11 MACAM PERANG DENGAN VOC
Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme
Perlawanan Terhadap Persekutuan Dagang
1. Sultan Baabullah Mengusir Portugis (1570-1583)
Penyebab Utama:
Portugis menghalang-halangi perdagangan Banda dengan Tidore.
Tindakan Portugis menembaki jung-jung (perahu) dari Banda yang akan membeli cengkih ke Tidore menimbulkan ketidakpuasan.
Tindakan dan Respon:
Tidore tidak terima dengan tindakan armada Portugis, melakukan perlawanan.
Portugis berhasil mengadu domba Kerajaan Ternate dan Tidore dengan dukungan dari Ternate dan Bacan.
Portugis memperoleh kemenangan awal.
Perlawanan Rakyat Ternate:
Rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Hairun melakukan perlawanan dengan menyerang dan membakar benteng-benteng Portugis.
Portugis tidak mampu menghadapi perlawanan dan menawarkan tipu perdamaian.
Sultan Hairun dibunuh pada pesta perdamaian, menimbulkan kemarahan rakyat Maluku, terutama Sultan Baabullah.
Sultan Baabullah dan rakyatnya bertekad menggempur Portugis, mengepung benteng Portugis di Ternate.
Hasil:
Pada tahun 1575, Portugis berhasil diusir dari Ternate dan pindah ke Ambon.
Pada tahun 1605, Portugis diusir oleh VOC dari Ambon, berpindah ke Timor Timur (Timor Leste).
2. Perlawanan Aceh (1607-1639)
Pemimpin: Sultan Iskandar Muda dari Aceh.
Persiapan:
Armadanya mempersiapkan untuk menyerang Portugis di Malaka dengan mengerahkan 800 prajurit.
Serangan pertama dilaksanakan pada tahun 1629, namun Aceh mengalami kegagalan menaklukkan Portugis.
Hasil:
Meskipun gagal, Aceh tetap menjadi kesultanan merdeka.
3. Perlawanan Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin:
Sultan dari Kerajaan Gowa, di Sulawesi Selatan, dikenal sebagai pejuang gigih yang diperhitungkan oleh VOC, dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”.
Konflik dengan VOC:
VOC menggunakan politik memecah belah, mengadu domba Kerajaan Gowa dengan Bone di bawah pimpinan Arung Palaka.
VOC mendukung Bone, mengakibatkan kekalahan Sultan Hasanuddin.
Perjanjian Bongaya (18 November 1667):
Isi Perjanjian:
Arung Palaka diakui sebagai Raja Bone.
Belanda mendirikan benteng pertahanan di Makassar.
Belanda memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar.
Makassar harus melepaskan daerah kekuasaan di luar Makassar.
4. Serangan Mataram Terhadap VOC (1593-1645)
Hubungan Awal:
Mataram dan Belanda awalnya menjalin hubungan baik, Belanda diizinkan mendirikan benteng di Jepara (1615).
Konflik:
Perselisihan terjadi akibat nafsu monopoli Belanda; Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen memerintahkan serangan ke Jepara (8 November 1618).
1) Perlawanan Rakyat Mataram Pertama
Persiapan:
Sultan Agung mempersiapkan penyerangan terhadap kedudukan VOC di Batavia dengan pasukan yang dipimpin Tumenggung Baurekso.
Serangan dan Kegagalan:
Dilakukan pada tahun 1628, tetapi mengalami kegagalan disebabkan oleh:
a) Kekurangan perbekalan.
b) Persepsi medan pertempuran yang tidak matang.
c) Persenjataan Belanda lebih modern.Pasukan ditarik kembali pada 3 Desember 1628, setidaknya 1.000 prajurit gugur.
2) Perlawanan Rakyat Mataram Kedua
Kembali mempersiapkan serangan kedua dengan pimpinan yang matang:
Dimulai pada 1 Agustus 1629 dan berakhir pada 1 Oktober 1629.
Kegagalan:
Faktor kelemahan mirip dengan serangan pertama, termasuk kehilangan lumbung makanan yang dihancurkan Belanda.
Pasca Sultan Agung:
Setelah wafatnya Sultan Agung, Kerajaan Mataram melemah, Belanda semakin terlibat dalam urusan kenegaraan.
Akhir tahun 1755, Kerajaan Mataram pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Perlawanan Terhadap Hindia Belanda
1. Perang Saparua di Ambon
Dikepalai oleh Kapitan Pattimura pada 1817.
Latar Belakang:
Kembalinya pemerintah kolonial Belanda di Maluku.
Pemberlakuan penyerahan wajib dan kerja wajib.
Kebijakan mengeluarkan uang kertas menggantikan uang logam.
Penggerakan tenaga dari kepulauan Maluku untuk menjadi serdadu (tentara) Belanda.
Jalannya Perang Maluku
Perlawanan dimulai dengan membakar perahu di Porto (15 Mei 1817) dan mengepung Benteng Duurstede.
Keberhasilan:
Rakyat menguasai benteng, menembak mati Residen Maluku, Van De Berg (14 Mei 1817).
Tokoh Pahlawan Wanita:
Christina Martha Tiahahu, putri tunggal Paulus Tiahahu, terlibat dalam perlawanan.
Bantuan Belanda:
Belanda minta bantuan dari Ambon, melakukan serangan besar-besaran pada November 1817.
Perlawanan Pattimura dikalahkan.
Akhir Perlawanan:
Pattimura dan tiga pengikutnya ditangkap dan dihukum gantung, dengan Pattimura mengucapkan kalimat pengharapan.
Hanya Christina Martha Tiahahu dihukum seumur hidup dan diasingkan ke Pulau Jawa; meninggal dalam pelayaran (1 Januari 1818).
Dikenal sebagai “Mutiara dari Timur”.
2. Perang Padri (1803-1838)
Latar Belakang:
Perang dimulai untuk memurnikan ajaran Islam di Minangkabau, Sumatra Barat.
Kaum Padri (golongan agama) berperang melawan kaum adat dan Belanda.
Pemimpin: Tuanku Imam Bonjol, didukung oleh tokoh-tokoh Padri lainnya.
Sebab Umum Terjadinya Perang:
a) Pertentangan antara kaum Padri dan kaum adat, di mana Belanda membantu kaum adat.
b) Kebiasaan buruk kaum Adat di Minangkabau yang dipandang bertentangan dengan Islam.
c) Kedatangan haji asal Minangkabau dari Mekkah pada 1803 yang membawa perubahan.
Jalannya Perang Padri
Tiga Tahap Perang:
Tahap I (1803 - 1821): Perang saudara murni, tanpa campur tangan Belanda, yang berubah ketika kaum Adat meminta bantuan.
Tahap II (1822 - 1832): Perjanjian Masang diperkenalkan, tetapi Belanda melanjutkan serangan kepada kaum Padri setelah perang Diponegoro selesai.
Tahap III (1832 - 1838): Persatuan kaum Adat dan Padri bergabung melawan Belanda.
Hasil Akhir:
Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan, meninggal pada 6 November 1964.
3. Perang Diponegoro (1825-1830)
Latar Belakang:
Perang dimulai di Tegalrejo, Yogyakarta, menyebar ke seluruh Jawa akibat kekuasaan Raja Mataram yang lemah dan campur tangan Belanda.
Adanya perjanjian yang memecah Mataram menjadi beberapa kerajaan.
Sebab Khusus:
Rencana pembuatan jalan tanpa izin di tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro.
Jalannya Perang Diponegoro
Dukungan:
Pangeran Diponegoro didukung oleh rakyat dan tokoh-tokoh seperti Kyai Mojo dan Pangeran Mangkubumi.
Pertempuran:
Dimulai pada 20 Juli 1825, terjadi serangan terhadap pos-pos pertahanan Belanda.
Strategi Belanda:
Jenderal Merkus de Kock menerapkan sistem benteng stelsel untuk mengatasi perlawanan._
Penangkapan Diponegoro:
Pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro beserta pasukannya ditangkap dalam perundingan dipalsukan.
Dipindahkan secara berkala hingga meninggal pada 8 Januari 1855.
4. Perlawanan Rakyat Bali (1844-1849)
Latar Belakang:
Keinginan Belanda untuk menguasai Bali dan paksaan kepada raja untuk menandatangani perjanjian.
Insiden pada tahun 1844 mengakibatkan serangan Bali terhadap kapal Belanda.
Jalannya Perlawanan:
Dikenal sebagai Perang Puputan, dengan pengorbanan besar dari masyarakat.
Pemimpin: Raja Kerajaan Buleleng dan Patihnya I Gusti Ketut Jelantik.
Akhir Perlawanan Rakyat Bali
Belanda, di bawah pimpinan Jenderal Michiels, berhasil memenangkan pertempuran di Benteng Jagaraga dan mengakhiri kekuasaan Buleleng pada tahun 1849.
5. Perang Banjar (1859-1905)
Latar Belakang:
a) Monopoli perdagangan oleh Belanda, pencampuran dalam urusan kerajaan.
b) Penunjukan Pangeran Tamjidillah sebagai sultan yang menghadapi protes.Jalannya Perlawanan:
Dipimpin oleh Pangeran Antasari yang menyatukan kaum pemberontak.
Serangan dimulai tahun 1859 dan kekuatan melemah pada tahun 1862.
6. Perang Batak (1878-1907)
Dipimpin oleh Sisingamangaraja XII di daerah Toba.
Peruasan kontrol Belanda ke daerah Tapanuli menyebabkan perlawanan dari rakyat Batak.
Akhir Perlawanan:
Sisingamangaraja XII gugur pada 17 Juni 1907, seluruh daerah Batak jatuh ke tangan Belanda.
7. Perang Aceh (1873-1904)
Latar Belakang:
Traktat London 1824 membatasi campur tangan Belanda di Aceh tetapi dilanggar dengan Traktat Sumatera 1871.
Jalannya Perlawanan:
Beberapa perang dengan keberhasilan pihak Aceh awal tetapi dihadapi strategi dan kekuatan Belanda.
Tokoh penting: Cut Nyak Din, Teuku Umar, dan lainnya.
Distribusi perang melibatkan berbagai strategi dan taktik hingga tahun 1910.
Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme
Perlawanan Terhadap Persekutuan Dagang
1. Sultan Baabullah Mengusir Portugis (1570-1583)
Penyebab Utama:
Portugis menghalang-halangi perdagangan Banda dengan Tidore. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan pedagang lokal yang bergantung pada perdagangan rempah-rempah.
Tindakan Portugis yang menembaki jung-jung (perahu) dari Banda yang akan membeli cengkeh ke Tidore semakin memperburuk situasi, menjerumuskan masyarakat lokal ke dalam konflik.
Tindakan dan Respon:
Tidore, sebagai pusat perdagangan strategis, tidak dapat menerima tindakan agresif armada Portugis dan dengan cepat mengorganisir perlawanan bersenjata.
Portugis, dengan bantuan politik dari Kerajaan Ternate dan Bacan, berusaha untuk mengadu domba kedua kerajaan tersebut, yang pada awalnya berhasil memberikan kemenangan awal bagi mereka.
Perlawanan Rakyat Ternate:
Rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Hairun melakukan perlawanan terorganisir, menyerang dan membakar benteng-benteng Portugis, menunjukkan ketahanan dan semangat juang yang tinggi.
Meskipun Portugis memberikan tawaran perdamaian, Sultan Hairun ditipu dan dibunuh pada pesta perdamaian, yang dengan cepat memicu kemarahan di kalangan rakyat Maluku, termasuk Sultan Baabullah.
Mencari balas dendam, Sultan Baabullah bersama rakyatnya melancarkan serangan besar-besaran, mengepung benteng Portugis di Ternate.
Hasil:
Pada tahun 1575, setelah pertempuran yang sengit, Portugis berhasil diusir dari Ternate dan terpaksa pindah ke Ambon, menandai awal dari penurunan kekuasaan Portugis.
Pada tahun 1605, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) mengusir Portugis dari Ambon, memaksa mereka untuk pergi ke Timor Timur (Timor Leste).
2. Perlawanan Aceh (1607-1639)
Pemimpin: Sultan Iskandar Muda dari Aceh, dikenal sebagai pemimpin yang visioner dengan ambisi untuk memperluas kekuasaan Kesultanan Aceh.
Persiapan:
Armada Aceh mempersiapkan strategi militar pusat untuk menyerang Portugis di Malaka dengan mengerahkan 800 prajurit bertempur dan taktik yang matang.
Serangan pertama dilaksanakan pada tahun 1629, namun Aceh mengalami kegagalan yang menyakitkan dan menarik perhatian dunia akan kemampuan mereka.
Hasil:
Meskipun mengalami kekalahan, Aceh berhasil mempertahankan statusnya sebagai kesultanan merdeka dan tetap beroperasi sebagai pusat perdagangan yang penting di wilayah tersebut.
3. Perlawanan Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin:
Sultan dari Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan, dikenal sebagai pejuang gigih yang sangat diperhitungkan oleh VOC, dijuluki “Ayam Jantan dari Timur” karena keberaniannya.
Konflik dengan VOC:
VOC menggunakan politik memecah belah, berusaha mengadu domba dengan Kerajaan Bone, di bawah pimpinan Arung Palaka, yang mengakibatkan konflik dan ketegangan lebih lanjut di wilayah tersebut.
Dengan dukungan langsung dari VOC, Kerajaan Bone mampu mengalahkan Sultan Hasanuddin dalam beberapa pertempuran yang menentukan.
Perjanjian Bongaya (18 November 1667):
Isi Perjanjian:
Arung Palaka secara resmi diakui sebagai Raja Bone.
Belanda mendirikan benteng pertahanan di Makassar, memperkuat pengaruh mereka di daerah ini.
Belanda memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar, menguntungkan mereka secara ekonomi.
Makassar harus melepaskan daerah kekuasaan di luar Makassar, mengurangi kekuatan Sultan.
4. Serangan Mataram Terhadap VOC (1593-1645)
Hubungan Awal:
Mataram dan Belanda menjalin hubungan baik pada awalnya, dengan kehadiran Belanda yang diperbolehkan mendirikan benteng di Jepara (1615), menunjukkan potensi kolaborasi.
Konflik:
Ketegangan meningkat akibat keinginan Belanda untuk mendominasi perdagangan; Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen memerintahkan serangan ke Jepara, yang menjadi titik berbalik bagi hubungan ini (8 November 1618).
1) Perlawanan Rakyat Mataram Pertama
Persiapan:
Sultan Agung mempersiapkan serangan yang direncanakan matang terhadap kedudukan VOC di Batavia dengan mengerahkan pasukan di bawah kepemimpinan Tumenggung Baurekso.
Serangan dan Kegagalan:
Dilakukan pada tahun 1628, tetapi mengalami kegagalan lumpuh dikarenakan:
a) Kekurangan perbekalan yang mempengaruhi daya juang pasukan.
b) Persepsi tentang medan pertempuran yang tidak matang.
c) Kualitas persenjataan Belanda yang lebih modern dan teknologi militer yang lebih baik.
Pasukan terpaksa ditarik kembali pada 3 Desember 1628, dengan setidaknya 1.000 prajurit gugur dalam pertempuran.
2) Perlawanan Rakyat Mataram Kedua
Kembali mempersiapkan serangan kedua:
Dimulai pada 1 Agustus 1629 dan berakhir pada 1 Oktober 1629, dengan rencana yang lebih matang.
Kegagalan:
Faktor kelemahan mirip dengan serangan pertama, termasuk kehilangan lumbung makanan yang dihancurkan Belanda.
Pasca Sultan Agung:
Setelah wafatnya Sultan Agung, Kerajaan Mataram mulai melemah, mengakibatkan peningkatan keterlibatan Belanda dalam urusan kenegaraan.
Pada akhir tahun 1755, Kerajaan Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, menandai perubahan penting dalam peta kekuasaan di Jawa.
Perlawanan Terhadap Hindia Belanda
1. Perang Saparua di Ambon
Dipimpin oleh Kapitan Pattimura pada 1817, beliau menjadi simbol perlawanan rakyat Maluku.
Latar Belakang:
Kembalinya pemerintah kolonial Belanda di Maluku dan penerapan kebijakan penyerahan wajib serta kerja paksa terhadap penduduk setempat.
Kebijakan mengganti uang logam dengan uang kertas menambah batu sandungan bagi perekonomian lokal dan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan rakyat.
Penggerakan tenaga dari kepulauan Maluku untuk menjadi serdadu (tentara) Belanda memicu protes dan perlawanan yang meluas.
Jalannya Perang Maluku
Perlawanan dimulai dengan membakar perahu di Porto (15 Mei 1817) dan mengepung Benteng Duurstede, melambangkan tekad rakyat.
Keberhasilan:
Rakyat menguasai benteng, berhasil menembak mati Residen Maluku, Van De Berg (14 Mei 1817), tindakan berani yang meningkatkan semangat juang.
Tokoh Pahlawan Wanita:
Christina Martha Tiahahu, putri tunggal Paulus Tiahahu, terlibat dalam perlawanan dan menjadi simbol emansipasi perempuan dalam perjuangan.
Bantuan Belanda:
Belanda meminta bantuan dari Ambon, melancarkan serangan besar-besaran pada November 1817, menunjukkan kekuatan militer yang besar dengan armada dan pasukan yang terlatih.
Perlawanan Pattimura akhirnya dikalahkan, tetapi keberanian dan kepemimpinannya tetap dikenang.
Akhir Perlawanan:
Pattimura dan tiga pengikutnya ditangkap dan dihukum gantung, dengan Pattimura mengucapkan kalimat pengharapan untuk masa depan Indonesia.
Christina Martha Tiahahu dihukum seumur hidup dan diasingkan ke Pulau Jawa, di mana dia meninggal dalam pelayaran (1 Januari 1818), dikenal sebagai “Mutiara dari Timur”.
2. Perang Padri (1803-1838)
Latar Belakang:
Perang dimulai dengan tujuan untuk memurnikan ajaran Islam di Minangkabau, Sumatra Barat, mencerminkan pergeseran sosial dan religius yang mendalam.
Kaum Padri (golongan agama) berperang melawan kaum adat yang dianggap menyimpang, dengan dukungan dari Belanda yang membantu kaum adat.
Pemimpin: Tuanku Imam Bonjol, tokoh karismatik yang menjadi jembatan antara sempalan komunal.
Sebab Umum Terjadinya Perang:
a) Pertentangan antara kaum Padri dan kaum adat, di mana Belanda menjadi mediator yang memperburuk situasi.
b) Kebiasaan buruk kaum Adat di Minangkabau, yang dipandang sebagai kontras berat dengan prinsip-prinsip Islam.
c) Kedatangan haji asal Minangkabau dari Mekkah pada 1803 yang membawa perubahan pemahaman agama yang lebih konservatif dan menuntut reformasi.
Jalannya Perang Padri
Tiga Tahap Perang:
Tahap I (1803 - 1821): Perang saudara yang murni, tanpa campur tangan Belanda, tetapi ketika kaum Adat meminta bantuan, konflik menjadi lebih kompleks.
Tahap II (1822 - 1832): Perjanjian Masang diperkenalkan sebagai upaya untuk meredakan ketegangan, tetapi Belanda tetap melanjutkan serangannya terhadap kaum Padri setelah perang Diponegoro selesai.
Tahap III (1832 - 1838): Persatuan antara kaum Adat dan Padri terbentuk untuk melawan keberadaan Belanda, menciptakan pengaruh signifikan pada dinamika sosial.
Hasil Akhir:
Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan, meninggal pada 6 November 1964, melambangkan pengorbanan panjang tidak terbalas.
3. Perang Diponegoro (1825-1830)
Latar Belakang:
Perang dimulai di Tegalrejo, Yogyakarta, dan menyebar ke seluruh Jawa akibat kekuasaan Raja Mataram yang lemah serta campur tangan Belanda yang meresahkan rakyat.
Adanya perjanjian yang memecah Mataram menjadi beberapa kerajaan, menandai hilangnya kedaulatan yang satu.
Sebab Khusus:
Rencana pembuatan jalan tanpa izin di tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro adalah insiden provokatif yang menambah kemarahan rakyat.
Jalannya Perang Diponegoro
Dukungan:
Pangeran Diponegoro didukung oleh rakyat yang bersimpati dan tokoh-tokoh terkemuka seperti Kyai Mojo dan Pangeran Mangkubumi yang berpartisipasi aktif dalam perlawanan.
Pertempuran:
Dimulai pada 20 Juli 1825, dengan serangan terkoordinasi terhadap pos-pos pertahanan Belanda yang markasnya berbahaya.
Strategi Belanda:
Jenderal Merkus de Kock menerapkan sistem benteng stelsel untuk mengatasi perlawanan, berusaha mengisolasi Pangeran Diponegoro dan pendukungnya.
Penangkapan Diponegoro:
Pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro beserta pasukannya ditangkap dalam perundingan dipalsukan, memperlihatkan taktik licik Belanda.
Dipindahkan secara berkala hingga meninggal pada 8 Januari 1855, menandakan akhir dari perlawanan bersenjata utama di Jawa.
4. Perlawanan Rakyat Bali (1844-1849)
Latar Belakang:
Keinginan Belanda yang terus-menerus untuk menguasai Bali dan paksaan kepada raja untuk menandatangani perjanjian yang merugikan rakyat.
Insiden pada tahun 1844 mengakibatkan serangan Bali terhadap kapal Belanda, meningkatkan ketegangan.
Jalannya Perlawanan:
Dikenal sebagai Perang Puputan, dengan pengorbanan besar dari masyarakat Bali yang rela berjuang hingga akhir.
Pemimpin: Raja Kerajaan Buleleng dan Patihnya I Gusti Ketut Jelantik, bersatu dalam perlawanan.
Akhir Perlawanan Rakyat Bali
Belanda, di bawah pimpinan Jenderal Michiels, berhasil memenangkan pertempuran di Benteng Jagaraga, menandai titik akhir perjuangan Buleleng pada tahun 1849.
5. Perang Banjar (1859-1905)
Latar Belakang:
a) Monopoli perdagangan oleh Belanda, campur tangan dalam urusan kekuasaan lokal, dan penunjukan Pangeran Tamjidillah sebagai sultan baru menyebabkan protes berkepanjangan di kalangan rakyat.
Jalannya Perlawanan:
Dipimpin oleh Pangeran Antasari yang menyatukan semua kelompok pemberontak di wilayah tersebut.
Serangan dimulai tahun 1859, tetapi kekuatan perlawanan melemah secara signifikan pada tahun 1862 akibat serangan balasan dari Belanda.
6. Perang Batak (1878-1907)
Dipimpin oleh Sisingamangaraja XII di daerah Toba, ia merupakan simbol perlawanan Bangsa Batak terhadap penjajahan Belanda.
Peruasan kontrol Belanda ke daerah Tapanuli mengakibatkan perlawanan sengit dari rakyat Batak, menunjukkan semangat juang yang tinggi.
Akhir Perlawanan:
Sisingamangaraja XII gugur pada 17 Juni 1907, menandai seluruh daerah Batak jatuh ke tangan Belan
da dengan banyak kerugian di pihak pejuang.
7. Perang Aceh (1873-1904)
Latar Belakang:
Traktat London 1824 yang membatasi campur tangan Belanda di Aceh dilanggar dengan pengesahan Traktat Sumatera 1871, memicu kemarahan dan perlawanan di Aceh.
Jalannya Perlawanan:
Beberapa perang dengan keberhasilan awal bagi pihak Aceh, Tetapi mereka segera dihadapi oleh strategi militer dan kekuatan Belanda yang lebih terorganisir.
Tokoh penting: Cut Nyak Din, Teuku Umar, dan pemimpin lainnya yang melahirkan taktik resistensi yang inovatif.
Distribusi perang melibatkan berbagai strategi dan taktik hingga tahun 1910, memperlihatkan ketahanan rakyat Aceh meskipun pada akhirnya harus mengakui kenyataan kekalahan.