Catatan Kuliah: Fisika Elektromagnetik, Optika Fisis, dan Fenomena Kuantum
Analisis Kawat Konduktor Elips dan Medan Magnetik Biot-Savart
Geometri Kawat Konduktor: Sebuah kawat konduktor berbentuk elips diletakkan pada bidang x−y dengan persamaan kurva:
a2x2+b2y2=1
Dimana a adalah panjang semi-mayor dan b adalah panjang semi-minor.
Definisi Fokus Elips: Titik F dan F′ adalah titik fokus kurva elips yang memenuhi hubungan:
r′+r=2a
Arus Listrik: Kawat dialiri arus konstan I yang berarah berlawanan arah jarum jam (counter-clockwise).
Eksentrisitas (\varepsilon):
* Didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak titik asal O ke titik fokus F (panjang fokus) dengan panjang sumbu mayor.
* Nilai eksentrisitas dalam parameter elips adalah:
ε=aa2−b2
Persamaan Elips dalam Koordinat Polar (r, \theta):
* Dengan pusat di titik fokus F, persamaan elips dinyatakan sebagai:
r(θ)=1+εcos(θ)a(1−ε2)
Aplikasi Persamaan Biot-Savart:
* Medan magnetik pada titik fokus F oleh segmen kawat infinitesimal dl adalah:
dB=4πμ0Ir2dlsin(α−θ)
* Vektor medan magnet berarah keluar bidang kertas.
* α adalah sudut yang dibentuk oleh vektor singgung dl terhadap sumbu x.
Medan Magnetik Total di Titik F:
* Besar medan magnetik total dihitung dengan mengintegrasikan kontribusi seluruh segmen kawat elips. Hasil akhir dinyatakan dalam parameter μ0, I, a, dan b.
Dinamika Partikel dalam Bubble Chamber dengan Gaya Gesek
Parameter Partikel: Partikel memiliki muatan spesifik α=mq. Masuk ke dalam Bubble Chamber yang memiliki medan magnet statik seragam.
Kondisi Medan dan Kecepatan:
* Kecepatan awal: v0=v0j^
* Medan Magnet: B=−Bi^
* Gaya eksternal lain: F=−(αBv)k^
Gaya Gesek Udara: Gaya hambat dinyatakan sebagai Ff=−kv, dengan k konstanta positif.
Persamaan Percepatan:
* Dinyatakan menggunakan frekuensi siklotron ω0=αB dan koefisien redaman γ=mk.
* Komponen percepatan melibatkan variabel kecepatan vy dan vz.
Solusi Kecepatan:
* vy(t)=ept[A1cos(ω0t)+A2sin(ω0t)]
* vz(t)=ept[A2cos(ω0t)+A4sin(ω0t)]
* Konstanta p,A1,A2,A3,A4 ditentukan berdasarkan syarat batas dan hukum Newton.
Analisis Lintasan:
* Jika γ=0 (tanpa gesekan), lintasan berupa lingkaran dengan jari-jari R0=ω0v0.
* Adanya gesekan menyebabkan lintasan berbentuk spiral ke dalam.
Data Numerik Kasus Spiral:
* Setelah 2 putaran penuh, jari-jari kelengkungan berkurang 2% dari nilai awal.
* Jika medan magnet dimatikan, partikel menempuh jarak L=30cm sebelum berhenti.
* Diketahui α=103C/kg dan B=10−2T. Nilai v0 dapat ditentukan dari data ini.
Karakteristik Rangkaian RLC dalam Kondisi AC dan Transien
Kondisi Saklar K Tertutup (Daya Aktif):
* Sistem terhubung sumber arus AC dengan amplitudo konstan dan frekuensi variabel.
* fm: Frekuensi saat daya aktif maksimum.
* Δf: Lebar pita (bandwidth) frekuensi di mana daya aktif bernilai setengah dari maksimum (f+−f−).
* Rasio Δffm adalah parameter kualitas rangkaian.
Kondisi Saklar K Dibuka (Transien Ideal):
* Sesaat setelah dibuka (t=t0), arus pada induktor adalah i10=0,1A dan i20=0,2A.
* Tegangan pada kapasitor u1=40V.
* Parameter yang dicari: frekuensi osilasi rangkaian, arus pada kawat A-B saat t0, dan amplitudo arus pada L1.
Medan Magnetik dan Vektor Potensial pada Keping Semi-Tak Hingga
Konfigurasi Sistem: Dua keping semi-tak hingga sejajar, terpisah jarak 2d (pada y=d dan y=−d), membentang pada interval −∞<x≤0.
Vektor Potensial (\vec{A}): Menentukan distribusi vektor potensial dari sistem arus yang bergantung pada posisi (x,y).
Medan Magnetik (\vec{B}): Dihitung di seluruh ruang menggunakan hubungan B=∇×A.
Fluks Magnetik:
* Fluks per satuan panjang melalui permukaan melintang di x=0.
* Fluks per satuan panjang yang melalui masing-masing keping.
Garis Medan Magnetik: Jika garis medan melalui (0,y1) dengan 0<y1<d, koordinat y pada x=−∞ dihitung berdasarkan kekekalan fluks.
Induktansi Bersama dan Efek Induksi pada Loop Dekat Kawat Panjang
Sistem: Sebuah loop lingkaran (jari-jari a, konduktivitas σ, luas penampang A) berada pada jarak D dari kawat lurus sangat panjang berarus I(t).
Parameter Loop:
* Induktansi Bersama (M): Menghitung keterkaitan fluks antara kawat dan loop.
* Resistansi (R): Dihitung dari geometri loop dan konduktivitas material.
Respon Terhadap Arus DC Langkah:
* Jika arus dinyalakan tiba-tiba di t=0, muncul arus induksi transien dalam keadaan short circuit.
* Jika arus yang sudah lama mengalir dimatikan tiba-tiba, terjadi peluruhan arus induksi.
Loop Bergerak: Loop bergerak dengan laju radial vr=dtdr. Tegangan induksi ditentukan untuk kondisi short circuit dan open circuit.
Gaya Magnetik: Menentukan gaya total yang bekerja pada loop saat mengalirkan arus i.
Optika Fisis: Interferensi Celah Banyak dan Difraksi
Sistem Empat Celah:
* Lebar celah w, jarak antar celah d=3w.
* Cahaya monokromatik λ menabrak celah, membentuk pola gelap-terang pada layar sejauh L.
* Beda Fase (\delta): Relatif terhadap celah teratas, δ=λ2πdsin(θ).
* Resultan Medan Listrik (E_{tot}): Dihitung menggunakan superposisi medan dari setiap celah.
* Intensitas (I): Berbanding lurus dengan kuadrat medan listrik (I=kEtot2).
Efek Difraksi dan Interferensi:
* Menentukan posisi garis gelap (y) pada layar.
* Perbandingan intensitas maksimum sekunder terhadap intensitas pusat.
* Identifikasi orde interferensi yang diredam oleh difraksi (titik hilang).
Sistem Celah Tak Hingga: Ukuran celah mengecil secara progresif namun jarak pusat tetap d. Efek difraksi diabaikan jika a≪d.
Fenomena Optik pada Lensa Plan Paralel dan Sistem Tumpuk
Lensa Tunggal: Ketebalan d, indeks bias n. Cahaya datang dipantulkan di permukaan atas dan bawah.
* Beda fasa antara berkas pantulan langsung dan berkas pantulan dalam ditentukan oleh 2ndcos(r).
Lensa Bertumpuk: Lensa dengan indeks bias m diletakkan di atas lensa n.
* Cahaya mengalami pembiasan ganda di batas medium m−n.
* Hubungan sudut bias: mcos(r1)=ncos(r2).
* Analisis pola gelap-terang bergantung pada apakah m>n atau m<n.
F-number (F#): Rasio panjang fokus terhadap diameter apertur (F# = f/D).
Resolusi Batas Difraksi: Ditentukan oleh kriteria Rayleigh, berbanding lurus dengan λ dan F#.
Matching Resolution: Menghitung jumlah megapiksel ideal agar kualitas gambar tidak dibatasi oleh optik.
Resolusi Mata Manusia: Diperkirakan 2arcmin (2.91×10−4rad).
Pencetakan: Printer standar menggunakan resolusi 300dpi (1inch=25.4mm). Menentukan jarak pandang minimal agar titik piksel tidak terlihat.
Dispersi pada Prisma dan Kisi Difraksi
Medium Dispersif: Indeks bias bergantung pada panjang gelombang: n(λ)=a+λ2b.
Sistem Dua Prisma: Dua prisma diletakkan bersinggungan.
* Menentukan panjang gelombang λ0 yang lewat tanpa pembiasan pada antarmuka tertentu.
* Sudut deviasi minimum untuk λ0.
Kisi Difraksi: Menggunakan metode vektor (fasor) untuk menjumlahkan amplitudo dari N celah.
* Amplitudo resultan: A=asin(β)sin(Nβ), dengan β=λπdsin(θ).
* Separasi angular untuk spektrum ganda (seperti garis D natrium): Δθ=dcos(θ)nΔλ.
Polarisasi Cahaya, Bola Poincare, dan Fase Pancharatnam
Eksperimen Dua Berkas: Berkas cahaya melewati celah ganda dalam kondisi polarisasi tertenrtu.
Quarter Wave Plate (QWP): Mengubah polarisasi linier menjadi sirkuler.
* E1=21[i^E0cos(ωt)+j^E0sin(ωt)]
Representasi Bola Poincare:
* Lintasan polarisasi pada bola dengan radius satuan.
* Garis lintang (2ϵ) menyatakan eliptisitas: tan(ϵ)=semi-minor/semi-mayor.
* Garis bujur (2ψ) menyatakan orientasi sudut polarisasi.
* Fase Pancharatnam: Beda fase α yang muncul akibat perubahan status polarisasi dalam siklus tertutup. Hubungan geometri menyatakan α berkaitan dengan luas area S dari segitiga pada permukaan bola Poincare.
Dasar-Dasar Superkonduktivitas dan Efek Josephson Junction
Weak Coupling: Dua superkonduktor dipisahkan oleh isolator tipis atau logam biasa.
Fenomena Tunneling: Arus dapat mengalir tanpa beda potensial (Efek Josephson DC).
Hubungan Arus-Fase: Arus melalui junction adalah I=Icsin(ϕ), di mana ϕ=ϕ2−ϕ1 adalah perbedaan fase antara dua fungsi gelombang superkonduktor.
Kondisi Arus Kritis (I_c):
* Jika I<Ic, tidak ada tegangan (V=0), resistansi nol.
* Fase akan terdorong menuju nilai tetap yang memenuhi persamaan sinus.