KULIAH 3. REFRAKSI

PENDAHULUAN

Kelaianan Refraction di RSUD Dr. Soetomo 1994: Ke-1 dengan prevalensi 42.7% dari 10 penyakit terbanyak. Prevalensi di Indonesia: 22.1% (Survei Indera Pendengaran dan Penglihatan, 1996). Pembiasan yang abnormal dapat mengganggu kemampuan visual seseorang, sehingga penting untuk melakukan pemeriksaan dan koreksi yang tepat.

KELAINAN REFRAKSI

Bahaya jika tidak dikoreksi:

  • Ambliopia (mata malas): Kondisi dimana satu mata tidak berkembang dengan baik sehingga tidak dapat melihat secara normal.

  • Strabismus (julining): Ketidakselarasan mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan.

  • Penurunan prestasi: Edukasi dan kegiatan sehari-hari dapat terpengaruh.

  • Penurunan kualitas hidup: Kesulitan dalam kegiatan sehari-hari akibat penglihatan yang buruk.

PENGERTIAN REFRAKSI

Refraction: perubahan arah sinar saat berpindah medium dengan kepadatan berbeda. Koreksi refraction: usaha memperbaiki visus dengan lensa, baik itu kaca mata, lensa kontak, maupun pembedahan.

USAHA REHABILITASI/KOREKSI

  • Kaca mata: pilihan utama untuk banyak kondisi, memberikan alternatif yang mudah dan tidak invasif.

  • Lensa kontak: pilihan alternatif untuk mereka yang tidak nyaman menggunakan kacamata, bisa digunakan untuk berbagai kelainan refraksi.

  • Operasi:

    • Radial Keratotomy: Prosedur pembedahan yang digunakan untuk mengobati miopia.

    • Clear Lens Extraction: Mengganti lensa alami dengan lensa buatan.

    • Excimer Laser LASIK: Mengoreksi bentuk kornea secara presisi untuk meningkatkan ketajaman visual.

LENSA

Medium dengan daya pembiasan. Tipe lensa:

  • Lensa sferis: Mempunyai jari-jari kelengkungan yang sama.

  • Lensa silinder: Memiliki kekuatan pembiasan yang bervariasi tergantung pada orientasinya.

JARAK FOKUS DAN DIKOPTRI

Rumus: D = 1/fD: dioptri, f: jarak fokus (meter). Dioptri adalah unit ukuran kekuatan lensa.

LENSA SFERIS

Jari-jari kelengkungan sama pada setiap meridian. Radial Sinus berdiri sejajar sumbu utama dibiaskan ke satu titik fokus.

GAMBAR LENSA

  • Lensa sferis positif: digunakan untuk hypermetropia.

  • Lensa sferis negatif: digunakan untuk myopia.

ABERASI SFERIS

Sinar tepi dibiaskan lebih kuat dari sinar paraxial, menyebabkan distorsi visual pada sisi lensa.

LENSA SILINDER

Memiliki 2 meridian utama dengan kekuatan maksimal dan minimal. Tidak memiliki kekuatan sepanjang porosnya, krusial untuk mengoreksi astigmatisme.

TAJAM PENGLIHATAN SENTRAL

Jarak pemeriksaan: 6 m atau 20 feet. Dinyatakan dengan angka: contoh, visus: 6/30, menunjukkan perbandingan kemampuan penglihatan.

KELAINAN REFRAKSI

  • Emmetrop: keadaan mata dengan sinar dibias pada titik kuning.

  • Ametrop:

    1. Hipermetrop

    2. Miop

    3. Astigmat

    4. Presbiop

HIPERMETROP

Keadaan saat sinar dibias di belakang retina.Penyebab:

  • Sumbu mata terlalu pendek

  • Daya pembiasan lemah

GEJALA HIPERMETROP

  • Subjektif: kabur untuk melihat dekat, lekas lelah saat membaca.

  • Objektif: miosis, akomodasi berlebihan, dan konvergensi dapat terjadi saat memfokuskan pandangan.

MENINGKATKAN VISUS DENGAN KOREKSI

Koreksi dengan lensa + untuk meredakan gejala.Tahapan hipermetrop: ringan, menengah, tinggi; memerlukan penanganan yang beragam berdasarkan tingkat keparahan.

KOMPLIKASI HIPERMETROP

  • Glaukoma untuk BMD dangkal: risiko tekanan intraokular meningkat.

  • Strabismus konvergen: dapat terjadi jika tidak dikoreksi pada anak-anak.

PENGOBATAN

Pengobatan dengan lensa + untuk mencapai visus terbaik; operasi bisa dipertimbangkan pada kasus berat.

ANISOMETROPI

Kondisi satu mata berbeda dari yang lain dengan selisih > 3D; dapat menyebabkan ketidaknyamanan visual dan strabismus.

MIOP

Keadaan sinar dibias di depan retina.Penyebab:

  • Sumbu mata terlalu panjang

  • Daya pembiasan terlalu kuat.

GEJALA MIOP

  • Subjektif: kabur untuk jarak jauh, kesulitan dalam melihat papan tulis di kelas.

  • Objektif: akomodasi dalam, miopia axialis, dan vitreous floaters yang mungkin muncul.

KOMPLIKASI MIOP

  • Ablasio retina: risiko meningkat seiring bertambahnya derajat miopia.

  • Strabismus dalam: hasil dari penyesuaian visual yang terpaksa.

ASTIGMAT

Bentuk kelainan dengan fokus multi titik, bukan satu titik fokus.Penyebab: kelengkungan kornea atau lensa yang tidak simetris.

KOREKSI ASTIGMATISME

Lensa kontak keras atau lembut sesuai penyebab, dapat juga menggunakan lensa sferis kombinasi.

JENIS ASTIGMATISME

Astigmatisme reguler vs. irregular, variasi dalam bidang bias yang mempengaruhi presisi penglihatan.

PENILAIAN

Menggunakan berbagai metode pemeriksaan, termasuk pengujian visus standar dan teknik yang lebih kompleks.

PENANGANAN ASTIGMATISME

Koreksi penuh pada anak-anak untuk membantu perkembangan visual. Coba koreksi penuh pada dewasa, jika tidak nyaman dapat modifikasi lensa agar lebih sesuai.

TEKNIK REFRAKSI

Subjektif dan objektif dengan retinoskopi dan refraktometri untuk menentukan resep lensa yang tepat.

AKOMODASI

Kemampuan lensa untuk berubah bentuk guna memfokuskan pada objek dekat dan jauh.Punctum remotum: titik terjauh tanpa akomodasi.Punctum proximum: titik terdekat dengan akomodasi maksimum.

PRESBIOPI

Ketidakmampuan membaca dengan jarak yang lebih dekat dari punctum proximum; kebutuhan akan lensa + meningkat seiring usia.

VISUAL HYGIENE

Rekomendasi untuk mengurangi ketegangan mata selama aktivitas membaca:

  • Istirahat berkala

  • Pencahayaan yang baik