Waste Water Treatment Notes
MODUL PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
Staff Pengampu
- Angga Dheta Shirajjudin Aji, S.Si., M.Si
- Prof. Dr. Ir. Yusuf Wibisono, S.TP., M.Sc, IPM
- Dr. Ir. Jhohanes Bambang Rahadi Widiatmono, MS
- Yusron Sugiarto, STP., M.Sc, MP., Ph.D
Asisten Praktikum
- Akmal Kautsar Zuhdi
- Alyssa Fikriyah
- Andrian Rahmad Saputra
- Auliya Cinta Pratama
- Chaterine Hanindya Putri Situmorang
- Danial Safaraz Zafri Baidhowi
- Fanisha Kamila Dara Fathih Maulana Afief
- Gaby Sabrina Putri Mughni
- Mar`atus Solichah
- Muhammad Nindytho Al Ghozali
- Muhammad Rafi
- Qaylla Novitya Attariq
- Selfi Anggun Anggraeni
- Shinta Nur Ihsani
- Vilonia Jasmine Elfandi
LABORATORIUM
- Kualitas Air dan Pengolahan Limbah
- PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
- DEPARTEMEN TEKNIK BIOSISTEM
- FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
- UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2025
MATERI I PRA-PENGOLAHAN
I. TUJUAN PRAKTIKUM
- a. Mahasiswa memahami prinsip pengolahan air limbah pada tahap preliminary treatment.
- b. Mahasiswa memahami prinsip kerja unit operasi screening dan grease trap.
- c. Mahasiswa dapat melakukan pengujian kualitas air limbah untuk parameter pH, turbiditas, dan TSS pada influen dan efluen air limbah.
II. DASAR TEORI
- Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup.
- Pengolahan air limbah adalah proses yang dilakukan untuk mengolah kembali air yang telah digunakan dan/atau terkontaminasi oleh suatu kegiatan industri, rumah tangga, kegiatan manusia lainnya, ataupun dari alam sesuai dengan kualitas yang diinginkan.
- Pengolahan dapat terdiri dari proses kimia, biologi, fisik atau kombinasinya.
- Air limbah dapat diolah hingga mencapai tingkat kualitas parameter yang diinginkan. Semakin meningkat kualitas, semakin meningkat pula biaya pengolahan tersebut.
- Teknologi pengolahan air limbah sendiri memiliki berbagai macam jenis unit operasi dan unit proses yang diterapkan untuk berbagai macam karakteristik air limbah yang diolah beserta kualitas yang diharapkan.
- Teknologi yang dipilih untuk suatu aplikasi pengolahan limbah mungkin tidak optimal untuk jenis pengolahan limbah lainnya.
- Pemilihan teknologi pengolahan limbah yang diterapkan didasari pula atas faktor-faktor spesifik lokasi, seperti anggaran, sumber daya yang tersedia, iklim, ketersediaan lahan, ekonomi, dan faktor-faktor lainnya.
- Proses pengolahan air limbah dikategorikan sebagai:
- pengolahan sumber (source treatment)
- pra- pengolahan (preliminary treatment)
- pengolahan primer (primary treatment)
- pengolahan sekunder (secondary treatment)
- pengolahan air limbah tersier atau lanjutan (tertiary/advanced treatment).
- Source treatment:
- Digunakan untuk menghilangkan toksisitas atau kontaminan yang tidak diinginkan untuk mencegah pencampuran jenis air limbah satu dengan aliran limbah lainnya.
- Pengolahan limbah konvensional:
- Meliputi tahap preliminary treatment dan primary treatment yang diikuti dengan proses secondary treatment.
- Tertiary treatment:
- Pada umumnya diterapkan jika diperlukan dengan tujuan untuk menghilangkan komponen/zat pencemar tertentu ke tingkat yang sangat rendah.
- Proses pengolahan air limbah pada umumnya terdiri dari tiga tahap penting yang mencakup pengolahan primer, pengolahan sekunder, dan pengolahan tersier.
- Pengolahan air limbah pada tahap pra-pengolahan (preliminary treatment) dilakukan untuk membuat air limbah mentah (raw wastewater) dapat diproses pada pengolahan selanjutnya, yakni pengolahan primer.
- Tujuan dari preliminary treatment adalah:
- Untuk memisahkan minyak dan lemak
- Menghilangkan benda-benda besar
- Mengurangi ukuran padatan atau komponen anorganik yang dapat menghambat dan merusak pipa, pompa, dan peralatan lainnya yang terjadi akibat tersangkut atau terakumulasi.
- Tahap preliminary treatment juga bertujuan untuk melindungi peralatan yang dipasang pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan menciptakan karakteristik air limbah yang memenuhi syarat pengolahan selanjutnya.
- Proses preliminary treatment yang umum dilakukan mencakup tahap:
- ekualisasi
- netralisasi pH
- penyaringan (screening)
- kominusi (comminution)
- pemisahan pasir dan kerikil (grit removal)
- pemisahan minyak dan lemak (fat, oil, and grease/FOG removal).
- Beberapa Instalasi Pengolahan Air Limbah pada tahap preliminary treatment juga mencakup tahap pra- aerasi dan penambahan bahan kimia, seperti koagulan atau flokulan.
- Beberapa alat yang dapat digunakan dalam proses preliminary treatment adalah:
- bar screen
- comminutor
- grit chamber
- grease trap.
- Bar screen sendiri dapat dibedakan menjadi coarse screen (kasar) dan fine screen (halus);
- Grit chamber menjadi horizontal-flow dan vortex chamber;
- Pengolahan/pemisahan lemak dan minyak menjadi grease trap, oil skimmer, dan belt oil skimmer.
Screening
- Screening atau penyaringan adalah unit operasi pertama yang umumnya diterapkan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
- Screening mengeliminasi benda-benda padat seperti kayu, kertas, plastik, dan logam untuk mencegah kerusakan dan penyumbatan pada peralatan, perpipaan, dan perlengkapan unit operasi.
- Unit screen sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan:
- Ukuran celah (opening size): coarse, medium, dan fine screen.
- Konfigurasi: bar screen dan fine/mesh screen
- Metode pembersihan: manually cleaned dan mechanically cleaned
- Posisi screen: tetap (fixed screen) dan bergerak (moving screen)
- Terdapat dua jenis unit screening yang umum digunakan pada tahap preliminary treatment, yaitu coarse screen dan fine screen.
- Coarse screen secara mekanis dapat dibedakan menjadi chain-driven, reciprocating rake, catenary, dan continous belt.
- Sementara itu, fine screen dapat dibedakan menjadi static wedgewire, drum, dan step.
- Kriteria desain dari untuk unit screening tipe bar screen dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut.
\begin{array}{|c|c|c|c|c|c|}
\hline
\multicolumn{2}{|c|}{\text{Parameter}} & {\text{Satuan}} & {\text{Metode Pembersihan}} & {\text{Satuan}} & {\text{Metode Pembersihan}} \
\cline{4-6}
\multicolumn{2}{|c|}{} & {} & {\text{Manual}} & {\text{Mekanis}} & {\text{Manual}} & {\text{Mekanis}} \
\hline
\text{Ukuran batang (bar size)} & {\text{Lebar (width)}} & {\text{in}} & {0.2 – 0.6} & {0.2 – 0.6} & {\text{mm}} & {5 – 15} & {5 – 15} \
\hline
{} & {\text{Kedalaman (depth)}} & {\text{in}} & {1.0 – 1.5} & {1.0 – 1.5} & {\text{mm}} & {25 – 38} & {25 – 38} \
\hline
\multicolumn{2}{|c|}{\text{Jarak antar batang}} & {\text{in}} & {1.0 – 2.0} & {0.6 – 3.0} & {\text{mm}} & {25 – 50} & {15 – 75} \
\hline
\multicolumn{2}{|c|}{\text{Kemiringan dari sisi vertikal (slope)}} & {\text{o}} & {30 – 45} & {0 – 30} & {\text{o}} & {30 – 45} & {0 – 30} \
\hline
\multicolumn{2}{|c|}{\text{Kecepatan aliran Maksimum}} & {\text{ft/s}} & {1.0 – 2.0} & {2.0 – 3.25} & {\text{m/s}} & {0.3 – 0.6} & {0.6 – 1.0} \
\hline
\multicolumn{2}{|c|}{\text{Minimum}} & {\text{ft/s}} & {-} & {1.0 – 1.6} & {\text{m/s}} & {-} & {0.3 – 0.5} \
\hline
\multicolumn{2}{|c|}{\text{Hilang tekan (headloss) yang diizinkan}} & {\text{in}} & {6} & {6 – 24} & {\text{mm}} & {150} & {150 – 600} \
\hline
\end{array}
```
- Sumber: Metcalf and Eddy, 2003
Comminution dan Grinding
- Comminution atau kominusi adalah proses mereduksi ukuran padatan sehingga menjadi lebih kecil dari ukuran semula.
- Kominusi padatan kasar mengurangi ukuran padatan sehingga mereka dapat dieliminasi selama pengolahan downstream seperti klarifikasi, di mana padatan yang mengambang dan mengendap dihilangkan.
- Perangkat comminutor dan grinder dipasang untuk menggiling dan menghancurkan material berukuran 6 – 19 mm (0.25 – 0.75 in).
- Kominutor terdiri dari silinder bercelah yang berputar yang dilalui aliran air limbah.
- Padatan yang terlalu besar untuk melewati celah akan diproses oleh bilah pencacah saat silinder berputar dan mereduksi ukurannya hingga dapat melewati celah tersebut.
- Komunitor membutuhkan pemeriksaan rutin setiap enam bulan dan penggantian pemotong setiap satu sampai tiga tahun.
Grit Removal
- Grit removal atau pemisahan pasir dan kerikil dari air limbah dapat dilakukan dengan menggunakan grit chamber.
- Grit chamber berfungsi untuk menghilangkan atau memisahkan materi abrasif yang terlarut dalam air limbah, seperti pasir, lempung, dan kerikil.
- Pemisahan ini bertujuan melindungi peralatan mekanis (pompa, pengaduk) dari materi abrasif dan mencegah pengendapan dan akumulasi pasir pada saluran air pada pengolahan tahap awal.
- Grit chamber juga dapat dikategorikan berdasarkan metode pembersihannya, yaiut secara manual dan mekanis.
- Grit chamber umumnya berada setelah unit screening dan sebelum unit primary sedimentation tank.
- Beberapa tipe grit chamber di antaranya adalah horizontal flow grit chamber, vortex-type grit chamber, constant level-short term grit chamber, dan aerated grit chamber untuk mengurangi pembusukan.
- Kriteria desain untuk horizontal flow grit chamber dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut.
| Parameter | Rentang | Tipikal |
|---|---|---|
| Waktu detensi | 45 – 90 s | 60 s |
| Kecepatan horizontal | 0.24 – 0.4 m/s | 0.3 m/s |
| Kecepatan pengendapan (specific gravity = 2.65) | ||
| 50-mesh | 2.8 – 3.1 m/min | 2.9 m/min |
| 100-mesh | 0.6 – 0.9 m/min | 0.8 m/min |
| Hilang tekan (headloss % of channel depth) | 30 – 40% | 36% |
- Sumber: Metcalf and Eddy, 2003
Skimming dan Grease Trap
- Skimmer adalah jenis mesin yang membantu memisahkan cairan (minyak) atau partikel tersuspensi dari cairan lain.
- Biasanya digunakan untuk memisahkan minyak dan padatan tersuspensi dari air pada pengolahan air limbah.
- Beberapa jenis limbah cair yang mengandung sejumlah minyak dan lemak (fat, oil, and grease) cenderung menghasilkan busa dalam kolam sedimentasi dan mengganggu performa saringan-saringan halus dan instalasi sludge treatment.
- Alat lain yang dapat digunakan untuk menyisihkan lemak dan minyak dalam air limbah adalah grease trap.
- Grease trap merupakan sebuah unit perangkap atau penangkap minyak dan lemak.
- Grease trap didesain untuk memisahkan fase minyak dan air, sehingga minyak tidak menggumpal dan menyebabkan penyumbatan pada pipa.
- Limbah domestik pada umumnya mengandung sejumlah minyak yang membentuk lapisan buih mengambang.
- Grease trap setidaknya terdiri atas dua kompartemen yang dipisahkan oleh sekat.
- Kompartemen pertama merupakan tempat untuk menampung air limbah awal sedangkan kompartemen selanjutnya untuk menyisihkan minyak dan lemak.
- Efluen air limbah hasil pengolahan grease trap adalah air yang terpisah dari fase minyak sebelumnya.
III. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
- a. Bak efluen;
- b. Bak penampung;
- c. Bar screen (0.5 cm);
- d. Beaker glass 250 mL;
- e. Busur;
- f. DR900 Colorimeter;
- g. Grease trap;
- h. Kuvet;
- i. Penggaris;
- j. Penyangga;
- k. pH meter;
- l. Pipa kotak;
- m. Pipa penghubung/selang;
- n. Pipet tetes;
- o. Pompa air;
- p. Tisu;
- q. Turbidimeter.
2. Bahan
- a. Air limbah (berisi padatan dan minyak); dan
- b. Air suling.
IV. PROSEDUR KERJA
a. Perangkaian Alat
- a. Siapkan air limbah dan homogenkan;
- b. Pasangkan bar screen pada pipa kotak dengan ketentuan sudut X;
- c. Siapkan bak penampung setelah pipa kotak untuk menampung air limbah hasil screening;
- d. Pasangkan pompa air pada bak penampung dan sambunkan pipa penghubung/selang menuju grease trap;
- e. Siapkan pula bak efluen untuk menampung air limbah hasil proses unit grease trap.
b. Prosedur Pengolahan Unit Screening dan Grease Trap
- a. Lakukan tahap (IV.c.a) dan (IV.c.c);
- b. Homogenkan air limbah dan alirkan secara kontitnu melewati bar screen dengan sudut X yang ditetapkan pada pipa kotak dengan busur;
- c. Amati penyisihan padatan yang terjadi pada unit screening dan pastikan air limbah tertampung pada bak penampung;
- d. Lanjutkan ke tahap (IV.c.c).
- e. Nyalakan pompa air hingga air limbah pada bak penampung dialirkan menuju grease trap;
- f. Amati pemisahan dan penyisihan minyak pada masing-masing kompartemen/sekat;
- g. Tampung efluen pada bak efluen dan lanjutkan ke tahap (IV.c.b) dan (IV.c.c).
- h. Ulangi tahap (IV.b.a) hingga (IV.b.g) dengan konfigurasi bar screen pada sudut Y.
c. Pengujian Parameter
- a. Lakukan pengukuran ketebalan minyak pada air limbah;
- b. Lakukan pengukuran ketebalan minyak pada efluen pasca-pengolahan dengan grease trap;
- c. Lakukan pengujian kualitas sampel untuk parameter pH dengan pH meter, turbiditas dengan turbidimeter, dan TSS dengan DR900 Colorimeter;
- d. Lakukan pencatatan hasil dan dokumentasi untuk masing-masing pengujian dan pengukuran parameter.
V. DATA HASIL PRAKTIKUM
Perhitungan Headloss pada Bar Screen
- Persamaan Kirschmer
hL = β (\frac{w}{b})^{\frac{4}{3}} × hv sinθ
- dimana:
- hL = headloss (m)
- β = faktor bentuk batang
- w = tebal batang (m)
- b = lebar celah batang (m)
- hv = velocity head aliran yang melalui bar screen
- θ = sudut inklinasi screen dari sisi tegak lurus (o)
| No. | Jenis Batang (Bar) | β |
|---|---|---|
| 1. | Segi empat dengan pinggiran tajam | 2.42 |
| 2. | Segi empat dengan semi bulat pad bagian depan | 1.83 |
| 3. | Bulat | 1.79 |
| 4. | Segi empat dengan semi bulat pada bagian depan-belakang | 1.67 |
| 5. | Bentuk yang sudah rusak | 0.76 |
Perhitungan Headloss pada Bar Screen
- Persamaan Bernoulli
hL = \frac{(vb^2 – v_a^2)}{2g} × \frac{1}{C}
di mana:
- hL = headloss (m)
- va = kecepatan maksimum (m/s)
- vb = kecepatan aliran pada saat melalui bar screen (m/s)
- g = gravitasi (9.81 m/s2)
- C = koefisien debit empiris
- = 0.7 (screen bersih)
- = 0.6 (screen tersumbat)
Skema Headloss pada Bar Screen
Tabel 1.4 Data Hasil Pengujian Parameter pH, Turbiditas, dan TSS
| Sumber | Limbah | Konfigurasi | Sudut | Tahap Pengolahan | Parameter | pH | Turbiditas (NTU) | TSS (mg/L) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Awal | ||||||||
| Sudut X | Pasca-screening | |||||||
| Pasca-grease trap | ||||||||
| Awal | ||||||||
| Sudut Y | Pasca-screening | |||||||
| Pasca-greas trap |
Tabel 1.5 Data Hasil Pengukuran Tebal Minyak
| Sumber | Limbah | Konfigurasi | Sudut | Tahap Pengolahan | Tebal Minyak (cm) |
|---|---|---|---|---|---|
| Sudut X | Awal | ||||
| Pasca-grease trap | |||||
| Sudut Y | Awal | ||||
| Pasca-grease trap |
Tabel 1.6 Perhitungan Efisiensi Parameter pH, Turbiditas, TSS, dan Tebal Minyak
| Konfigurasi | Sudut | Tahap Pengolahan | Parameter | pH | Turbiditas | TSS | Tebal Minyak |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Awal | |||||||
| Pasca-grease trap | |||||||
| Awal | |||||||
| Pasca-grease trap |
- Efisiensi (%)
Efisiensi Penyisihan
Efisiensi \space Penyisihan \space (%) = \frac{PI – PE}{P_I} × 100\%
di mana:
- PI = nilai parameter influen
- PE = nilai parameter efluen
Catatan:
- Untuk pH dapat diinterpretasikan bergerak ke kesetimbangan sebelah kiri/asam (saat persentase efisiensi positif) atau bergerak ke kesetimbangan kanan/basa (saat persentase efisiensi negatif).
- Hasil kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu yang berlaku dengan acuan efluen yang baik berada pada rentang pH netral.
MATERI II PENGOLAHAN PRIMER
I. TUJUAN PRAKTIKUM
- a. Mahasiswa memahami prinsip pengolahan air limbah pada tahap primary treatment.
- b. Mahasiswa memahami prinsip kerja pengolahan kimia dan pengolahan fisik.
- c. Mahasiswa dapat melakukan pengujian dan analisis parameter kualitas air limbah.
- d. Mahasiswa dapat melakukan analisis pengaruh waktu detensi terhadap efisiensi penyisihan.
II. DASAR TEORI
- Pengolahan air limbah pada tahap primer (primary treatment) merupakan tahap lanjutan dari tahap pra-pengolahan (preliminary treatment) yang sebelumnya dilakukan.
- Pengolahan primer atau sering disebut sebagai sedimentasi primer (primary settling; clarification) merupakan salah satu pengolahan yang diimplementasikan pada unit pengolahan air limbah (IPAL).
- Pengolahan primer sendiri sering dikombinasikan dengan tahap pra-pengolahan sebagai satu kesatuan.
- Tujuan utama dari pengolahan primer pada air limbah sendiri adalah untuk menyisihkan dan menghilangkan padatan- padatan yang masih lolos pada tahap pra-pengolahan, baik padatan yang mengendap (settleable), maupun padatan yang mengapung (floatable) melalui sedimentasi gravitasi dan bantuan alat lain untuk flotasi, seperti dissolved air flotation (DAF).
- Padatan yang mengendap dapat dikategorikan sebagai sludge dan padatan yang mengapung sebagai scum.
- Sedimentasi sendiri dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni sedimentasi positif (pengendapan) dan sedimentasi negatif (flotasi).
- Pada beberapa unit pengolahan dengan karakteristik air limbah tertentu, proses flotasi dapat diterapkan untuk menggantikan proses sedimentasi pada umumnya.
- Sedimentasi dilakukan pada tangki sedimentasi yang umumnya memiliki dua bentuk, yaitu bundaran (circular) dan segi empat (rectangular).
- Jenis tangki sedimentasi juga memiliki beberapa bentuk, seperti horizontal flow, vertical flow, solids contact, dan inclined plate.
- Metode sedimentasi yang paling sederhana adalah dengan menggunakan tangki persegi panjang dengan aliran horizontal (horizontal flow) yang melaluinya.
- Air dengan partikel- partikel dalam suspensi dimasukkan pada salah satu ujung tangki (inlet), kemudian ketika air mengalir ke ujung tangki yang lain (outlet), pengendapan partikel-partikel di dalam air terjadi sebelum padatan mencapai outlet dari tangki tersebut.
- Di sisi lain, tangki sedimentasi tipe aliran vertikal (vertical flow) biasanya berbentuk melingkar, dengan aliran yang bergerak secara vertikal.
- Tangki ini umumnya dilengkapi dengan hopper untuk menampung padatan yang terkumpul.
- Tipe sedimentasi dengan solids contact menggabungkan koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi dalam satu unit.
- Unit ini juga disebut penjernih (clarifier).
- Terakhir, lamella clarifier atau inclined plate settler (IPS) adalah jenis pengendap yang dirancang untuk menghilangkan partikulat dari cairan.
- Unit ini sering digunakan dalam pengolahan air primer sebagai pengganti tangki pengendapan konvensional.
- Dalam perancangan bak sedimentasi diperlukan kriteria untuk memastikan efisiensi dalam proses pemisahan partikel tersuspensi dari air atau limbah.
Tabel 2.1 Kriteria Tangki Sedimentasi
| Kriteria | Rancangan | Bentuk Bak Sedimentasi |
|---|---|---|
| Circular | ||
| Diameter | 15 - 300 ft (typical size: 35 - 150 ft) | - |
| Kedalaman | 6 - 16 ft (typical size: 10 - 14 ft) | 6 - 19 ft |
| Lebar | - | |
| Freeboard | 1 - 1,25 ft | 1 - 1,25 ft |
| Sprocket and chain driven rakes | - | |
| Rakes support dari travelling bridge | - | |
| Tandem scrapers | - | |
| Sumber: Perancangan Bangunan Pengolahan Air Minum, 2009. |
Klasifikasi Sedimentasi
- Klasifikasi sedimentasi didasarkan pada konsentrasi partikel dan kemampuan partikel untuk berinteraksi.
- Klasifikasi sedimentasi dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
- a) Sedimentasi Tipe I (Discrete Particle)
- Sedimentasi tipe I merupakan pengendapan partikel diskrit.
- Partikel diskrit merupakan partikel yang dapat mengendap bebas secara individual tanpa membutuhkan adanya interaksi antar partikel.
- Salah satu contoh sedimentasi tipe I adalah pengendapan lumpur kasar menggunakan bak prasedimentasi untuk pengolahan air permukaan maupun pengendapan pasir menggunakan grit chamber.
- b) Sedimentasi Tipe II (Flocculant Settling)
- Sedimentasi tipe II merupakan pengendapan partikel flokulen dalam suspensi cair.
- Selama proses pengendapan berlangsung, terjadi interaksi antar partikel yang menyebabkan ukuran partikel flokulen akan semakin besar, sehingga kecepatan pengendapan meningkat.
- Contoh sedimentasi tipe II adalah pengendapan pertama pada proses pengolahan air limbah maupun proses pengendapan partikel hasil koagulasi-flokulasi pada pengolahan air limbah dan air minum.
- c) Sedimentasi Tipe III (Hindered/Zoned Settling)
- Sedimentasi tipe III merupakan pengendapan partikel dengan konsentrasi yang lebih pekat, karena gaya antar partikel yang menghalangi pengendapan partikel di sekelilingnya.
- Proses ini menunjukkan partikel mempertahankan posisinya relatif terhadap partikel lain dan mengendap sebagai massa atau zona pada kecepatan yang konstan.
- Kemudian partikel bercampur dengan partikel lainnya dan kemudian mendorong partikel di bawahnya untuk mengalami proses tipe pengendapan kompresi.
- Pada tipe sedimentasi tipe III ini akan memicu terbentuknya lumpur biologis atau sludge blanket.
- d) Sedimentasi Tipe IV (Compression Settling)
- Sedimentasi tipe IV merupakan proses lanjutan dari sedimentasi tipe III, di mana terjadi pemampatan atau kompresi massa partikel, dan interaksi antar partikel yang tinggi.
- Kompresi massa partikel ini akan menghasilkan konsentrasi lumpur (sludge) yang tinggi.
- a) Sedimentasi Tipe I (Discrete Particle)
- Pengolahan air limbah pada tahap primer dapat dilakukan dengan pengolahan fisik, maupun diawali dengan pengolahan kimia dengan penambahan koagulan dan flokulan untuk membantu proses pengendapan.
- Proses pengolahan primer air limbah ini merupakan kombinasi dari koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi.
- Dalam proses ini, koagulan seperti FeCl3 dan aluminium sulfat (Al2(SO4)3), atau kombinasi garam besi dan polimer, ditambahkan ke dalam tangki sedimentasi primer.
- Koagulan meningkatkan efisiensi pengolahan, dengan partikel-partikel agregat mengendap lebih cepat.
- Pengendapan yang ditingkatkan dapat menghilangkan sekitar 80 – 90% dari total padatan tersuspensi.
- Namun, proses ini juga memiliki beberapa kelemahan, seperti memicu reaksi lain dan tingkat alkalinitas yang sangat bervariasi.
Pengolahan Kimia
- Koagulasi merupakan proses destabilisasi partikel koloid sehingga saling berikatan membentuk flok yang lebih besar dan berat dan mudah mengendap di bak sedimentasi.
- Koagulasi dilakukan dengan cara penambahan koagulan.
- Prose koagulasi umumnya menggunakan baling-baling (impeller) untuk mengaduk dan memecah partikel-partikel padat agar berikatan dengan koagulan.
- Adapun pada praktikum ini dilakukan dilakukan injeksi gelembung udara dengan bantuan aerator sebagai pengganti impeller.
- Hal ini membantu dalam mendistribusikan koagulan secara merata.
- Proses aerasi menciptakan area permukaan tambahan dalam pengolahan air limbah dan memungkinkan reaksi kimia atau suspensi partikel yang lebih besar.
- Proses aerasi dalam primary treatment dan secondary treatment memiliki prinsip yang sama akan tetapi dengan tujuan yang berbeda.
- Penambahan koagulan di sisi lain tidak perlu dilakukan untuk air limbah dengan turbiditas rendah (< 10 NTU).
Pengolahan Fisik
- Setelah proses penambahan koagulan dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah tahap pengolahan fisik yang mengacu pada prinsip sedimentasi.
- Pada proses pengolahan primer untuk memisahkan partikel halus dari air limbah dengan proses settling tank.
- Air limbah diproses dalam sebuah tank untuk kemudian beberapa jam kemudian diendapkan sehingga dapat terpisahkan partikel halus dari air limbah yang telah diproses.
- Proses pengendapan pada proses pengolahan primer ini membutuhkan waktu yang lama.
- Tujuan dari proses pengendapan primer ini adalah untuk menghilangkan fase kasar terdispersi, untuk menghilangkan partikel halus setelah proses pengolahan kimia, dan untuk menghilangkan lumpur aktif.
- Kombinasi pengolahan kimia dan fisik atau dapat disebut juga sebagai Chemically Enhanced Primary Treatment (CEPT) menurut Shewa dan Dagnew (2020), efektif dalam penyisihan suspended solids sebesar 90%; BOD sebesar 50 – 70%; dan COD sebesar 50 – 60%.
- Persentase penyisihan tersebut bervariasi untuk tiap-tiap unit pengolahan.
- Efisiensi performa unit pengolahan primer dipengaruhi oleh waktu detensi, desain tangki, dan kondisi peralatan.
- Waktu detensi pengolahan primer pada umumnya adalah 1.5 – 2.5 jam.
- Adapun waktu detensi dapat dihitung dengan persamaan berikut.
T = \frac{V}{Q}$$
- di mana:
- T = waktu detensi (detik, menit, jam, hari)
- V = volume kapasitas tangki (m3 , gallon, dan lain-lain)
- Q = debit aliran (m3/jam, m3/hari, m3/jam, gal/jam, dan lain-lain)
III. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
- a. Aerator;
- b. Bak penampung;
- c. Bak sedimentasi;
- d. Beaker glass;
- e. DR900 Colorimeter;
- f. Kuvet;
- g. pH meter;
- h. Pipet tetes;
- i. Pompa air;
- j. Tisu;
- k. Turbidimeter
2. Bahan
- a. Air limbah; dan
- b. PAC (Koagulan).
IV. PROSEDUR KERJA
a. Prosedur Perangkaian Alat
- a. Siapkan air limbah dan homogenkan;
- b. Letakkan bak penampung dengan aerator dan pompa air di dalam bak penampung, sediakan juga bak sedimentasi;
- c. Pindahkan air limbah sebanyak 5 L ke dalam bak penampung;
b. Prosedur Pengolahan Primer
- a. Lakukan tahap (IV.c.a) dan (IV.c.d);
- b. Tambahkan 10 mL PAC 1% sebagai tahap awal pengolahan kimia dalam proses koagulasi;
- c. Nyalakan aerator selama 5 menit;
- d. Setelah 5 menit, nyalakan pompa air dan alirkan air limbah ke dalam bak sedimentasi;
- e. Tunggu pengendapan dengan waktu detensi 5 menit;
- f. Lakukan tahap (IV.c.b) dan (IV.c.d);
- g. Tunggu pengendapan kembali dengan waktu detensi 10 menit;
- h. Lakukan tahap (IV.c.c) dan (IV.c.d);
c. Pengujian Parameter
- a. Lakukan pengujian kualitas sampel untuk parameter pH dengan pH meter,