Catatan Ringkas MBKM Risert: Ekspresif Writing dan Penerimaan Diri pada Penyintas Kanker Payudara di Solo

Latar Belakang

  • Penyintas kanker payudara mengalami dampak fisik dan psikologis yang signifikan sejak didiagnosis hingga menjalani berbagai pengobatan seperti kemoterapi dan mastektomi.
  • Rendahnya penerimaan diri (self-acceptance) sering dialami penyintas kanker payudara akibat efek fisik dan psikologis penyakitnya.
  • Komunitas Love Living Solo di Solo berperan sebagai wadah dukungan sosial dan ruang aman bagi penyintas, tetapi dukungan sosial saja tidak cukup untuk pemulihan psikologis yang menyeluruh.
  • Hasil asesmen kebutuhan komunitas menunjukkan bahwa penerimaan diri anggota masih rendah meskipun ada dukungan sosial.
  • Ekspresif Writing (penulisan yang menyalurkan perasaan dan pengalaman) telah terbukti efektif meningkatkan kualitas hidup pasca diagnosis kanker secara umum, namun belum ada penelitian khususnya mengenai pengaruhnya terhadap penerimaan diri penyintas kanker payudara.
  • MBKM riset bertujuan menguji efektivitas ekspresif writing terhadap penerimaan diri penyintas kanker payudara di komunitas Love Living Solo.

Tujuan Penelitian MBKM Riset (ringkas)

  • Menguji efektivitas ekspresif writing terhadap penerimaan diri penyintas kanker payudara di komunitas Love Living Solo.
  • Menyampaikan outline penelitian skripsi masing-masing anggota tim.

Gambaran Umum Komunitas dan Konteks Observasi

  • Komunitas Love Living Solo adalah komunitas penyintas kanker payudara berlokasi di Surakarta; memiliki sekitar 400 anggota tersebar di wilayah Solo Raya (Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Wonogiri).
  • Mayoritas anggota berusia 40–50 tahun; latar belakang pendidikan SMA–Perguruan Tinggi; beragam profesi (ibu rumah tangga, dosen, PNS, dokter, dsb).
  • Relawan komunitas terdiri dari sekitar 17 orang (15 penyintas, 2 non-penyintas).
  • Kebutuhan utama berdasarkan asesmen lapangan adalah dukungan psikologis dan penerimaan diri; komunitas rutin mengadakan peringatan Hari Kanker Dunia, ulang tahun komunitas, dan kampanye kesadaran kanker, dengan kolaborasi institusi lain.
  • Anggota mengalami variasi stadium kanker (termasuk metastasis) dan menjalani kemoterapi, sehingga program intervensi perlu sensitif terhadap dinamika psikologis mereka.

Kerangka Konseptual dan Definisi Kunci

  • Ekspresif Writing (EW): intervensi menulis yang menyalurkan perasaan dan mengevaluasi pengalaman traumatis untuk melihatnya dari sudut pandang baru. Komponen EW yang diangkat:
    • Emotional Disclosure: mengungkapkan emosi secara tertulis.
    • Cognitive Appraisal: evaluasi kognitif terhadap pengalaman traumatis.
    • Benefit Finding: menemukan manfaat atau makna dari pengalaman tersebut.
    • Looking to the Future: pandangan masa depan yang lebih positif.
  • Penerimaan Diri (Self-Acceptance): dua konsep utama yang dibahas:
    • Unconditional Self-Acceptance (USA): penerimaan diri tanpa syarat, menerima kekurangan dan kelebihan diri secara utuh.
    • Self-Acceptance (SA): konsep umum penerimaan diri, dengan variasi definisi dalam literatur.
  • Distress Psikologis: kecemasan dan depresi yang dapat muncul pada pasien kanker payudara; diukur dengan Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS).
  • Penerimaan Diri dan Makna Hidup: hubungan antara tingkat penerimaan diri dengan makna hidup (meaning in life) menurut kerangka teori terkait (mis. logoterapi/Viktor Frankl).
  • Strategi Koping: berbasis model Lazarus & Folkman (1984), dengan tiga dimensi utama:
    • Problem-focused coping
    • Emotion-focused coping
    • Less-useful coping
  • Keterkaitan dengan Kesejahteraan Psikologis: kerangka Ryff tentang Psychological Well-Being (PWB) yang mencakup beberapa dimensi kesejahteraan psikologis (autonomy, positive relations, environmental mastery, purpose in life, personal growth, self-acceptance).
  • Aliran etika dan praktik penelitian komunitas: perlindungan identitas peserta, pencegahan triggering, dan pentingnya dukungan saat distress muncul.

Variabel Penelitian dan Instrumen Utama

  • Variabel Independen: Expresif Writing (EW) sebagai konstruk yang terdiri dari empat komponen utama (emotional disclosure, cognitive appraisal, benefit finding, looking to the future).
  • Variabel Dependen: Penerimaan Diri (untuk beberapa tim, fokus utamanya adalah USA sebagai operasionalisasi) serta variasi terkait variabel lain (distress, makna hidup, PWB) tergantung pada skripsi masing-masing anggota.
  • Instrumen utama yang digunakan:
    • Unconditional Self Acceptance Questionnaire (USAQ) yang dikembangkan Chamberland (2001) dan dimodifikasi Yuliastiani (2019). Reliabilitas: Cronbach’s alpha ≈ 0.766; Validitas item sekitar 0.388–0.718.
    • Brief Coping (kriteria inklusi/eksklusi untuk coping) sebagai ukuran strategi kopling.
    • Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) untuk distress psikologis.
    • Ryff’s Psychological Well-Being (PWB) untuk konteks altruisme dan well-being pada relawan (dalam beberapa rencana penelitian).
  • Desain analitis umum:
    • Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasi atau uji perbedaan sesuai fokus skripsi.
    • Teknik analisis utama meliputi uji korelasi Pearson (r) untuk hubungan antar variabel, serta uji t berpasangan (paired-sample t-test) untuk mengukur efektivitas intervensi EW pada desain pretest–posttest tunggal.
    • Analisis dilakukan dengan perangkat lunak Jamovi dan SPSS.
  • Rumus/statistika penting yang relevan:
    • Uji t berpasangan (pretest–posttest):
      t = rac{ar{D}}{s_D / \,\sqrt{n}}
      dimana
    • ar{D} adalah rata-rata selisih antara posttest dan pretest,
    • s_D adalah deviasi standar selisih,
    • n adalah ukuran sampel.
    • Korelasi Pearson:
      r = \frac{\sum (Xi - \bar{X})(Yi - \bar{Y})}{\sqrt{\sum (Xi - \bar{X})^2 \; \sum (Yi - \bar{Y})^2}}
    • Perhitungan ukuran sampel/power dapat diakses melalui G*Power atau kalkulator serupa dengan parameter efek, alpha, dan power (n akhir didasarkan pada analisis power).

Populasi, Sampel, dan Kriteria Inklusi

  • Target populasi: penyintas kanker payudara yang tergabung dalam komunitas Love Living Solo di Solo (Surakarta dan sekitarnya).
  • Kriteria inklusi umum:
    • Sudah bergabung dalam komunitas selama 3–6 bulan.
    • Penyintas kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi dan telah menjalani mastektomi atau metastasis.
    • Berdomisili di Solo dan bersedia mengikuti pelatihan tatap muka.
    • Usia antara 27–60 tahun.
    • Mampu membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan jelas.
    • Belum pernah terlibat dalam kegiatan ekspresif writing sebelumnya.
  • Ukuran sampel (per desain MBKM riset):
    • Minimal 27 peserta berdasarkan perhitungan J Power, kemudian dibulatkan menjadi 35 (atau 64 dalam beberapa rencana anggota) tergantung fokus skripsi.
  • Catatan metodologis penting:
    • Beberapa rancangan menyebutkan 64 sebagai ukuran sampel untuk analisis korelasi antar dua variabel (purposive sampling), namun ada juga diskusi internal terkait realistisitas dan etika sampling.

Rencana Program MBKM Riset (Garis Besar)

  • Timeline: Agustus–Desember dengan eksekusi program 6 sesi.
  • Struktur sesi:
    • Sesi 1: Recognition – pretest, paparan konsep ekspresif writing melalui pendekatan psychoeducation/ceramah, persiapan penulisan.
    • Sesi 2–5: Writing Exercise – empat tema komponen EW (emotional disclosure, cognitive appraisal, benefit finding, looking to the future) yang dibagi ke dalam sesi sesuai tema: emotional discourse; cognitive appraisal; benefit finding; looking to the future.
    • Sesi 6: Feedback + Application to the Self – sesi refleksi melalui Sharing Session dan posttest.
  • Output kegiatan:
    • Worksheets dan instruksi penulisan dengan tema berbeda untuk tiap sesi supaya peserta melihat pengalaman dari sudut pandang yang berbeda.
    • Pertanyaan/panduan yang merujuk pada literatur EW untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang kanker payudara.
  • Observasi lapangan: Lov Living Solo adalah komunitas di Surakarta dengan 400 anggota di wilayah Solo Raya; kebutuhan utama adalah dukungan psikologis dan penerimaan diri; adanya pendampingan dan dukungan komunitas diidentifikasi melalui asesmen kebutuhan.

Rumusan Masalah, Tujuan, dan Metodologi Spesifik Masing-Masing Anggota (Ringkas)

  • Kayla & tim: Hubungan antara strategi coping dan penerimaan diri pada penyintas kanker payudara di Love Living Solo; juga hubungan dengan makna hidup.
    • Rumusan masalah umum: apakah terdapat hubungan signifikan antara strategi coping dan penerimaan diri pada penyintas kanker payudara?
    • Tujuan: mengetahui hubungan antara coping dan penerimaan diri; meningkatkan pemahaman untuk intervensi psikologis.
    • Landasan teori singkat: konsep penerimaan diri (USA) dan teori coping Lazarus & Folkman (1984).
    • Model desain: kuantitatif korelasional; sampel minimal 64 (dan/atau 35 dibulatkan sesuai perhitungan); instrumen utama USAQ dan Brief Coping; analisis korelasi Pearson.
  • Dina & rekan: Hubungan antara penerimaan diri dan Makna Hidup pada penyintas kanker payudara komunitas Love Living Solo.
    • Landasan teori: Unconditional Self-Acceptance; Kebermaknaan Hidup (proc sense of meaning; search for meaning).
    • Desain: korelasi; ukuran sampel serupa; instrumen terkait SA/USA dan skala terkait makna hidup; analisis korelasi.
  • Rizky & tim (Relawan): Auturisme (altruism) dan Psychological Well-Being pada relawan Love Living Solo.
    • Landasan teori: altruism (MEARS 2010); psychological well-being (Ryff, 1989); hubungan potensial antara altruism dan PWB; gap pada literatur.
    • Desain: kualitatif-korelasi (desain campuran) dengan ukuran sampel sekitar 16 subjek untuk korelasi; instrumen: skala kesejahteraan psikologis (adaptasi Ryff) dan instrumen altruism; analisis korelasi Pearson.
  • Penelitian lain (Penerimaan Diri vs Distress Psikologis): Hubungan antara penerimaan diri dan gejala distress psikologis pada penyintas kanker payudara komunitas Love Living Solo.
    • Landasan teori: unconditional self-acceptance; distress psikologis (kecemasan dan depresi) menurut Zigman & Snaith; dua sub-variabel kecemasan & depresi dengan HADS.
    • Desain: kuantitatif korelasi; sampel 64 (atau sesuai kapasitas); instrumen USAC + HADS; analisis korelasi Pearson dan deskriptif.
  • Catatan penting untuk semua anggota:
    • Menekankan keterkaitan erat antara konstruk intervensi EW dengan penerimaan diri tanpa syarat untuk mencapai kebaruan teoritik dan relevansi praktis bagi komunitas.

Observasi Lapangan dan Konten Lokasi

  • Lov Living Solo berlokasi di Surakarta dengan jaringan pendampingan dan kerjasama rumah sakit setempat.
  • Kegiatan rutin komunitas terkait Hari Kanker Dunia, ulang tahun komunitas, dan kampanye kesadaran kanker; dukungan lintas institusi diperlukan untuk memperkaya program intervensi.
  • Kebutuhan utama anggota adalah pendampingan psikologis dan penerimaan diri; anggota baru cenderung mengalami kesulitan menerima diri karena fakta klinis seperti metastasis.

Tinjauan Metodologi, Validitas, dan Etika

  • Validitas konstrak dan operasional: pentingnya konsistensi definisi penerimaan diri (USA) vs SA; definisi konseptual perlu diselaraskan dengan instrumen yang dipakai.
  • Risiko etika dan keamanan:
    • Potensi trigger atau distress pada peserta terkait materi penulisan tentang pengalaman kanker.
    • Perlunya protokol dukungan (fasilitator terlatih, rujukan ke layanan psikolog, dan mekanisme pelaporan jika distress meningkat).
    • Keterbatasan representativitas karena fokus pada satu komunitas saja; potensi eksploitasi partisipan perlu dihindari dengan persetujuan informasi yang jelas.
  • Tantangan desain: jumlah sampel kecil pada beberapa proyek (mis. 16 subjek) dapat membatasi generalisasi; perlunya klarifikasi antara desain korelasional vs kualitatif; pertimbangan tambahan untuk memperluas variasi komunitas jika memungkinkan.
  • Pertanyaan penting untuk klarifikasi konstruk:
    • Apakah fokus utama penelitian adalah unconditional self-acceptance (USA) sebagai konstruk inti atau penerimaan diri secara umum?
    • Apakah EW akan diadaptasi secara menyeluruh untuk menyesuaikan tujuan penelitian (penerimaan diri) dan bagaimana keempat komponen EW saling terkait dengan aspek penerimaan diri secara logis?
    • Bagaimana kriteria “aktif” anggota komunitas didefinisikan secara operasional (mis. keikutsertaan dalam kegiatan, frekuensi keikutsertaan, atau partisipasi aktif membaca/menulis)?
  • Rekomendasi reviewer (intisian):
    • Perlu rekonstruksi konsep dan operasionalisasi untuk pastikan USA sebagai konstruk inti dan hubungan dengan EW jelas.
    • Pertimbangkan perluasan sampel untuk meningkatkan kekuatan statistik (khususnya untuk analisis korelasi dengan ukuran sampel kecil seperti 16).
    • Definisikan dengan jelas variabel bebas (EW) dan variabel terikat (penerimaan diri, makna hidup, distress, PWB) pada setiap skripsi.
    • Pastikan desain MBKM (4 sesi EW vs 2–4 hari) realistis dan memberi waktu untuk proses internalisasi perubahan sehingga perubahan pada penerimaan diri dapat terobservasi.
    • Susun ulang kerangka intervensi EW agar selaras dengan tujuan penerimaan diri tanpa syarat (USA) dan hindari over-promising capaian (contoh: unconditional acceptance) dalam waktu singkat.

Rencana Perbaikan dan Langkah Ke Depan

  • Klarifikasi definisi konstrak: tentukan apakah fokus utama adalah USA (unconditional) atau SA/konsep penerimaan diri secara umum, lalu sesuaikan instrumen dan pertanyaan penelitian.
  • Konsolidasikan 4 komponen EW agar saling melengkapi dalam kerangka penerimaan diri; tetapkan bagaimana tiap komponen berkontribusi terhadap tiga/empat dimensi penerimaan diri yang relevan.
  • Perkuat desain penelitian dengan: (a) definisi operasional yang tegas, (b) pemilihan instrumen yang konsisten, (c) rencana analisis yang sesuai dengan ukuran sampel, (d) rencana mitigasi risiko etika dan distress peserta.
  • Kembangkan rencana perluasan sampel: jika memungkinkan, tambahkan komunitas serupa lain untuk meningkatkan variabilitas sampel dan kekuatan analisis korelasi.
  • Tekankan ethical safeguards: prosedur dukungan psikologis jika peserta mengalami distress, serta protokol keamanan data dan privasi.

Struktur Proposal (Personil dan Peran Ringkas)

  • Kayla: fokus pada hubungan strategi coping dengan penerimaan diri (dan kaitannya dengan makna hidup).
  • Dina: fokus pada hubungan penerimaan diri dengan makna hidup; landasan teorinya dan desain correlational.
  • Rizky (dan rekan): fokus pada auturisme/relawan dan kesejahteraan psikologis; penggunaan Ryff PWB serta alat ukur altruism; desain korelasi dengan sampel relawan.
  • Anggota lain (disampaikan dalam sesi): fokus pada hubungan penerimaan diri dengan distress psikologis pada penyintas kanker payudara; desain kuantitatif dengan HADS; analisis korelasi.
  • Semua tim perlu merapikan narasi konseptual dan kaitan antara EW dengan penerimaan diri secara konsisten di seluruh proposal skripsi.

Catatan Teknis dan Dokumentasi

  • Format LaTeX untuk rumus utama telah dicantumkan di atas untuk tatanan laporan: t-test berpasangan dan korelasi Pearson.
  • Perlu dilampirkan diagram hubungan konstruk (mis. gambar keterkaitan EW dengan penerimaan diri) pada slide PPT untuk memperjelas alur sebab-akibat dan interpretasi.
  • Pastikan semua referensi konsep (USA, SA, EW, HADS, Ryff PWB, Lazarus & Folkman coping) terhubung dengan jelas pada bagian tinjauan pustaka dan operasionalisasi variabel.
  • Pertahankan konsistensi bahasa dan terminologi (USA vs SA vs penerimaan diri) di seluruh bagian proposal dan skripsi.

Ringkasan Akhir

  • Proyek MBKM riset ini berupaya mengintegrasikan intervensi ekspresif writing dengan konteks komunitas penyintas kanker payudara di Solo untuk meningkatkan penerimaan diri. Tulang punggungnya adalah konstruk EW (empat komponen) dan USA sebagai operasional penerimaan diri, dengan desain pretest–posttest untuk menguji dampak EW serta analisis korelasi antar variabel untuk beberapa fokus skripsi.
  • Tantangan utama meliputi definisi konstrak yang konsisten, ukuran sampel yang memadai, kebutuhan etika dan keamanan peserta, serta kejelasan bagaimana EW secara praktis akan membantu penerimaan diri tanpa menjanjikan perubahan yang tidak realistis.
  • Diskusi dengan reviewer menyoroti perlunya klarifikasi definisi konseptual, pilihan instrumen, serta desain penelitian yang lebih kuat secara metodologis, termasuk pertimbangan perluasan sampel dan definisi “aktif” yang lebih objektif.

Instrumen Kunci (Ringkas)

  • USAQ (Unconditional Self-Acceptance Questionnaire) – reliabilitas α ≈ 0.766; validitas item ≈ 0.388–0.718.
  • Brief Coping Scale (BCS) – ukuran strategi coping (problem-focused, emotion-focused, less-useful).
  • HADS – 14 item untuk mengukur kecemasan dan depres didalam distress psikologis.
  • Ryff’s Psychological Well-Being (PWB) – enam dimensi untuk kesejahteraan psikologis pada relawan (opsi terkait altruisme).
  • Variabel tambahan sesuai fokus skripsi: makna hidup, distress, dan dimensi penerimaan diri (USA) sebagai variabel utama/pendamping.

Referensi Kunci yang Dirujuk Secara Internal (Ringkas)

  • Lazarus & Folkman (1984) – coping framework.
  • Chamberland (2001) + Yuliastiani (2019) – USAQ sebagai alat ukur penerimaan diri tanpa syarat.
  • Viktor Frankl (logotherapy) – makna hidup sebagai kerangka kebermaknaan hidup.
  • Ryff (1989) – Psychological Well-Being (PWB).
  • Zigman & Snaith – HADS untuk distress (kecemasan & depresi).
  • Penggunaan power analysis (G*Power) untuk penentuan ukuran sampel.

Penutup

  • Proposal MBKM riset ini memiliki potensi untuk memberi kontribusi praktis bagi intervensi psikologis pada penyintas kanker payudara di komunitas lokal dengan pendekatan yang berfokus pada penerimaan diri melalui EW. Namun, perlu penyesuaian konsep, definisi konstrak, dan desain metodologis agar hasilnya valid, reliabel, dan etis.