Conflict Management Failures and Forgiveness
1) Memahami Konflik yang Tidak Terselesaikan
Analisis ketidakmampuan untuk mengelola konflik dengan mengajukan pertanyaan reflektif diri untuk memahami apa yang salah, seperti:
"Apa yang salah?"
"Apakah kita terlalu kompetitif atau defensif?"
"Apakah saya menggunakan pendekatan yang tidak sesuai untuk situasi tersebut?"
"Apakah kita gagal menerapkan metode pemecahan masalah dengan memadai?"
"Apakah kepentingan pribadi dalam hasilnya terlalu tinggi?"
"Apakah saya memulai atau merespons dengan tidak pantas?"
Menganalisis perilaku dapat meningkatkan kemampuan dan mengatasi area ketidakcocokan dalam hubungan.
Karena konflik tidak terhindarkan, pengetahuan ini akan berguna di masa depan.
2) Pemaafan
Pemaafan sangat penting, terutama jika itu adalah teman atau seseorang yang telah menjadi bagian penting dalam hidup Anda.
Pemaafan melibatkan menghilangkan perasaan benci dan keinginan untuk balas dendam.
Pemaafan membuka jalan bagi rekonsiliasi, memungkinkan untuk membangun kembali kepercayaan dalam hubungan dan bekerja menuju pemulihan.
Lulofs dan Cahn (2000) menyatakan, "Terdapat kesepakatan umum dalam literatur bahwa pemaafan adalah sebuah proses di mana seseorang meninggalkan perasaan benci dan keinginan untuk balas dendam terhadap orang lain. Dengan beberapa pengecualian, pemaafan tidak sama dengan melupakan apa yang terjadi. Pemaafan juga tidak sama dengan segera memulihkan kepercayaan. Pemaafan umumnya dipahami sebagai proses di mana orang melanjutkan hidup mereka setelah mengalami perasaan yang menyakitkan (Verderber et al., 2007)."