Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Tanah Jawa

Kerajaan Kalingga

  • Kerajaan bercorak Buddha di Jawa Tengah, berdiri sekitar abad VII.
  • I Tsing menyebutnya Ho-ling di Cho-po (Jawa).
  • Raja terkenal: Ratu Sima.
  • Hasil bumi yang diperdagangkan: emas, perak, cula badak, gading gajah.
  • Setelah Ratu Sima wafat, Kalingga terbagi dua:
    • Kalingga utara (Bumi Mataram) di bawah Sanaha (cucu Ratu Sima).
    • Kalingga selatan (Bumi Sambara) di bawah Dewasinga.

Kerajaan Mataram

  • Prasasti Canggal

    • Bait 1: Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung.
    • Bait 2-6: Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu.
    • Bait 7: Pulau Jawa makmur, kaya tambang emas dan padi. Candi Siwa didirikan untuk kebahagiaan penduduk dengan bantuan penduduk Kunjarakunjadesa.
    • Bait 8-9: Pulau Jawa diperintah Raja Sanna yang bijaksana dan adil. Setelah wafat, negara berkabung.
    • Bait 10-11: Raja Sanna digantikan putranya, Sanjaya. Kekuasaan diserahkan melalui kakak perempuannya (Sannaha).
  • Prasasti Mantyasih

    • Bertarikh 828 Saka.
    • Kerajaan Medang dua dinasti: Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra.
    • Wangsa Sanjaya didirikan Sanjaya (Hindu Siwa).
    • Maharaja selanjutnya: Rakai Panangkaran.
    • Wangsa Sanjaya berkuasa di utara Jawa; Wangsa Sailendra di selatan Jawa.
    • Putri Maharaja Samaratungga (Sailendra), Pramodawardhani, menikah dengan Rakai Pikatan (Sanjaya), mewarisi takhta, Wangsa Sanjaya berkuasa kembali.
    • Silsilah Raja berdasarkan Prasasti Mantyasih:
      1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
      2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran
      3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan
      4. Sri Maharaja Rakai Warak
      5. Sri Maharaja Rakai Garung
      6. Dharanindra Samaratungga
      7. Sri Maharaja Rakai Pikatan + Pramodawardhani
      8. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
      9. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
      10. Dyah Balitung
      11. Sri Maharaja Rakai Watukura
      12. Dyah Dharmmodaya Mahasambhu
  • Prasasti Kalasan

    • Terdiri dari 12 baris.
    • Menceritakan izin keluarga Syailendra mendirikan bangunan suci untuk Dewa Tara dan biara bagi pendeta (Candi Kalasan).
    • Baris 2: Bangunan suci untuk Tārā dibuat oleh guru-guru raja Śailendra, setelah memperoleh persetujuan Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana.
    • Baris 3: Bangunan suci untuk Tārā didirikan, dan bangunan untuk bhiksu Mahāyana.
    • Baris 8: Sedekah “bhura” diberikan untuk Sangha oleh “raja yang bagaikan singa” (rājasimha-) oleh raja-raja dari wangsa Śailendra.
  • Prasasti Kelurak

    • Terdiri atas 20 baris.
    • Tahun 704 Syaka (782 M), tulisan pranagari, bahasa Sansekerta.
    • Menyebutkan: Pada tahun 714 Saka, bulan Karttika tanggal 14 Paruh Terang, Jumat, Nas, Pon, Dang Nayaka Dirandalurawa menyempurnakan prasada bernama Wajrasana Manjusrigrha.
    • Penafsiran: Perbaikan dan penyempurnaan bangunan suci agama Buddha (prasada) Wajrasana menyimpan arca Manjusri (pengaruh Buddha Tantrayana), yaitu Candi Sewu.
  • Prasasti Munggu Antan

    • Pilar batu ditemukan di desa Bulus, Purworejo.
    • Sang Pamgat Munggu dan adiknya, Sang Hadyan Palutungan (istri Raja Sang Dewata di Pastika), menetapkan batas desa Munggu Antan sebagai sima untuk wihara di Gusali atas perintah Sri Maharaja Rake Gurunwangi.
    • Penafsiran: Penetapan desa Munggu Antan sebagai desa sima untuk wihara di Gusali, ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Dikeluarkan oleh Sang Pamgat Munggu dan Sang Hadyan Palutungan (istri Rakai Pikatan), atas perintah Sri Maharaja Rake Gurunwangi, bertarikh 808 Saka atau 887 Masehi.
  • Prasasti Tuk Mas

    • Dipahat dengan aksara Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta.
    • Menyebutkan sungai yang mengalir bagaikan Sungai Gangga.
    • Terdapat lukisan alat-alat: kendi, kapak, sangkha, cakra, dan bunga tunjung.
  • Prasasti Sojomerto

    • Berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno (awal abad ke-7).
    • Ditemukan di Desa Sojomerto, Batang.
    • Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa.
    • Dapunta Selendra Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati nama ibunya, Sampula nama istrinya.
    • Penafsiran: Bersifat keagamaan Siwais/Hindu. Memuat keluarga Dapunta Selendra. Prof. Boechari berpendapat bahwa Dapunta Selendra adalah cikal bakal raja-raja Wangsa Sailendra di Kerajaan Mataram Hindu.
  • Sumber Arkeologi

    • Candi Prambanan
    • Candi Borobudur
    • Candi Plaosan
    • Candi Sewu
    • Candi Kalasan
    • Candi Mendut
    • Candi Ratu Boko
    • Candi Sambisari
    • Candi Pawon

Medang Kamulan

  • Prasasti Mpu Sindok/Turryan

    • Berada di Dukuh Watugodeg, Turen, Malang, Jawa Timur.
    • Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa.
    • Dapunta Selendra Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati nama ibunya, Sampula nama istrinya.
    • Penafsiran: Bulan Śrawana tanggal 15 Śuklapaksa tahun 851 Śaka (24 Juli 929 Masehi), Dang Atu pu Sahitya, seorang dari Desa Kulawara, telah memohon kepada Sri Maharaja Rake Hino dyah Sindok Sri Isanawikramadharmatunggadewa (Mpu Sindok) agar diberi hadiah tanah untuk mendirikan suatu bangunan suci. Permohonan itu dikabulkan raja, dan diambilkan sebidang sawah di Desa Turyyan yang menghasilkan pajak emas.
  • Prasasti Pucangan/Kalkuta

    • Prasasti batu dari Jawa Timur (lereng Gunung Penanggungan).
    • Menggunakan dwibahasa Sanskerta dan Kawi, tahun 963 Saka atau 1041 Masehi.
    • Menjelaskan silsilah Raja Airlangga dimulai dari Sri Isyana Tunggawikrama (Mpu Sindok).
    • Sri Isyana Tunggawijaya menikah dengan Sri Lokapala, lahir Sri Makutawangsawardhana.
    • Anak Makutawangsawardhana (Gunapriyadharmapatni/Mahendradatta) menikah dengan Udayana, lahir Airlangga.
    • Airlangga menikah dengan putri raja sebelumnya, keraton terbakar, melarikan diri ke hutan dengan Mpu Narotama.
    • Rakyat dipimpin Brahmana meminta Airlangga menjadi raja.
  • Sumber Arkeologi

    • Pertirtaan/Candi Belahan: Tempat menyimpan abu jenazah Airlangga.

Kahuripan

  • Prasasti Pucangan

    • Sebab-sebab Raja Dharmawangsa Airlangga menetapkan desa Barahem, Pucangan, dan Bapuri menjadi sima untuk pertapaan para resi.
    • Nazar Sri Baginda pada waktu Jawa mengalami pralaya tahun 1017, saat Haji Wura Wari dari Lwaram menyerang istana.
    • Banyak pembesar meninggal, termasuk Sri Maharaja (Dharmawangsa Teguh) yang dicandikan di Dharma Parahyangan di Wwtan.
  • Prasasti Pandan (1042 M)

    • Menyebut nama Sri Samarawijaya Dharmasuparnnawahana Teguh Uttunggadewa dengan gelar Rakryan Mahamantri I Hino.
  • Prasasti Pamwatan (1042 M)

    • Airlangga mengundurkan diri menjadi pendeta.
    • Sebulan kemudian kembali memegang pemerintahan.
  • Prasasti Sindang Rejo (1043).

    • Airlangga menjalankan pemerintahan dengan Sri Sanggramawijaya Dhamoprasdotunggadewi sebagai Rakryan Mahamantri I Hino.
  • Prasasti Turunhyang (1044)

    • Memperingati pemberian anugerah kepada penduduk desa Turun Hyang karena telah membantu Raja Mapanji Garasakan dalam peperangan memisahkan diri dari Haji Pangjalu.

Kediri

  • Prasasti Sirah Keting (1204)

    • Raja Jayawarsa (Raja Kediri) menyebut dirinya cucu anak Sang Apanji Wijaya Mertawardhana, yang kemudian bergelar abhiseka sebagai Raja Sri Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa.
  • Prasasti Malenga (1204)

    • Menceritakan pemberian anugerah status sima kepada desa Malenga, karena penduduk desa tersebut telah membantu raja melawan musuhnya, yaitu Aji Linggajaya dari Tanjung.
  • Prasasti Talan (1136)

    • Raja Jayabhaya menganugerahi desa Talan sebagai sima karena telah menyimpan prasasti ripta (lontar) dari Raja Airlangga.
    • Raja Jayabhaya memerintahkan prasasti lontar tersebut disalin ke prasasti batu (linggopala) dan diberi tambahan anugerah karena warga Talan telah berbakti kepada Paduka Mpungku yang memiliki cap kerajaan lancana Garuda Mukha.
  • Prasasti Hantang (1136)

    • Pañjalu Jayati, berarti Kadiri Menang.
    • Piagam pengesahan anugerah dari raja atas jasa penduduk desa Hantang dengan 12 dukuh yang masuk ke wilayahnya, yang tetap setia kepada kerajaan Kadiri dalam perang melawan kerajaan Janggala.
    • Sri Jayabhaya adalah raja Kadiri yang berhasil mengalahkan Janggala dan menyatukannya kembali dengan Panjalu Kadiri.
  • Prasasti Kamulan (1136)

    • Dibuat oleh Raja Sarweswara Trikramawataranindita Srngga Lancana Dikwijayotunggadewa atau Kertajaya.
    • Cerita mengenai Raja Kertajaya yang tersingkir dari Istana Daha akibat serbuan musuh dari arah timur.
    • Aksi penyerbuan ini terjadi sekitar lima bulan sebelum Prasasti Kamulan dibuat.
  • Karya Sastra

    • Kitab Bharatayudha (1157 M, Mpu Sedah & Mpu Panuluh): Mengisahkan kemenangan Jayabaya atas Janggala, menggambarkan kejayaan Kediri.
    • Kitab Kakawin Hariwangsa & Ghatotkacasraya: Ditulis pada masa Kediri, menggambarkan kehidupan sosial dan kebudayaan saat itu.
    • Kitab Smaradhana (karya Mpu Dharmaja): Menceritakan keagungan Raja Kameswara.
    • Kitab Negarakertagama (1365 M, karya Mpu Prapanca): Menyebutkan Kediri sebagai bagian dari sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa.
    • Kitab Pararaton (abad ke-15 M): Mengisahkan akhir Kerajaan Kediri dan awal berdirinya Singasari.
  • Sumber Luar Negeri

    • Kitab Ling-wai-tai ta oleh Chou Ku Fei (1178)
    • Kitab Chu-fan-chi oleh Chau Ju Kua.
    • Kedua kitab tersebut menyebut Kadiri memiliki hubungan dagang dengan Tiongkok

Singasari

  • Silsilah Singasari

    • Tumapel
      • Tunggul Ametung + Ken Dedes -> Anusapati
      • Ken Arok + Ken Umang -> Tohjaya
      • M. Wongateleng -> Panji Saprang, P. Sudatu, Agni Bhaya, Tuan Wregola, Dewi Rimbu, Dewi Rambi
    • Kediri
      • Kertajaya
    • Singosari
      • Sri Rajasa / Ken Arok -> Jayasabha, Sastrajaya
      • Anusapati -> Tohjaya
      • Jayakatwang terhubung ke peperangan Wisnuwardhana dan Kertanegara melalui Negarakertagama
  • Prasasti Penampihan (1269)

    • Dikeluarkan oleh Kertanegara.
    • Permohonan penduduk Sarwwadharma agar desanya dikeluarkan dari Tanibala dan menjadi desa Swatantra, seperti yang telah diberikan oleh ayahanda sang raja.
    • Permohonan dikabulkan.
  • Prasasti Pakis Wetan (1267)

    • Prasasti tembaga dikeluarkan oleh Raja Kertanegara atas perintah Bhatara Jaya Sri Wisnuwardhana.
    • Dikeluarkan sebagai penghargaan atas diresmikannya Desa Manglya.
  • Prasasti Mulamalurung (1269)

    • Berisi silsilah Kertanegara bahwa ia keturunan Bhatara Parameswara dan Seminingrat.
    • Disebutkan juga raja-raja setelahnya, yaitu Jayakatwang.
  • Kitab Pararaton

    • Diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292).
    • Setengah kitab membahas perjalanan hidup Ken Arok sampai menjadi raja tahun 1222 (cenderung mitologis).
    • Bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah semakin pendek dan bercampur dengan silsilah keluarga kerajaan Majapahit.
  • Sumber Luar Negeri

    • Toponim SINGOSARI hanya ada di kitab Negarakertagama dan kitab Pararaton.
    • Dalam berita Cina disebut TU-MA-PAN (Tumapel).
  • Sumber Arkeologi

    • Candi Jago
    • Candi Kidal
    • Arca Dewi Prajnaparamita
    • Arca Joko Dolok
    • Amogaphasa

Majapahit

  • Prasasti Kudadu (1294)

    • Menyebutkan pemberian anugerah dari Raja Kertarajasa Jayawardhana kepada pejabat Desa Kudadu berupa penetapan Desa Kudadu sebagai sima.
    • Pemberian anugerah tersebut karena mereka telah berjasa membantu Raden Wijaya saat dikejar oleh tentara Jayakatwang dalam peristiwa pemberontakan Jayakatwang kepada Singasari.
  • Prasasti Waringin Pitu (1447)

    • Menyebutkan pemberian anugerah dari Raja Kertarajasa Jayawardhana kepada pejabat Desa Kudadu berupa penetapan Desa Kudadu sebagai sima.
    • Pemberian anugerah tersebut karena mereka telah berjasa membantu Raden Wijaya saat dikejar oleh tentara Jayakatwang dalam peristiwa pemberontakan Jayakatwang kepada Singasari.
  • Kitab Pararaton

    • Diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292).
    • Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja pada tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis.
    • Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.
  • Kitab Negarakertagama

    • Ditulis saat Kerajaan Majapahit masih berdiri dibawah pemerintahan Sri Rajasanagara, atau dikenal juga dengan nama Prabu Hayam Wuruk.
    • Isi Kitab Negarakertagama menguraikan kisah keagungan Prabu Hayam Wuruk dan puncak kejayaan Kerajaan Majapahit.
  • Raja-Raja Majapahit

    • Raden Wijaya
    • Maharani Tribuanatunggadewi Wirakrama Wardhana
    • Sri Jayanegara
    • Hayam Wuruk
    • Suhita
  • Raja-Raja Majapahit Setelah Hayam Wuruk (Pararaton)

    • Hayam Wuruk (1350 - 1389)
    • Wikramawardhana (1389-1400)
    • Suhita (1400-1447)
    • Kertawijaya (1447-1451)
    • Sri Rajasawardhana (1451-1453)
    • Masa Interregnum 1453-1456
    • Bhre Wengkwr Hyang Purwawisesa (1456-1466)
    • Bhre Pandan Salas (1466 – 1468)
    • Bhre Kertabumi (1468-1478)
    • 1478 Majapahit di serang Demak
  • Mahapatih Gajah Mada

    • Sumpah Palapa: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".
    • Gajah Mada menjadi patih mangkubumi, [tetapi] tidak ingin amukti palapa. Gajah Mada [bersumpah], "Jika sudah takluk Nusantara, [maka] aku amukti palapa. Jika [sudah] takluk Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku amukti palapa."
  • Sumber Arkeologi

    • Candi Tikus
    • Gapura Bajang Ratu
    • Candi Brahu
    • Gapura Wringinlawang
    • Kolam Segaran