Modul 1_Laringoskopi Indirek dan Teknik Pemeriksaan THT
Pendahuluan dan Pengaturan Pemeriksaan THT
Posisi Duduk:
Dokter dan pasien duduk berhadapan.
Meja alat diletakkan di sebelah kanan dokter.
Lutut kiri dokter harus berimpit dengan lutut kiri pasien.
Penggunaan Lampu Kepala:
Lampu kepala bersifat wajib dalam pemeriksaan THT dan dapat disesuaikan dengan lingkar kepala dokter.
Pengaturan Fokus:
Letakkan telapak tangan di depan lampu kepala dengan jarak sekitar .
Atur fokus cahaya hingga mendapatkan diameter sekitar di telapak tangan.
Pemeriksaan Telinga
Teknik Pemeriksaan:
Tangan kiri dokter digunakan untuk memegang telinga pasien, baik telinga kanan maupun kiri.
Telinga Kiri Pasien: Tiga jari dokter berada di depan telinga pasien.
Telinga Kanan Pasien: Tiga jari dokter berada di belakang telinga pasien.
Penggunaan Otoskop:
Otoskop dipegang dengan tangan kanan dokter.
Tangan kiri dokter tetap memegang atau "menjewer" telinga pasien untuk meluruskan liang telinga.
Struktur Gendang Telinga (Membran Timpani):
Pars Tensa: Bagian yang lebar.
Attic (Pars Flaccida): Bagian kecil di bagian atas.
Processus Brevis
Manubrium Mallei
Reflek Cahaya (Cone of Light)
Margo Timpani
Plica Anterior dan Plica Posterior
Pemeriksaan Hidung (Rinoskopi Anterior)
Alat: Spekulum Hidung.
Teknik Memegang Spekulum:
Menggunakan tangan kiri dokter (tidak dipindah-pindah ke tangan kanan).
Ibu jari berada di tengah kait spekulum.
Jari telunjuk digunakan untuk fiksasi di hidung pasien.
Prosedur:
Masukkan spekulum dalam posisi tertutup.
Buka secukupnya untuk mengevaluasi bagian dalam.
Objek Evaluasi: Konka, septum, dasar kavum nasi, atap kavum nasi, dan fenomena palatum mole.
Cara Mengeluarkan: Spekulum ditutup separuh (jangan ditutup penuh) agar bulu hidung pasien tidak tercabut.
Palpasi Sinus:
Sinus Frontal: Dilakukan di dahi di atas alis dengan tekanan seimbang. Tanyakan sisi mana yang lebih nyeri.
Sinus Maksila: Dilakukan di daerah fossa kanina dengan kekuatan tekanan yang sama.
Transiluminasi (Uji Penyinaran):
Dilakukan di ruangan gelap untuk menilai sinus frontal dan maksila.
Sinus Frontal: Penlight diletakkan di dahi (margo supraorbital), mata pasien ditutup, nilai pendaran cahaya.
Sinus Maksila (Metode 1): Penlight dibungkus plastik (seperti plastik es/galefo), dimasukkan ke mulut, mulut ditutup rapat, bandingkan pendaran cahaya di bawah kedua mata.
Sinus Maksila (Metode 2): Penlight diletakkan di rongga pipi, diarahkan ke bawah, intip pantulan cahaya di daerah palatum di dalam mulut.
Rinoskopi Posterior
Perbedaan Alat: Menggunakan kaca laring berukuran kecil (kebalikan dari LI yang menggunakan kaca lebar).
Prosedur:
Jelaskan prosedur: Alat akan masuk ke mulut dan pasien diminta bernapas lewat hidung.
Hangatkan kaca rinoskopi dengan api Bunsen agar tidak mengembun.
Tes suhu kaca pada punggung tangan dokter.
Tangan kiri menggunakan tongue spatel (tang spatel) untuk menekan lidah.
Tangan kanan memegang kaca Rp.
Posisi Kaca:
Kaca diletakkan di belakang uvula.
Arah kaca menghadap ke atas.
Larangan: Tidak boleh menyentuh pangkal lidah dan tidak boleh menyentuh dinding faring posterior untuk menghindari refleks muntah.
Pemeriksaan Tenggorokan
Teknik Dasar:
Menggunakan lampu kepala dan tang spatel.
Tang spatel dipegang tangan kiri: tiga jari di atas, ibu jari di bawah.
Tekan pada anterior lidah.
Instruksi Pasien: Minta pasien mengucapkan "A" agar lidah lebih lunak, cekung ke bawah, dan memudahkan penekanan.
Objek Evaluasi: Tonsil, faring, daerah palatum, prosesus alveolaris, dan lidah.
Tes Mobilitas Tonsil:
Hanya dilakukan jika ada pembesaran tonsil.
Menggunakan dua tang spatel.
Tonsil Kiri Pasien: Tangan kiri menekan lidah, tangan kanan menekan arkus anterior tonsil kiri.
Tonsil Kanan Pasien: Tangan kanan menekan lidah, tangan kiri menekan arkus anterior tonsil kanan.
Laringoskopi Indirecta (LI)
Fungsi: Melihat kondisi laring dan pita suara.
Abduksi: Posisi pita suara saat membuka (napas biasa).
Adduksi: Posisi pita suara saat bergerak ke tengah/menutup (saat berbicara/mengucap "I").
Indikasi Pemeriksaan: Gangguan suara, sumbatan napas, batuk berkepanjangan, sering berdehem (dahem-dehem), nyeri tenggorok bawah (hipofaring), odinofagia (nyeri telan), disfagia (sulit telan), atau kecurigaan tumor leher/laring.
Persiapan Alat:
Kaca laring ukuran besar (lebar).
Kasa steril untuk membungkus lidah.
Sarung tangan (handscoon).
Lampu kepala.
Bunsen.
Prosedur Pelaksanaan:
Instruksi: Jelaskan bahwa lidah akan dijulurkan, dibungkus kasa, dan pasien diminta bernapas lewat mulut serta mengikuti aba-aba suara.
Posisi Lidah: Pasien menjulurkan lidah sejauh mungkin. Dokter membungkus lidah dengan kasa dan memfiksasinya (dipegang dengan tangan kiri).
Persiapan Kaca: Hangatkan kaca laring dengan Bunsen, tes suhu pada punggung tangan.
Penempatan Kaca:
Masukkan kaca dengan posisi menghadap ke bawah.
Letakkan di depan uvula (berbeda dengan Rp yang di belakang uvula).
Boleh menyentuh uvula, namun dilarang menyentuh pangkal lidah dan dinding faring posterior.
Evaluasi:
Nilai pangkal lidah, valekula, epiglotis, plika ventrikular, dan aritenoid.
Amati pergerakan pita suara (chordae vocalis) saat napas biasa dan saat pasien mengucap "I" atau "E".
Nilai simetrisitas, adanya parase (kelumpuhan), atau massa (benjolan).
Temuan Klinis:
Kondisi normal.
Ulkus, polip, nodul pita suara, parase, atau kanker laring.
Laringoskopi Directa (LD)
Tipe LD:
Rigid (Kaku): Menggunakan blade.
Blade melengkung: Biasanya untuk anestesi (pemasangan ETT).
Blade lurus: Biasanya untuk THT (pengambilan benda asing/korpus alienum di hipofaring).
Teleskopik: Masuk lewat tenggorokan dengan sudut kamera ke bawah.
Fleksibel (FOL - Fiber Optic Laryngoscopy):
Masuk lewat hidung.
Pasien posisi duduk dan sadar.
Menggunakan anestesi lokal (spray) di hidung dan lubrikan.
Tidak memicu refleks muntah.
Teknik LD Rigid: Pasien posisi supinasi (telentang), kepala ekstensi, gigi dilindungi kasa.
Pemeriksaan dan Palpasi Leher
Pembagian Regio Leher THT:
Regio 1A: Submental.
Regio 1B: Submandibula.
Regio 2: Sepertiga () atas sepanjang otot sternokleidomastoideus (SCM).
Regio 3: Sepertiga () tengah sepanjang SCM.
Regio 4: Sepertiga () bawah sepanjang SCM.
Regio 5: Di belakang otot sternokleidomastoideus.
Regio 6: Daerah tiroid.
Teknik Palpasi:
Pasien rileks, tidak terlalu mendongak.
Dilakukan secara bersamaan (simultan) kanan dan kiri untuk membandingkan simetrisitas.
Urutan: Submental submandibula preaurikula retroaurikula sepanjang SCM klavikula belakang SCM belakang leher (aksesoris).
Palpasi Tiroid: Dilakukan di tengah leher, minta pasien menelan ludah untuk meraba pergerakan naik-turun tiroid.