hidup’
      • sebagai upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari- hari.
      • lebih mementingkan risiko kegagalan rendah, dibandingkan memperoleh pendapatan tunai (cash income) yang tinggi karena miskinnya pemilik lahan dan ketiadaan pasar di suatu wilayah.
      • Agroforestri yang tradisional, dengan beberapa ciri-ciri penting
        • Lahan yang diusahakan terbatas;
        • Jenis yang diusahakan beragam (polyculture) dan biasanya hanya merupakan jenis-jenis lokal non-komersial saja (indigenous dan bahkan endemic) serta ditanam/dipelihara dari permudaan alam dalam jumlah terbatas;
        • Pengaturan penanaman tidak beraturan (acak);
        • Pemeliharaan/perawatan serta aspek pengelolaan lainnya tidak intensif
    • Agroforestri skala semi-komersial (Semi-commercial agroforestry)
      • Pada wilayah-wilayah yang mulai terbuka aksesibilitasnya
      • kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki motivasi ekonomi yang cukup tinggi
      • kecenderungan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil untuk memperoleh uang tunai.
    • Agroforestri skala komersial (Commercial agroforestry)
      • orientasi skala komersial, kegiatan ditekankan untuk memaksimalkan produk utama, yang biasanya hanya dari satu jenis tanaman saja
      • Ciri-ciri yang dimiliki biasanya tidak jauh berbeda antar berbagai bentuk implementasi, baik dalam lingkup pertanian ataupun kehutanan, yaitu antara lain:
        • Komposisi hanya terdiri dari 2-3 kombinasi jenis tanaman, salah satunya komoditi utama , lainnya sebagai unsur pendukung;
        • Dikembangkan pada skala yang cukup luas (investasi besar) dan menggunakan input teknologi yang memadai;
        • Memiliki rantai usaha tingkat lanjut (penanganan pascapanen dan perdagangan) yang jelas serta tertata baik;
        • Menuntut manajemen yang profesional.
          • contoh: Perum Perhutani di Jawa dan Nusa Tenggara Barat dan HTI

Fungsi dan Peran Agroforestri

  1. Aspek Biofisik dan Lingkungan pada Skala Bentang Lahan

    • Peranan agroforestri terhadap sifat fisik tanah
    • Peranan agroforestri terhadap kondisi hidrologi kawasan
    • Peranan agroforestri dalam mengurangi gas rumah kaca dan mempertahankan cadangan karbon
    • Fungsi agroforestri dalam mempertahankan keanekaragaman hayati
  2. Aspek Sosial Budaya

  3. Aspek Sosial Ekonomi

Peran Agroforestri pada Skala Plot

  • Zona A (di atas permukaan tanah)

    • jangka pendek, memberikan naungan parsial
    • jangka panjang, memperbaiki kesuburan tanah (serasah)
  • Zona B (zona lapisan tanah atas)

    • peningkatan daerah jelajah akar dan masukan bahan organik lewat akar yang mati
    • peningkatan ketersediaan P, melalui simbiosis akar pohon dengan mikoriza,
    • peningkatan ketersediaan N dalam tanah bila akar leguminosae bersimbiosis dengan rizhobium,
    • untuk jangka panjang, memperbaiki sifat fisik tanah seperti perbaikan struktur tanah, meningkatkan kemampuan menyimpan air (water holding capacity) melalui pembentukan pori makro akibat aktivitas akar dan biota, sehingga mengurangi limpasan permukaan, pencucian, dan erosi.
    • ada kemungkinan terjadi kompetisi air dan hara oleh beberapa akar tanaman.
  • Zona C (zona lapisan tanah bawah)

    • peningkatan efisiensi serapan hara melalui sebaran akar yang dalam,
    • penyerapan air

Perbaikan Kesuburan Tanah

  • Mempertahankan kandungan bahan organik tanah,

Mengurangi Kehilangan Hara

  • Pada tanah subur, akar pohon yang menyebar dalam dapat berperan sebagai "pemompa hara", yaitu menyerap hara hasil pelapukan mineral/batuan induk pada lapisan bawah.

Peningkatan Ketersediaan N dalam Tanah

  • Bila pohon yang ditanam dari keluarga, akar tanaman kacang-kacangan harus bersimbiosis dengan mikrobia tanah rhizobium

Mempertahankan Sifat Fisik Tanah

Mengurangi Bahaya Erosi

  • Penutupan permukaan tanah sepanjang tahun oleh tajuk tanaman sehingga kehancuran agregat tanah oleh pukulan air hujan dapat ditekan,
  • Mempertahankan kandungan BOT dan meningkatkan kegiatan biologi tanah termasuk perakaran
Ilustrasi Pengaruh Agroforestri pada Erosi

[Diagram Alur, deskripsi akan ditambahkan]

Menekan Serangan Hama & Penyakit

  • Ada pepohonan yang dapat mengurangi populasi hama dan penyakit tertentu, misalnya pohon mimba (Azadirachta indica) yang ditumpangsarikan dengan chickpea atau kacang arab (Cicer arietinum) dapat menekan serangan root-knot nematode terhadap kacang hijau .
  • Menjaga kestabilan iklim mikro dan menekan populasi gulma

Menjaga Kestabilan Iklim Mikro

  • Pepohonan yang ditanam cukup rapat dapat menjaga kestabilan iklim mikro, mengurangi kecepatan angin, meningkatkan kelembaban tanah dan memberikan naungan parsial, contohnya Erythrina (dadap) yang ditanam untuk memberikan naungan bagi kopi. Naungan pohon dapat menekan pertumbuhan gulma terutama alang-alang dan menjaga kelembaban tanah sehingga mengurangi risiko kebakaran pada musim kemarau.

Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya Agroforestri

Kelayakan (Feasibility)

  • apakah petani mampu mengelola agroforestri dengan sumber daya dan teknologi yang mereka punyai, apakah mereka mampu untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan sumber daya dan teknologi tersebut.
    • Sumber daya yang tersedia
    • Teknologi pendukung
    • Orientasi produksi
    • Pengetahuan lokal petani
    • Kebijakan pendukung dari pemerintah

Keuntungan

  • Konsep ekonomi
  • Indikator finansial:
    • Sistem agroforestri menghasilkan bermacam-macam produk yang jangka waktu pemanenannya berbeda

Kemudahan untuk Diterima

  • Sistem agroforestri dapat dengan mudah diterima dan dikembangkan kalau manfaat sistem agroforestri lebih besar daripada kalau menerapkan sistem lain mencakup atas perhitungan risiko, fleksibilitas terhadap peran gender, kesesuaian dengan budaya setempat, keselerasan dengan usaha yang lain

Jaminan Kesinambungan

  • Sistem penguasaan lahan dan hasil agroforestri (singkatnya sumber daya agroforestri) menggambarkan tentang sekumpulan hak-hak yang dipegang oleh seseorang atau kelompok orang-orang dalam suatu pola hubungan sosial terhadap suatu unit lahan dan hasil agroforestri dari lahan tersebut

  • Penguasaan lahan

  • Penguasaan atas pohon

  • Aspek hubungan sosial

    • hubungan kerja atau bagi hasil antara pemilik agroforestri dengan buruh tani,
    • hubungan sewa atau gadai antara pemilik lahan dengan penyewa atau penggadai lahan,
    • hubungan kontrak lahan antara pemilik lahan dengan pemilik modal yang mengkontrak lahan untuk budidaya agroforestri

Peraturan Perundang-Undangan tentang Pertambangan

UU No. 3 tahun 2020 tentang Perubahan atas UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

  • Pertambangan meliputi sebagian atau seluruh kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan/atau pemurnian atau pengembangan dan/atau pemanfaatan, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
  • Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan Usaha Pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
  • Kegiatan Pascatambang, yang selanjutnya disebut Pascatambang, adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah sebagian atau seluruh kegiatan Usaha Pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wiiayah Penambangan.
  • Pasal 99 (1): Pemegang IUP atau IUPK wajib menyusun dan menyerahkan rencana Reklamasi dan/atau rencana Pascatambang
  • Pasal 99 (2): Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan Pascatambang.
  • Pasal 100 (1): Pemegang IUP atau IUPK wajib menyediakan dan menempatkan dana jaminan Reklamasi dan/atau dana jaminan Pascatambang.

PP No. 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang, Pasal 6

  1. Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi yang telah menyelesaikan kegiatan studi kelayakan harus mengajukan permohonan persetujuan RENCANA REKLAMASI dan RENCANA PASCATAMBANG kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
  2. Rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan bersamaan dengan pengajuan permohonan IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi.
  3. Rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui oleh instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
  4. PP No. 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang, Pasal 7 (4):
    • RENCANA REKLAMASI sebagaimana dimaksud pada ayat (I), ayat (2), dan ayat (3) paling sedikit memuat:
      • tata guna lahan sebelum dan sesudah ditambang;
      • rencana pembukaan lahan;
      • program reklamasi terhadap lahan terganggu yang meliputi lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas tambang yang bersifat sementara dan/atau permanen;
      • kriteria keberhasilan meliputi standar keberhasilan penataan lahan, revegetasi, pekerjaan sipil, dan penyelesaian akhir; dan
      • rencana biaya reklamasi terdiri atas biaya langsung dan biaya tidak langsung.

Kepmen ESDM No. 1827.K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik

Permen ESDM No. 26/2028 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Mineral dan Batubara.

KHUSUS UNTUK TAMBANG DI KAWASAN HUTAN HARUS MENGIKUTI JUGA UU NO. 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN: Pasal 38

  1. Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan di dalam kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung.
  2. Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan.
  3. Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pertambangan dilakukan melalui pemberian izin pinjam pakai oleh Menteri dengan mempertimbangkan batasan luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan.
  4. Pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka.
  5. Pemberian izin pinjam pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis dilakukan oleh Menteri atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

KHUSUS UNTUK TAMBANG DI KAWASAN HUTAN HARUS MENGIKUTI JUGA PP NO. 26 TAHUN 2020 TENTANG REHABILITASI DAN REKLAMASI HUTAN: Pasal 33

  1. Reklamasi Hutan dilakukan pada Kawasan Hutan rusak yang telah mengalami perubahan permukaan tanah dan perubahan penutupan tanah.
  2. Perubahan permukaan tanah dan perubahan penutupan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terjadi akibat:
    • penggunaan Kawasan Hutan; atau
    • bencana.
  3. Pasal 39 (3):
    • Pelaksanaan Reklamasi Hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tahapan kegiatan:
      • penataan lahan;
      • pengendalian erosi dan sedimentasi; dan
      • Revegetasi

Peraturan Menteri Kehutanan No. P.4/Menhut-II/2011 tentang Pedoman Reklamasi Hutan.

Lahan Bekas Tambang untuk Kegiatan Pertanian

Pengantar

  1. Kegiatan tambang umumnya dilakukan di darat à menyebabkan perubahan berbagai komponen lingkungan, baik di dalam maupun di luar areal tambang
  2. Lingkungan yang mengalami perubahan akibat kegiatan penambangan ini perlu segera direklamasi untuk memulihkan ke kondisi yang aman dan dapat dimanfaatkan kembali sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, seperti untuk tanaman hutan produksi, pertanian, perkebunan, kawasan wisata, areal pemukiman, areal konservasi, areal lahan basah, dan lain-lain

Tahapan Reklamasi (Tambang Batubara, Mineral, Migas, Gol. C)

  • Penataan Lahan
    • Persiapan Media Tanam
      • Revegetasi
Tujuan Reklamasi
  • Penimbunan
  • Pengaturan sudut lereng
  • Pembuatan saluran drainase
  • Pembuatan bangunan konservasi
  • Penaburan tanah pucuk
  • Penanaman cover crop
  • Penanaman tanaman utama
  • Pemeliharaan tanaman
  • Pengkayaan jenis tanaman
  • Hutan
  • Tanaman Perkebunan
  • Tanaman Pangan
  • Peternakan
  • Ekowisata
  • Perikanan
  • Lahan basah
  • Lereng curam
  • Erosi dan sedimentasi
  • Air asam tambang
  • Tailing
  • Void
  • Kontaminasi
  • Tanah pucuk tipis
  • Kand. Hara rendah
  • pH masam
  • Keberadaan pirit
  • Tekstur kasar
  • Kondisi iklim
  • Jenis tanaman
  • Bibit, dll
  • Kebutuhan masyarakat
  • Kepentingan Pemda
  • Konflik kepemilikan
  • Tataruang

Memerlukan Pendekatan Multidisiplin

  • IPB dapat berperan pada berbagai tahapan kegiatan reklamasi melalui:
    • Rekayasa perbaikan tanah dengan teknologi tanah,
    • Pemilihan plasma nutfah, dan
    • Pengembangan sosial kelembagaan
  • Reklamasi lahan bekas tambang memiliki permasalahan beragam:
    • Teknis Reklamasi
    • Sosial
    • Kebijakan

Lahan Bekas Tambang untuk Pertanian

  • Lahan bekas tambang yang dapat dimanfaatkan untuk areal tanaman pangan adalah lahan-lahan yang berada pada kawasan Area Penggunaan Lain (APL):
    • diperkirakan terdapat ribuan hingga belasan ribu hektar lahan bekas tambang pada kawasan APL
  • Pemanfaatan lahan bekas tambang untuk produksi tanaman pangan masih menghadapi berbagai kendala:
    • Pemda umumnya belum memiliki rencana pascatambang untuk kawasan APL à untuk mudahnya, kawasan APL sering direvegetasi dengan tanaman kehutanan
    • Lokasi tambang di Indonesia umumnya berada pada tanah- tanah yang tidak subur à lahan bekas tambang menjadi semakin tidak subur
    • Masyarakat masih menolak bahan pangan yang berasal dari lahan bekas tambang à ada kekhawatiran terhadap akumulasi logam berat, padahal tidak selalu demikian karena tergantung batuan induk di lokasi tambang tersebut
    • Potensi besar untuk pengembangan pertanian di lahan pengendapan tailing di Timika seluas 23.000 Ha, status kawasan hutan

Beberapa Solusi

  • Pemda didorong untuk membuat perencanaan pascatambang untuk kawasan APL dan diarahkan untuk pengembangan pertanian
  • Untuk mengatasi tanah bekas tambang yang tidak subur à perbaikan kualitas tanah mutlak diperlukan:
    • Pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan,
    • Pemberian bahan-bahan amelioran
  • Untuk mengatasi kekhawatiran terkait logam berat dalam bahan pangan:
    • Penelitian serapan logam berat oleh tanaman diintensifkan
    • Sosialisasi digalakkan à tidak semua lahan bekas tambang banyak mengandung logam berat
    • Penanaman tanaman bioakumulator

Contoh Perbaikan Kualitas Tanah

  • Pemberian senyawa humat sebagai pengganti bahan organik, percobaan terhadap pertumbuhan cover crop Mucuna sp.

Pengelolaan Lahan Basah untuk Pertanian

  • Wetlands are areas where water is the primary factor controlling the environment and the associated plant and animal life (Ramsar handbooks 2016).
  • Wetlands occur where the water table is at or near the surface of the land, or where the land is covered by water (Ramsar handbooks 2016).

Atribut Lahan Basah

  • Paling tidak secara periodik, lahan di- dominasi oleh hydrophytes
  • Lahan didominasi oleh tanah jenuh air (hydric soil) yang sulit di-drain
  • Secara periodik lahan ditutupi oleh sedikit air (misalnya lahan sawah)
  • Lahan dapat berupa bukan tanah yang selalu ditutupi oleh air (misal sungai dan danau)

Jenis Lahan Basah

  • Human-Made Site
    • Tambak
    • Reservoir/waduk/embung
    • Sawah
  • Lakes and rivers, swamps and marshes, wet grasslands and peatlands
  • Oases, estuaries, deltas and tidal flats, near-shore marine aeas, mangroves and coral reefs

Jenis Lahan Rawa

  • Rawa pasang surut:
    • Dipengaruhi secara langsung dan/ atau tidak langsung oleh naik-turunnya airlaut
  • Rawa lebak
    • Dipengaruhi oleh hujan dan banjir tahunan

Tanah di Lahan Rawa

  • Gambut:
    • Akumulasi bahan organik /tanaman mati selama ratusan -ribuan tahun yang terjadi di dalam keadaan reduktif.
      • Ketebalan >40 cm (hemik - saprik), >60 cm (fibrik) (USDA), ketebalan >50 cm (PPT)
  • Sulfat Masam:
    • Tanah yang mengandung bahan Siak, Riau pirit (FeS_2)

Grafik Komposisi Tanah di Lahan Rawa

[Grafik yang belum dideskripsikan]
[Grafik yang belum dideskripsikan]
[Grafik yang belum dideskripsikan]

Grafik Stratifikasi Gambut Berdasarkan Vegetasi Utama

[Grafik yang belum dideskripsikan]
[Grafik yang belum dideskripsikan]
[Grafik yang belum dideskripsikan]
[Grafik yang belum dideskripsikan]

Proses Pembentukan Sulfat Masam di Lahan Rawa

  1. Pembentukan Pirit (FeS_2)
  2. Reduksi Oksida Fe^{3+}
  3. Reduksi Sulfat (Pembentukan H_2S)
  4. Reduksi-Oksidasi Pirit
  5. Pembentukan Jarosit

Pembentukan Pirit (FeS_2)

  • Fe2O3 + SO4^{2-} + 8 CH2O + frac{1}{2} O2 arrow 2 FeS2 + 8 HCO3^- + 4 H2O
  • Sumber Fe2O3 dan SO_4^{2-}

Reduksi Oksida Fe^{3+}

  • Fe2O3 + frac{1}{2} CH2O + 4H^+ arrow 2 Fe^{2+} + frac{1}{2} CO2 + frac{5}{2} H_2O

Reduksi Sulfat (Pembentukan H_2S)

  • SO4^{2-} + 2 CH2O + 2 H^+ arrow H2S + 2 CO2 + 2 H_2O

Reduksi-Oksidasi Pirit

  • FeS2 + frac{15}{4} O2 + frac{7}{2} H2O arrow Fe(OH)3 + 2 SO_4^{2-} + 4 H^+
  • FeS2 + 14 Fe^{3+} + 8H2O arrow 15 Fe^{2+} + 2 SO_4^{2-}+ 16 H^+ (bila pH <4.0)

Pembentukan Jarosit

  • FeS2 + frac{15}{4} O2 + frac{5}{2} H2O + frac{1}{3} K^+ arrow frac{1}{3} (KFe3(SO4)2(OH)6 + frac{4}{3} SO4^{2-} + 3H^+

Pengelolaan Tanah di Lahan Rawa

  • Menyediakan air yang cukup untuk
  • Mendukung pertumbuhan tanaman
  • Menghambat terbentuknya SO_4^{2-} & Fe^{2+} pada tanah sulfat masam (TSM)
  • Menghambat penurunan stabilitas gambut sebagai akibat proses dekomposisi bahan gambut
Purun
  • KFe3(SO4)2(OH)6
  • Besi [Fe(III)]
Jenis-Jenis Purun
  • Eleocharis dulcis - Purun Tikus
  • Eleocharis retroflaxa - Purun Babi
Kandungan Unsur Hara Purun

[Grafik data unsur hara yang belum dideskripsikan]

Gambut Tropika di Lahan Rawa

  • Gambut tropika = f(wr, vg, tp, cl, tm)

    • wr = air– terkait sumber (freshwater or marine)
    • vg = vegetasi
    • tp = topografi (makro)
    • cl = iklim
    • tm = waktu
  • Gambut diatas GWL

    • Lembab – kering
    • Tanaman budidaya
    • Datar
    • C.H. dan Temperatur
    • Kehilangan C
    • Alamiah Budidaya
  • Kelebihan air

    • Hutan
    • Datar
    • C.H. dan Temperatur