Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Perjuangan Mewujudkan Negara Kesatuan

Pembentukan Kemerdekaan dan Pelaksanaan Proklamasi Indonesia

  • Penyerahan Jepang kepada Sekutu:

    • Pada tanggal 1515 Agustus, pukul 12.0012.00 waktu Tokyo, Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada pihak Sekutu.

    • Berita penyerahan ini didengar oleh golongan muda yang segera mendesak Sukarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

  • Perbedaan Pendapat Golongan Tua dan Muda:

    • Golongan Tua (Sukarno, Hatta, dll.): Awalnya meragukan berita penyerahan tersebut. Sukarno berpendapat bahwa jika berita itu benar, pelaksanaannya harus melibatkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang ia ketuai bersama Hatta sebagai wakil.

    • Golongan Muda (Sukarni, Syahrir, dll.): Menuntut agar kemerdekaan merupakan murni usaha bangsa Indonesia sendiri, bukan pemberian dari pihak Jepang.

  • Peristiwa Rengasdengklok:

    • Terjadi pada tanggal 1616 Agustus, mulai subuh hingga sore hari.

    • Golongan muda melakukan pengungsian terhadap Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok dengan tujuan mengamankan mereka dari pengaruh Jepang.

    • Tindakan ini sangat krusial dalam mempercepat proses lahirnya proklamasi pada tanggal 1717 Agustus 19451945.

  • Makna Proklamasi Kemerdekaan:

    • Menandai berakhirnya era penjajahan dan dimulainya era kebebasan bagi bangsa Indonesia.

    • Melenyapkan segala bentuk tekanan politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari pihak asing.

    • Berfungsi sebagai "jembatan emas" atau batas nyata menuju masyarakat baru yang mandiri dalam menentukan jalan hidupnya.

    • Merupakan tonggak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kehidupan Politik Dan Perjuangan Pengakuan Kedaulatan Negara

1. Sidang PPKI I (18 Agustus 1945)
  • Keputusan Strategis:

    • Pengesahan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang kemudian populer disebut Undang-Undang Dasar 19451945.

    • Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden: Atas usulan Otto Iskandardinata, Sukarno dan Hatta dipilih secara aklamasi.

    • Pembentukan Komite Nasional: Komite ini dibentuk untuk menjalankan fungsi legislatif sementara sebelum terbentuknya DPR.

2. Sidang PPKI II (19 Agustus 1945)
  • Pembentukan Panitia Kecil: Sukarno menunjuk Ahmad Subarjo, Sutarjo Kartohadikusumo, dan Kasman Singodimejo.

  • Pembagian Wilayah: Indonesia dibagi menjadi 88 provinsi, yaitu:

    1. Sumatra

    2. Jawa Barat

    3. Jawa Tengah

    4. Jawa Timur

    5. Sunda Kecil (Nusa Tenggara)

    6. Sulawesi

    7. Kalimantan

    8. Maluku

  • Koreksi terhadap BPUPKI: Pembagian ini berbeda dengan rancangan BPUPKI yang menyertakan Semenanjung Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, dan Irian secara keseluruhan. Pertimbangannya adalah:

    • Pesan Terauchi di Dalat agar tidak memasukkan wilayah jajahan Inggris guna menghindari konflik militer karena posisi Jepang yang hampir kalah.

    • Menghindari konflik diplomatik dengan pihak Inggris dan Portugis.

    • Prinsip bangsa Indonesia yang tidak ingin melakukan penjajahan terhadap bangsa lain setelah lepas dari penjajahan.

  • Pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP):

    • Rapat di Jalan Gambir Selatan (Merdeka Selatan) melibatkan tokoh seperti Sukarno, Hatta, Mr. Sartono Suwirjo, Otto Iskandardinata, Sukarjo Wirjopranoto, dr. Buntaran, Mr. A.G. Pringgodigdo, Sutarjo Kartohadikusumo, dan dr. Tajuluddin.

    • Keanggotaan disepakati sebanyak 6060 orang.

    • Fungsi KNIP: Sebagai pembantu presiden sebelum terbentuknya MPR dan DPR.

  • Pembentukan Departemen: Menetapkan 1212 departemen dan 11 menteri negara dalam kondisi darurat sebagai formalitas administratif.

  • Pertahanan Negara:

    • Menolak rencana pembelaan negara dengan unsur politik perang.

    • Membubarkan tentara PETA di Jawa dan Bali karena status hukum internasionalnya yang tidak pasti sebagai bentukan Jepang.

    • Presiden mengundang tokoh militer untuk membentuk tentara kuat, yang melahirkan Tentara Republik Indonesia (TRI), bersumber dari eks-PETA dan HEIHO.

3. Sidang PPKI III (22 Agustus 1945)
  • Pertemuan dipimpin oleh Hatta di Gedung Kebaktian Rakyat Jawa (Gambir Selatan). Hasilnya:

    1. Penetapan KNIP sebagai badan yang berfungsi sebagai Pusat Dewan Perwakilan Rakyat hingga pemilu, disusun dari tingkat pusat hingga daerah.

    2. Pencanangan PNI (Partai Nasional Indonesia) sebagai partai tunggal negara, namun kemudian dibatalkan karena:

      • PNI tidak ingin dianggap sebagai manifestasi PPKI semata.

      • Sistem partai tunggal identik dengan komunisme; Indonesia menghindari hilangnya simpati dari Amerika Serikat yang demokratis demi mempermudah pengakuan internasional.

    3. Pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat) sebagai penjaga keamanan umum di tiap daerah.

Perkembangan KNIP dan Perubahan Sistem Pemerintahan

  • Perubahan Jumlah Anggota KNIP: Dari 6060 orang bertambah menjadi 136136 orang. Diumumkan tanggal 2525 Agustus dan dilantik tanggal 2929 Agustus.

  • Keppres No. "X" (16 Oktober 1945): Memberikan kekuasaan legislatif kepada KNIP untuk ikut serta menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

  • Maklumat Politik (3 November 1945):

    • Didesak oleh Sutan Syahrir (Ketua Badan Pekerja KNIP) dan ditandatangani oleh Wakil Presiden Hatta.

    • Berisi dorongan pembentukan partai-partai politik untuk mewadahi aliran ideologi masyarakat sebelum pemilihan umum Januari 19461946.

    • Dampaknya muncul partai baru seperti: PNI, PKI, PBI, Partai Katolik, Partai Kristen, dan Partai Rakyat Sosialis.

  • Rapat Pleno KNIP (25-26 November 1945):

    • Membahas kedudukan Komite Nasional, pembentukan partai, politik luar/dalam negeri, dan perubahan susunan pemerintahan.

    • Perubahan Sistem: Mengubah sistem pemerintahan Indonesia dari Presidensiil menjadi Parlementer. Ini dicatat sebagai bentuk penyimpangan pertama terhadap UUD 19451945.

Perjuangan Bersenjata Melawan Sekutu (AFNEI)

  • Pimpinan Militer: Menteri Keamanan Rakyat, Supriyadi, tidak aktif sehingga digantikan oleh Moh. Sulyoadikusumo. Kolonel Sudirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR pada 1818 Desember 19451945.

  • Kedatangan AFNEI (Allied Forces For Netherlands East Indies):

    • Tiba tanggal 2929 September 19451945 dipimpin Letjend Sir Phillip Christison (Tentara Gurka).

    • Tugas AFNEI: Menerima penyerahan Jepang, melucuti senjata, memulangkan tentara Jepang, membebaskan tawanan perang (internees/APWI), menjaga ketertiban, dan mengadili penjahat perang.

  • Distribusi Divisi AFNEI:

    • Divisi India 23: Pimpinan Majend D.C. Hawthorn (Barat/Jakarta, 2929 September 19451945).

    • Divisi India 5: Pimpinan Majend Mansergh (Timur/Surabaya, 99 November 19451945).

    • Divisi India 26: Pimpinan Majend Chambers (Sumatra/Medan).

    • Kekuatan: Tiap divisi terdiri dari 24.00024.000 prajurit (11 Brigade = 6.0006.000 prajurit).

  • Konflik Daerah Utama:

    • Surabaya: Kedatangan Brigjend Mallaby (2525 Oktober 19451945) berujung pada Pertempuran 1010 November 19451945. Melibatkan tokoh pemuda Sutomo (Bung Tomo).

    • Ambarawa/Magelang: Brigjend Bethell tiba 2020 November 19451945. Letkol Isdiman gugur, digantikan Kolonel Sudirman yang menggunakan taktik "Sapit Urang" dalam Palagan Ambarawa.

    • Bandung: Dipimpin Brigjend Mac. Donald (Oktober 19451945). Berujung pada peristiwa "Bandung Lautan Api". Tokoh Muhammad Toha dan Ramdan gugur meledakkan gudang mesiu Belanda di Dayeuhkolot.

    • Medan: Brigjend T.E.D. Kelly tiba 99 Oktober 19451945. Terjadi peristiwa "Medan Area" yang dipimpin Ahmad Tahir.

Perjuangan Diplomasi: Linggarjati dan Renville

1. Persetujuan Linggarjati
  • Awal Negosiasi: Dimulai 1010 Februari 19461946. Penengah: Sir Archibald Clark Kerr (Inverchapel). Pihak Belanda (Van Mook) menginginkan bentuk Federasi Commonwealth di bawah Belanda dengan masa peralihan 1010 tahun.

  • Respon Sukarno (12 Maret 1946): Menuntut pengakuan kedaulatan penuh atas eks-Hindia Belanda, penarikan tentara Belanda, dan penghentian aksi militer.

  • Puncak Linggarjati (15 November 1946): Indonesia diwakili Sutan Syahrir, Belanda oleh Schermerhorn, penengah Lord Killearn.

  • Isi Perjanjian:

    1. Pengakuan de facto atas Jawa, Sumatra, dan Madura.

    2. Pembentukan Negara Indonesia Serikat (NIS) pada 11 Januari 19491949.

    3. NIS masuk dalam Uni Indonesia-Belanda di bawah Ratu Belanda.

  • Kontroversi Domestik: Muncul "Benteng Republik Indonesia" (PNI, Masyumi, Persatuan Perjuangan) yang menolak karena menginginkan kemerdekaan 100%100\%. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 66 (29 Desember 19461946) untuk menambah anggota KNIP dari 200200 menjadi 514514 orang agar perjanjian bisa diratifikasi (disahkan 2525 Maret 19471947).

2. Agresi Militer Belanda I
  • Belanda menuntut pembentukan pemerintahan federal sementara dan Gendarmerie (pasukan keamanan gabungan) masuk ke wilayah RI.

  • PM Amir Syarifuddin menolak tuntutan ini pada 1717 Juli 19471947.

  • Belanda meluncurkan Agresi I pada 2121 Juli 19471947. Dunia internasional bereaksi; PBB memerintahkan gencatan senjata pada 44 Agustus 19471947.

3. Persetujuan Renville
  • PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN): AS (Dr. Frank Graham), Belgia (Paul Van Zeeland), Australia (Richard Kirby).

  • Isi Perjanjian (17 Januari 1948):

    • Belanda berkuasa hingga RIS terbentuk.

    • RI sejajar dengan Belanda dalam Uni.

    • Batas wilayah menyusut mengikuti "Garis Van Mook".

    • Tentara RI harus hijrah dari daerah pendudukan Belanda.

  • Dampaknya: Kabinet Amir Syarifuddin jatuh; muncul pemberontakan PKI Madiun.

Agresi Militer II dan Perjuangan Rakyat

  • Serangan ke Yogyakarta (19 Desember 1948): Belanda menawan Sukarno-Hatta.

  • Respon Pemerintah:

    • Mandat kepada Syafruddin Prawiranegara membentuk PDRI di Bukittinggi.

    • Mandat cadangan kepada Mr. AA. Maramis dkk. di India.

    • Jendral Sudirman memimpin perang gerilya.

  • Serangan Militer Terkenal:

    • Serangan Umum 11 Maret 19491949 di bawah pimpinan Letkol Suharto.

    • Serangan Kota Solo (Agustus 19451945) dipimpin Slamet Riyadi.

  • Resolusi PBB (24 Januari 1949): Menuntut penghentian permusuhan dan pembebasan pimpinan RI.

Konflik Internal: Pemberontakan PKI Madiun

  • Pasca Renville, Amir Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) sebagai oposisi.

  • Kedatangan Muso (Moskow): Memperkuat agitasi. Tanggal 1818 September 19481948 memproklamasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun.

  • Penumpasan: Dilakukan oleh A.H. Nasution dkk. Muso tewas tertembak dan Amir dihukum mati.

  • Signifikansi: Menunjukkan kepada Barat (khususnya AS) bahwa Indonesia anti-komunis, sehingga bantuan Marshall Plan ke Belanda diancam akan dihentikan jika Belanda tidak berdamai dengan Indonesia.

Persetujuan Roem-Royen dan Konferensi Meja Bundar (KMB)

1. Roem-Royen (14 April 1949)
  • Delegasi: Moh. Roem (RI) dan J.H. Van Royen (Belanda). Penengah: UNCI (pengganti KTN).

  • Hasil: Ibukota kembali ke Yogyakarta, pembebasan tahanan politik, dan persiapan KMB.

  • Kejadian penting: Sukarno-Hatta kembali ke Yogya 66 Juli 19491949. Gencatan senjata diumumkan 33 Agustus 19491949, meski bentrokan kecil tetap terjadi hingga Oktober.

2. Persiapan KMB dan BFO
  • Pendekatan terhadap BFO (negara bentukan Belanda) untuk membentuk front bersama. RI (Hatta) dan BFO (Sultan Hamid II) menyepakati APRIS sebagai angkatan perang nasional dengan inti TNI.

3. Pelaksanaan KMB di Den Haag (23 Agustus - 2 November 1949)
  • Delegasi: Hatta (RI), Sultan Hamid II (BFO), Maarseveen (Belanda), Chritchley (UNCI).

  • Debat Utama: Masalah hutang Hindia Belanda dan bentuk Uni.

  • Hasil KMB:

    1. Penyerahan kedaulatan kepada RIS akhir Desember 19491949.

    2. Masalah Irian Barat ditunda 11 tahun.

    3. Pembubaran KNIL dan masuknya anggota KNIL ke APRIS.

    4. Misi militer Belanda melatih APRIS.

  • Realisasi: Sukarno dilantik sebagai Presiden RIS (1717 Desember 19491949). Penyerahan kedaulatan dilaksanakan 2727 Desember 19491949 di Ruang Tahta Amsterdam.

Upaya Kembali Menjadi Negara Kesatuan (NKRI)

  • Struktur RIS: Terdiri dari 77 negara bagian (RI, Sumatra Selatan, Jawa Timur, Indonesia Timur, Pasundan, dll.) dan 99 satuan kenegaraan (Kalimantan Barat, Riau, Belitung, dll.).

  • Kabinet RIS: Merupakan Zaken Kabinet (Kabinet ahli). Perdana Menteri: Moh. Hatta. Menteri Pertahanan: Sultan Hamengkubuwono IX.

  • Penyebab Keruntuhan RIS:

    • Rakyat tidak mendukung negara boneka.

    • Sistem federal dianggap alat pecah belah Belanda.

    • Rongrongan militer seperti APRA (Westerling), Andi Aziz (Makassar), dan RMS (Soumokil).

  • Proses Penyatuan:

    • 88 Maret 19501950: Pemerintah RIS mengeluarkan UUD Darurat.

    • 55 April 19501950: Hanya tersisa 33 negara bagian (RI, NIT, NST).

    • 1919 Mei 19501950: Kesepakatan Hatta (RIS) dan Abdul Halim (RI) untuk membentuk negara kesatuan.

    • 1515 Agustus 19501950: Pengesahan UUDS 19501950.

    • 1717 Agustus 19501950: RIS resmi dibubarkan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia resmi berdiri kembali.