Obat Aritmia_dr Nugroho

Farmakologi Obat Aritmia

Nugroho EWB
Farmakologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya


Definisi Aritmia

  • Aritmia didefinisikan sebagai kelainan dalam kecepatan, irama, tempat asal dari impuls/gangguan konduksi yang menyebabkan perubahan dalam urutan normal aktivasi atrium sampai ventrikel.

  • Aritmia dapat diketahui dari gambaran EKG.


Gangguan Irama Jantung

  • Pengertian:
    Aritmia jantung merupakan istilah kolektif untuk semua gangguan irama jantung di luar irama sinus yang normal.

  • Sebaran Gangguan:
    Gangguan dapat terjadi pada saat pembentukan impuls, hantaran, maupun kombinasi keduanya.

  • Gejala:
    Sering menimbulkan rasa cemas.


Jenis-jenis Gangguan Irama Jantung

1. Gangguan Ringan

  • Menimbulkan keluhan seperti denyut jantung terasa berat, dada bergetar, atau denyut berhenti.

2. Aritmia Berat

  • Tidak jarang menimbulkan keluhan meskipun berpotensi fatal, seperti fibrilasi ventrikel yang dapat berujung pada kematian mendadak.

    • Penelitian sebelumnya melaporkan kematian mendadak disebabkan oleh fibrilasi ventrikel yang berawal dari ekstra sistol yang tidak terkendali.

3. Prevalensi Aritmia

  • Aritmia dapat terjadi pada orang "sehat" dan pada segala umur.

  • Aritmia ekstra sistole ventrikel memang sering dijumpai pada orang sehat dan sakit, dengan prevalensi 33% pada laki-laki dan 15% pada wanita saat berolahraga.


Diagnosis Aritmia

  • Pendekatan Diagnosis:
    Diagnosis melibatkan riwayat penyakit, fisik diagnostik, dan pemeriksaan EKG.

  • Tantangan Diagnosis: Merencanakan strategi penanggulangan aritmia sering kali cukup sulit.

    • Evaluasi yang tidak lengkap dapat mengakibatkan kegagalan untuk mengenal penyakit dasar yang dapat diobati atau pengobatan berlebihan yang tidak perlu.


Jenis Aritmia

1. Fibrilasi Atrium

  • Karakteristik: Adalah kontraksi tidak teratur yang mengakibatkan pengisian bilik yang kurang baik dan terjadi pembendungan darah.

    • Bilik tidak dipengaruhi banyak oleh "kekacauan" di serambi dan hanya sedikit berdenyut dengan setiap denyut yang menghasilkan jumlah darah yang tidak sama.

  • Persepsi Pasien:
    Keadaan ini dirasakan sangat tidak nyaman tetapi tidak membahayakan jiwa.

  • Pengobatan:
    Beta-blocker metoprolol atau flecainide dapat digunakan untuk menghambat penerusan impuls melalui simpul AV.

2. Fibrilasi Ventrikel

  • Bahaya: Sering kali timbul setelah infark dan bersifat sangat membahayakan karena darah tidak dipompa dengan baik ke organ tubuh.

    • Jika tidak diobati dengan segera (misalnya dengan lidokain), dapat berujung fatal.

  • Ciri-ciri:
    a) Terlalu mudah ditingkatkan; b) Kerusakan pada sistem purkinye (AV block); c) Ventrikel membesar.

3. Heartblock (AV Block)

  • Pengertian:
    Merupakan jenis aritmia di mana kontraksi bilik berlangsung terlalu lambat atau hilang sama sekali akibat terganggunya penyaluran impuls listrik dari serambi ke bilik.

  • Penyebab:
    Dapat terjadi akibat infark jantung.

  • Terapinya:
    Menggunakan pacemaker untuk menormalisasi ritme kontraksi.

4. Tachycardia dan Bradycardia

  • Definisi:
    Tachycardia adalah kerja jantung abnormal cepat dengan frekuensi > 100 x/menit, sedangkan bradycardia adalah kerja jantung abnormal lambat dengan frekuensi < 60 x/menit.

  • Penanganan:
    Penanganan aritmia dapat dilakukan dengan cara non-obat, seperti pembedahan atau implantasi pacemaker.

  • Pengobatan gangguan ritme yang berhubungan dengan infark jantung:
    Dapat dilakukan segera dengan antiaritmia, untuk mencegah akibat fatal.


Tatalaksana Aritmia

Tujuan Tatalaksana

  1. Konversi aritmia menjadi irama sinus (tujuan utama).

  2. Mengendalikan frekuensi ventrikular yang optimal (60 - 100 x/menit).

  3. Terapi penyakit dasarnya.

Indikasi Penanganan

  • Aritmia yang simptomatik dan aritmia dengan gangguan hemodinamik.


Macam-Macam Terapi Aritmia

  1. Psikoterapi

  2. Vagal Maneuver

  3. Obat antiaritmia

  4. Direct Current (DC) Counter Shock (alat kejut jantung) untuk mengkonversi takiaritmia dengan gangguan hemodinamik

  5. Radiofrequency Catheter Ablation

  6. Automatic Implantable Defibrillator

  7. Pacemaker temporer/permanent


Penyebab Aritmia

  • Aritmia disebabkan oleh aktivitas sel pacu jantung yang abnormal atau penyebaran impuls abnormal.

  • Tujuan Terapi Aritmia:
    Mengurangi aktivitas pacu jantung ektopik dan mengubah hantaran atau refraktori sirkuit re-entry untuk menghentikan pergerakan melingkar.

  • Mekanisme:
    Melalui blockade kanal natrium, blockade efek autonomi simpatis pada jantung, pemanjangan periode refrakter yang efektif, blockade kanal kalsium.

  • Obat antiaritmia menurunkan pacu jantung ektopik lebih dari sinus atrial, mengurangi hantaran dan eksitabilitas serta menambah periode refrakter ke tingkat yang lebih tinggi dalam jaringan yang depolarisasi.


Pengobatan Anti-Aritmia

Tabel 0. Klasifikasi Obat-Obatan Anti-Aritmia

  • Kelas I: Obat Stabilitasi Membran

    • IA: Memperlebar potensial aksi: kinidin, prokainamid, disopiramid.

    • IB: Memperpendek potensial aksi: lidokain, meksiletin.

    • IC: Memperpanjang potensial aksi: tokainid, difenilhidantoin.

    • Tidak berpengaruh pada potensial aksi: ajmalin, flekainid, enkainid, aprindin.

  • Kelas II: Penghambat reseptor beta: propranolol, asebutolol, alprenolol, metoprolol, atenolol, nadolol, pindolol, praktolol, oksprenolol, sotalol, timolol.

  • Kelas III: Memperpanjang potensial aksi: amiodaron, bretilium, sotalol.

  • Kelas IV: Penyekat kalsium: verapamil, diltiazem, nifedipin.


Farmakologi Obat Anti-Aritmia

Disopiramid (Sub Gol IA)

  • Efek Pada Jantung: Sangat mirip dengan prokainamid dan kuinin, dengan efek antimuskarinik yang lebih jelas sehingga obat yang memperlambat hambatan atrioventrikuler harus diberikan bersama disopiramid pada pengobatan fibrilasi atrium.

    • Dosis: Tablet 100 atau 150 mg basa.

Toksisitas Disopiramid

  • A. Jantung:

    • Konsentrasi toksik dapat menyebabkan gangguan elektrofisiologik.

    • Efek inotropik negatif dapat memicu gagal jantung dan bukan pilihan pertama untuk pengobatan.

  • B. Di luar jantung:

    • Efek samping mirip atropin seperti retensi urin, mulut kering, penglihatan kabur, sembelit.

    • Jika efek ini muncul, sebaiknya obat dihentikan.

Farmakokinetik dan Dosis Disopiramid

  • Dosis oral: 150 mg tiga kali sehari.

  • 90% dosis oral diabsorpsi, kadar puncak plasma tercapai 1-2 jam setelah pemberian.

  • Sekitar 50% diekskresikan oleh ginjal, 20% dalam metabolit dealkilasi, dan 10% dalam bentuk lain.

  • Waktu paruh eliminasi: 5-7 jam.

  • Dosis pada pasien dengan kelainan fungsi ginjal sebaiknya dikurangi.

  • Di AS hanya digunakan untuk pengobatan aritmia ventrikel.

Kuinin

  • Efek Pada Jantung:
    Memperlambat upstroke potensial aksi dan hantaran, memperpanjang durasi QRS pada EKG dengan memblokade kanal natrium.

  • Efek Toksik:

    • Meliputi pemanjangan interval QT dan induksi aritmia torsade de pointes.

  • Efek Di Luar Jantung:

    • Sampingan pada saluran cerna ialah diare, mual, muntah; sakit kepala, limbung, tinnitus pada konsentrasi toksik.

Farmakokinetik Kuinin

  • Diserap segera setelah pemberian oral, dimetabolisme di hati.

  • Waktu paruh: 6-8 jam.

  • Biasanya diberikan dalam formulasi lepas lambat, misalnya garam glukonat.


Prokainamid

  • Efek Kerja:
    Memblokade kanal natrium, memperlambat upstroke potensial aksi, memperlambat hantaran, dan memperpanjang durasi QRS.

  • Toksisitas:

    • Meliputi pemanjangan interval QT dan induksi aritmia torsade de point, serta sinkop.

    • Ditemukan gejala mirip lupus eritematosus.

  • Pemberian:
    IV, IM, diabsorpsi baik melalui oral.

  • Eliminasi:
    Melalui metabolisme hati menjadi NAPA dan melalui eliminasi ginjal.

  • Dosis:
    Dosis awal 12 mg/kg dengan kecepatan 0,3 mg/kg/menit; dosis pemeliharaan 2-5 mg/menit; untuk kontrol aritmia ventrikel dosis 2-5 g/hari.


Lidokain (Subgolongan IB)

  • Keunggulan:
    Memiliki insiden toksisitas yang rendah dan keefektifan tinggi pada aritmia yang disebabkan infark miokard akut, hanya diberikan intravena.

  • Efek Pada Jantung:
    Menghambat kanal natrium dengan kinetic cepat, blokade pada keadaan tidak aktif sebagai efek lebih besar pada sel purkinye dan sel ventrikel, lebih baik daripada sel atrium.

  • Toksisitas:

    • Merupakan salah satu penyekat kanal natrium yang paling sedikit menyebabkan kardiotoksik.

    • Efek proaritmik termasuk henti nodus sinoatrial, memburuknya hantaran yang rusak, dan aritmia ventrikel jarang terjadi.

  • Farmakokinetik dan Dosis Lidokain:

    • Mengalami metabolisme lintas pertama yang besar pada hati sehingga hanya 3% terdapat dalam plasma jika diberikan secara oral.

    • Waktu paruh 1-2 jam.

    • Dosis awal 150-200 mg dalam 15 menit, diikuti dengan dosis pemeliharaan 2-4 mg/menit untuk mencapai kadar terapi 2-6 mcg/mL.

    • Pasien dengan infark miokard memerlukan konsentrasi lebih tinggi karena meningkatnya glikoprotein A1.

    • Pasien gagal jantung memerlukan penyesuaian dosis.


Meksiletin (Subgolongan IB)

  • Karakteristik:
    Serupa dengan lidokain namun aktif secara oral.

  • Eliminasi:
    Waktu paruh 8-20 jam, dosis harian 600-1200 mg/hari.

  • Efek Samping:
    Terutama neurologic, meliputi tremor, penglihatan kabur, lesu, dan mual.


Flecainide (Subgolongan IC)

  • Karakteristik:
    Penyekat kuat kanal natrium dan kalium dengan blokade lambat dilepaskan, digunakan untuk pasien aritmia supraventrikel tetapi dengan kondisi jantung yang normal.

  • Farmakokinetik: Diabsorpsi baik, waktu paruh 20 jam, eliminasi melalui metabolisme di hati dan ginjal.

    • Dosis: 100-200 mg dua kali sehari.

Propafenon

  • Karakteristik: Metabolisme di hati, waktu paruh 5-7 jam, dosis harian 450-900 mg dalam tiga dosis.

    • Digunakan untuk aritmia supraventrikel.

  • Efek Samping:
    Konstipasi.

Moricizin

  • Karakteristik:
    Merupakan penyekat kanal natrium tanpa memperpanjang durasi potensial aksi.

  • Efek Samping:
    Pusing dan mual, dosis 200-300 mg peroral 3 kali sehari.

Propranolol (Gol II)

  • Karakteristik:
    Beta-bloker yang menurunkan cardiac output dan tahanan vaskuler setelah beberapa hari.

  • Dosis:
    30 sampai 320 mg/hari untuk pengobatan aritmia, biasanya 3 sampai 4 kali sehari.

  • Penanganan:
    Dalam keadaan darurat, dapat diberikan secara IV dengan dosis 1-3 mg.

Farmakokinetik Propranolol

  • Absorpsi:
    Baik melalui saluran GI, menembus sawar darah otak dan plasenta, ditemukan dalam ASI.

  • Metabolisme:
    Di hati, mengalami first-pass hepatic, waktu paruh 3-6 jam.

Interaksi Obat Propranolol

  • Banyak obat berinteraksi, termasuk fenitoin, isoproterenol, NSAID, barbiturat, dan kafein, yang dapat mengurangi efek propranolol.


Amiodaron (Gol III)

  • Karakteristik:
    Diakui sebagai obat aritmia ventrikel serius dan juga efektif untuk aritmia supraventrikuler seperti fibrilasi atrium.

  • Efek Pada Jantung:
    Memperpanjang durasi potensial aksi dengan blockade Ikr.

Toksisitas Amiodaron

  • Kardiovaskular:
    Menyebabkan bradikardia simtomatik dan blockade jantung.

  • Efek Di Luar Jantung:
    Fibrosis paru, fungsi paru abnormal, hepatitis, fotodermatitis, dan perubahan warna pada kulit.

Farmakokinetik Amiodaron

  • Bioavaibilitas:
    35-65%, eliminasi waktu paruh panjang, efek bertahan 1-3 bulan setelah dihentikan.

  • Dosis:
    Dosis awal 10 g total dapat dicapai dengan 0,8-1,2 g/hari; dosis pemeliharaan 200-400 mg/hari.

Penggunaan Terapi Amiodaron

  • Indikasi:
    Mempertahankan irama sinus normal, mencegah takikardi ventrikel, henti jantung dengan irama VF/VT.


Terapi Aritmia

  • Cara Pemberian:

    • Henti jantung: Dosis awal 300 mg IV bolus (dalam 20 ml D5%), dosis kedua 150 mg setiap 3-5 menit.

    • Ventricular Takiaritmia: 150 mg IV dalam 10 menit, dosis pemeliharaan: 1 mg/menit.

Bretilium

  • Efek di Jantung:
    Memperpanjang durasi potensial aksi ventrikel dan efisiensi refrakter.

  • Terapi Pemeliharaan:
    Infus konstan 0,5-2 mg/menit setiap 4-6 jam.


Sotalol

  • Karakteristik:
    Memiliki efek memblokade reseptor adrenergic beta dan memperpanjang potensial aksi. Bioavailabilitas 100%.

Dofetilid dan Ibutilid

  • Tindakan utamanya adalah untuk konversi akut flutter dan fibrilasi atrium menjadi irama sinus.

    • Efek samping: memanjang interval QT, torsade de point.


Verapamil (Gol IV)

  • Efek Pada Jantung: Blokade kanal kalsium tipe L. Memperlambat nodus SA dan AV.

    • Toksisitas: Dapat menyebabkan hipotensi dan hambatan AV.

  • Penanganan: Dosis bolus awal 5 mg, diulang setiap 4-6 jam.


Diltiazem

  • Indikasi:
    Atrial fibrillation dan atrial flutter.

  • Cara Pemberian:
    Pada kasus akut, 15-20 mg IV, dapat diulangi 15 menit kemudian.


Digoksin (Gol V)

  • Memiliki nukleus steroid dan cincin lactone sebagai glikosida jantung.

  • Farmakokinetik:
    Bioavailabilitas 60-85%, diekskresikan oleh ginjal.

  • Mekanisme Kerja: 1. Inhibisi Na+/K+ ATPase membran sel, meningkatkan sodium intraseluler.

    1. Peningkatan kalsium intraseluler yang meningkatkan kontraksi jantung.


Toksisitas Digitalis

  • Gejala toksisitas digitalis seperti aritmia, mual, dan gangguan penglihatan.

  • Toksisitas dapat menyebabkan henti jantung.


Epinefrin

  • Epinefrin beraksi pada reseptor adrenergic alfa-1, beta-1 dan beta-2; penting digunakan dalam keadaan darurat.

  • Mekanisme Kerja: Kontriksi pembuluh darah dan bronkodilatasi.

  • Dosis: IV/IO 1 mg, repetisi setiap 3-5 menit.


Sulfas Atropin

  • Untuk sinus bradikardi simptomatik, dosis 0,5 mg IV setiap 3-5 menit.


Adenosin / ATP

  • Menginduksi efek utama pada SVT, dosis 6 mg IV cepat diikuti dengan salin normal.


Magnesium Sulfat

  • Untuk henti jantung dengan hipomagnesemia, dosis 1-2 gram larutan magnesium 20%.


Penutup

Terima Kasih atas Perhatiannya!