Catatan Pembelajaran: Bahasa Indonesia Perekat Bangsa

Latar Belakang dan Fungsi Bahasa Indonesia

  • Abstrak: Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu budaya Indonesia; berfungsi sebagai bahasa nasional, bahasa pendidikan, bahasa komunikasi nasional, bahasa pembinaan budaya, dan bahasa media massa. Fungsi-fungsi ini dirancang untuk menjembatani perbedaan latar belakang etnis, budaya, dan bahasa agar tercipta “glue” yang menyatukan elemen-elemen bangsa.
  • Faktor-faktor yang turut berkontribusi pada proses perekat bangsa akan dibahas.
  • Bangsa Indonesia sangat beragam (jasmani, ras, suku, agama, adat istiadat, bahasa, budaya lainnya) dengan lebih dari 400400 bahasa daerah; sekitar 200200 bahasa daerah terdapat di tanah Papua; sepuluh bahasa daerah utama ditinjau dari jumlah penuturnya (> satu juta) dan tradisi tulisnya.
  • Sejarah penjajahan Belanda sekitar 3.53.5 abad memupus kekuatan bangsa Indonesia di bidang politik, ekonomi, budaya, dll., yang memunculkan rasa senasib dan sepenanggungan sehingga tumbuh nasionalisme untuk merdeka.
  • Ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) menjadi tonggak penting; Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945) menegaskan peran bahasa Indonesia; UUD 1945 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
  • Bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu sebagai dasar, lalu diperkaya dengan unsur bahasa daerah dan bahasa asing; menjadi perwujudan perekat kebudayaan nasional.

Sejarah Bangsa Indonesia

  • Indonesia hampir 3.53.5 abad berada di bawah imperialisme Belanda; kekuatan politik, ekonomi, dan kebudayaan semua tertekan. Imperialisme Belanda digambarkan keras dan represif dibandingkan imperialisme Inggris di India yang semiliberal.
  • Nasionalisme tumbuh dari rasa senasib dan cita-cita bersama untuk merdeka di berbagai bidang; pergerakan kebangsaan seperti Budi Utomo (1908), Indische Partij (1912), Perserikatan Parta-Partai Indonesia (1926), Partai Nasional Indonesia (1926). Puncaknya: Sumpah Pemuda pada 28extOktober192828 ext{ Oktober } 1928.
  • Sejak munculnya rasa kebangsaan, ada niat menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca.
  • Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945) menggunakan bahasa Indonesia, menegaskan peran bahasa Indonesia dalam menyatukan bangsa.
  • Dalam UUD 1945 (Bab XV, Pasal 36), bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara. Secara formal dan informal menjadi perekat bangsa.
  • Para pendiri bangsa dan pemimpin pendidikan menggunakan bahasa Indonesia untuk menyadarkan rakyat, membangun politik, ekonomi, budaya, dan bidang lain. Bahasa Indonesia berperan dalam penyadaran, peningkatan, dan penyatuan bangsa.

Sumber Bahasa Indonesia

2.1 Dasar Bahasa Indonesia

  • Bahasa Indonesia, sebagaimana diputuskan pada Kongres Bahasa Indonesia II di Medan (1954), didasarkan pada bahasa Melayu tetapi dilengkapi dengan unsur-unsur bahasa daerah dan bahasa asing yang perlu.

  • Alasan utama mengangkat bahasa Melayu sebagai dasar (dua kelompok):

    • Kelompok nonbahasa: peran bahasa Melayu sebelum diangkat, persebarannya di kepulauan, serta persebaran dalam lapisan masyarakat.
    • Kelompok keadaan bahasa: persebaran horizontal (kepulauan) dan persebaran vertikal (lantai-lantai masyarakat).
  • Sejak zaman Sriwijaya (sekitar 39239214061406 Masehi), bahasa Melayu telah menjadi lingua franca sekaligus bahasa kebudayaan, pendidikan, perdagangan, dan bahasa resmi kerajaan.

  • Pada abad 1717, pusat bahasa Melayu berada di Malaka; bahasa Melayu menjadi lingua franca di Asia Tenggara dan bahasa perdagangan/resmi.

  • Pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat penyebaran bahasa Melayu ke Jakarta pada tahun 19081908 melalui Commissie voor de Volkslectuur; Melayu menjadi bahasa resmi kedua di Hindia Belanda.

  • Bahasa Melayu berperan membentuk kaum intelektual Indonesia melalui penggunaan resmi dalam dunia pendidikan.

  • Dalam periode pergerakan kemerdekaan (mulai 19081908 dengan berdirinya Budi Utomo), bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa perjuangan; setelah ikrar Sumpah Pemuda (28extOktober192828 ext{ Oktober } 1928), bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan: bahasa Indonesia.

2.2 Pembentuk Bahasa Indonesia

  • Ketiga Ikrar Sumpah Pemuda menegaskan: "Menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia". Menurut Dewantara (1967), bahasa Melayu yang diangkat sebagai bahasa persatuan meskipun penutur Jawa jauh lebih banyak, karena persebaran bahasa Melayu yang lebih luas dan fungsinya sebagai lingua franca serta bahasa resmi kedua.
  • Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II (1954) menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bentuk modern dari bahasa Melayu; bukan identik sama dengan bahasa Melayu karena telah diperkaya dengan unsur bahasa daerah dan bahasa asing.
  • Bahasa Indonesia banyak mengambil kata dan istilah dari bahasa daerah di Indonesia; proses adopsi dan adaptasi memungkinkan budaya daerah diangkat menjadi budaya Indonesia melalui kata/istilah yang diserap.
  • Ujud bahasa Indonesia adalah wadah bagi budaya daerah dan budaya internasional melalui kata/istilah yang diserap; contoh: abon (Sunda), nasi gudeg (Jawa), ganyang, tut wuri handayani (Jawa), subak, tari cak, legong (Bali), dan kata/istilah daerah lainnya.
  • Banyak kata/istilah teknis, ilmu, teknologi, dan seni modern diserap dari bahasa asing melalui proses adaptasi (contoh: Belanda: faculteit,universiteitofakultas,universitas;Inggris:faculteit, universiteit o fakultas, universitas; Inggris:organization, method o organisasi, metode).

Bahasa Indonesia Perekat Bangsa

  • Pertanyaan utama: Benarkah bahasa Indonesia adalah perekat bangsa, dan apakah unsur kebudayaan Indonesia juga disatukan lewat bahasa Indonesia?
  • Argumen utama: watak perjuangan Indonesia melawan penjajah (anti-imperialisme) dan sejarah bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia.
  • Niat bangsa untuk merdeka dalam bidang politik, ekonomi, budaya memerlukan bahasa persatuan (bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan sejak Sumpah Pemuda 1928). Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa persatuan yang menyatukan bangsa yang beragam; bahasa Indonesia adalah turunan bahasa Melayu yang mempersatukan bangsa Indonesia dalam berbagai latar belakang suku, ras, agama, adat istiadat, dan unsur budaya lainnya.
  • Karena bahasa Indonesia mengambil bahasa Melayu sebagai dasar, maka bahasa Melayu telah berperan sebagai perekat suku dan ras Indonesia sejak Sriwijaya sebagai lingua franca, bahasa resmi, dan bahasa budaya dalam dunia pendidikan serta perdagangan.
  • Persebaran bahasa Melayu secara vertikal menunjukkan bahwa bahasa Melayu merata di semua lapisan masyarakat sejak zaman Sriwijaya hingga Malaka dan Jakarta. Persebaran horizontal terjadi melalui pedagang pelabuhan dan dialek-dialek daerah (Jakarta, Loloan di Bali, Ampenan di Lombok, Manggarai di Flores, Kupang, Ambon, Menado, dsb.).
  • Sifat bahasa Melayu yang demokratis sesuai dengan jiwa perjuangan menjaga demokrasi bagi bangsa Indonesia.
  • Pengembangan bahasa Indonesia juga melalui penyerap kata/istilah daerah dan asing, sehingga bahasa Indonesia menjadi wadah budaya Indonesia dengan unsur budaya daerah yang terangkat melalui kata/istilah yang diserap.

Fungsi Bahasa Indonesia

  • Sejak embrio bernama Melayu, bahasa ini berfungsi sebagai lingua franca di kepulauan Indonesia; selama penjajahan Belanda, Melayu juga ditetapkan sebagai bahasa resmi kedua Hindia Belanda (bahasa resmi utama adalah Belanda).
  • Pada masa kemerdekaan, selain lingua franca, Melayu menjadi bahasa resmi pertama Indonesia; digunakan di politik, perdagangan, administrasi pemerintahan, militer, dan pendidikan.
  • Pada era penjajahan Jepang, perkembangan bahasa Indonesia cukup pesat: nasionalisme meningkat karena keinginan memiliki bahasa persatuan, dan Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda, sehingga bahasa Indonesia diberi kebebasan berkembang. Komisi Bahasa Indonesia dibentuk untuk mempercepat perkembangan bahasa Indonesia melalui tiga seksi utama:
    • Seksi tatabahasa (dipimpin oleh Prof. Dr. F.A. Husein Jayadiningrat)
    • Seksi kata-kata baru (dipimpin oleh S. Mangunsarkoro)
    • Seksi kata-kata istilah (dipimpin oleh Mohamad Hatta)
  • Kedua kedudukan bahasa Indonesia (sebagai bahasa nasional dan bahasa negara) memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi dalam perekat bangsa:
    1) Bahasa resmi kenegaraan
    2) Bahasa pengantar di dunia pendidikan
    3) Alat perhubungan nasional untuk perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta pemerataan
    4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Seminar Politik Bahasa Nasional (19751975) merumuskan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional (persatuan) dan bahasa negara (kedudukan kenegaraan). Fungsi-fungsi ini menegaskan peran bahasa Indonesia sebagai perekat bangsa di masa kini dan masa depan.
  • Ringkasnya, fungsi-fungsi utama bahasa Indonesia dalam kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara adalah:
    • Lambang kebangsaan dan identitas bangsa.
    • Alat penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar budaya yang beragam.
    • Alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.
    • Bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, alat perhubungan nasional untuk pembangunan, dan alat pengembangan budaya, ilmu, dan teknologi.

Simpulan dan Saran

  • Bahasa Indonesia telah benar-benar berfungsi sebagai perekat bangsa, lahir dari watak perjuangan melawan penjajah, serta didukung oleh sejarah bahasa Melayu sebagai dasar dan penyerapannya terhadap unsur budaya daerah.
  • Sejarah penyebaran bahasa Melayu sebagai lingua franca secara vertikal dan horizontal membuktikan perannya sebagai perekat semua lapisan masyarakat Indonesia, termasuk komunitas Tionghoa di Indonesia yang menggunakan dialek Melayu.
  • Proses adopsi dan adaptasi kata/istilah dari bahasa daerah dan bahasa asing memperkaya kosakata bahasa Indonesia sehingga menjadi wadah budaya Indonesia yang inklusif terhadap budaya daerah dan budaya internasional.
  • Pembinaan bahasa Indonesia perlu terus dilakukan dengan tujuan memperkuat fungsi perekat bangsa dan meningkatkan kecerdasan serta kemampuan bangsa Indonesia.
  • Rekomendasi utama: kelola dan tingkatkan pembinaan bahasa agar Indonesia tetap mampu merekatkan beragam budaya, hingga melayani kemajuan masa kini dan masa depan.

Daftar Pustaka (singkat)

  • Alisyahbana, Takdir; Bawa, I. Wayan; Casparis, J.G.; Dewantara, Ki Hajar; Purbacaraka; Sukarno; Usman, Zuber; dan lain-lain, yang membahas sejarah bahasa Indonesia, peran bahasa Melayu, serta kebijakan bahasa Indonesia dari masa kolonial hingga kemerdekaan dan setelahnya.