Bermain (Playing)

Pengertian Bermain (Definition of Play)

  • Bermain adalah perilaku yang tidak memiliki tujuan langsung.
  • Anak-anak lebih peduli pada proses daripada hasilnya.
  • Konteks bermain harus aman, ramah, dan bebas stres, lapar, serta letih (Rubin, Fein, dan Vandenberg, 1983).
  • Lokasi juga memengaruhi perilaku bermain (Martin dan Bateson, 1993).

Teori-teori Bermain (Theories of Play)

Teori Awal (Early Theories)

  • Teori energi berlebih (Spencer, 1873): Bermain berasal dari energi berlebih yang perlu disalurkan.
  • Persiapan bagi kehidupan (Groos, 1898): Anak-anak bermain untuk meniru orang dewasa dan mempraktikkan peran-peran dewasa.
  • Teori rekapitulasi (Hall, 1904): Bermain mengulang tahap-tahap awal sejarah manusia.

Teori Abad 20 (20th Century Theories)

  • Fokus pada pentingnya bermain bagi perkembangan.
  • Teori bermain psikoanalitik (Freud, 1856–1939):
    • Menekankan pentingnya bermain dalam perkembangan sosial dan emosional anak.
    • Bermain memungkinkan anak menguasai objek dan situasi sosial.
  • Teori kognitif Piaget (1962):
    • Membagi bermain dalam tiga tahap (diperinci oleh Smilansky, 1968):
      1. Permainan fungsional: Gerakan sederhana dan berulang tanpa simbol.
      2. Permainan konstruktif: Manipulasi objek fisik untuk membangun sesuatu.
      3. Permainan drama atau simbolik: Muncul saat praoperasional, anak mulai mengganti objek nyata dengan yang imajiner.
      4. Permainan dengan aturan: Muncul di masa kanak-kanak tengah, seiring masuknya anak ke tahap operasional konkret.
  • Piaget mengakui bahwa bermain membantu perkembangan intelektual, tetapi tidak menyamakannya dengan perkembangan kognitif.
  • Dalam bermain, asimilasi lebih dominan daripada akomodasi.
  • Vygotsky:
    • Bermain membantu anak memaknai objek, memahami hubungan, serta mencoba peran-peran sosial.
    • Mendorong perkembangan lewat penciptaan dan pemahaman aturan.
    • Bermain berfungsi sebagai sarana anak mengembangkan pemikiran abstrak.
    • Menciptakan zona perkembangan proksimal (ZPD), di mana anak merasa memiliki keahlian karena dapat berfungsi di puncak kemampuannya saat bermain.

Fungsi Bermain (Functions of Play)

  • Perkembangan kognitif:
    • Piaget (1962): Bermain simbolik dapat meningkatkan perkembangan kognitif karena memungkinkan anak melatih kompetensi dan keterampilan secara rileks dan menyenangkan.
    • Vygotsky (1962): Bermain simbolik penting bagi perkembangan kognitif anak prasekolah.
  • Perkembangan bahasa:
    • Bermain mendukung perkembangan bahasa karena melibatkan komunikasi.
    • Anak-anak sering bermain dengan bahasa melalui pengulangan bunyi, rima yang tidak masuk akal, dan eksplorasi makna (Garvey, 1990).
  • Perkembangan penalaran moral:
    • Konflik dalam bermain serta negosiasi aturan permainan berperan dalam perkembangan penalaran moral (Piaget, 192).
  • Kesejahteraan psikologis
  • Perkembangan sosial & emosional:
    • Bermain kerap digambarkan mencerminkan kompetensi sosial.
    • Meningkatkan afiliasi dengan teman-teman sebaya dengan meningkatkan kemungkinan anak-anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga mendorong terbentuknya pertemanan.
    • Dapat menguatkan peran gender, salah satu aspek perkembangan identitas.
    • Bermain (terutama bermain sosiodrama) juga dikaitkan dengan perkembangan pengaturan diri.
    • Freud dan Erikson meyakini bahwa bermain membantu mengatasi kecemasan dan konflik.
    • Dalam terapi, bermain memberikan kesempatan untuk menganalisis konflik-konflik anak dan cara-cara menghadapinya.
  • Perkembangan Fisik:
    • Memungkinkan anak-anak melatih keterampilan-keterampilan motorik mereka yang sedang berkembang
    • Pengendalian tubuh yang lebih baik memungkinkan anak berlari, melompat, mengendarai sepeda roda tiga, menikmati bermain luncuran dan ayunan di taman
    • Perkembangan keterampilan motorik halus memungkinkan anak untuk menggambar, mewarnai, membangun dan membuat berbagai benda

Jenis-Jenis Permainan (Types of Play)

  • Klasifikasi Parten (1932) membagi permainan berdasarkan interaksi sosial.
  • Awalnya, dianggap anak berkembang bertahap dari bermain sendiri menjadi bermain bersama.
  • Penelitian terbaru menunjukkan semua jenis permainan bisa terjadi di semua usia prasekolah.
  • Bermain sendiri bukan berarti tidak berkembang, dan bermain bersama bukan berarti lebih dewasa.

Klasifikasi Sosial Permainan (Social Classification of Play)

Jenis permainanDeskripsi perilaku bermain
Permainan tanpa terokupasiAnak relatif diam dan tampak melakukan gerakan-gerakan acak tanpa tujuan jelas.
Permainan seorang diriGaya bermain yang relatif jarang. Anak sepenuhnya asyik dalam bermain dan tampaknya tidak memerhatikan anak-anak lainnya.
Permainan penontonAnak menunjukkan ketertarikan pada permainan anak-anak lain, namun tidak bergabung. Dapat bertanya atau hanya berbicara pada anak-anak lain, namun aktivitas utamanya hanya mengamati.
Permainan bersamaAnak meniru permainan anak-anak lain, namun tidak terlibat secara aktif dengan mereka. Contohnya, mereka menggunakan mainan yang sama.
Permainan asosiatifAnak kini lebih tertarik pada anak-anak lain ketimbang mainan-mainan yang mereka gunakan. Ini merupakan kategori pertama yang melibatkan interaksi sosial yang kuat antara anak-anak ketika mereka bermain
Permainan kerja samaAktivitas bermain yang terorganisasi. Contohnya, permainan memiliki tujuan dan anak-anak kerap mengadopsi berbagai peran dan bertindak sebagai satu kelompok

Klasifikasi Berdasarkan Aktivitas (Classification by Activity)

  • Rubin dkk. fokus pada “apa” yang dilakukan anak saat bermain, bukan “dengan siapa”.
  • Cara ini dianggap lebih bermanfaat karena melihat sisi berpikir dan belajar anak saat bermain.
Jenis AktivitasDeskripsi perilaku bermain
Permainan fungsionalAktivitas-aktivitas fisik seperti memantulkan bola, bermain kasar, dan berguling
Permainan konstruktifMembangun dan membuat sesuatu, menggambar, mewarnai
Permainan sosiodramaBermain peran atau "berpura-pura menjadi"

Permainan Fungsional (Functional Play)

  • Mencakup aktivitas seperti "permainan praktik", karena mencakup pengulangan perilaku ketika mempelajari atau menguasai keterampilan-keterampilan baru.
  • Permainan praktik dapat dilakukan pada usia berapa pun.
  • Permainan sensorimotor yang digambarkan oleh Piaget dan mengacu pada permainan di masa bayi merupakan permainan fungsional.
  • Dalam jenis permainan ini, bayi melakukan penjelajahan objek-objek sejak sekitar usia tiga bulan.
  • Saat berusia 9 bulan, mereka mulai memilih mainan yang bisa berbunyi atau bergerak karena lebih menarik.

Permainan Konstruktif (Constructive Play)

  • Terjadi ketika anak menciptakan suatu produk atau solusi dengan pengaturannya sendiri.
  • Meningkat di masa prasekolah seiring menurunnya permainan sensorimotor dan juga sangat umum di masa sekolah dasar.
  • Dapat mencakup aktivitas-aktivitas seperti melukis serta teka-teki potongan gambar, balok-balok untuk membangun, dsb.

Permainan Sosiodrama (Sociodramatic Play)

  • Mungkin bentuk permainan yang paling kompleks karena anak-anak berbagi sebuah dunia fantasi dengan orang lain.
  • Anak-anak perlu menegosiasi peran, aturan, dan simbolisme
  • Dianggap mencerminkan keterampilan kognitif tingkat tinggi, termasuk meta-kognisi
  • Dianggap membantu perkembangan pemahaman anak-anak tentang orang lain, karena pada permainan tersebut mencakup berbagi pemikiran, perasaan, dan motivasi.
  • Ini juga membantu anak membantu anak mengembangkan rasa tentang siapa diri mereka

Klasifikasi-klasifikasi Alternatif (Alternative Classifications)

  • Smith dan Pallegrini (2008) menetapkan jenis-jenis permainan sebagai berikut:
    • Permainan Lokomotor
    • Permainan Sosial
    • Permainan Objek
    • Permainan Bahasa
    • Permainan Pengandaian

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bermain (Factors Influencing Play)

1. Pengaruh-pengaruh keluarga (Family Influences)

  • Anak dari lingkungan SES rendah lebih sering bermain video game, sementara anak perempuan lebih banyak menonton TV dibandingkan mereka dari SES tinggi
  • Kedekatan taman dan lapangan bermain meningkatkan aktivitas fisik anak
  • Di daerah miskin, permainan luar ruang terbatas karena kualitas area bermain yang buruk
  • Persepsi orang tua tentang bahaya lingkungan memengaruhi penggunaan area bermain luar ruang
  • Anak dengan kelekatan kuat lebih sering terlibat dalam permainan sosiodrama yang canggih dan positif
  • Ibu berperan penting dalam mendukung interaksi bermain anak di usia dini.

2. Jender (Gender)

  • Anak-anak sejak usia tiga tahun lebih memilih mainan yang sesuai dengan jender mereka
  • Bermain dengan mainan maskulin dapat memengaruhi keterampilan spasial anak
  • Ayah lebih sering bermain fisik dengan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan
  • Anak perempuan lebih sering terlibat dalam aktivitas duduk dibandingkan anak laki-laki
  • Permainan sosiodrama lebih sering dimainkan oleh anak perempuan
  • Anak perempuan cenderung bermain dengan tema domestik, sementara anak laki-laki lebih banyak bermain fantasi dengan tokoh pahlawan
  • Anak laki-laki kurang terampil bermain dengan mainan perempuan dibandingkan dengan mainan laki-laki

3. Umur (Age)

  • Jenis permainan berbeda sesuai usia anak.
  • Permainan fisik (kasar & berguling) memuncak di awal masa kanak-kanak
  • Permainan praktik paling sering di masa prasekolah.
  • Permainan konstruktif populer di sekolah dasar.
  • Permainan sosiodrama muncul di usia 2 tahun, memuncak di akhir prasekolah, lalu menurun
  • Permainan komputer/video meningkat di awal sekolah dasar

4. Faktor-faktor lain (Other factors)

  • Permainan pengandaian lebih lama & kompleks saat dimainkan dengan teman dekat daripada kenalan
  • Anak dengan keterlambatan perkembangan lebih suka permainan fisik & eksplorasi objek, tetapi kurang tertarik pada menggambar, mewarnai, konstruksi, dan boneka
  • Anak yang "ditolak" cenderung jarang bermain dengan teman sebaya & lebih memilih teman yang lebih muda
  • Anak yang "populer" sering menjadi pemimpin permainan, dengan anak laki-laki unggul dalam keberanian fisik & anak perempuan dalam keterampilan sosial serta imajinasi