Typhoid Fever: Comprehensive Study Notes (Salmonella typhi)
Epidemiology and Transmission
- Demam typhoid adalah penyakit infeksi akibat kuman Salmonella sp. yang menyebar melalui makanan dan air terkontaminasi.
- Insidensi global: sekitar 11-21 imes 10^6 kasus per tahun, dengan kematian sekitar 1.28-1.61 imes 10^5 kasus per tahun (WHO, 2020).
- Indonesia memiliki variasi regional dalam beban penyakit; data Riskesdas 2007 menunjukkan variasi prevalensi per 100.000 penduduk di berbagai provinsi.
- Jakarta disebut sebagai kota dengan infeksi menular tinggi dan kematian terkait infeksi yang signifikan dalam konteks menyebarnya demam tifoid.
Epidemiologi regional dan perbandingan
- Pola insiden di Indonesia per 100.000 penduduk (Riskesdas 2007):
- Aceh: 2.96\%
- Bengkulu: 2.58\%
- South Kalimantan (Kalimantan Selatan): 1.95\%
- East Kalimantan: 1.80\%
- Gorontalo: 2.25\%
- Banten: 2.24\%
- West Java: 2.14\%
- Jakarta: 2nd leading infectious disease dengan tingkat mortalitas yang tinggi (peringkat nasional).
- South Sulawesi: 1.80\%
- West Nusa Tenggara: 1.93\%
- East Nusa Tenggara: 2.33\%
- West Papua: 2.39\%
- Prevalensi di Indonesia yang dicatat berkisar sekitar 3.58-8.10 imes 10^2 / 100{,}000 (Riskesdas 2007).
- Global context (2015) menunjukkan variasi risiko infeksi lebih luas di berbagai negara, dengan Jakarta menjadi contoh kota besar di wilayah Indonesia.
Etiologi dan mikrobiologi
- Patogen utama: kuman gram negatif Salmonella enterica subsp. enterica serovar typhi (S. typhi) dan S. paratyphi A, B, C.
- Struktur umum Salmonella bacteria (ringkas):
- Capsule (kusin kapsul)
- Pili
- Cytoplasm, Plasma membrane, Cell wall
- Nucleoid (DNA)
- Ribosomes, Plasmid
- Definisi penting: penyebab utama demam tifoid yang bersifat infeksi sistemik.
Patofisiologi
- Langkah awal infeksi:
- M cell dan tight junction pada Peyer’s patches terpapar S. typhi.
- Peyer's patch ulcer dapat terjadi pada paparan pertama.
- S. typhi kembali masuk ke GI tract pada paparan kedua dan bisa memasuki aliran limfatik.
- Jalur penyebaran: enteroinvasif → multilokal ke kelenjar limfe regional → replikasi di kelenjar limfe → bakteriemia I → bakteriema kedua melalui jalur empedu (gall bladder) menuju usus halus; juga melalui limfatikus → kelenjar limfe regional → pembuluh darah sistemik.
- Penambahan istilah kunci: hyperplasia Peyer’s patches, nekrosis, perdarahan, dan potensi perforasi pada usus halus.
- Komplikasi utama terkait bakteriemia: infeksi pada organ retikuloendotelial (liver, spleen), serta penyebaran ke systemik.
Patofisiologi rinci (aspek klinis dan morfologi)
- Bakteremia tahap I dan II:
- Tahap I: bakteriemia awal tanpa gejala berat tampak lebih halus.
- Tahap II: bakteriemia berlanjut disertai gejala klinis lebih jelas; infeksi empedu dapat berkontribusi pada carriage kronik.
- Gambaran anatomo-morul: nekrosis nekrotik Peyer’s patches, hipertrofi, plak, perdarahan, perforasi berisiko pada fase lanjut (minggu ke-3–ke-4).
Patogenesis dan faktor risiko (ringkas)
- Banyaknya kuman tertelan mempengaruhi peluang terjadinya penyakit:
- $10^3$ kuman: jarang sakit
- $10^5$ kuman: sekitar $25\%$ menjadi sakit
- $10^9$ kuman: sekitar $95\%$ menjadi sakit
- Keasaman lambung (hipoasiditas) serta penggunaan antasida atau antagonis H2 memudahkan infeksi.
Manifestasi klinis: periode illness approach
- Masa inkubasi: #### Typhoid 10–20 hari; Paratifoid 1–10 hari. ####
- Minggu ke-1 (fase demam awal):
- Demam terutama di sore hari, naik bertahap (stepwise)
- Sakit kepala, nyeri otot, malaise, konstipasi atau diare, batuk nonproduktif
- Pada anak bisa terjadi kejang demam dengan suhu sangat tinggi
- Minggu ke-2:
- Apatis, suhu tinggi terus meningkat
- Bradikardia relatif terhadap demam
- Typhoid tongue; hepatomegali dan/atau splenomegali
- Rose spots pada bagian atas abdomen hingga dada (jarang di Indonesia)
- Minggu ke-3:
- Demam kontinu, sangat tinggi
- Gangguan kesadaran (confusion, delirium)
- Diare kuning kehijauan, distensi abdomen
- Komplikasi: pneumonia, miokarditis, perdarahan saluran cerna, perforasi, kematian
- Rose spots dan Typhoid tongue adalah tanda khas yang dapat muncul pada fase tertentu.
Diagnosis
- Diagnosis pasti:
- Kultur darah atau sumsum tulang positif untuk Salmonella
- Kultur tinja/urin juga bisa positif; hasil kultur dapat negatif meskipun demam tifoid ada
- Hasil darah rutin tidak spesifik; pola umum meliputi:
- Hemoglobin normal atau menurun
- Leukopenia ± / lekositosis
- Neutropenia dengan relatif limfositosis
- LED meningkat; trombosit normal atau menurun
Kriteria diagnosis (WHO 2011)
- Kasus Pasti (Confirmed case):
- Demam > 38^ ext{°C} selama > 3 hari
- Kultur positif (darah, sumsum tulang, cairan usus)
- Kasus Probable (Probable case):
- Demam > 38^ ext{°C} selama > 3 hari
- Serologi positif atau adanya antigen
- Kultur tidak dilakukan atau negatif, atau kasus klinis sesuai dengan hubungan epidemiologis dalam suatu epidemis
- Karier kronik (Chronic carrier):
- Salmonella dapat ditemukan di urin/tinja selama ≥ 1 tahun setelah fase akut
- Possible Case: demam, gangguan saluran cerna, pola BAB tidak khas, hepatosplenomegali
- Probable Case (serologi):t{O} ext{ or } t{H} ext{ ≥ } 1/160 ext{ satu kali pemeriksaan}
- Definite Case: Salmonella typhi ditemukan pada kultur atau positif S. typhi pada PCR; atau kenaikan titer Widal 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang (5–7 hari); atau titer Widal O ≥ 320 dan H ≥ 640 yang tetap pada pemeriksaan ulang
Pemeriksaan serologis dan pemeriksaan pendukung
- Widal serologi:
- Antibody O (aglutinin) biasanya terdeteksi sekitar hari 6–8
- Antibody H (flagellar) sekitar hari 8–10
- Keterbatasan: false-positive tinggi; Indonesia daerah endemis; sebaiknya tidak dipakai sebagai satu-satunya dasar diagnosis untuk demam tifoid, meskipun masih bisa dipakai untuk surveilans S. paratyphi
- Pemeriksaan serologis relatif baru: deteksi IgM S. typhi (contoh: Typhidot, Tubex)
- Screening carrier: antibodi Vi; sering dipakai untuk riil di kaum juru masak atau wabah
Perbandingan tes serologis utama
- Widal vs Tubex vs Typhidot:
- Widal: sensitifitas sedang, spesifisitas sedang, sering false positive; cut-off lokal diperlukan di daerah endemis
- Tubex: sangat sensitif, kurang spesifik
- Typhidot/Typhidot-M: sangat sensitif, spesifik lebih baik untuk IgM (Typhidot-M menilai IgM; Typhidot IgG total)
- Waktu pemeriksaan tipikal: O titer sekitar hari 6–8; H titer sekitar hari 8–10
Diagnosis banding (gejala klinis vs pemeriksaan laboratorium)
- Dengue: demam, nyeri otot, trombositopenia, LFT dapat meningkat
- Malaria: demam, kejutan, anemia; pemeriksaan darah tepi untuk plasmodium
- Leptospirosis: demam, ikterus, nyeri otot retroperitoneal
- Hepatitis akut: demam, nyeri perut, ikterus, peningkatan LFT
- Tuberculosis, demam tifoid tinja-infeksi lain, demam sepsis berbagai etiologi
Penatalaksanaan nonmedikamentosa
- Bed rest selama beberapa hari hingga demam mereda; hindari aktivasi berlebihan pada fase awal
- Perkiraan risiko perforasi usus terutama pada minggu ke-3–4; awasi tanda peritonitis
- Monitoring tanda vital dan status klinis secara berkala
Penatalaksanaan medikamentosa: terapi suportif dan terapi antibiotik
- Terapi suportif (symptomatic):
- Paracetamol untuk demam dan nyeri
- Anti-emetik bila mual/mukosa berat
- Terapi nutrisi:
- Karbohidrat: nasi bubur, roti bakar
- Protein: daging empuk (hewani) atau tahu/tempe
- Sayur: kacang panjang, buncis muda, direbus
- Buah: sari buah, buah segar matang tanpa kulit
- Lemak terbatas; minuman encer; gula/garam secukupnya; bumbu secukupnya
Terapi antibiotik: prinsip umum
- Pengobatan sesuai pedoman WHO dan KONAS PETRI 2010
- Penanganan demam tifoid berat bisa diberi kortikosteroid (untuk kasus berat):
- Dosis awal sekitar 3\ ext{mg/kg BB}, dilanjutkan 1\ ext{mg/kg BB setiap 6 jam} selama 3 hari
- Terapi carrier (kronik):
- Amoksisilin atau Ampisilin (sekitar 100\ ext{mg/kg BB/hari}) ditambah probenesid (Benemid) (1 g oral/usia anak ditaksir sesuai berat badan)
- TMP-SMX: 2×960 ext{ mg TMP / 800 mg SMX} selama 6 minggu; sekitar 60% pasien menjadi kultur negatif
- Ciprofloxacin: 2×750 ext{ mg} selama 28 hari atau Norfloxacin 1×400 ext{ mg}
- Kasus ringan (fully sensitive):
- Ciprofloxacin atau Chloramphenicol: dosis sekitar 50-75\ ext{mg/kg/hari}, durasi 14-21 hari (Ciprofloxacin)
- Ofloxacin: sekitar 15\ ext{mg/kg/hari}, durasi 5-7 hari
- Amoxicillin: sekitar 75-100\ ext{mg/kg/hari}, durasi 14 hari
- TMP-SMX: sekitar 8-40\ ext{mg/kg/hari} TMP; durasi 14 hari
- Multi-drug resistant atau alergi/ketidakmampuan:
- Cefixime: 15-20\ ext{mg/kg/hari}, durasi 7-14 hari
- Azithromycin: 8-10\ ext{mg/kg/hari}, durasi 7-14 hari
- Ceftriaxone (Rocephin): 75–100 mg/kg/hari, intravenously, 10–14 hari
- Cefotaxime: 80 mg/kg/hari, 10–14 hari
- Anti-typhoid terapi lanjutan disesuaikan dengan tingkat resistensi daerah
Terapi antibiotik yang lebih spesifik (Konas Petri 2010)
- Daftar antibiotik dan dosis standar (untuk kasus ringan hingga berat):
- Chloramphenicol (Klomfenikol): dosis disesuaikan; efek samping tulang belakang meningkat pada beberapa kasus
- Thiamphenicol: kurang dianjurkan untuk beberapa usia/keadaan; perlu penilaian konteks
- Ampicillin/Amoxicillin: dosis harian sekitar 100 mg/kg/hari; durasi 14 hari
- TMP-SMX: kombinasi berbasis TMP 160 mg + SMX 800 mg per dosis; durasi 14 hari
- Levofloxacin/Norfloxacin/Ciprofloxacin: variasi dosis per berat badan; durasi 7–14 hari atau lebih
- Cefixime/Ceftriaxone/Cefotaxime: alternatif untuk daerah dengan resistensi tinggi
- Azithromycin: opsi alternatif untuk kasus tertentu
Demam tifoid pada kehamilan
- Terapi yang dianjurkan: Ampisilin, Amoksisilin, Ceftriaxone
- Chloramphenicol kontraindikasi pada trimester III
- Thiamphenicol kontraindikasi pada trimester I
- Fluoroquinolones & Cotrimoxazole kontraindikasi pada kehamilan (kebijakan may be vary by trimester)
Komplikasi (organ/ sistem)
- Sistem pencernaan: perdarahan usus, perforasi usus; hepatitis, kolesistitis, pankreatitis
- Jantung: miokarditis dengan tanda takikardia, nadi lemah, hipotensi
- Paru: bronkitis, pneumonia, konsolidasi
- Sistem saraf pusat: konfusi, delirium, gangguan kesadaran, kejang; gangguan perilaku; ensefalitis/ meningitis
- Hematologis: hemolisis pada defisiensi G6PD; DIC
- Ginjal: glomerulonefritis, sindrom nefrotik
- Otot: degenerasi otot, myositis
Pencegahan
- Higienitas dan perilaku hidup bersih: cuci tangan sebelum makan; defekasi yang baik; makanan matang
- Vaksinasi:
- Vivotif (oral live attenuated): kapsul diminum setiap hari selama seminggu; perlindungan 5 tahun; tidak dianjurkan untuk anak < 6 tahun
- Typhim Vi (vaksin suntikan subkapsular): kapsul polisakarida; efektif 2 minggu setelah suntik; bertahan hingga sekitar 2 tahun; dapat diberikan pada anak usia ≥ 2 tahun
Kesimpulan
- Demam typhoid disebabkan Salmonella sp. dengan transmisi oral–fekal yang tinggi.
- Gejala bisa menyerupai infeksi bakteri/virus lain, sehingga dibutuhkan pendekatan diagnosis yang tepat.
- Penatalaksanaan mencakup terapi nonmedikamentosa dan medikamentosa, serta upaya pencegahan melalui higienitas dan vaksinasi.
Referensi dan catatan penting
- Data epidemiologi bersifat regional dan dapat berubah seiring waktu; gunakan sumber epidemiologi terbaru untuk rencana pelayanan kesehatan daerah.
- Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan tingkat resistensi lokal; pedoman WHO dan otoritas nasional (mis. KONAS PETRI) perlu dirujuk untuk dosis yang tepat dan durasi terapi.