Catatan Terstruktur Pendidikan Pancasila Kelas VII: Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika

Identitas dan Pendahuluan Media Pembelajaran

  • Judul Buku/Materi: Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII.

  • Penulis: Satar dan Haryo T.

  • Penerbit: Penerbit Erlangga.

  • Kurikulum: Kurikulum Merdeka.

  • Fokus Materi: Bab 4: Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi pada Bab 4 ini, peserta didik diharapkan memiliki kompetensi sebagai berikut:

  • Memahami makna persatuan dalam keberagaman secara mendalam.

  • Mengidentifikasi berbagai bentuk keberagaman yang ada di Indonesia melalui bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

  • Menguraikan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial dan keberagaman di masyarakat.

  • Menganalisis berbagai tantangan serta menentukan sikap yang tepat terhadap pengaruh perubahan sosial budaya, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun global.

Makna Persatuan dalam Keberagaman

  • Landasan Ideologis: Nilai persatuan dan kesatuan terpatri dengan jelas di dalam sila ketiga Pancasila, yaitu "Persatuan Indonesia".

  • Substansi dan Konsep Dasar: Di dalam substansi persatuan dan kesatuan bangsa, terdapat sejumlah konsep dasar yang saling berkaitan, yaitu:

    • Persatuan

    • Kesatuan

    • Bangsa

    • Integrasi Nasional

    • Nasionalisme

    • Patriotisme

  • Prasyarat Pertumbuhan Semangat: Berdasarkan pendapat Sugiyono (2021), semangat persatuan dan kesatuan dapat bertumbuh secara optimal jika individu memiliki:

    • Sikap cinta tanah air.

    • Sikap toleransi terhadap sesama.

  • Hakikat Manusia: Manusia dipandang dalam tiga dimensi utama, yaitu sebagai Makhluk Tuhan Yang Maha Esa, Makhluk Individu, dan Makhluk Sosial.

Faktor-Faktor Penyebab Keberagaman

Keberagaman di Indonesia tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental sebagai berikut:

  • Letak Strategis Wilayah Indonesia: Posisi Indonesia di jalur silang perdagangan dan komunikasi internasional.

  • Kondisi Negara Kepulauan: Bentuk wilayah yang terdiri dari ribuan pulau yang dipisahkan oleh laut.

  • Perbedaan Kondisi Alam: Variasi bentang alam seperti pegunungan, pantai, dataran tinggi, dan dataran rendah.

  • Keadaan Transportasi dan Komunikasi: Kemudahan atau hambatan dalam mobilitas dan pertukaran informasi antarwilayah.

  • Penerimaan Masyarakat terhadap Perubahan: Sikap terbuka atau tertutupnya masyarakat terhadap hal-hal baru dari luar.

Dampak Keberagaman Masyarakat Indonesia

Menurut Sutirna (2021), keberagaman memiliki dua sisi dampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara:

  • Dampak Positif Keberagaman:

    • Menjadi sarana untuk melatih diri dalam saling menghormati.

    • Melatih individu untuk menghargai perbedaan dan senantiasa bersikap toleran.

    • Menjadi sarana untuk melatih diri dalam meneladani kebiasaan-kebiasaan baik yang ditunjukkan oleh suku atau ras tertentu.

    • Memberikan motivasi bagi seluruh anak bangsa untuk tetap menjaga persatuan di tengah pusaran perbedaan.

  • Dampak Negatif Keberagaman:

    • Bagi golongan tertentu, perbedaan berpotensi menimbulkan perpecahan atau disintegrasi.

    • Munculnya tindakan kekerasan yang dipicu oleh kurangnya rasa toleransi serta rendahnya sikap menghargai perbedaan.

    • Terjadinya persaingan yang tidak sehat antarkelompok.

    • Munculnya rasisme atau diskriminasi berdasarkan ras.

    • Terjadinya permusuhan antarsuku yang disebabkan oleh perbedaan atau pertentangan nilai-nilai budaya.

Persatuan dalam Keberagaman SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)

Persatuan merupakan manifestasi dari penghargaan terhadap keberagaman yang selaras dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Hisyam (2020), nilai persatuan memberikan harapan akan adanya persamaan kedudukan dalam masyarakat tanpa ada kelompok yang merasa tidak diperhatikan.

  • Keberagaman Suku:

    • Definisi: Suku bangsa adalah kelompok etnis atau budaya yang terbentuk secara turun-temurun.

    • Definisi menurut Koentjaraningrat (Kusnanto, 2019): Suku bangsa adalah suatu kesatuan hidup atau sekelompok manusia yang memiliki sistem interaksi, sistem norma, kontinuitas, serta identitas yang sama yang mempersatukan setiap anggotanya, serta memiliki sistem kepemimpinan tersendiri.

  • Keberagaman Agama dan Kepercayaan:

    • Berdasarkan sila "Ketuhanan Yang Maha Esa", bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

    • Landasan pelaksanaannya adalah dasar kemanusiaan yang adil dan beradab (Taniredja dan Suyahmo, 2020).

  • Keberagaman Ras:

    • Definisi menurut UU RI No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis: Ras adalah golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik dan garis keturunan.

    • Indikator Ciri Fisik (Clara dan Wardani, 2020): Mencakup bentuk badan, bentuk kepala, bentuk air muka dan tulang rahang bawah, bentuk hidung, warna kulit, warna rambut, warna mata, serta bentuk rambut.

  • Keberagaman Golongan:

    • Definisi: Kelompok masyarakat yang memiliki ciri-ciri dan aktivitas tertentu.

    • Faktor Penggolongan: Status ekonomi, tingkat pendidikan, pilihan politik, mata pencarian atau profesi, kelompok umur, serta administrasi kependudukan.

Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Sosial dan Keberagaman

Perubahan sosial dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan eksternal:

  • Faktor Internal (Dari Dalam):

    • Terjadinya perubahan jumlah penduduk.

    • Adanya penemuan-penemuan baru di masyarakat.

    • Perkembangan teknologi yang masif.

    • Munculnya pertentangan atau konflik di dalam masyarakat.

    • Tingkat keterbukaan masyarakat terhadap hal baru.

    • Adanya peristiwa pemberontakan atau revolusi.

  • Faktor Eksternal (Dari Luar):

    • Pengaruh dari lingkungan alam atau lingkungan fisik.

    • Terjadinya peperangan.

    • Adanya kontak kebudayaan dengan masyarakat atau bangsa lain (Kamaludin, 2021).

Tantangan dan Sikap terhadap Pengaruh Perubahan Sosial Budaya

Dalam menghadapi pengaruh perubahan sosial budaya di tingkat lokal, nasional, dan global, diperlukan sikap positif agar jati diri bangsa tetap terjaga. Menurut Pujiastuti, dkk. (2007), sikap-sikap tersebut meliputi:

  1. Pemikiran Terbuka (Open Minded): Bersedia menerima ide atau informasi baru secara objektif.

  2. Antisipatif: Memahami dan memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

  3. Selektif: Memilih dan menyaring pengaruh yang masuk agar sesuai dengan norma dan nilai bangsa.

  4. Adaptif: Mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan arah.

  5. Konservasi Budaya: Tetap teguh untuk tidak meninggalkan kebudayaan asli sebagai identitas diri.

Sejarah Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki akar sejarah yang sangat dalam sebagai berikut (Wasitaatmadja, dkk., 2018):

  • Asal Bahasa: Berasal dari ungkapan bahasa Jawa Kuno.

  • Sumber Tertulis: Merupakan kutipan dari sebuah karya sastra monumental bernama Kakawin Sutasoma.

  • Penulis: Digubah oleh Mpu Tantular, seorang pujangga masyhur dari Kerajaan Majapahit.

  • Waktu Penulisan: Diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-14 Masehi.

  • Lokasi Kutipan: Kalimat tersebut secara spesifik ditemukan pada bait ke-5 pupuh 139 dalam Kakawin Sutasoma.