Production Planning Concepts and Methods

Konsep Perencanaan Produksi

  • Pengertian Perencanaan Produksi

    • Serangkaian aktivitas merancang strategi produksi barang atau jasa, meliputi bentuk, ukuran, jumlah, dan jenis barang.

    • Perencanaan strategi oleh manufaktur atau perusahaan saat akan memproduksi barang atau jasa.

    • Memastikan produk yang dibuat, volume produksi, kapasitas, bahan yang diperlukan, penjadwalan, dan unsur lainnya.

    • Panduan pengembangan desain dan produksi barang atau jasa tertentu.

    • Membantu perusahaan melakukan produksi seefisien mungkin.

    • Perencanaan produksi yang efektif memungkinkan perusahaan memantau proses produksi, mengidentifikasi isu, mengirimkan produk tepat waktu, dan menghindari terjadinya eskalasi masalah.

    • Menghasilkan informasi rinci terkait ketersediaan produk, proses, dan karyawan yang dibutuhkan, biasanya dalam spreadsheet atau laporan formal.

Tujuan Perencanaan Produksi

  • Meminimalisasi kelebihan dan pemborosan terkait pembelian bahan produksi.

  • Penggunaan bahan, alat, dan sumberdaya secara efisien.

  • Menggunakan waktu kerja karyawan dan peralatan dengan efektif.

  • Meningkatkan kualitas produk yang memberikan kepuasaan konsumen jika dilakukan secara konsisten.

  • Meningkatkan lingkungan kerja bagi karyawan karena tidak ada tekanan yang berlebihan saat bekerja.

  • Workload yang sudah ditentukan membuat karyawan dapat memanfaatkan waktu dengan lebih baik.

Proses Pembuatan sebagai Sistem Input-Output

  • Input: Bahan baku.

  • Operasi: Pengubahan bahan baku menggunakan peralatan, waktu, keahlian, uang, manajemen, dsb.

  • Output: Produk jadi.

  • Proses pengubahan dapat sederhana atau kompleks.

Fungsi Utama Kegiatan Produksi

  • Proses Produksi: Metode dan teknik mengolah bahan baku menjadi produk.

  • Perencanaan Produksi: Tindakan antisipasi untuk masa depan sesuai periode waktu yang direncanakan.

  • Pengendalian Produksi: Menjamin semua kegiatan dilaksanakan sesuai target.

Tahapan Perencanaan Produksi

  • Routing

    • Menentukan jalur bahan mentah diolah dalam perusahaan hingga menjadi produk jadi.

    • Mengatur waktu untuk setiap tahapan untuk mengukur durasi proses produksi.

    • Menunjukkan urutan pekerjaan dan proses operasional.

    • Fokus pada kuantitas dan kualitas material, sumberdaya (karyawan, mesin, bahan), proses operasional, dan tempat produksi.

    • Mengelola "Bagaimana", "Berapa banyak", dan "Di mana" untuk produksi.

    • Bertujuan untuk pemanfaatan sumberdaya yang optimal.

  • Scheduling

    • Menekankan pada waktu operasional akan selesai.

    • Memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan keseluruhan proses produksi.

    • Berbagai jenis penjadwalan termasuk Master Schedule, Operation Schedule, Daily Schedule, dan lainnya.

  • Dispatching

    • Memastikan proses operasional lancar dan sukses, serta semua data telah dimasukkan dalam software.

    • Pengiriman pesanan sesuai jadwal.

    • Termasuk:

      1. Memberikan bahan atau perlengkapan produksi.

      2. Memberikan arahan atau gambaran untuk memulai proses produksi.

      3. Melakukan pencatatan dari awal hingga akhir produksi.

      4. Mengontrol prosedur.

      5. Mengatur pengerjaan dari satu proses ke proses lainnya.

  • Follow-up

    • Menemukan kesalahan atau cacat produk, hambatan, dan kesalahan di seluruh proses produksi.

    • Tim terkait mengukur kinerja aktual dan membandingkannya dengan ekspektasi.

    • Ekspeditur atau stock chaser bertanggung jawab untuk melakukan proses follow-up.

    • Mendorong kelancaran produksi dengan meminimalisir kerusakan.

Metode Proses Produksi

  • Rangkaian kegiatan pembentukan, mengubah dan menciptakan untuk meningkatkan nilai suatu barang.

    • Sifat proses produksi

      • Proses produksi terputus-putus, didasarkan atas jumlah pesanan yang diterima.

      • Proses produksi terus menerus, didasarkan pada ramalan penjualan.

Jenis-Jenis Perencanaan Produksi

  • Metode Pekerjaan

    • Perencanaan dan manufaktur untuk setiap item (project-based production).

    • Digunakan untuk produksi berdasarkan permintaan.

    • Sistem otomatis mempercepat perencanaan.

    • Diskusi proses produksi membantu mengantisipasi dan mencegah hambatan.

  • Metode Batch

    • Proses pembuatan produk lebih dekat setiap proses produksi, sehingga perbaikan pun dilakukan dengan secara berkelompok.

    • Memungkinkan tim manajemen memantau dengan cepat.

    • Pemantauan kesalahan atau permasalahan pada batch sebelumnya akan langsung diperbaiki untuk batch selanjutnya.

    • Perhatian khusus jika mesin/peralatan menangani produksi dengan jumlah lebih banyak dari yang lain, mengatur kapasitas setiap mesin/alat penting.

  • Metode Aliran

    • Menghindari delay saat produksi.

    • Berkaitan dengan hubungan dalam setiap tahapan manufaktur dan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya hambatan atau penundaan.

    • Melibatkan standarisasi menyeluruh dan quality control yang intensif.

    • Tepat untuk produk yang diproduksi secara individual daripada dalam batch, namun tidak memerlukan desain khusus untuk setiap itemnya.

    • Penting untuk mengingat inventaris untuk menghindari delay pada tahap apapun.

  • Metode Proses

    • Transisi dari satu tahap manufaktur ke tahap berikutnya berjalan semulus mungkin dengan otomatisasi yang signifikan.

    • Berguna untuk bahan cair yang tidak dijual sebagai barang terpisah.

    • Membutuhkan pemantauan yang ketat untuk memastikan produk memenuhi standar pada tiap tahapan produksi.

    • Kesalahan akan mempengaruhi produk lainnya secara signifikan.

    • Melibatkan karyawan dan peralatan untuk memantau produk dengan hati-hati.

  • Metode Produksi Masal

    • Melakukan produksi dengan lebih cepat.

    • Hampir sama dengan jenis aliran, namun biasanya mencakup lebih banyak otomatisasi dan jalur yang dikhususkan untuk memproduksi satu produk untuk mengurangi waktu yang diperlukan saat pergantian atau changeover.

    • Membantu perusahaan untuk menghasilkan lebih banyak produk dengan cepat.

    • Memperkirakan permintaan produk yang mungkin terjadi dengan baik, untuk terhindar dari produksi berlebihan.

Mengelola Persediaan Barang Dagangan/Pengelolaan Proses Produksi

  • Sistem Pencatatan

    1. Perpetual system (pencatatan secara terus-menerus), setiap ada transaksi selalu dicatat.

    2. Periodic system (pencatatan secara periodic), dilakukan pada waktu.periode tertentu.

  • Metode Pencatatan

    1. First In First Out (FIFO), atau Masuk pertama keluar pertama

    2. Last In First Out (LIFO), atau Masuk terakhir keluar pertama

    3. Average Cost (AC), atau Harga rata-rata
      *Contoh penghitungan ada pada materi penghitungan bahan baku

  • Penghitungan Persediaan Barang Dagangan
    *Contoh lain dalam menghitung data persediaan menggunakan kartu persediaan agar lebih mudah dalam pengawasannya.

Biaya Produksi

  • Pengertian Biaya Produksi

    • Dalam arti sempit, biaya (cost) memiliki arti pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva, jumlah yang dikorbankan tersebut secara tidak langsung disebut harga pokok dan dicatat pada neraca sebagai aktiva.

    • Secara luas, biaya mengandung arti pengorbanan sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi untuk tujuan tertentu.

  • Unsur biaya:

    • Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.

    • Biaya dapat diukur dengan satuan rupiah.

    • Biaya merupakan pengorbanan yang telah terjadi atau akan terjadi.

    • Biaya merupakan pengorbanan yang mempunyai tujuan.

  • Penggolongan biaya berdasarkan fungsi pokok dalam perusahaan terdapat biaya primer (prime cost), yaitu biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Sedanglan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik keduanya disebut biaya pengolahan atau biaya konversi (conversation cost).

  • Ilustrasi Bagan Penggolongan Biaya

Jenis-Jenis Biaya Produksi

  • Terdiri atas persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya fabrikasi (manufacturing cost), kemudian dikuarangi dengan persediaan barang dalam proses akhir. Misalnya: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik, biaya produksi di golongkan menjadi:

    • Biaya produksi langsung

      • Terjadi karena adanya sesuatu yang dibiayai dan langsung diperhitungkan ke dalam harga pokok produksi, meliputi:

        • Biaya bahan langsung, artinya semua bahan untuk membentuk suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari barang jadi dan dapat langsung diperhitungkan dalam harga pokok produk. Contohnya kertas pada percetakan, barang pada tekstil, dan tanah liat pada batu bata.

        • Biaya tenaga kerja langsung, artinya upah untuk para pekerja yang secara langsung membuat produk dan jasanya dapat langsung diperhitungkan ke dalam harga pokok produk, seperti upah tukang.

    • Biaya produksi tidak langsung

      • Selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi di pabrik. Biaya ini lazim disebut biaya overhead pabrik (BOP), dikelompokkan menjadi:

        • Biaya bahan penolong, bahan yang diperlukan untuk pembuatan produk dan penggunaanya relatif kecil.

        • Biaya tenaga kerja tidak langsung, yaitu upah untuk tenaga kerja yang secara tidak langsung berhubungan dengan pembuatan produksi.

  • Biaya Berdasarkan Hubungannya dengan Sesuatu yang Dibiayai

    • Biaya langsung: karena ada sesuatu yang dibiayai, misalnya biaya produksi.

    • Dibagi lagi menjadi 2 bagian: Biaya produksi langsung (BL dan BTKL) dan Biaya produksi tidak langsung (biaya penolong, BTK tidak langsung, listrik, mesin).

    • Biaya tidak langsung: overhead pabrik, biaya yang diperlukan untuk pembuatan produk selain biaya lain dan BTKL.

  • Biaya Berdasarkan Hubungannya dengan Volume Kegiatan

    • Biaya tetap.

    • Biaya variabel.

    • Biaya semivariabel (campuran).

  • Biaya produksi tidak langsung lainnya

    • Biaya penyusutan mesin.

    • Asuransi.

    • Perlengkapan mesin.

  • Biaya Non produksi

    • Biaya yang terjadi atau yang dikeluarkan untuk bahan pelengkap atau pembantu, seperti biaya administrasi umum dan biaya penjualan atau biaya pemasaran.

    • Bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi, tetapi tidak dapat di identifikasikan secara langsung dengan barang jadi yang dihasilkan.

    • Beban administrasi umum dan penjualan adalah biaya non produksi utama yang ditampilkan dalam Laporan laba rugi.

  • Beban administrasi, umum dan penjualan

    • Biaya gabungan dari operasi perusahaan, yang termasuk ke:

      • Penjualan: Beban pokok penjualan yang termasuk gaji, biaya iklan, biaya manufaktur, sewa, dan semua biaya dan pajak secara langsung berhubungan dengan produksi dan penjualan produk.

      • Umum: beban usaha umum dań pajak yang secara langsung berhubungan dengan operasi umum perusahaan, tetapi tidak berkaitan dengan dua kategori lainnya.

      • Administrasi : Gaji eksekutif dan pendukung lainnya dan semua pajak yang berkaitan dengan administrasi perusahaan secara keseluruhan.

  • Biaya Berdasarkkan Objek Penggunanya

    • Biaya bahan baku.

    • Biaya advertensi.

    • Biaya lembur.

    • Biaya tenaga kerja.

  • Biaya Berdasarkan Fungsi Pokok dalam Perusahaan

    • Biaya produksi (terjadi adanya proses produksi: Biaya bahan baku, BTK, BOP).

    • Biaya pemasaran (usaha memperoleh pesanan: Biaya promosi, Biaya angkut barang).

    • Biaya administrasi umum (karena pengaturan, pengawasan, dan tata usaha organisasi: gaji direksi, biaya telepon)

Perhitungan Biaya Produksi

  • Kegiatan proses produksi memegang peran vital bagi sebuah usaha. Karena itu, metode yang digunakan dalam proses produksi harus tepat efetif dan efisien sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih besar.

  • Dalam kegiatan proses produksi selalu akan terjadi kegiatan pencatatan transaksi untuk mengetahui jumlah barang masuk dan keluar.

  • Sistem pencatatan:

    1. Sistem perpetual yang artinya selalu mencatat setiap ada transaksi harian yang terjadi.

    2. Sistem periodic yang artinya transaksi dicatat dan dikumpulkan terlebih dahulu secara berkala/periode

  • Metode penghitungan proses produksi:

    • Metode FIFO (First In First Out), Masuk Pertama Keluar Pertama, bahan baku yang masuk pertama kali lebih dulu dipergunakan.

    • Metode LIFO (Last In First Out), Masuk Terakhir Keluar Pertania, bahan baku yang terakhir masuk digunakan terlebih dahulu.

    • Metode Rata-Rata (Average Cost), bahan yang merupakan hasil kali kuantitas bahan baku yang dipakai dan harga pokok rata-rata per satuan.

Contoh Soal

PT Erina Arisha memiliki data bahan baku selama 2 minggu pertama Mei 2001, sebagai berikut.

  • 01 Mei, Persediaan 8.000 kg, @ Rp 1.000.

  • 03 Mei, Pembelian 12.000 kg, @ Rp 1.200.

  • 10 Mei, Masuk proses produksi 15.000 kg.

Hitung harga pokok bahan baku yang dipakai proses produksi pada tanggal 10 Mei 2001.

  • Metode FIFO

    • 01 Mei 8.000 kg x @ Rp1.000 : Rp8.000.000

    • 03 Mei 7.000 kg x @ Rp1.200 Rp8.400.000

    • 15.000 kg: Rp16.400.000

    Harga pokok proses produksi dicatat sebesar Rp16.400.000

  • Metode LIFO

    • 03 Mei 12.000 kg x @ Rp1.200 Rp14.400.000

    • 01 Mei 3.000 kg x @ Rp1.000 Rp3.000.000

    • 15.000 kg Rp17.400.000

    Harga pokok proses produksi dicatat sebesar Rp17.400.000.

  • Metode Rata-Rata

    • 01 Mei 8.000 kg x @ Rp1.000 : Rp 8.000.000

    • 03 Mei 12.000 kg x @ Rp1.200 : Rp14.400.000

    • 20.000 kg : Rp22.400.000

    Harga pokok rata-rata: =22.400.00020.000=Rp1.120= \frac{22.400.000}{20.000} = Rp1.120

    Jadi Harga pokok proses produksi sebesar:

    • 15.000 kg x @ Rp1.120 = Rp16.800.000

Sistem Perpetual

  • Metode pengumpulan atau penghitungan biaya bahan baku agar lebih terkendali dan terencana dengan baik, yaitu menggunakan sistem perpetual untuk mengendalikan biaya pabrikasi.

  • Sistem ini lebih banyak dipakai daripada sistem periodik karena pengendalian biaya sehari-hari dapat dilakukan dengan sistem perpetual.

  • Ada dua sistem akuntansi biaya perpetual, yaitu metode harga pokok pesanan (job order costing) dan metode harga pokok proses (process costing).

  • Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan, mengumpulkan harga pokok produksinya menggunakan metode harga pokok pesanan (job order cost method).

  • Sementara, perusahaan yang berproduksi massal, mengumpulkan harga pokok produksinya menggunakan metode harga pokok proses (process cost method).

Harga Pokok Pesanan (Job Order Costing)
  • Cara perhitungan harga pokok produksi untuk produk yang dibuat berdasarkan pesanan.

  • Dirancang untuk mengawasi biaya perusahaan dalam menghasilkan atau mengerjakan masing-masing pekerjaan pesanan.

  • Metode harga pokok proses dirancang untuk mengawasi biaya bagi perusahaan yang menghasilkan barang secara massal.

  • Ciri-ciri dari metode proses produksi berdasarkan pesanan:

    • Sifat produksinya terputus-putus, bergantung pada pesanan yang diterima.

    • Bentuk produk bergantung dari spesifikasi pemesan.

    • Pengumpulan biaya produksi dilakukan pada kartu biaya pesanan yang memuat rincian untuk masing-masing pesanan.

    • Total biaya produksi dikalkulasi setelah pesanan selesai.

    • Biaya produksi per unit dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan total unit yang dipesan.

    • Akumulasi biaya umumnya menggunakan biaya normal.

    • Produk yang sudah selesai langsung diserahkan pada pemesan.

  • Harga pokok produk dicatat dalam "kartu persediaan" (finish goods ledger card) dan "kartu harga pokok pesanan" tersebut dipindahkan ke dalam arsip "kartu harga pokok pesanan" yang telah selesai.

  • Perusahaan menggunakan metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh cara produksi, seperti atas dasar pesanan maka perusahaan dalam membuat produknya baru melaksanakan jika ada pesanan, contohnya perusahaan percetakan.

  • Biaya produksi dikumpulkan untuk setiap jenis pesanan dan harga pokok persatuan dapat dihitung dengan rumus berikut.

Harga pokok persatuan=Jumlah biaya produksi persatuanJumlah produk yang dipesanHarga\ pokok\ persatuan = \frac{Jumlah\ biaya\ produksi\ persatuan}{Jumlah\ produk\ yang\ dipesan}

*CV Annabella mengerjakan pesanan 100 stel seragam sekolah. Biaya-biaya:

  • Bahan baku: Rp1.000.000

  • Bahan penolong: Rp 150.000

  • Tenaga kerja lsg Rp1.200.000

  • Biaya overhead pabrik Rp 250.000

  • Jumlah biaya produksi Rp2.600.000

Dari data di atas, maka harga pokok 1 stel seragam sekolah adalah sebagai berikut.

HPP=Rp2.600.000100=Rp26.000HPP = \frac{Rp 2.600.000}{100} = Rp 26.000

Harga Pokok Process (Job Processing Cost)
  • Metode perhitungan harga pokok produk berdasarkan kepada pengumpulan biaya-biaya produksi dalam satu periode tertentu dibagi dengan jumlah unit produksi perode yang bersangkutan.

  • Ciri-ciri harga pokok proses (processing cost):

    • Proses produksinya berlangsung secara terus-menerus.

    • Produk yang dihasilkan bersifat produk standar.

    • Tujuan produksi adalah untuk persediaan yang selanjutnya dijual.

    • Tidak bergantung kepada spesifikasi pembeli.

    • Contoh perusahaan pabrik kertas, semen, pupuk, textile.

  • Perusahaan yang memiliki sifat produksi massal biasanya akan memproduksi barang untuk keperluan persediaan di gudang. Contohnya perusahaan jamu, atau semen.

  • Dalam suatu sistem biaya berdasarkan proses, penekanannya adalah pada pengawasan biaya proses dan departemen.

  • Oleh karena itu, barang dalam proses harus dianalisis menurut departemen dengan menggunakan catatan untuk masing-masing departemen.

  • Catatan harus dibuat untuk setiap departemen untuk setiap unit fisik yang sebenarnya diproduksi oleh departemen tersebut.

  • Dalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan selama periode tertentu.

Harga pokok persatuan = Biaya produksi selama periode tertentu / Jumlah satuan produk yang di hasilkan selama periode tertentu

Perusahaan industri memproduksi sandal merek "Erina" selama bulan September 2017 telah mengeluarkan biaya produksi sebagai berikut:

  • Bahan baku Rp 3.800.000

  • Bahan penolong Rp 2.000.000

  • Tenaga kerja Rp 5.000.000

  • Biaya overhead pabrik Rp 1.200.000

  • Jumlah biaya produksi Rp12.000.000

Produk sandal yang dihasilkan selama bulan September 2008 sebanyak 10.000 pasang sandal. Jadi, harga pokok per satuan sandal dapat dihitung sebagai berikut.

HPP=Rp12.000.00010.000=Rp1.200HPP = \frac{Rp 12.000.000}{10.000} = Rp 1.200

Penghitungan Harga Jual
  • Penghitungan harga jual suatu produk didasarkan atas perhitungan harga proses produksi atas dasar itu maka penghitungan produk Didasarkan pada pemikiran bahwa harga jual produk ditentukan terutama atas dasar biaya pembuatannya.

Alokasi Biaya Bersama
  • Perusahaan menghitung biaya bersama dengan mengalokasikan berdasarkan perbandingan harga jual relatif masing-masing produk yang dihasilkan.

  • Harga jual relatif produk bersama mungkin dapat diketahui pada titik pisah produk mungkin juga tidak dapat diketahui pada titik pisah produknya.

Alokasi biaya bersama=Total nilai jual relatif tiap jenis produkTotal nilai jual relatif semua jenis produkxbiaya bersamaAlokasi\ biaya\ bersama = \frac{Total\ nilai\ jual\ relatif \ tiap\ jenis\ produk}{Total\ nilai\ jual\ relatif \ semua\ jenis\ produk} x biaya\ bersama

*Perusahaan Annabella dalam suatu proses produksi menghasilkan produk A, B, dan C, dalam satu periode sebagai berikut:

  • Produk A = 5.000 unit, nilai jual relative pada titik pisah = Rp840

  • Produk B = 4.000 unit, nilai jual relative pada titik pisah = Rp750

  • Produk C = 6.000 unit, nilai jual relative pada titik pisah = Rp675

Biaya bersama untuk menghasilkan produk-produk tersebut berjumlah Rp7.500.000.

Dari data di atas maka hitunglah alokasi biaya bersamanya?

Jawab

Jenis Produk

Jumlah unit

Nilai jual relatif

Jumlah nilai jual relatif

A

5.000

Rp 840

Rp 4.200.000

B

4.000

Rp 750

Rp 3.000.000

C

6.000

Rp 675

Rp 4.050.000

Total

Rp 11.250.000

*Alokasi masing-masing biaya bersama:

  • Produk A.

    4.200.00011.250.000xRp7.500.000=Rp2.800.000\frac{4.200.000}{11.250.000} x Rp7.500.000 = Rp2.800.000

    Harga pokok tiap unit produk A

    Rp2.800.0005.000=Rp560\frac{Rp2.800.000}{5.000} = Rp560

  • Produk B.

    3.000.00011.250.000xRp7.500.000=Rp2.000.000\frac{3.000.000}{11.250.000} x Rp7.500.000 = Rp2.000.000

    Harga pokok tiap unit produk A

    Rp2.000.0004.000=Rp500\frac{Rp2.000.000}{4.000} = Rp500

  • Produk C.

    4.050.00011.250.000xRp7.500.000=Rp2.700.000\frac{4.050.000}{11.250.000} x Rp7.500.000 = Rp2.700.000

    Harga pokok tiap unit produk A

    Rp2.700.0006.000=Rp450\frac{Rp2.700.000}{6.000} = Rp450

Masalah Keterkaitan Biaya dengan Harga

  • Biaya merupakan dasar di dalam menetapkan harga. Jadi, harga yang berdasarkan pendekatan biaya (cost approach) ada dua, yakni:

Metode Penetapan Harga Biaya Plus (Cost Plus Pricing)

Untuk menambah persentase keuntungan yang diinginkan dari jumlah biaya keseluruhan. Rumusnya:

Jumlah Biaya + (persentase laba x jumlah biaya) = total biaya keseluruhan.

Setelah itu, baru dibagi dengan jumlah barang sehingga harga jual satuan dapat diketahui.

Misalnya:

Biaya 100 unit barang, dengan keuntungan 20%,

  • Bahan baku Rp3.000.000,

  • Biaya tenaga kerja Rp 550.000,

  • Biaya lain-lain Rp 450.000

  • Jumlah Rp4.000.000

Maka:

Rp4.000.000+(20%x4.000.000)=Rp4.800.000Rp4.000.000+ (20\% x 4.000.000) = Rp4. 800.000

Rp4.800.000100=Rp48.000\frac{Rp4.800.000}{100} = Rp48.000

Jadi harga jual nya adalah Rp48.000 per unitnya

Metode Penetapan Harga Mark Up (Mark Up Pricing)

Menetapkan harga jual dengan cara menambah harga beli dengan persentase tertentu, rumusnya:

Harga beli + mark up = harga jual

Misanya:

  • Harga beli Rp5.500.000

  • Biaya pengelolaan dan penjualan Rp 150.000

  • Keuntungan yang diharapkan Rp 450.000

  • Jumlah Rp6.100.000

Jadi harga jual suatu produknya adalah Rp6.100.000

Metode Penentuan Harga
  • Penetapan harga dengan biaya ditambah.

  • Harga didasarkan pada kondisi pasar yang bersaing.

  • Harga didasarkan pada keseimbangan perkiraan permintaan dengan suplai.

HPP=biaya bahan baku+bahan pelengkap (kemasan)/jumla produksiHPP = biaya\ bahan\ baku + bahan\ pelengkap \ (kemasan) / jumla\ produksi

HJ=HPP+(persentase labaxHPP)HJ = HPP + (persentase\ laba x HPP)

Menyusun Alur dan Proses Kerja Produksi

  • Proses kerja produksi merupakan metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu produk dengan mengoptimalkan sumberdaya produksi yang tersedia, berupa tenaga kerja, mesin, bahan baku, dana, dan sebagainya.

  • Sistem produksi menurut proses untuk menghasilkan output terdiri atas:

    • Proses produksi kontinu

    • Proses produksi terputus

  • Perbedaan pokok antara kedua jenis ini adalah lamanya waktu set up peralatan produksi.

  • Proses produksi kontinu tidak memerlukan waktu setup yang lama, karena proses ini memproduksi terus menerus untuk jenis produk yang sama. Contoh Pabrik susu instant.

  • Proses produksi terputus memerlukan total waktu setup yang lebih lama, karena proses ini memproduksi berbagai jenis spesifikasi barang sesuai pesanan, sehingga adanya pergantian jenis barang yang diproduksi akan membutuhkan kegiatan setup yang berbeda. Contoh Usaha bengkel.

  • Jenis proses produksi terputus akan memengaruhi tata letak fasilitas dari peralatan produksi.

  • Dapat diidentifikasi macam tata letak dasar:

Tataletak Berdasarkan Produk
  • Digunakan saat suatu jenis produk diproduksi secara masal.

  • Masing-masing unit output membutuhkan unit operasi yang sama dari awal hingga akhir pengerjaan, sehingga work center (pusat kerja) dan fasilitas produksi diatur menurut urutan operasi: Contoh - perakitan mobil.

Tataletak Berdasarkan Proses
  • Sesuai untuk digunakan pada proses produksi terputus. Aliran kerjanya tidak bersifat standar untuk semua output yang dihasilkan.

  • Pada tataletak berdasarkan proses ini, pusat pemrosesan atau departemen dikelompokkan sesuai dengan fungsinya.

  • Biasanya terdapat pada pabrik job-order yaitu bekerja dengan sistem operasi berdasarkan pesanan.

  • Fungsi manufaktur terutama bertanggung jawab untuk merancang dan mengoperasikan sistem produksi pada proses produksi produk.

  • Fungsi ini meliputi pembelian, instalasi, dan distribusi.

  • Proses pengembangan produk dalam suatu perusahaan umumnya melalui 6 tahapan proses:

    1. Fase 0: Perencanaan Produk: Kegiatan perencanaan sering dirujuk sebagai "zero fase" karena kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual.

    2. Fase 1: Pengembangan Konsep: Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar target diidentifikasi, alternatif konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan satu atau lebih konsep dipilih untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh.

    3. Fase 2 Perancangan Tingkat Sistem: Fase perancangan tingkat sistem mencakup definisi arsitektur produk dan uraian produk menjadi subsistem-subsistem serta komponen-komponen.

    4. Fase 3: Perancangan Detail: Fase perancangan detail mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk, material, dan toleransitoleransi dari seluruh komponen unik pada produk dan identifikasi seluruh komponen standar yang dibeli dari pemasok.

    5. Fase 4: Pengujian dan Perbaikan: Fase pengujian dan perbaikan melibatkan konstruksi dan evaluasi dari bermacam macam versi produksi awal produk.

    6. Fase 5: Produksi Awal: Pada fase produksi awal, produk dibuat menggunakan sistem produksi yang sesungguhnya. Tujuan dari produksi awal ini adalah untuk melatih tenaga kerja dalam memecahkan permasalahan yang timbul pada proses produksi sesungguhnya. Peralihan dari produksi awal menjadi produksi sesungguhnya biasanya tahap demi tahap. Pada beberapa titik pada masa peralihan ini, produk diluncurkan dan mulai disediakan untuk didistribusikan.

Menyusun Rancangan Anggaran Biaya

  • RAB atau Rencana Anggaran Biaya biasanya dibuat sebelum proyek/ produk dilaksanakan, untuk itu ia disebut sebagai "rencana" atau perkiraan atau estimasi biaya dan bukan anggaran yang sebenarnya, yang berdasarkan pelaksanaan.

  • Sedangkan, anggaran biaya adalah harga dari barang/alat investasi/ bahan yang dihitung secara teliti, cermat, dan memenuhi syarat.

  • Anggaran biaya pada rencana usaha yang sama bisa saja berbeda-beda bergantung pada harga bahan yang berlaku di daerah masing-masing.

  • Fungsi anggaran adalah memastikan pelaksanaan kegiatan usaha/operasional usaha berjalan dengan baik dan lancar.

  • Setelah direncanakan maka RAB akan menjadi acuan dan pedoman dalam menjalan kegiatan operasional usaha.

  • Beberapa fungsi RAB:

    1. Proyeksi anggaran (membantu memproyeksikan anggaran dan modal yang diperlukan).

    2. Mencapai tujuan/Target (sebagai alat untuk mencapai tujuan usaha agar berjalan lancar dan sesuai harapan).

    3. Dokumentasi (alat untuk dokumen keuangan yang membantu mengelola keuangan lebih efisien dan efektif).

A. RENCANA USAHA NUGGET TAHU NuTTa
B. Peralatan kerja

NO

PERALATAN

BANYAKNYA

HARGA

TOTAL

1

Kompor gas

1 buah

Rp175.000

Rp175.000

2

Tabung gas

1 buah

Rp 65.000

Rp 65.000

3

Mixer

1 buah

Rp135.000

Rp135.000

4

Loyang

4 buah

Rp 10.000

Rp 40.000

5

Wajan

2 buah

Rp 45.000

Rp 90.000

6

piring

5 buah

Rp 5.000

Rp 25.000

7

Spatula

2 buah

Rp 12.000

Rp 24.000

8

Pisau

2 buah

Rp 7.000

Rp 14.000

9

Sendok

2 buah

Rp 2.500

Rp 5.000

10

Talenan

1 buah

Rp 6.000

Rp 6.000

11

Steples

1 buah

Rp 11.000

Rp 11.000

12

baskom

3 buah

Rp 7.000

Rp 21.000

13

Tempat ngukus

1 buah

Rp 85.000

Rp 85.000

JUMLAH

Rp696.000

C. BAHAN BAKU
Bahan baku untuk membuat 100 buah nugget dalam 1 x produksi dan ke depannya akan dinaikan volume produksinya.

NO

BAHAN BAKU

VOLUME

HARGA SATUAN

JUMLAH

1

Tahu putih

50 biji

Rp 500

Rp25.000

2

Telur ayam

3 butir

Rp 1.500

Rp 4.500

3

Roti tawar

1 bungkus(isi10)

Rp 9.000

Rp 9.000

4

Tepung kanji

1kg

Rp12.000

Rp12.000

5

Wortel

½ kg

Rp 3.000

Rp 3.000

6

Tepung roti

1kg

Rp10.000

Rp10.000

7

Minyak goreng

1 liter (2 hari)

Rp22.500

Rp 6.000

8

Saus

3 bungkus

Rp 7.000

Rp21.000

JUMLAH

Rp90.500

Jumlah biaya bahan baku perhari : Rp90.500
Biaya Operasional

| NO | NAMA ALAT | VOLUME | HARGA